BAB. 02 Mimpi Yang Aneh

Lia sudah sampai di rumah. Hari sudah menjelang magrib.

Akan tetapi, Lia tak mendapati seorang pun di rumah nya. Ruang tamu juga terlihat sepi. Pada kemana semua orang, pikir Lia heran.

Lia berjalan melewati ruang tamu dan langsung memasuki kamarnya. Dia tak peduli mau kemana orang - orang di rumah ini. Sudah sering terjadi seperti ini. Dia tak pernah dianggap sebagai anggota keluarga. Jadi jika ada sesuatu, mereka tak pernah mengajak dirinya.

Lia memilih mengurung diri di dalam kamar dan memutuskan untuk tidur lebih awal. Sejak tadi matanya sudah terasa berat.

Entahlah, padahal biasanya dia tak seperti ini. Tapi Lia tak sedikitpun merasa aneh dengan t rasa kantuk yang datang lebih cepat dari biasanya. Saat hari - hari lain biasanya dia selalu tidur diatas jam sebelas malam. Mungkin karena pikiran nya sedang kacau jadi dia tak terlalu ambil peduli tentang keadaan dirinya. Bahkan Lia juga tak berpikir tentang bagaimana besok atau masa depan seperti apa yang akan menanti nya dengan kehidupan yang seperti ini.

Lia pun akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak menunggu lama, Lia pun akhirnya terlelap pulas dalam lautan mimpi.

"Dimana aku?" Lia bergumam sendiri. Dia mengamati tempat itu. Dia menyadari bahwa ini bukan lah kamar nya melainkan dirinya kini sedang berada di suatu tempat.

Tempat itu sungguh asing dan juga aneh...

Begitu sunyi....

Bahkan suara angin pun tak terdengar olehnya.

Apakah tak ada kehidupan di tempat ini? Pikir Lia.

"Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" tanya seseorang di belakang Lia.

Kaget,....

Lia langsung membalikkan badannya.

Seketika Lia mematung.

Di belakangnya berdiri seorang pemuda yang tak dikenal. Pemuda itu tersenyum manis menatap kearahnya.

Gugup,..?

Tentu saja.

Bagaimana tidak?

Pemuda yang berdiri di belakang Lia itu memiliki wajah yang sangat tampan. Tubuhnya atletis dengan kulit putih. Tinggi sekitar 180 cm dan berambut panjang sebahu.

Ada yang aneh dengan pemuda itu. Tiba-tiba Lia ingat dengan film Brama Kumbara yang dia tonton.

Pakaian yang dia pakai mirip dengan pakaian yang dikenakan oleh orang jaman dahulu. Memakai baju rompi dan celana panjang hitam dan serta ikat kepala yang juga berwarna hitam. Pakaian pemuda itu seperti pemain film dalam film drama kolosal Brama Kumbara.

Tapi meskipun terlihat aneh, pemuda itu tetap terlihat tampan sehingga membuat Lia tak mampu berucap sepatah kata pun juga.

"Boleh aku temani?" tanya pemuda itu. Suara nya terdengar dalam.

"Hah?" Lia terkesiap mendengar pemuda itu bertanya.

"Bo-boleh," jawab Lia terbata - bata.

Pemuda itu berjalan mendekati nya. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Lia bengong. Takjub dan aneh.

Dia merasa bingung menghadapi sikap pria itu. Baru kali ini dia berkenalan dengan seorang pemuda. Apalagi pemuda itu sangat tampan sekali.

"Kita kenalan dulu, ya," ucap pemuda itu. Lia tersentak dari lamunannya.

"I-ya, eh... maksudnya boleh," ucap Lia.

"Namaku Mahesa, lengkap nya Mahesa Bramantyo. Siapa namamu?" pemuda itu setelah menyebutkan namanya sebelum menanyakan nama Lia.

"Namaku Lia, lengkap nya Dahlia," jawab Lia sembari menatap wajah Mahesa.

Lia sungguh terpesona menatap wajah tampan Mahesa yang mirip dengan opa - opah Korea yang dilihat nya di televisi.

"Kamu suka tempat ini?" tanya Mahesa.

"Hem, iya. Tempat ini lumayan bagus. Di sini suasana nya terasa tenang dan tidak berisik. Tapi aku merasa sedikit aneh.." ucap Lia.

"Aneh,...?" kening Mahesa berkerut. "Maksud kamu aneh bagaimana, Lia?" tanya Mahesa lagi.

"Tempat ini seperti tak ada kehidupan, begitu sunyi dan senyap. Dan langit itu, Mengapa terlihat mendung seperti itu. Apakah akan turun hujan sebentar lagi?" tanya Lia sembari menatap ke langit yang terlihat mendung hitam berarak - arak.

"Oh, itu.. Tidak, di sini tidak pernah turun hujan.. Cuaca di sini memang selalu seperti ini..Tak ada sinar matahari yang terik disini." ujar Mahesa.

