Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran

Dahlia membeli tiket bus dan segera menuju tiket bus yang akan dia tumpangi ke Jakarta. Perasaan hatinya benar - benar lega setelah bisa lepas dari keluarganya yang benar - benar racun itu.

Dia ingin memulai hidup baru di kota Jakarta. Memulai pengalaman baru dan juga pekerjaan baru di ibu kota. Meskipun kata orang, ibu kota lebih kejam dari pada ibu tiri.

Sementara di kampung, Mak Emah kini sedang menghadapi masalah. Bu Warti mendatangi Mak Emah dan mendamprat wanita paruh baya itu habis - habisan.

Bu Warti menuduh Mak Emah menyembunyikan Dahlia. Akan tetapi, Mak Emah tenang saja. Dia sama sekali tidak menggubris tuduhan tersebut.

Bahkan dengan santainya dia mengelak dari tuduhan tersebut karena tak ada bukti yang menunjukkan Mak Emah menyembunyikan anak tiri Bu Warti itu. Mak Emah bertekad tidak akan mengatakan apapun tentang Lia. Dia sudah berjanji akan melindungi Dahlia karena Mak Emah sudah mengetahui dan melihat sendiri kekejaman Bu Warti dan juga saudara - saudara Lia yang lain.

"Ngaku kamu, Mah, kamu kan, yang menyembunyikan Lia?" bentak Bu Warti.

"Aduh, ibu teh bagaimana? Emang ibu ada bukti jika saya yang menyembunyikan neng Lia?" tanya Mak Emah dengan santainya.

Bu Warti dan saudara - saudara Lia yang lain meradang dengan sikap Mak Emah. Namun mereka sungguh tak punya bukti yang kuat untuk menyalahkan Mak Emah. Namun Bu Warti yakin sekali jika malam itu dia melihat Dahlia berlari ke arah rumah Mak Emah.

Gosip - gosip tetangga pun merebak. Mereka menertawakan keluarga Bu Warti yang telah melabrak Mak Emah dengan alasan yang tak jelas. Bahkan beberapa di antara mereka mengatakan Bu Warti sudah tidak waras lantaran mengatakan jika Dahlia pulang dini hari namun faktanya sampai saat ini Dahlia

belum juga kembali.

Padahal,... tanpa mereka semua ketahui, saat ini Dahlia sedang berada di dalam bus yang membawa nya ke Jakarta.

Di perjalanan, Dahlia sempat tertidur di dalam bus karena lelah.

Lewat tengah hari, bus yang dia tumpangi sampai di terminal bus. Ia menuju salah satu rumah makan di sana untuk mengisi perut nya lapar keroncong. Karena sejak tadi dia belum makan siang. Selama di perjalanan tadi dia hanya minum air putih yang dia beli ketika di terminal sebelum bus berangkat.

Memang tadi dia sempat sarapan sebelum bus berangkat. Tapi sekarang jam makan siang sudah terlewati dan perutnya juga kembali berteriak minta di isi.

Setelah mengisi perut, Lia bingung kemana harus mencari alamat Iteung. Dia memegang kertas yang berisi alamat dan nomor telepon Iteung. Matanya lalu lalang melihat orang - orang yang berjalan di depannya siapa tahu diantara mereka ada yang bisa dia mintai pertolongan.

Mata Lia tertuju pada seorang anak muda yang sedang mengutak-atik ponselnya. Dahlia pun mendekati anak muda itu..

"Permisi, Mas,..."

Anak muda itu mendongak menatap ke arah Lia dengan tatapan kesal. Dia merasa terusik karena Dahlia yang menggangu keasyikannya bermain ponsel.

"Ada apa, sih?" ketusnya.

"Begini mas, saya mau...."

"ahhh, sudah, .. sudah, ... berisik tau. Dengar ya,...saya nggak urus situ mau apa. Cari orang lain saja. Menggangu orang saja kerjanya!"

Ujar anak muda itu ketus. Dia bahkan memotong ucapan Lia yang belum selesai menyampaikan maksudnya.

"Astaghfirullah,...ya sudah, kalau masnya nggak mau nolongin juga nggak papa. Terima kasih, mas, permisi..."

Anak muda itu menatap Dahlia dengan tatapan sinis. "Ngaku aja, deh. Kamu itu ingin berkenalan denganku, kan?"

