Bab.19. Keluar Malam

"Aduh,.... bagiamana ini?", ucap Lia bingung. Jujur saja dia masih trauma melihat nasi yang berubah menjadi belatung.

Tapi Iteung sudah terlanjur pergi ke rumah makan untuk mengambil nasi.

Ahhhh,....... Lia semakin bingung. Perutnya juga Lia semakin mual.

Tiba-tiba Lia mendengar bisikan halus Mahesa di telinga nya. " Tidak usah takut, Dinda. Kanda akan mengganti makanan nya dengan yang lain nanti ", ujar Mahesa. Lia mencoba mencari sosok Mahesa ke segala penjuru ruangan namun dia tak menemukan suaminya itu.

"Tapi nasinya jadi belatung, kanda", Lia masih teringat jelas bagaimana nasi di piring Enah yang berubah menjadi belatung. Perutnya kembali terasa mual.

"Kanda tahu, nanti akan kanda ganti", bisik Mahesa.

"Tapi mau ganti bagaimana? Kanda saja tak terlihat ", ucap Lia sedikit kesal tapi masih terdengar lirih.

"Sudah, kamu makan saja apa yang di berikan Iteung. Kanda akan datang nanti malam. Maaf kalau kanda tidak bisa menampakkan diri saat siang hari seperti ini ", ucap Mahesa.

"Iya, kanda ", jawab Lia dengan suara yang sedikit terdengar sedih.

Sejujurnya, Lia sebenarnya ingin sekali di temani suaminya. Dia sangat merindukan Mahesa, suaminya itu , di saat - saat seperti ini. Namun apa boleh buat, dia pun menyadari jika hanya bisa bertemu suaminya itu di alam mimpi saja.

Dahlia termenung seorang diri. Melihat keadaan Lia seperti itu ingin sekali Mahesa memeluk istri mungilnya itu. Tapi apalah daya, hari masih siang dan Iteung juga sebentar lagi akan datang.

Ceklek,....

Pintu terbuka,

Benar dugaan Mahesa, yang datang adalah Iteung. Tentu saja Mahesa mengetahui jika yang datang Iteung karena dia yang aslinya seorang jin tentu dapat melihat dari jarak yang cukup jauh kalau teman istri nya sedang berjalan menuju ke arah mess.

"Lia,...", panggil Iteung di ambang pintu kamarnya.

Gadis itu membawa dua bungkus nasi beserta lauk pauk nya. Satu untuk Lia dan satu lagi untuk dirinya sendiri.

"Ayo makan, Lia!", ajak Iteung. Dia sudah menggelar tikar dan duduk di tengahnya.

Lia yang tengah berbaring di kasur tipis milik Iteung mencoba duduk sambil menahan pusing di kepalanya.

"Ayo makan, semoga nanti rasa pusing dan mual kamu hilang ", ujar Iteung. Dia membukakan satu nasi bungkus untuk Lia.

Lia masih tampak mengamati nasi bungkus yang sedang di buka Iteung. Dia masih trauma dengan kejadian tadi. Dia takut jika nasi bungkus itu tiba-tiba berubah jadi belatung seperti yang dia lihat tadi di piring Enah.

"Ayo dimakan, Lia?" ajak Iteung.

"Iya,..emm.. teung, apa kamu masih punya air mineral?", tanya Lia.

"Oh, ada. Ini..", Iteung bergerak ke sudut kamarnya dimana dia tadi meletakkan air minum. Lia melihat Iteung mengambil botol besar air mineral di sebuah plastik besar yang terletak di pojok kamar nya dan menyerahkan nya pada Lia.

Lia mengambil air mineral tersebut dan menuangnya ke dalam gelas lalu meminum nya.

Setelah itu dia kembali mengamati nasi bungkus yang sudah Iteung siapkan untuk nya.

Lia melihat ada nasi, sayur kangkung, dan perkedel. Sejenak Lia tampak ragu untuk memakannya. Tapi jika dia tidak memakannya, Lia takut Iteung akan kecewa malah mungkin juga dia akan marah.

"Tidak apa-apa, Dinda. Kanda sudah mengganti nya. Sekarang nasi itu tidak akan berubah menjadi belatung", bisik Mahesa.

