Bab. 07 Pergi Ke Kota

"Lia,.... kamu dari mana saja . Sejak tiga hari lalu, orang - orang sibuk mencarimu,"

"Hah?.... sejak tiga hari yang lalu..?" Lia bingung mendengar ucapan Mak Emah.

Perasaan tadi dia hanya pergi ke kebun. Lalu pulang nya bertemu dengan Mahesa. Mahesa mengajak nya mampir ke rumah pemuda itu. Tapi dia menolak nya. Karena merasa tidak pantas dengan keadaan dirinya.

Sekarang sudah tengah malam.

Astaga,.... jadi aku sudah pergi selama kurang lebih tiga hari? Ucap Lia dalam hati.

Bingung...?

***

"Mak,... bisakah aku pinjam ponsel Mak sebentar? Aku mau menelpon Teh Iteung. Aku mau menyusul teteh ke Jakarta. Aku sudah nggak sanggup lagi tinggal di sini, Mak." ujar Lia. Dia menyeka air mata yang jatuh di pelupuk mata nya.

"Tenangkan dirimu, Lia. Lagi pula sekarang masih malam. Iteung juga mungkin belum bangun. Sekarang lebih baik kamu ceritakan saja pada Mak, dari mana saja kamu selama tiga hari ini?"

"Aku..... aku di ajak orang pergi ke kampung nya sebentar, Mak. Setelah itu, baru diantar pulang." jawab Lia.

Dia tidak menceritakan pada Mak Emah jika yang mengajaknya pergi adalah Mahesa, pemuda dari bangsa jin, karena takut membuat Mak Emah khawatir.

"Sebentar katamu? Tapi kamu itu sudah pergi selama tiga hari, Lia. Bahkan saat itu kami semua ikut mencari mu ketika ibumu mengatakan kamu belum pulang sejak sore," tanya Mak Emah dengan wajah syok.

"Iya, Mak. Aku hanya sebentar saja di sana. Aku tidak bohong,.." ucap Lia.

Mak Emah terdiam. Dia masih shock mendengar cerita Lia.

Sedangkan Lia tampak sedang berpikir. Bagaimana mungkin dia sudah pergi selama itu padahal Lia merasa bahwa dia hanya pergi sesaat saja.

Lia menyadari jika dia baru saja memasuki dunia jin bersama Mahesa. Tapi yang dia tak habis pikir, ternyata amat jauh perbedaan rentang waktu di antara dunia manusia dan dunia jin. Ternyata sesaat di dunia jin, justru nyatanya sampai berhari hari di dunia manusia.

Suara lolongan anjing di kejauhan terdengar sangat memilukan. Suaranya mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengar nya. Konon, menurut penuturan orang tua zaman dahulu, suara anjing yang melolong panjang seperti itu adalah pertanda jika binatang itu sedang melihat makhluk - makhluk yang tak kasat mata yang berwujud mengerikan.

Di saat ini, Lia seorang diri berjalan di kegelapan malam itu. Sebenarnya, Lia sedikit takut dan juga ngeri saat mendengar lolongan anjing itu. Namun tekadnya sudah bulat. Dia harus pergi meninggalkan rumah ini dan juga desa tempat kelahirannya ini apapun yang terjadi.

Tadi saat di rumah Wak Emah, dia sempat meminjam ponsel wanita itu untuk berbicara dengan teh Iteung.

Dengan terisak - isak, Lia menceritakan tentang keinginan nya untuk menyusul Iteung ke Jakarta. Dia sudah tak tahan lagi tinggal bersama ibu tiri dan saudara - saudara nya yang lain.

"Teh Iteung,.....di mana alamat tempat teteh bekerja. Aku ingin menyusul teteh ke sana," ucap Lia sambil menangis sesenggukan.

Iteung yang mendengar Lia menangis menjadi panik bingung dan juga khawatir.

"Lia, kamu tenang dulu. Jangan menangis. Katakan, ada apa? Ngomong pelan - pelan, kamu kenapa?" tanya Iteung dari sambungan telepon.