"Hah?"

Dahlia tampak kaget mendengar ucapan pemuda itu. Apa dia bilang, mau kenalan?

Astaga,.... percaya diri sekali dia, pikir Lia.

"Sebaiknya kamu urungkan saja niat kamu itu. Saya tak tertarik dengan kamu.. Lagi pula Saya sudah punya pacar," ucapnya masih dengan nada ketus.

Dahlia ingin tertawa keras karena pemuda itu begitu percaya diri mengira Lia ingin berkenalan dengan nya.

"Astaga, mas. Apa yang sampean pikirkan? Saya hanya bermaksud ingin minjam ponselnya saja, " jawab Lia.

"Alah,... modus itu? pasti kamu mau bawa lari ponsel saya, kan?" tuduh anak muda itu.

"Ahh,... terserah kamu lah," Lia pun berlalu dari hadapan anak muda itu.

Dahlia kemudian menghampiri seorang wanita muda. Semoga saja kali ini ada yang bersedia menolong nya, harapan Dahlia.

"Permisi,.. mbak," sapa Lia. Wanita itu menoleh dan tersenyum padanya.

"Iya, ..ada apa ya?" tanya wanita itu ramah.

"Begini, Mbak, saya mau menghubungi teman saya. Tapi saya Ndak punya ponsel. Bisakah mbak menolong saya menghubungi teman saya itu."

"Oh,...bisa, mana nomer telpon nya?"

Dahlia menyerahkan secarik kertas lusuh yang berisi nomor telepon Iteung.

Wanita itu segera menelpon nomor yang diberikan oleh Lia. Begitu terhubung dia menyerahkan telepon tersebut kepada Lia agar Lia bicara langsung dengan Iteung.

Lia pun akhirnya bisa berbicara dengan Iteung sejenak di telepon.

"Mbak,... ini teleponnya. Terima kasih atas bantuannya." ucap Lia sambil tersenyum manis pada wanita itu.

"Iya, sama - sama, dek." ujar wanita itu.

"Kalau begitu saya duluan ya mbak, permisi," ujar Lia.

"iya, silahkan," balas wanita itu. Dahlia berjalan di pinggir jalan berharap dapat angkot atau bajaj yang bisa mengantarnya ke rumah Iteung.

Tak beberapa lama kemudian,... sebuah bajaj lewat melintas di depan Lia. Segera Lia menyetop bajaj tersebut.

Kepada sopir bajaj, Lia minta tolong untuk diantar ke alamat Iteung seperti yang tertulis pada kertas.

Setelah sepakat dengan ongkos kesana, akhirnya Lia pun diantar oleh sopir bajaj tersebut ke alamat rumah Iteung.

Perjalanan ke rumah Iteung cukup memakan waktu yang lumayan lama karena ternyata tempat itu lumayan jauh.

Setelah cukup lama, Dahlia akhirnya sampai di rumah tempat Iteung bekerja.

Setelah membayar ongkos bajaj, Dahlia bergegas masuk ke sebuah rumah makan.

"Lia...!" seru seseorang dari dalam rumah makan. Dia adalah Iteung, teman Lia yang sudah lama bekerja di sini.

Lia tersenyum senang melihat sahabat nya itu. Iteung langsung memeluk tubuh Lia dan dia terlihat sangat senang.

"Mana baju kamu?" tanya Iteung ketika dia melihat Lia tidak membawa apapun.

"Aku tidak membawa apapun, teung. Hanya selembar baju di badan ku ini saja," ujar Lia.

"Astaga,....ahh, sudahlah. Nanti saja di bahas. Yang penting sekarang kamu sudah sampai di sini dengan selamat. Ayo, kita ketemu Pak Karso dulu," ucap Iteung. Tadinya Iteung syok mendengar Lia tak membawa bekal pakaian meskipun selembar. Tapi kemudian dia mengabaikan hal itu karena harus membawa Lia bertemu dengan bosnya yaitu Pak Karso.

Iteung membawa Lia untuk menemui pemilik rumah makan tempat dia bekerja yaitu Pak Karso di ruang kerjanya.

Tok...tok....tok ...

"Masuk,..." terdengar suara sahutan dari dalam.

