Bab.12 Hari Pertama Bekerja

"Bagaimana , Pak.?" apakah teman saya ini bisa bekerja di sini?" tanya Iteung tak sabaran karena Pak Karso masih terdiam.

"Aneh,...." guman pak Karso seperti pada diri sendiri.

"Pak,...pak Karso..! Gimana nasib teman saya ini. Apa dia diterima bekerja di tempat ini atau tidak?"

"Ehh,... engga,...emm,... gimana ya?" nada bicara Pak Karso seperti bimbang.

"Tolong lah, Pak. Ini teman Iteung kasian. Jauh - jauh datang dari desa, katanya bapak lagi cari karyawan. Masa bapak nggak mau terima teman Iteung," ujar Iteung dengan wajah memelas.

Pak Karso tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. Dia menarik napas panjang.

"Baiklah,... bapak menerima teman kamu itu, Iteung. Dia bisa mulai bekerja hari ini juga,"

"Sekarang kalian boleh keluar dari ruangan ku. Oh iya, Iteung, bawa teman kamu itu ke kamar yang paling ujung. Ia akan tinggal di sana," ujar pak Karso.

"Loh,...kok tinggal di kamar itu, Pak. Lia kan bisa tinggal di kamar ku, lebih hemat kamar,"

"Sudah,..kamu jangan membantah. Aku bilang di sana, ya di sana!" ujar Pak Karso dengan suara yang sedikit tinggi membuat Iteung terlonjak kaget. Baru kali ini dia mendengar bosnya itu memarahi dirinya.

BRAKKK,...

Pak Karso sampai menggebrak meja karena kesal.

"Keluar,..!" perintah lelaki paruh baya itu.

Iteung dan Lia langsung berdiri.

"Maaf, Pak..! Kami permisi," ucap Iteung dengan menundukkan kepalanya.

"Terima kasih karena sudah menerima saya bekerja di sini, Pak," ucap Lia.

Dua gadis itu berlalu pergi meninggalkan ruangan pak Karso. Rahang lelaki itu mengeras sesaat setelah kedua gadis itu menutup pintu.

"Brengsek,... sepertinya teman si Iteung itu bukan gadis biasa. Aura yang dia miliki sangat kuat. Kalau seperti ini, bisa - bisa rencana ku pasti gagal," ucap Pak Karso dengan emosi.

***

Iteung mengantar Lia ke kamar paling ujung di mes karyawan tempat dia tinggal selama bekerja di sini.

"Ini kamarnya, Lia. Tapi kamar nya masih kotor dan berdebu. Apa mau di bersihkan dulu? Aku bantuin, ya?" ujar Iteung menatap wajah Lia.

"Nggak usah,... biar aku beresin sendiri. Paling hanya sebentar. Lagi pula, kamu juga kan harus bekerja. Nanti kamu di marahin sama pak Karso," ucap Lia.

"Tapi,. Lia. Apa kamu tidak capek.?" Lia menggelengkan kepalanya.

"ya, udah. Aku tinggal dulu ke depan. Nanti kamu nyusul, ya," ujar Iteung sembari melangkahkan kaki hendak berlalu dari sana.

"eh, teung," Iteung yang hendak berlalu pergi menolehkan kepalanya.

"Ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Iteung.

"Nggak,... bukan itu. Ini soal Pak Karso," jawab Lia.

"Ada apa memang nya dengan Pak Karso?" tanya Iteung heran.

"Anu,..apa pak Karso itu orang nya galak?" tanya Lia dengan ragu.

Iteung berpikir sejenak seperti mengingat sesuatu. Lalu...

"nggak,... sebelum ini setahu aku sih, tidak. Dia orangnya baik, sopan dan ramah. Mungkin sedang ada masalah kali," ujar Iteung.

"Ohh, aku pikir dia aslinya memang galak," ujar Lia.

Iteung menggeleng lalu berkata." udah, nggak usah kamu pikirin. Aku kembali kerja dulu, nanti kamu nyusul. Nanti malam aku bantu kamu beresin kamar," ujar Iteung. Gadis itu melenggang meninggalkan kamar Lia setelah melempar senyum manis.

Lia terdiam memandangi kepergian Iteung. Lalu menghela nafas,

"nggak,... aku merasa ada yang tak beres dengan pak Karso. Aku rasa aku harus cari tahu tentang lelaki itu. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu," Lia bergumam sendiri.