"Hah, benarkah?"

Lia tampak terkejut. Aneh masa ada mendung tapi tak pernah hujan. Tempat apa ini, aneh sekali.

"Mungkin di sebelah sana kita akan menemukan pemandangan yang lain. Bagaimana kalau kita ke sana?" ajak Mahesa.

"Baik, aku akan ikut dengan mu kesana," ujar Lia.

Mereka berdua berjalan beriringan dengan pelan. Sikap Mahesa yang sangat ramah membuat Lia mudah merasa akrab. Sikap itulah yang membuat Lia merasa nyaman berada dekat dengan pemuda itu.

Sejenak Lia melupakan semua keanehan yang dia rasakan saat pertama kali tiba di tempat ini.

Lia juga tak ingin tahu dia ada di mana saat ini. Rasa aman dan nyaman membuat Lia tak menyadari sedang berada di alam lain.

Ternyata Mahesa membawa Lia ke sebuah taman yang sangat indah. Taman itu di penuhi dengan bunga - bunga yang indah aneka warna dan jenis.

"Tempat ini indah sekali!" seru Lia sembari menatap hamparan bunga di depannya. Akkh... rasanya sangat menyenangkan menatap hamparan bunga yang berwarna warni di depannya. Ada bunga mawar aneka warna yang menghampar di depannya. Ada merah, kuning, putih, ada juga yang berwarna merah muda. Ada juga bunga matahari dan bunga lili putih yang cantik. Sangat indah. Sejenak Lia lupa akan keanehan yang tadi dia rasakan.

"Bunga - bunga ini sangat cantik," puji Lia.

"Seluruh bunga - bunga yang ada di taman ini memang sangat cantik. Akan tetapi mereka kalah cantik dengan kecantikanmu, Lia," puji Mahesa seraya menatap Lia dalam.

Lia tertunduk malu mendengar pujian Mahesa. Baru kali ini ada orang yang memuji kecantikannya.

Mahesa memetik setangkai bunga mawar merah dan menyelipkan nya di telinga Lia.

Pandangan mata mereka bertemu sementara jantung Lia berdegup kencang.

BYURR,......

"Bangun woi, ... dasar pemalas. Sudah siang begini masih ngorok, dasar Bangkong!!"

Spontan Lia langsung terduduk dari tidurnya dengan wajah nanar setelah mendapat jatah satu ember air dari Bu Warti. Lia mengusap wajahnya yang basah.

Astaga,....

Ternyata tadi itu cuma mimpi, pikir Lia.

Tapi,...

Eh, tunggu dulu,... Apa ini?

Lia meraba telinganya. Seperti nya ada yang menempel di telinga kanan nya.

Lia mengambil sesuatu yang menempel di sana.

Apa ini, pikirnya seraya mengamati benda yang kini sudah berada di genggaman tangan nya.

Mata Lia terbelalak. Dia tak percaya meskipun telah melihat sendiri apa yang di pegangnya.

"Bunga mawar merah??"

"Bunga ini,.... jadi semalam bukan mimpi? Yg Tapi jika bukan mimpi, kenapa dia ada di rumah ketika bangun. Otak kecil Lia yang sempit tak dapat mencerna apa yang telah terjadi.

"LIA,....!! Cepat bangun atau aku aku siram lagi. Dasar anak tak berguna!!" kembali bentakan Bu Warti terdengar.

"Iya, Bu,.." sahut Lia buru buru bangun dan mendatangi ibu tirinya itu.

Nah,....kira - kira Lia itu tadi malam mimpi atau bukan, ya?

