Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!

Sepeninggal Iteung, Mbak Nah datang dan menghampiri Lia. Wanita berhijab itu heran melihat Lia yang kini bermandikan keringat.

"Lia, ini ada handuk kecil untuk menyeka keringat di dahi mu", ujar mbak Nah sembari menyerahkan selembar handuk kecil pada Lia.

"Makasih, mba..", ucap Lia. Dia menerima handuk dari tangan mbak Nah dan langsung mengelap keringat di dahinya.

Dia duduk di sebuah kursi sambil menenangkan diri.

"Nih, minum. Kamu kayaknya terlihat cape. Apa kamu sakit, Lia?" tanya Mbak Nah.

"Ahh, tidak kok, Mbak. Mungkin karena belum terbiasa saja. Lagi pula aku belum terbiasa berada di depan kompor berlama-lama," ucap Lia.

Dia menerima segelas air putih yang di sodorkan Enah padanya. "Terima kasih, mbak,"

"Sama - sama, Lia", jawab Mbak Nah.

Sampai hari menjelang siang, Lia menghabiskan waktu dengan ngobrol dengan Enah. Melalui obrolan itu, Lia akhirnya mengenal Enah lebih dalam. Bahkan keduanya sempat menanyakan asal usul masing-masing.

"Lia, sebentar lagi jam makan siang tiba. Ayo kita makan siang dulu. Nanti kita nggak sempat makan, loh!", ujar Enah pada Lia.

"Aku belum lapar, Mbak. Mbak aja yang makan duluan. Aku entar aja," ujar Lia.

"Tapi kamu sejak pagi belum makan, Lia", ujar Enah khawatir.

"Nanti saja, Mbak."

"Kamu yakin, Lia ? Nanti kamu nggak sempat makan loh," ujar Enah.

"Nggak apa, Mbak makan aja dulu. Aku belum lapar. Perutku masih kenyang karena tadi sudah makan bubur", ucap Lia.

"Ya udah,... kalau begitu mbak makan duluan ya", ucap Enah.

Lia melempar tersenyum tipis pada Enah. Dia sedikit tenang kalau ada mbak Enah di sana karena sejak tadi tak ada penampakan hantu di dekatnya.

Benar kata Enah, saat jam makan siang tiba, sudah ada banyak pesanan makanan yang harus di masak dadakan oleh mereka berdua.

Enah dan Lia sampai kewalahan menangani pesanan yang membludak siang itu. Mereka berdua bahkan merasa seperti tak bisa bernapas lega sedikit pun.

Lia dan Enah sibuk sedari pagi hingga sore. Perut Lia sekarang sudah merasa lapar karena siang tadi dia belum makan.

Malam hari pun tiba,..

Lia sama sekali belum mengisi perutnya yang terasa lapar. Lia sama sekali tidak mau makan makanan yang ada di rumah makan itu.

Bagaimana mau makan?

Lia sangat jijik melihat makhluk - makhluk itu Menaruh liur dan cairan mereka ke semua makanan di sana.

"Mba Nah,... sudah mau tutup ya?" tanya Lia pada Enah.

"Iya,...kenapa emang? Oh iya,... Lia, kamu kan belum makan. Ayo, cepat makan dulu Lia mumpung masih di sini," Ujar Enah.

 "Nah,... itu dia, Mba. Aku nggak berselera makan di sini. Apa di sekitar tempat ini ada orang yang jualan makanan jam segini, ya mbak?" tanya Lia.

"Jualan makanan, ya?", Enah sejenak berpikir

"Kalau malam, biasanya ada penjual sate keliling. Paling sebentar lagi juga lewat kok," ucap Enah.

"Nah,.. aku beli itu aja, Mbak," ucap Lia.

Enah nampak mengernyitkan dahi. "Aneh,...di sini banyak makanan enak loh, Lia. Kenapa kamu mesti repot - repot beli makanan di Bukankah itu sama saja dengan pemborosan. Entar uang simpanan mu habis. Atau jangan - jangan kamu nggak suka masakan ku ya?"

"Bu-bukan gitu, mbak. Aku itu paling susah kalau makan. Aku tuh jarang makan. Hanya makanan kesukaanku saja baru aku mau makan,"

"Lagi pula, apa mbak lupa,... aku loh juga masak di sini. Tapi aku juga nggak selera makan masakan ku sendiri. Jadi bukan karena masakan mbak Nah yang tidak enak, tapi karena memang aku nya saja yang susah makan." ucap Lia sedikit panik.

"Aduh,... aku jadi enggak enak sama Mbak Nah,"

Enah tampak tersenyum simpul.

"Iya, nggak papa, kok. Sudah kamu bantu di luar aja, sambil menunggu tukang satenya lewat," ujar Enah.

"Jadi mbak Nah sendirian di sini?"

"Panggil saja Iteung kemari untuk gantiin kamu," ucap Enah.

"Oh iya, kalau begitu Lia ke depan dulu ya, Mbak," ucap Lia.