Dengan terpaksa, Lia mencoba memakan nasi yang dibawakan oleh Iteung. Lia memakan dengan perlahan-lahan. Ternyata nasi yang dia makan memang tidak berubah menjadi belatung lagi. Di samping itu, rasa masakan yang dia makan lumayan enak.

Tentu saja nasi yang dimakan oleh Lia tidak akan berubah menjadi belatung karena memang tanpa sepengetahuan Iteung dan juga Dahlia, Mahesa sudah mengganti nya dengan nasi bungkus yang lain saat di rumah makan tadi.

Setelah selesai makan, Dahlia merasa dia lebih baik dan sudah lumayan segar dan sehat.

"Lia, habis ini apa kamu mau mandi?" tanya Iteung.

"Iya, Teung, aku mau mandi dan habis itu aku mau istirahat di kamar ku", jawab Lia.

"Ya udah, kalau begitu ayo kita mandi. Pastinya sudah banyak yang ngantri jam segini", ucap Iteung. Lia faham. Sekarang sudah menjelang sore. Memang jam segini, orang yang ingin ke kamar mandi pada antri. Karena semua orang ingin memakai kamar mandi.

Sesampainya di kamar mandi,...

Benar saja,.... seperti kata Iteung, sudah banyak orang yang antri ingin memakai kamar mandi. Iteung dan Lia harus menunggu lama karena giliran mereka yang paling akhir.

Terpaksa kedua nya harus sabar menunggu. Sampai akhirnya tiba giliran mereka.

Iteung mandi lebih dahulu sedangkan Lia mendapatkan giliran paling akhir.

"Lia, apa sebaiknya kamu tidur di kamar aku saja. Kamu kan masih sakit. Takutnya nanti malam - malam penyakit mu kambuh lagi, gimana?", ujar Iteung dengan mimik cemas. Dia memang masih merasa cemas memikirkan keadaan temannya itu.

Lia tersenyum kepada Iteung. Dia mengerti kecemasan Tapi dia lebih nyaman tidur sendirian di kamar nya. Meskipun banyak orang berkata jika kamar yang dia tempati saat ini terbilang angker.

"Nggak papa kok teung aku mulai biasa sendirian", ujar Lia.

"Tapi, aku sedikit heran. Apa setiap kamar hanya di isi oleh satu orang saja? Tanya Lia lagi. Dia ingat saat itu Pak Karso menyuruh nya menempati kamar yang paling ujung dan melarang Lia sekamar dengan Iteung.

"Iya,... memang begitu sih, peraturan nya. Satu kamar hanya boleh di tempati oleh satu orang saja. Untuk mess cowok juga seperti itu", kata Iteung.

"Apa kamu tau alasan nya?", tanya Lia.

"nggak, ...mana aku tahu alasannya. Memangnya kamu kenapa, Lia. Kok tiba-tiba nanyanya seperti itu?",

"Nggak ada. Aku hanya penasaran saja. Aku pikir kamu tahu alasannya ", ucap Lia.

"Aku tidak pernah bertanya. Lagian aku tak sempat mikir ke sana".

"Ya udah,... aku mau istirahat dulu. Kalo gitu, aku ke kamar dulu ya, teung", ucap Lia.

"Iya, oh iya,... jangan lupa ini di bawa juga", ujar Iteung sembari menyerahkan bungkusan plastik yang tadi di bawakan oleh Rendi. Bungkusan yang berisi buah - buahan dan obat untuk Lia titipan dari pak Karso.

"Kok kayak nya berat sekali. Emang isinya apaan sih, Teung? Katanya cuma buah dan obat saja", Lia protes karena bungkusan itu terasa berat.

"Iya berat karena isinya selain buah - buahan dan obat ada juga beberapa cemilan di situ ", jawab Iteung.

"Aku nggak mau makanannya, Teung. Semua buat kamu aja. Aku hanya mau obatnya saja", Lia menyerahkan kembali bungkusan plastik itu dan hanya mengambil obat nya saja.

"Serius, kamu nggak mau semua itu?", tanya Iteung.

Lia menganggukkan kepalanya. "Aku hanya ingin obatnya saja dan juga air mineralmu saja,"

"Oh,... boleh. Sebentar aku ambilkan ", Iteung berbalik sebentar dan kembali lagi dengan botol air mineral di tangannya.

"Int, ambilah. Aku punya masih banyak." ujar Iteung.