Dia melangkah menuju kamar paling ujung yang akan dia tempati nanti. Iteung sudah memberikan kuncinya tadi sebelum gadis itu pergi.

***

Lia memasuki kamar paling ujung yang ditunjukan oleh Iteung.

Baru saja dia membuka pintu kamar itu, aura yang tidak mengenakkan langsung terasa. Energi negatif langsung terasa menyerang Lia. Meskipun demikian, Lia tetap menyakinkan hatinya bahwa dia akan baik - baik saja. Walaupun saat ini ada terbersit keraguan di hati nya.

Lia terus masuk ke dalam dan terus ke kamar mandi. Setelah itu dia duduk sejenak di kursi yang ada di kamar itu. Dia ingin melepas lelah sejenak. Cukup lama Lia beristirahat sampai akhirnya dia memutuskan sudah cukup beristirahat. Dia harus bekerja.

Lia berjalan menuju rumah makan yang letaknya tak jauh dari mes. Dia masuk ke dapur dan menghampiri Iteung yang sedang sibuk di sana.

"Teung,..." panggil Lia.

"Eh, ... Lia. Kamu sudah hilang capenya?" tanya Iteung.

"Iya, sudah," jawab nya.

"Kamu bisa bantu masak di dapur, kan?" tanya Iteung.

"Bisa,.." jawab Lia. Tak beberapa lama berselang Lia mengikuti Iteung menuju ke dapur.

"Mbak Nah,.. ini Lia, teman Iteung. Mulai hari ini, dia bekerja di sini. " Iteung memperkenalkan Lia pada semua karyawan yang bekerja di rumah makan ini.

"Hai, Lia. Salam kenal ya, ..." ucap Enah, wanita berhijab yang sedang memegang sutil itu melambaikan sebelah tangan nya yang tidak bekerja kepada Lia.

"Iya mbak, salam kenal juga," jawab Lia.

"Ya sudah, aku keluar dulu. Kayaknya pengunjung sudah mulai rame," ucap Iteung.

Lia dan Enah hanya mengangguk.

"Lia, kamu bisa masak, kan?" tanya Enah.

"Insyaallah, bisa, Mbak. Saya dulu juga pernah kerja di warteg," jawab Lia.

"Oh, kalau begitu bagus deh. Tolong bikinin nasi goreng untuk 10 porsi, ya. Udah ada wadah buat nakar nasinya kok, itu di tempat nasi. Mbak mau bikin cah kangkung dulu," ujar Enah.

"Iya, mbak,"

Dapur itu kini terdengar ramai oleh kesibukan memasak. Terdengar suara dentingan alat masak beradu ketika Lia dan Enah memasak.

Lia membuat nasi goreng tersebut dengan cekatan tanpa canggung sedikitpun.

Hari sudah semakin sore dan mereka belum juga selesai berjibaku dengan alat masak.

Lia sempat merasa heran karena pengunjung rumah makan ini seperti tak ada hentinya.

Malam menjelang,..

Lia dan karyawan rumah makan lainnya baru saja selesai beberes. Mereka akan menutup rumah makan.

Pukul 10.00, Lia dan Iteung menuju ke mes. Sesuai janjinya, Iteung akan membantu Lia membersihkan kamarnya.

Sejam kemudian, mereka sudah selesai membersihkan kamar tersebut.

"Alhamdulillah,... akhirnya selesai juga. Lia, sekarang kamu bisa tidur dengan tenang." ucap Iteung dengan wajah lelah namun senang.

"Iya, makasih ya, teung, karena sudah dibantuin," ucap Lia.

"Iya, sekarang kita mandi yuk, sudah gerah banget," ajak Iteung.

"Oh iya, ... tapi aku pinjam baju kamu dulu ya," ucap Lia. Dia tak punya baju ganti. Rencananya besok baru dia akan membeli beberapa potong pakaian untuk nya.

"oh, masalah itu, beres lah. Ayo kita ke kamar ku," ajak Iteung.

Lia mengikuti Iteung ke kamar nya. Setelah Iteung memberikan bajunya pada Lia mereka berdua bersama - sama ke kamar mandi umum yang ada di mes itu.

Setelah mandi mereka berdua menuju kamar masing-masing.

***

Malam semakin larut.