Wanita berhijab itu kembali tersenyum. Begitulah Enah, wanita itu sangat baik dan berpenampilan lembut. Dia juga terlihat sangat sabar.

Lia menuju ke luar. Dia melihat Iteung sedang menyapu lantai.

"Teung, aku saja yang di sini. Kamu d dalam aja bantu Mbak Nah.

"Loh,... emang nya kamu kenapa?"

"Kata mbak Nah, biasanya kalau malam ada tukang sate keliling yang biasa lewat. Aku mau beli sate, Teung. Dari tadi siang aku belum makan. Aku lagi males makan masakan di sini," ujar Lia.

Hal itu tentu saja bagi Iteung terdengar aneh. Biasanya para karyawan yang bekerja di sini, mereka akan mengambil lauk pauk yang mereka sukai karena setiap karyawan rumah makan ini mendapatkan jatah satu orang satu setiap hari.

"Aneh,... padahal banyak pilihan menu yang tersedia di sini, Lia. Kamu bebas kok mau ambil apa aja lauk yang kamu suka. Ada ayam, daging, udang, ikan atau cumi kalau mau, Lia. Bukankah itu enak. Meskipun kita di jatah satu kali saja yaitu malam hari." ujar Iteung.

"Iya, ... tapi aku malas, Teung." ujar Lia.

"Haisss,.... kamu memang aneh dari dulu," ujar Iteung.

"Ya sudah,... ini sapunya. Aku mau ke belakang bantu Mbak Nah," ucap Iteung lagi.

"Oke,... makasih ya teung," ucap Lia seraya tersenyum manis.

Lia fokus menyapu dengan menundukkan wajahnya. Dia sengaja memilih melihat ke arah lantai saja karena makhluk halus yang dia lihat sebelumnya kini sedang menatap ke arah nya. Mereka terus memperhatikan Lia dengan tatapan tajam.

Ting...Ting... Ting....

Suara mangkok keramik yang di pukul sendok terdengar.

"Sate,....sate.....!", teriak penjual sate dari luar. Lia berlari keluar untuk membeli sate.

"Mas,.... beli satenya," teriak Lia.

Tukang sate pun berhenti tepat di depan rumah makan.

"Mas,.... bikinin sate satu porsi ya," ujar Lia.

"Oke, Mba," jawab si tukang sate.

Pria itu mulai membakar satenya. Aroma harum dari bumbu sate semerbak membuat perut Lia semakin keroncongan.

"Mba baru ya, kerja di sini?" tanya tukang sate itu.

"Iya, mas. Kok masnya tau, sih?" tanya Lia.

"Adik saya dulu kerja di sini, Mba. Jadi saya kenal betul dengan semua karyawan yang kerja di sini," ujar penjual sate.

"Ohh,... jadi sekarang adek mas nggak kerja di sini lagi?", tanya Lia.

"Nggak, mbak. Waktu kerja di sini, adik saya itu sering sakit-sakitan. Tapi setelah pulang sembuh. Jadi nggak saya izinin kerja di sini lagi."

"Ohh, begitu ya, mas", ucap Lia.

"Ini Mba, satenya sudah siap, mau pake lontong, kah?"

"Boleh, mas," ucap Lia senang. Kebetulan juga dia belum makan. Tak ada nasi, lontong juga bisa jadi pengganjal perut.

Penjual sate menyerahkan bungkusan sate lengkap dengan sebatang lontong kepada Lia.

"Jadi berapa , mas?" tanya Lia.

"20 ribu aja, Mbak."

Lia menyerahkan uang pecahan dua puluh ribu kepada Penjual sate seraya mengucapkan terima kasih.

"Mbak,....hati - hati kerja di sini ya," pesan penjual sate sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

Kening Lia berkerut heran mendengar pesan penjual sate itu.

Kira - kira, ada apa ya, ... dengan rumah makan yang di tempati Lia bekerja sekarang?

Penasaran? Simak lagi kelanjutannya, ya...