"Makasih ya, Teung ", ucap Lia sembari tersenyum.

"Sama - sama, Lia. Kalau ada apa - apa, kamu teriak aja agar aman hidup mu", seloroh Iteung.

"Ohh, itu..Iya...aman aja itu ", jawab Lia sambil berlalu pergi dari kamar Iteung.

"dah Iteung",

Iteung menutup pintu kamar nya sepeninggal Lia.

Sementara itu Lia baru sampai di kamar nya. Dia menutup pintu kamar dan merebahkan diri di kasur tipis milik nya di kamar. Tetapi baru saja dia berbaring perutnya tiba tiba berbunyi.

Krucukkk..... krucukkk... Bunyi perut Lia.

"kok lapar lagi? Jam segini? Astaga,... padahal aku sudah makan tadi sore. Hais,... terpaksa aku keluar lagi untuk cari makan", ucap Lia kesal. Dengan malas Lia terpaksa keluar kamar untuk mencari makanan di luar. Siapa tahu ada penjual makanan yang masih buka.

Di waktu yang sama,...

Malam semakin larut. Rumah makan itu sudah lama tutup sejak tadi sore. Sekarang rumah makan itu benar - benar sepi.

Malam itu, ada seorang pria paruh baya dan seorang pemuda yang masih berada di rumah makan itu. Pria paruh baya itu seorang diri duduk di dalam ruang kerjanya. Dia seperti menunggu kedatangan seseorang.

"Rendi, apa sudah kamu kunci?", tanya pria itu. Dia adalah Pak Karso. Pemilik rumah makan ini.

"Sudah, Pak. Memangnya buat apa sih pak, gerbang ke mes pake di kunci segala?" tanya Rendi dengan nada suara yang sedikit kesal.

"Bapak bilang kunci ya kunci saja.! Apa susahnya sih, orang tinggal kunci saja?", bentak pak Karso.

"Sekarang kamu duluan pulang, nanti bapak nyusul. Bapak masih ada urusan. Awas ya Rendi, bapak bilang pulang kamu harus pulang! Jangan keluyuran!", bentak pak Karso sedikit emosi.

"Hais,...iya! Ini kuncinya ", Rendi menyerahkan kunci itu pada bapaknya lalu bergegas pergi meninggalkan rumah makan tersebut tanpa berkata apa-apa lagi pada bapaknya.

Kira kira, mau ngapain ya pak Karso sendirian di rumah makan itu?