Karena lelah, Lia cepat sekali terlelap. Namun beberapa saat kemudian, ... Lia merasa jika dia sudah terbangun kembali.

Mata Lia memandang nanar ke sekelilingnya. Matanya terbelalak karena menyadari bahwa dia bukan lagi berada di kamarnya.

"Dinda,.." Lia mendengar sebuah suara yang tak asing baginya. Cepat Lia menoleh.

Suara itu sangat dia rindukan. "Kanda,..kau kah itu?"

Ruangan yang tadinya sangat minim cahaya, kini perlahan semakin terang.

"Dinda,..." panggil seorang lelaki tampan yang kini sedang berjalan menghampiri ranjang tempat Lia berada.

"Kanda," Lia memeluk lelaki itu dengan penuh kerinduan. " Kanda,... kita sedang berada di mana?" tanya Lia. Dia sedikit takut dengan suasana tempat ini.

"Jangan takut,... ada aku, sayang." ucap Mahesa sembari mengecup bibir ranum Lia.

Lia terbuai oleh sentuhan lembut Mahesa. " Dinda,... aku rindu padamu." bisik Mahesa.

Lia hanya mengangguk menatap terpesona wajah tampan Mahesa yang sudah membius dirinya.

Tak beberapa lama kemudian, Lia sudah terbuai oleh cumbuan Mahesa yang membuat Lia melayang di alam nirwana.

Keduanya kembali melakukan hubungan suami-istri. Berdua meraih kepuasan yang seperti tak ada habisnya sampai pagi menjelang.

"Dinda," panggil Mahesa.

"Hemm,..." Lia hanya berdehem karena tubuh nya terlalu lelah dan dia juga sudah sangat mengantuk.

"Jangan memakan apapun dari rumah makan ini, apalagi jika lelaki itu yang memberikan nya," ucap Mahesa.

"Lelaki itu, siapa? Maksud kanda, Pak Karso?"

tanya Lia dengan mata terpejam.

Mahesa mengangguk. "Iya, dinda. Ingatlah pesan kanda ini, sayang," ucap Mahesa sembari mencium kening Lia.

Lia hanya bisa mendengar sayup-sayup ucapan Mahesa karena dia sudah tak bisa lagi menahan kantuknya dan akhirnya tertidur pulas.

Mahesa tersenyum melihat istrinya tertidur pulas karena lelah akibat perbuatannya.

"Selamat malam, sayang." ucap Mahesa sembari merebahkan diri di sebelah tubuh Lia. Dia memeluk tubuh istri nya dan ikut terlelap.