"Teh, ... Lia mau minta alamat teteh di Jakarta. Lia mau menyusul teteh. Lia sudah nggak sanggup lagi di sini." ujar Lia sambil tersedu-sedu terisak.

"Oke,... nanti akan aku kirimkan alamatnya melalui SMS. Biar jelas. Kalau sudah sampai, kamu hubungi aku melalui telepon." ucap Iteung.

"Iya,... terima kasih, Teh. Nanti jika sudah sampai Lia akan hubungi teteh," ucap Lia.

"Eh tapi Lia,.. kamu kan, nggak punya telepon. Bagaimana nanti mau hubungi teteh?" tanya Iteung. Lia jadi bingung.

"Emm, begini aja, teh. Lia minta nomor telepon teteh. Nanti jika sudah sampai di Jakarta, Lia akan minta tolong orang lain untuk menelpon teteh." ujar Lia lagi.

"Oh, begitu. Baiklah. Sekarang berikan dulu telepon nya sama umiku," ujar Iteung.

Lia memberikan teleponnya kepada Mak Emah. Beberapa saat terlihat Mak Emah dan Iteung terlibat pembicaraan. Mak terlihat serius mendengarkan ucapan Iteung setelah itu dia mematikan sambungan telepon.

Mak Emah mengambil sebuah buku dan pulpen lalu memberikan nya pada Lia.

"Lia,... ini kamu catat dulu nomor telepon Iteung, yah. Mak mau ambil uang dulu di dalam," ucap Mak Emah.

Lia menganggukkan kepalanya dan bergegas mengambil handphone yang tergeletak di atas meja.

Dia menuliskan alamat tempat Iteung bekerja dan nomor ponsel gadis itu di selembar kertas dan setelah selesai lalu menyimpan nya.

Terlihat Mak Emah keluar dari dalam kamarnya.

"Lia,... ini ada uang. Walaupun tak banyak, tapi Mak yakin ini cukup untuk ongkos kamu ke kota." ujar Mak Emah.

Mata Lia terlihat berkaca - kaca setelah menerima uang tersebut. Dia langsung berdiri dan memeluk wanita paruh baya itu sambil menangis terharu.

"Terima kasih, Mak. Maafin Lia karena selalu menyusahkan Mak. Lia belum bisa membalas semua kebaikan Mak saat ini. Jika ada umur dan rezeki, Lia akan balas semua kebaikan Mak," ujar Lia. Mak Emah mengusap punggung Lia dengan lembut. Sentuhan wanita itu penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.

"Jangan kau pikirkan masalah itu. Itu semua juga adalah permintaan Iteung. Dia bilang agar Mak memberikan ongkos untuk mu agar bisa sampai ke sana," ucap Mak Emah.

"Terima kasih, Mak. Mak dan Iteung saja yang baik sama Lia. Lia akan ingat jasa - jasa kalian kelak."

"Sekarang, bagaimana? Apa kamu mau pulang dulu berkemas?"

"Nggak usah, Mak. Kalau Lia pulang, takutnya nanti mereka akan tahu keberadaan ku dan pastinya nanti akan datang tiap bulan untuk minta uang ku tanpa menyisakan sedikit pun untukku," ucap Lia sambil menangis.

Mak Emah menatap nanar ke arah Lia. Dia merasa ini salah. Namun dia juga mengerti. Mungkin inilah jalan terbaik untuk Lia. Gadis itu selama ini sudah sangat tertekan dengan kekejaman Bu Warti dan saudara - saudara Lia yang lain.

"Ya sudah. Memang ini salah, tapi Mak maklum jika kamu merasa tersiksa. Tapi sekarang sudah tengah malam. Bagaimana caranya kamu mau ke terminal?" tanya Mak Emah.

"Nanti Lia akan minta tolong teman untuk mengantar Lia ke terminal," jawab Lia.

Mak Emah mengernyitkan dahi. Pasalnya yang dia tahu, selain putrinya, teman Lia tak ada lagi. Lalu maksud Dahlia, teman nya yang mana lagi??

???

***

Lia berjalan perlahan menembus kegelapan malam tanpa berniat untuk berhenti. Tekadnya untuk pergi meninggalkan rumah sudah bulat. Dia harus pergi dari desa ini.