Episodes
1 BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2 BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3 BAB. 03 Di Datangi Ular
4 Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5 Bab. 05 Ajakan Mahesa
6 Bab.06 Menghilang
7 Bab. 07 Pergi Ke Kota
8 Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9 Bab.09 Pernikahan Ghaib
10 Bab 10. Kantong Ajaib.
11 Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12 Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13 Bab. 13. Apakah itu...?
14 Bab.14. Pesugihan
15 Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16 Bab.16 Peraturan Aneh
17 Bab.17. Kesurupan
18 Bab. 18. Bingung
19 Bab.19. Keluar Malam
20 Bab.20. Mengintip Pak Karso
21 Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22 Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23 Bab. 23 Sasaran Target
24 Bab.24. Mimpi Dahlia
25 Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26 Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27 Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28 Bab. 28 Korban lain
29 Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30 Ungkapan Cinta Rendi
31 Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32 Bab. 32 Pingsan
33 Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34 Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35 Bab. 35. Kematian Enah
36 Bab. 36 Telepon Wak Emah
37 Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38 Bab. 38 Pocong Enah
39 Bab.39 Permintaan Rendi
40 Bab.40. Kerisauan Lia
41 Bab. 41 Kematian Rendi
42 Bab.42 Di pecat
43 Bab.43. Memulai dari Awal
44 Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45 Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46 Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47 Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48 Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49 Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50 Bab.50 Bayangan Hitam
51 Bab. 51. Pertarungan Sengit
52 Bab.52. Grab Khusus
53 Bab.53. Sundel Bolong
54 Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55 Bab. 55. Kembali Melihat
56 Bab. 56 Cemas
57 Bab.57. Sebuah Rencana
58 Bab. 58. Jalan Pintas
59 Bab. 59. Mengobati Iteung
60 Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61 Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62 Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63 Bab.63. Makan Pizza
64 Bab 64. Perut Wong Ndeso
65 Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66 Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67 Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68 Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69 Bab. 69. Cemas
70 Bab 70 Renggang
71 Bab.71. Rencana Yang Gagal
72 Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73 Bab.73. Cerita Lia
74 Bab. 74. Hantu Perempuan.
75 Bab.75 Panggilan Rivan
76 Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77 Bab. 77 Ketahuan ...
78 Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79 Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80 Bab. 80. Putus
81 Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82 Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83 Bab. 83. Kegilaan Radit
84 Bab.84. Di Hukum
85 Bab 85. Double Dates
86 Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87 Bab.87. Kemarahan Radit
88 Bab. 88. Rencana Rivan
89 Bab. 89. Serangan Ghaib
90 Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91 Bab.91. Kesedihan Lia
92 Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93 Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94 Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95 Bab.95. Dendam Radit
96 Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97 Bab. 97. Restu Mak Emah
98 Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99 Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100 Bab. 100. Dendam Radit
101 Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102 Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103 Bab. 103. Keraguan Lia
104 Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105 Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106 Bab.106. Panggilan Lia
107 Bab.107. Pertanyaan Viktor
108 Bab.108. Terancam Batal
109 Bab.109. Rumah kita
110 Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111 Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112 Bab 112 Rencana Iteung
113 Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114 Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115 Bab.115. Akhir Bahagia
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2
BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3
BAB. 03 Di Datangi Ular
4
Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5
Bab. 05 Ajakan Mahesa
6
Bab.06 Menghilang
7
Bab. 07 Pergi Ke Kota
8
Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9
Bab.09 Pernikahan Ghaib
10
Bab 10. Kantong Ajaib.
11
Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12
Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13
Bab. 13. Apakah itu...?
14
Bab.14. Pesugihan
15
Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16
Bab.16 Peraturan Aneh
17
Bab.17. Kesurupan
18
Bab. 18. Bingung
19
Bab.19. Keluar Malam
20
Bab.20. Mengintip Pak Karso
21
Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22
Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23
Bab. 23 Sasaran Target
24
Bab.24. Mimpi Dahlia
25
Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26
Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27
Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28
Bab. 28 Korban lain
29
Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30
Ungkapan Cinta Rendi
31
Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32
Bab. 32 Pingsan
33
Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34
Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35
Bab. 35. Kematian Enah
36
Bab. 36 Telepon Wak Emah
37
Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38
Bab. 38 Pocong Enah
39
Bab.39 Permintaan Rendi
40
Bab.40. Kerisauan Lia
41
Bab. 41 Kematian Rendi
42
Bab.42 Di pecat
43
Bab.43. Memulai dari Awal
44
Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45
Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46
Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47
Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48
Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49
Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50
Bab.50 Bayangan Hitam
51
Bab. 51. Pertarungan Sengit
52
Bab.52. Grab Khusus
53
Bab.53. Sundel Bolong
54
Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55
Bab. 55. Kembali Melihat
56
Bab. 56 Cemas
57
Bab.57. Sebuah Rencana
58
Bab. 58. Jalan Pintas
59
Bab. 59. Mengobati Iteung
60
Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61
Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62
Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63
Bab.63. Makan Pizza
64
Bab 64. Perut Wong Ndeso
65
Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66
Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67
Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68
Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69
Bab. 69. Cemas
70
Bab 70 Renggang
71
Bab.71. Rencana Yang Gagal
72
Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73
Bab.73. Cerita Lia
74
Bab. 74. Hantu Perempuan.
75
Bab.75 Panggilan Rivan
76
Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77
Bab. 77 Ketahuan ...
78
Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79
Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80
Bab. 80. Putus
81
Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82
Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83
Bab. 83. Kegilaan Radit
84
Bab.84. Di Hukum
85
Bab 85. Double Dates
86
Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87
Bab.87. Kemarahan Radit
88
Bab. 88. Rencana Rivan
89
Bab. 89. Serangan Ghaib
90
Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91
Bab.91. Kesedihan Lia
92
Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93
Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94
Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95
Bab.95. Dendam Radit
96
Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97
Bab. 97. Restu Mak Emah
98
Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99
Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100
Bab. 100. Dendam Radit
101
Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102
Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103
Bab. 103. Keraguan Lia
104
Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105
Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106
Bab.106. Panggilan Lia
107
Bab.107. Pertanyaan Viktor
108
Bab.108. Terancam Batal
109
Bab.109. Rumah kita
110
Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111
Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112
Bab 112 Rencana Iteung
113
Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114
Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115
Bab.115. Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!