Episodes
1 BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2 BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3 BAB. 03 Di Datangi Ular
4 Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5 Bab. 05 Ajakan Mahesa
6 Bab.06 Menghilang
7 Bab. 07 Pergi Ke Kota
8 Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9 Bab.09 Pernikahan Ghaib
10 Bab 10. Kantong Ajaib.
11 Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12 Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13 Bab. 13. Apakah itu...?
14 Bab.14. Pesugihan
15 Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16 Bab.16 Peraturan Aneh
17 Bab.17. Kesurupan
18 Bab. 18. Bingung
19 Bab.19. Keluar Malam
20 Bab.20. Mengintip Pak Karso
21 Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22 Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23 Bab. 23 Sasaran Target
24 Bab.24. Mimpi Dahlia
25 Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26 Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27 Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28 Bab. 28 Korban lain
29 Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30 Ungkapan Cinta Rendi
31 Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32 Bab. 32 Pingsan
33 Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34 Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35 Bab. 35. Kematian Enah
36 Bab. 36 Telepon Wak Emah
37 Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38 Bab. 38 Pocong Enah
39 Bab.39 Permintaan Rendi
40 Bab.40. Kerisauan Lia
41 Bab. 41 Kematian Rendi
42 Bab.42 Di pecat
43 Bab.43. Memulai dari Awal
44 Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45 Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46 Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47 Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48 Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49 Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50 Bab.50 Bayangan Hitam
51 Bab. 51. Pertarungan Sengit
52 Bab.52. Grab Khusus
53 Bab.53. Sundel Bolong
54 Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55 Bab. 55. Kembali Melihat
56 Bab. 56 Cemas
57 Bab.57. Sebuah Rencana
58 Bab. 58. Jalan Pintas
59 Bab. 59. Mengobati Iteung
60 Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61 Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62 Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63 Bab.63. Makan Pizza
64 Bab 64. Perut Wong Ndeso
65 Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66 Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67 Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68 Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69 Bab. 69. Cemas
70 Bab 70 Renggang
71 Bab.71. Rencana Yang Gagal
72 Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73 Bab.73. Cerita Lia
74 Bab. 74. Hantu Perempuan.
75 Bab.75 Panggilan Rivan
76 Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77 Bab. 77 Ketahuan ...
78 Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79 Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80 Bab. 80. Putus
81 Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82 Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83 Bab. 83. Kegilaan Radit
84 Bab.84. Di Hukum
85 Bab 85. Double Dates
86 Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87 Bab.87. Kemarahan Radit
88 Bab. 88. Rencana Rivan
89 Bab. 89. Serangan Ghaib
90 Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91 Bab.91. Kesedihan Lia
92 Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93 Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94 Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95 Bab.95. Dendam Radit
96 Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97 Bab. 97. Restu Mak Emah
98 Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99 Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100 Bab. 100. Dendam Radit
101 Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102 Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103 Bab. 103. Keraguan Lia
104 Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105 Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106 Bab.106. Panggilan Lia
107 Bab.107. Pertanyaan Viktor
108 Bab.108. Terancam Batal
109 Bab.109. Rumah kita
110 Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111 Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112 Bab 112 Rencana Iteung
113 Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114 Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115 Bab.115. Akhir Bahagia
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2
BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3
BAB. 03 Di Datangi Ular
4
Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5
Bab. 05 Ajakan Mahesa
6
Bab.06 Menghilang
7
Bab. 07 Pergi Ke Kota
8
Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9
Bab.09 Pernikahan Ghaib
10
Bab 10. Kantong Ajaib.
11
Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12
Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13
Bab. 13. Apakah itu...?
14
Bab.14. Pesugihan
15
Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16
Bab.16 Peraturan Aneh
17
Bab.17. Kesurupan
18
Bab. 18. Bingung
19
Bab.19. Keluar Malam
20
Bab.20. Mengintip Pak Karso
21
Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22
Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23
Bab. 23 Sasaran Target
24
Bab.24. Mimpi Dahlia
25
Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26
Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27
Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28
Bab. 28 Korban lain
29
Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30
Ungkapan Cinta Rendi
31
Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32
Bab. 32 Pingsan
33
Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34
Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35
Bab. 35. Kematian Enah
36
Bab. 36 Telepon Wak Emah
37
Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38
Bab. 38 Pocong Enah
39
Bab.39 Permintaan Rendi
40
Bab.40. Kerisauan Lia
41
Bab. 41 Kematian Rendi
42
Bab.42 Di pecat
43
Bab.43. Memulai dari Awal
44
Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45
Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46
Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47
Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48
Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49
Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50
Bab.50 Bayangan Hitam
51
Bab. 51. Pertarungan Sengit
52
Bab.52. Grab Khusus
53
Bab.53. Sundel Bolong
54
Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55
Bab. 55. Kembali Melihat
56
Bab. 56 Cemas
57
Bab.57. Sebuah Rencana
58
Bab. 58. Jalan Pintas
59
Bab. 59. Mengobati Iteung
60
Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61
Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62
Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63
Bab.63. Makan Pizza
64
Bab 64. Perut Wong Ndeso
65
Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66
Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67
Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68
Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69
Bab. 69. Cemas
70
Bab 70 Renggang
71
Bab.71. Rencana Yang Gagal
72
Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73
Bab.73. Cerita Lia
74
Bab. 74. Hantu Perempuan.
75
Bab.75 Panggilan Rivan
76
Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77
Bab. 77 Ketahuan ...
78
Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79
Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80
Bab. 80. Putus
81
Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82
Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83
Bab. 83. Kegilaan Radit
84
Bab.84. Di Hukum
85
Bab 85. Double Dates
86
Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87
Bab.87. Kemarahan Radit
88
Bab. 88. Rencana Rivan
89
Bab. 89. Serangan Ghaib
90
Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91
Bab.91. Kesedihan Lia
92
Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93
Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94
Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95
Bab.95. Dendam Radit
96
Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97
Bab. 97. Restu Mak Emah
98
Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99
Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100
Bab. 100. Dendam Radit
101
Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102
Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103
Bab. 103. Keraguan Lia
104
Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105
Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106
Bab.106. Panggilan Lia
107
Bab.107. Pertanyaan Viktor
108
Bab.108. Terancam Batal
109
Bab.109. Rumah kita
110
Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111
Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112
Bab 112 Rencana Iteung
113
Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114
Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115
Bab.115. Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!