Iteung membuka pintu dan masuk dengan sopan bersama Lia yang mengikuti dari belakang.

"Permisi, Pak. Saya membawa teman saya yang mau bekerja di sini." ujar Iteung memperkenalkan Lia pada bos nya.

Pak Karso yang sedang asyik membaca koran menghentikan kegiatan nya dan menatap Lia sejenak. Ada keterkejutan sejenak di wajah lelaki itu namun cepat dia sembunyikan ketika lelaki itu menatap wajah Lia.

"Pak,...pak Karso,..." panggil Iteung menyadarkan Pak Karso yang sempat melamun ketika melihat Lia.

Dahlia pun juga tanpa sadar menatap balik Pak Karso.

"Ehh,...iya Iteung," jawab Pak Karso yang sedikit terlonjak karena kaget mendengar panggilan Iteung.

"Dari tadi bapak liatin temen saya," ucap Iteung menegur bosnya itu secara halus.

"Aduh,... maaf. Tadi bapak liatin kamu karena kamu mirip keponakan bapak di kampung. Tadinya bapak pikir kamu itu keponakan bapak yang mau kerja di sini." ucap Pak Karso sambil tersenyum menatap Iteung dan Lia.

"Silahkan duduk, ...ada apa ya,..nak Iteung?" tanya pak Karso lagi.

"Begini, Pak. Sebelumnya bapak kan pernah bilang mau menambah karyawan baru karena teh Ita berhenti lantaran sakit. Nah, kebetulan teman saya ini sedang mencari pekerjaan. Maka saya bilang dia coba aja melamar di sini. Kenalkan, namanya Dahlia, Pak," Iteung memperkenalkan Lia kepada pak Karso.

Pak Karso menatap Lia..Dahinya sedikit berkerut tetapi dia tetap tak berucap.

Terjadi keheningan di dalam ruangan itu sebelum akhirnya Iteung yang tak tahan

kembali bertanya pada Pak Karso.

"Bagaimana , Pak.?" apakah teman saya ini bisa bekerja di sini?" tanya Iteung tak sabaran karena Pak Karso masih terdiam.

"Aneh,...." guman pak Karso seperti pada diri sendiri.

"Pak,...pak Karso..! Gimana nasib teman saya ini. Apa dia diterima bekerja di tempat ini atau tidak?"

?????