Episodes
1 BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2 BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3 BAB. 03 Di Datangi Ular
4 Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5 Bab. 05 Ajakan Mahesa
6 Bab.06 Menghilang
7 Bab. 07 Pergi Ke Kota
8 Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9 Bab.09 Pernikahan Ghaib
10 Bab 10. Kantong Ajaib.
11 Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12 Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13 Bab. 13. Apakah itu...?
14 Bab.14. Pesugihan
15 Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16 Bab.16 Peraturan Aneh
17 Bab.17. Kesurupan
18 Bab. 18. Bingung
19 Bab.19. Keluar Malam
20 Bab.20. Mengintip Pak Karso
21 Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22 Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23 Bab. 23 Sasaran Target
24 Bab.24. Mimpi Dahlia
25 Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26 Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27 Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28 Bab. 28 Korban lain
29 Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30 Ungkapan Cinta Rendi
31 Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32 Bab. 32 Pingsan
33 Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34 Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35 Bab. 35. Kematian Enah
36 Bab. 36 Telepon Wak Emah
37 Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38 Bab. 38 Pocong Enah
39 Bab.39 Permintaan Rendi
40 Bab.40. Kerisauan Lia
41 Bab. 41 Kematian Rendi
42 Bab.42 Di pecat
43 Bab.43. Memulai dari Awal
44 Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45 Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46 Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47 Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48 Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49 Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50 Bab.50 Bayangan Hitam
51 Bab. 51. Pertarungan Sengit
52 Bab.52. Grab Khusus
53 Bab.53. Sundel Bolong
54 Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55 Bab. 55. Kembali Melihat
56 Bab. 56 Cemas
57 Bab.57. Sebuah Rencana
58 Bab. 58. Jalan Pintas
59 Bab. 59. Mengobati Iteung
60 Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61 Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62 Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63 Bab.63. Makan Pizza
64 Bab 64. Perut Wong Ndeso
65 Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66 Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67 Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68 Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69 Bab. 69. Cemas
70 Bab 70 Renggang
71 Bab.71. Rencana Yang Gagal
72 Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73 Bab.73. Cerita Lia
74 Bab. 74. Hantu Perempuan.
75 Bab.75 Panggilan Rivan
76 Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77 Bab. 77 Ketahuan ...
78 Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79 Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80 Bab. 80. Putus
81 Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82 Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83 Bab. 83. Kegilaan Radit
84 Bab.84. Di Hukum
85 Bab 85. Double Dates
86 Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87 Bab.87. Kemarahan Radit
88 Bab. 88. Rencana Rivan
89 Bab. 89. Serangan Ghaib
90 Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91 Bab.91. Kesedihan Lia
92 Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93 Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94 Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95 Bab.95. Dendam Radit
96 Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97 Bab. 97. Restu Mak Emah
98 Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99 Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100 Bab. 100. Dendam Radit
101 Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102 Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103 Bab. 103. Keraguan Lia
104 Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105 Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106 Bab.106. Panggilan Lia
107 Bab.107. Pertanyaan Viktor
108 Bab.108. Terancam Batal
109 Bab.109. Rumah kita
110 Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111 Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112 Bab 112 Rencana Iteung
113 Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114 Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115 Bab.115. Akhir Bahagia
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2
BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3
BAB. 03 Di Datangi Ular
4
Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5
Bab. 05 Ajakan Mahesa
6
Bab.06 Menghilang
7
Bab. 07 Pergi Ke Kota
8
Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9
Bab.09 Pernikahan Ghaib
10
Bab 10. Kantong Ajaib.
11
Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12
Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13
Bab. 13. Apakah itu...?
14
Bab.14. Pesugihan
15
Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16
Bab.16 Peraturan Aneh
17
Bab.17. Kesurupan
18
Bab. 18. Bingung
19
Bab.19. Keluar Malam
20
Bab.20. Mengintip Pak Karso
21
Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22
Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23
Bab. 23 Sasaran Target
24
Bab.24. Mimpi Dahlia
25
Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26
Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27
Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28
Bab. 28 Korban lain
29
Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30
Ungkapan Cinta Rendi
31
Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32
Bab. 32 Pingsan
33
Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34
Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35
Bab. 35. Kematian Enah
36
Bab. 36 Telepon Wak Emah
37
Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38
Bab. 38 Pocong Enah
39
Bab.39 Permintaan Rendi
40
Bab.40. Kerisauan Lia
41
Bab. 41 Kematian Rendi
42
Bab.42 Di pecat
43
Bab.43. Memulai dari Awal
44
Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45
Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46
Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47
Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48
Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49
Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50
Bab.50 Bayangan Hitam
51
Bab. 51. Pertarungan Sengit
52
Bab.52. Grab Khusus
53
Bab.53. Sundel Bolong
54
Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55
Bab. 55. Kembali Melihat
56
Bab. 56 Cemas
57
Bab.57. Sebuah Rencana
58
Bab. 58. Jalan Pintas
59
Bab. 59. Mengobati Iteung
60
Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61
Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62
Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63
Bab.63. Makan Pizza
64
Bab 64. Perut Wong Ndeso
65
Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66
Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67
Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68
Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69
Bab. 69. Cemas
70
Bab 70 Renggang
71
Bab.71. Rencana Yang Gagal
72
Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73
Bab.73. Cerita Lia
74
Bab. 74. Hantu Perempuan.
75
Bab.75 Panggilan Rivan
76
Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77
Bab. 77 Ketahuan ...
78
Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79
Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80
Bab. 80. Putus
81
Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82
Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83
Bab. 83. Kegilaan Radit
84
Bab.84. Di Hukum
85
Bab 85. Double Dates
86
Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87
Bab.87. Kemarahan Radit
88
Bab. 88. Rencana Rivan
89
Bab. 89. Serangan Ghaib
90
Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91
Bab.91. Kesedihan Lia
92
Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93
Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94
Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95
Bab.95. Dendam Radit
96
Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97
Bab. 97. Restu Mak Emah
98
Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99
Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100
Bab. 100. Dendam Radit
101
Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102
Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103
Bab. 103. Keraguan Lia
104
Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105
Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106
Bab.106. Panggilan Lia
107
Bab.107. Pertanyaan Viktor
108
Bab.108. Terancam Batal
109
Bab.109. Rumah kita
110
Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111
Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112
Bab 112 Rencana Iteung
113
Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114
Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115
Bab.115. Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!