Dari kejauhan, dia melihat sesosok bayangan yang bergerak mendekati dirinya.

Dia merasa takut jika itu adalah orang yang ingin berbuat jahat atau mungkin juga,... hantu.

Akhh,.... Lia mengusir pikiran Absurd itu dari otaknya.

"Siapa..?" Lia memberanikan diri untuk bertanya ketika bayangan itu sudah semakin dekat ke arah nya.

"Dek,... ini aku," Sebuah suara yang kini sudah akrab di telinga nya membuat Lia bisa menarik napas lega.

Beberapa saat kemudian dia dapat melihat sosok Mahesa yang berdiri tak jauh di hadapannya.

Melihat jika itu adalah Mahesa, Lia berlari ke arah pemuda itu dan menghambur dalam pelukannya. Ada perasaan lega di hatinya ketika bertemu pemuda itu.

"Kenapa kamu menangis? Apa kamu takut?"

Lia tak bisa menahan diri lagi. Dia menumpahkan air mata nya di bahu pemuda itu. Kesedihan hati dan juga perasaan yang terluka bercampur kelelahan jiwa membuat Lia merasa rapuh.

Mahesa mendongakkan wajah Lia lalu mengecup lembut kening gadis itu.

"Jangan takut, aku akan menjagamu," ucap Mahesa.

Dahlia menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Terima kasih sudah mau menjagaku."

Mahesa mencubit hidung Lia yang bangir. "Kau ini bicara apa? Bukankah kamu itu sekarang adalah kekasihku. Aku akan berusaha untuk menjaga dan melindungi mu meskipun dengan nyawaku." ucap Mahesa.

"Sekarang katakan padaku, kemana kamu akan pergi?" tanya Mahesa.

"Aku akan pergi ke kota untuk menyusul teh Iteung." jawab Lia.

"Baiklah,.... aku akan mengantarmu ke tempat temanmu itu. Bersiaplah!" ucap Mahesa.