Episodes
1 BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2 BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3 BAB. 03 Di Datangi Ular
4 Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5 Bab. 05 Ajakan Mahesa
6 Bab.06 Menghilang
7 Bab. 07 Pergi Ke Kota
8 Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9 Bab.09 Pernikahan Ghaib
10 Bab 10. Kantong Ajaib.
11 Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12 Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13 Bab. 13. Apakah itu...?
14 Bab.14. Pesugihan
15 Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16 Bab.16 Peraturan Aneh
17 Bab.17. Kesurupan
18 Bab. 18. Bingung
19 Bab.19. Keluar Malam
20 Bab.20. Mengintip Pak Karso
21 Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22 Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23 Bab. 23 Sasaran Target
24 Bab.24. Mimpi Dahlia
25 Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26 Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27 Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28 Bab. 28 Korban lain
29 Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30 Ungkapan Cinta Rendi
31 Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32 Bab. 32 Pingsan
33 Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34 Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35 Bab. 35. Kematian Enah
36 Bab. 36 Telepon Wak Emah
37 Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38 Bab. 38 Pocong Enah
39 Bab.39 Permintaan Rendi
40 Bab.40. Kerisauan Lia
41 Bab. 41 Kematian Rendi
42 Bab.42 Di pecat
43 Bab.43. Memulai dari Awal
44 Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45 Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46 Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47 Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48 Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49 Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50 Bab.50 Bayangan Hitam
51 Bab. 51. Pertarungan Sengit
52 Bab.52. Grab Khusus
53 Bab.53. Sundel Bolong
54 Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55 Bab. 55. Kembali Melihat
56 Bab. 56 Cemas
57 Bab.57. Sebuah Rencana
58 Bab. 58. Jalan Pintas
59 Bab. 59. Mengobati Iteung
60 Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61 Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62 Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63 Bab.63. Makan Pizza
64 Bab 64. Perut Wong Ndeso
65 Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66 Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67 Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68 Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69 Bab. 69. Cemas
70 Bab 70 Renggang
71 Bab.71. Rencana Yang Gagal
72 Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73 Bab.73. Cerita Lia
74 Bab. 74. Hantu Perempuan.
75 Bab.75 Panggilan Rivan
76 Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77 Bab. 77 Ketahuan ...
78 Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79 Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80 Bab. 80. Putus
81 Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82 Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83 Bab. 83. Kegilaan Radit
84 Bab.84. Di Hukum
85 Bab 85. Double Dates
86 Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87 Bab.87. Kemarahan Radit
88 Bab. 88. Rencana Rivan
89 Bab. 89. Serangan Ghaib
90 Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91 Bab.91. Kesedihan Lia
92 Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93 Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94 Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95 Bab.95. Dendam Radit
96 Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97 Bab. 97. Restu Mak Emah
98 Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99 Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100 Bab. 100. Dendam Radit
101 Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102 Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103 Bab. 103. Keraguan Lia
104 Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105 Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106 Bab.106. Panggilan Lia
107 Bab.107. Pertanyaan Viktor
108 Bab.108. Terancam Batal
109 Bab.109. Rumah kita
110 Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111 Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112 Bab 112 Rencana Iteung
113 Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114 Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115 Bab.115. Akhir Bahagia
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2
BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3
BAB. 03 Di Datangi Ular
4
Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5
Bab. 05 Ajakan Mahesa
6
Bab.06 Menghilang
7
Bab. 07 Pergi Ke Kota
8
Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9
Bab.09 Pernikahan Ghaib
10
Bab 10. Kantong Ajaib.
11
Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12
Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13
Bab. 13. Apakah itu...?
14
Bab.14. Pesugihan
15
Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16
Bab.16 Peraturan Aneh
17
Bab.17. Kesurupan
18
Bab. 18. Bingung
19
Bab.19. Keluar Malam
20
Bab.20. Mengintip Pak Karso
21
Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22
Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23
Bab. 23 Sasaran Target
24
Bab.24. Mimpi Dahlia
25
Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26
Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27
Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28
Bab. 28 Korban lain
29
Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30
Ungkapan Cinta Rendi
31
Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32
Bab. 32 Pingsan
33
Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34
Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35
Bab. 35. Kematian Enah
36
Bab. 36 Telepon Wak Emah
37
Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38
Bab. 38 Pocong Enah
39
Bab.39 Permintaan Rendi
40
Bab.40. Kerisauan Lia
41
Bab. 41 Kematian Rendi
42
Bab.42 Di pecat
43
Bab.43. Memulai dari Awal
44
Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45
Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46
Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47
Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48
Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49
Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50
Bab.50 Bayangan Hitam
51
Bab. 51. Pertarungan Sengit
52
Bab.52. Grab Khusus
53
Bab.53. Sundel Bolong
54
Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55
Bab. 55. Kembali Melihat
56
Bab. 56 Cemas
57
Bab.57. Sebuah Rencana
58
Bab. 58. Jalan Pintas
59
Bab. 59. Mengobati Iteung
60
Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61
Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62
Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63
Bab.63. Makan Pizza
64
Bab 64. Perut Wong Ndeso
65
Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66
Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67
Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68
Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69
Bab. 69. Cemas
70
Bab 70 Renggang
71
Bab.71. Rencana Yang Gagal
72
Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73
Bab.73. Cerita Lia
74
Bab. 74. Hantu Perempuan.
75
Bab.75 Panggilan Rivan
76
Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77
Bab. 77 Ketahuan ...
78
Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79
Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80
Bab. 80. Putus
81
Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82
Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83
Bab. 83. Kegilaan Radit
84
Bab.84. Di Hukum
85
Bab 85. Double Dates
86
Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87
Bab.87. Kemarahan Radit
88
Bab. 88. Rencana Rivan
89
Bab. 89. Serangan Ghaib
90
Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91
Bab.91. Kesedihan Lia
92
Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93
Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94
Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95
Bab.95. Dendam Radit
96
Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97
Bab. 97. Restu Mak Emah
98
Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99
Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100
Bab. 100. Dendam Radit
101
Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102
Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103
Bab. 103. Keraguan Lia
104
Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105
Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106
Bab.106. Panggilan Lia
107
Bab.107. Pertanyaan Viktor
108
Bab.108. Terancam Batal
109
Bab.109. Rumah kita
110
Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111
Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112
Bab 112 Rencana Iteung
113
Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114
Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115
Bab.115. Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!