Episodes
1 BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2 BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3 BAB. 03 Di Datangi Ular
4 Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5 Bab. 05 Ajakan Mahesa
6 Bab.06 Menghilang
7 Bab. 07 Pergi Ke Kota
8 Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9 Bab.09 Pernikahan Ghaib
10 Bab 10. Kantong Ajaib.
11 Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12 Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13 Bab. 13. Apakah itu...?
14 Bab.14. Pesugihan
15 Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16 Bab.16 Peraturan Aneh
17 Bab.17. Kesurupan
18 Bab. 18. Bingung
19 Bab.19. Keluar Malam
20 Bab.20. Mengintip Pak Karso
21 Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22 Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23 Bab. 23 Sasaran Target
24 Bab.24. Mimpi Dahlia
25 Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26 Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27 Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28 Bab. 28 Korban lain
29 Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30 Ungkapan Cinta Rendi
31 Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32 Bab. 32 Pingsan
33 Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34 Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35 Bab. 35. Kematian Enah
36 Bab. 36 Telepon Wak Emah
37 Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38 Bab. 38 Pocong Enah
39 Bab.39 Permintaan Rendi
40 Bab.40. Kerisauan Lia
41 Bab. 41 Kematian Rendi
42 Bab.42 Di pecat
43 Bab.43. Memulai dari Awal
44 Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45 Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46 Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47 Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48 Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49 Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50 Bab.50 Bayangan Hitam
51 Bab. 51. Pertarungan Sengit
52 Bab.52. Grab Khusus
53 Bab.53. Sundel Bolong
54 Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55 Bab. 55. Kembali Melihat
56 Bab. 56 Cemas
57 Bab.57. Sebuah Rencana
58 Bab. 58. Jalan Pintas
59 Bab. 59. Mengobati Iteung
60 Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61 Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62 Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63 Bab.63. Makan Pizza
64 Bab 64. Perut Wong Ndeso
65 Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66 Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67 Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68 Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69 Bab. 69. Cemas
70 Bab 70 Renggang
71 Bab.71. Rencana Yang Gagal
72 Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73 Bab.73. Cerita Lia
74 Bab. 74. Hantu Perempuan.
75 Bab.75 Panggilan Rivan
76 Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77 Bab. 77 Ketahuan ...
78 Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79 Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80 Bab. 80. Putus
81 Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82 Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83 Bab. 83. Kegilaan Radit
84 Bab.84. Di Hukum
85 Bab 85. Double Dates
86 Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87 Bab.87. Kemarahan Radit
88 Bab. 88. Rencana Rivan
89 Bab. 89. Serangan Ghaib
90 Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91 Bab.91. Kesedihan Lia
92 Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93 Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94 Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95 Bab.95. Dendam Radit
96 Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97 Bab. 97. Restu Mak Emah
98 Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99 Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100 Bab. 100. Dendam Radit
101 Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102 Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103 Bab. 103. Keraguan Lia
104 Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105 Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106 Bab.106. Panggilan Lia
107 Bab.107. Pertanyaan Viktor
108 Bab.108. Terancam Batal
109 Bab.109. Rumah kita
110 Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111 Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112 Bab 112 Rencana Iteung
113 Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114 Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115 Bab.115. Akhir Bahagia
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2
BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3
BAB. 03 Di Datangi Ular
4
Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5
Bab. 05 Ajakan Mahesa
6
Bab.06 Menghilang
7
Bab. 07 Pergi Ke Kota
8
Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9
Bab.09 Pernikahan Ghaib
10
Bab 10. Kantong Ajaib.
11
Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12
Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13
Bab. 13. Apakah itu...?
14
Bab.14. Pesugihan
15
Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16
Bab.16 Peraturan Aneh
17
Bab.17. Kesurupan
18
Bab. 18. Bingung
19
Bab.19. Keluar Malam
20
Bab.20. Mengintip Pak Karso
21
Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22
Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23
Bab. 23 Sasaran Target
24
Bab.24. Mimpi Dahlia
25
Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26
Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27
Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28
Bab. 28 Korban lain
29
Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30
Ungkapan Cinta Rendi
31
Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32
Bab. 32 Pingsan
33
Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34
Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35
Bab. 35. Kematian Enah
36
Bab. 36 Telepon Wak Emah
37
Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38
Bab. 38 Pocong Enah
39
Bab.39 Permintaan Rendi
40
Bab.40. Kerisauan Lia
41
Bab. 41 Kematian Rendi
42
Bab.42 Di pecat
43
Bab.43. Memulai dari Awal
44
Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45
Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46
Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47
Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48
Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49
Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50
Bab.50 Bayangan Hitam
51
Bab. 51. Pertarungan Sengit
52
Bab.52. Grab Khusus
53
Bab.53. Sundel Bolong
54
Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55
Bab. 55. Kembali Melihat
56
Bab. 56 Cemas
57
Bab.57. Sebuah Rencana
58
Bab. 58. Jalan Pintas
59
Bab. 59. Mengobati Iteung
60
Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61
Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62
Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63
Bab.63. Makan Pizza
64
Bab 64. Perut Wong Ndeso
65
Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66
Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67
Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68
Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69
Bab. 69. Cemas
70
Bab 70 Renggang
71
Bab.71. Rencana Yang Gagal
72
Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73
Bab.73. Cerita Lia
74
Bab. 74. Hantu Perempuan.
75
Bab.75 Panggilan Rivan
76
Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77
Bab. 77 Ketahuan ...
78
Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79
Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80
Bab. 80. Putus
81
Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82
Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83
Bab. 83. Kegilaan Radit
84
Bab.84. Di Hukum
85
Bab 85. Double Dates
86
Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87
Bab.87. Kemarahan Radit
88
Bab. 88. Rencana Rivan
89
Bab. 89. Serangan Ghaib
90
Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91
Bab.91. Kesedihan Lia
92
Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93
Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94
Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95
Bab.95. Dendam Radit
96
Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97
Bab. 97. Restu Mak Emah
98
Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99
Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100
Bab. 100. Dendam Radit
101
Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102
Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103
Bab. 103. Keraguan Lia
104
Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105
Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106
Bab.106. Panggilan Lia
107
Bab.107. Pertanyaan Viktor
108
Bab.108. Terancam Batal
109
Bab.109. Rumah kita
110
Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111
Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112
Bab 112 Rencana Iteung
113
Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114
Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115
Bab.115. Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!