Episodes
1 BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2 BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3 BAB. 03 Di Datangi Ular
4 Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5 Bab. 05 Ajakan Mahesa
6 Bab.06 Menghilang
7 Bab. 07 Pergi Ke Kota
8 Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9 Bab.09 Pernikahan Ghaib
10 Bab 10. Kantong Ajaib.
11 Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12 Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13 Bab. 13. Apakah itu...?
14 Bab.14. Pesugihan
15 Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16 Bab.16 Peraturan Aneh
17 Bab.17. Kesurupan
18 Bab. 18. Bingung
19 Bab.19. Keluar Malam
20 Bab.20. Mengintip Pak Karso
21 Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22 Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23 Bab. 23 Sasaran Target
24 Bab.24. Mimpi Dahlia
25 Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26 Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27 Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28 Bab. 28 Korban lain
29 Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30 Ungkapan Cinta Rendi
31 Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32 Bab. 32 Pingsan
33 Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34 Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35 Bab. 35. Kematian Enah
36 Bab. 36 Telepon Wak Emah
37 Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38 Bab. 38 Pocong Enah
39 Bab.39 Permintaan Rendi
40 Bab.40. Kerisauan Lia
41 Bab. 41 Kematian Rendi
42 Bab.42 Di pecat
43 Bab.43. Memulai dari Awal
44 Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45 Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46 Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47 Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48 Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49 Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50 Bab.50 Bayangan Hitam
51 Bab. 51. Pertarungan Sengit
52 Bab.52. Grab Khusus
53 Bab.53. Sundel Bolong
54 Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55 Bab. 55. Kembali Melihat
56 Bab. 56 Cemas
57 Bab.57. Sebuah Rencana
58 Bab. 58. Jalan Pintas
59 Bab. 59. Mengobati Iteung
60 Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61 Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62 Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63 Bab.63. Makan Pizza
64 Bab 64. Perut Wong Ndeso
65 Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66 Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67 Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68 Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69 Bab. 69. Cemas
70 Bab 70 Renggang
71 Bab.71. Rencana Yang Gagal
72 Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73 Bab.73. Cerita Lia
74 Bab. 74. Hantu Perempuan.
75 Bab.75 Panggilan Rivan
76 Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77 Bab. 77 Ketahuan ...
78 Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79 Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80 Bab. 80. Putus
81 Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82 Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83 Bab. 83. Kegilaan Radit
84 Bab.84. Di Hukum
85 Bab 85. Double Dates
86 Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87 Bab.87. Kemarahan Radit
88 Bab. 88. Rencana Rivan
89 Bab. 89. Serangan Ghaib
90 Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91 Bab.91. Kesedihan Lia
92 Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93 Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94 Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95 Bab.95. Dendam Radit
96 Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97 Bab. 97. Restu Mak Emah
98 Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99 Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100 Bab. 100. Dendam Radit
101 Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102 Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103 Bab. 103. Keraguan Lia
104 Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105 Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106 Bab.106. Panggilan Lia
107 Bab.107. Pertanyaan Viktor
108 Bab.108. Terancam Batal
109 Bab.109. Rumah kita
110 Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111 Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112 Bab 112 Rencana Iteung
113 Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114 Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115 Bab.115. Akhir Bahagia
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2
BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3
BAB. 03 Di Datangi Ular
4
Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5
Bab. 05 Ajakan Mahesa
6
Bab.06 Menghilang
7
Bab. 07 Pergi Ke Kota
8
Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9
Bab.09 Pernikahan Ghaib
10
Bab 10. Kantong Ajaib.
11
Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12
Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13
Bab. 13. Apakah itu...?
14
Bab.14. Pesugihan
15
Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16
Bab.16 Peraturan Aneh
17
Bab.17. Kesurupan
18
Bab. 18. Bingung
19
Bab.19. Keluar Malam
20
Bab.20. Mengintip Pak Karso
21
Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22
Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23
Bab. 23 Sasaran Target
24
Bab.24. Mimpi Dahlia
25
Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26
Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27
Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28
Bab. 28 Korban lain
29
Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30
Ungkapan Cinta Rendi
31
Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32
Bab. 32 Pingsan
33
Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34
Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35
Bab. 35. Kematian Enah
36
Bab. 36 Telepon Wak Emah
37
Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38
Bab. 38 Pocong Enah
39
Bab.39 Permintaan Rendi
40
Bab.40. Kerisauan Lia
41
Bab. 41 Kematian Rendi
42
Bab.42 Di pecat
43
Bab.43. Memulai dari Awal
44
Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45
Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46
Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47
Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48
Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49
Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50
Bab.50 Bayangan Hitam
51
Bab. 51. Pertarungan Sengit
52
Bab.52. Grab Khusus
53
Bab.53. Sundel Bolong
54
Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55
Bab. 55. Kembali Melihat
56
Bab. 56 Cemas
57
Bab.57. Sebuah Rencana
58
Bab. 58. Jalan Pintas
59
Bab. 59. Mengobati Iteung
60
Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61
Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62
Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63
Bab.63. Makan Pizza
64
Bab 64. Perut Wong Ndeso
65
Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66
Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67
Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68
Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69
Bab. 69. Cemas
70
Bab 70 Renggang
71
Bab.71. Rencana Yang Gagal
72
Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73
Bab.73. Cerita Lia
74
Bab. 74. Hantu Perempuan.
75
Bab.75 Panggilan Rivan
76
Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77
Bab. 77 Ketahuan ...
78
Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79
Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80
Bab. 80. Putus
81
Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82
Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83
Bab. 83. Kegilaan Radit
84
Bab.84. Di Hukum
85
Bab 85. Double Dates
86
Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87
Bab.87. Kemarahan Radit
88
Bab. 88. Rencana Rivan
89
Bab. 89. Serangan Ghaib
90
Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91
Bab.91. Kesedihan Lia
92
Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93
Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94
Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95
Bab.95. Dendam Radit
96
Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97
Bab. 97. Restu Mak Emah
98
Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99
Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100
Bab. 100. Dendam Radit
101
Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102
Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103
Bab. 103. Keraguan Lia
104
Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105
Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106
Bab.106. Panggilan Lia
107
Bab.107. Pertanyaan Viktor
108
Bab.108. Terancam Batal
109
Bab.109. Rumah kita
110
Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111
Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112
Bab 112 Rencana Iteung
113
Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114
Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115
Bab.115. Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!