19. Ukiran

Sekitar pukul 3 pagi, Hanung terbangun. Alarm tubuhnya tetap berbunyi walaupun semalam ia susah tidur karena rasa tak nyaman di perut bagian bawahnya. Salahnya sendiri yang sudah tahu akan datang bukan tetapi tetap makan eskrim, sampai membuat Gus Zam terjaga menunggunya.

Hanung menatap Gus Zam yang masih terlelap. Gus Zam yang biasa menggunakan kemeja, sarung dan peci kini sedang menggunakan kaos dan celana pendek. Penampilan yang benar-benar berbeda. Apalagi wajah Gus Zam saat ini sangatlah berbeda dibandingkan saat terjaga. Bulu mata lentik dengan hidung bangir.

"Astaghfirullah.." sebut Hanung saat dirinya mulai membandingkan hidungnya yang pesek.

"Hmm?" Gus Zam pun terbangun mendengar ucapan Hanung.

"Maaf, Mas. Tidur lagi saja, masih malam." Hanung tersenyum.

"Jam berapa?"

"Sepertinya sekitar pukul 3 pagi." Gus Zam pun duduk.

"Aku sholat dulu." Gus Zam turun mengambil wudhu.

Hanung duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan semua gerakan Gus Zam, sampai selesai melaksanakan sholat 2 rakaat. Gus Zam yang tidak biasa diperhatikan pun sudah tak bisa melanjutkan sholatnya. Ia pun duduk disebelah Hanung.

"Jangan melihatku seperti itu!"

"Kenapa, Mas?"

"Aku tidak nyaman."

"Aku mau mengukir kenangan untuk bekal nanti." Kata Hanung sambil tersenyum.

"Satu tahun, Hanung. Bagaimana aku menjalani satu tahun tanpa kamu?"

"Yakinlah, Mas. Kamu akan lebih baik dari sekarang." Hanung menangkup wajah Gus Zam yang menunduk.

"A-aku.."

"Jangan berpikiran pesimis, oke? Mas bisa menghubungi Hanung kapan saja dan Hanung juga akan seperti itu. Jadi, jangan biarkan ponsel Mas berlama-lama dilaci!" Gus Zam tersenyum sambil memegang tangan Hanung yang ada di wajahnya.

Senyuman yang baru kali ini Hanung lihat, sangatlah menawan. Jika saja memiliki mental normal, mungkin bukan Hanung yang ada di sisi Gus Zam sekarang.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa." jawab Hanung seraya melepaskan tangkapannya.

Namun tangan Hanung dicekal oleh Gus Zam dan dituntun kembali ke wajahnya.

"Seperti ini sebentar lagi." pintar Gus Zam.

Perasaan Hanung mulai tidak tenang. Tatapan Gus Zam kepadanya saat ini sangat berbeda dengan tatapan yang sebelumnya. Gus Zam sendiri sesekali tersenyum kecil saat memandang wajah Hanung. Sampai tangan Gus Zam, meraih pinggang Hanung hingga mereka merapat.

"Sakit?" tanya Gus Zam yang merasakan Hanung menegang, tetapi Hanung hanya menggeleng.

Cukup lama mereka dalam posisi tersebut, sampai adzan subuh membuyarkan keduanya. Mereka saling tertawa karena mereka sama-sama terkejut. Hanung pun izin ke dapur untuk membuat sarapan, sedangkan Gus Zam melaksanakan sholat sendiri.

"Hayoo pengantin baru, mau apa?" goda Ning Zelfa.

"Mau masak. Enaknya sarapan apa ya?"

"Tidak keramas dulu?" celetuk Ning Alifah yang ikut bergabung.

"Hah?" bengong Hanung dan Ning Zelfa tidak mengerti.

"Sepertinya cucu Umi dan Abi akan lama launchingnya." kata Ning Alifah menggelengkan kepalanya.

Barulah keduanya paham apa yang dimaksud keramas oleh Ning Alifah. Ning Zelfa segera menatap Hanung meminta penjelasan. Sedangkan Hanung hanya menggelengkan kepalanya sambil meringis. Ketiganya bisa bersama saat ini karena mereka sama-sama sedang kedatangan tamu.

Akhirnya mereka pun membuat sarapan bersama. Nasi uduk yang dimasak di penanak nasi, kering tempe, mie goreng dan ayam goreng laos. Untuk minum tentu saja kopi dan teh. Selesai memasak, masih ada waktu sampai Bu Nyai dan yang lain datang. Hanung menyempatkan membuat camilan serabi yang ia buat diatas wajan penggorengan karena tak ada cetakan tembikar khusus serabi.

Gus Zam yang lebih dulu sampai segera duduk manis bersama Ning Alifah dan Ning Zelfa, menyaksikan kegiatan Hanung. Setengah jam kemudian, rombongan Pak Kyai dan Bu Nyai juga Gus Miftah datang.

"Ada Hanung, Abi jadi punya menantu yang sebenarnya." suru Pak Kyai yang langsung menyeruput kopinya.

"Memangnya Gus Miftah bukan menantu?" tanya Ning Zelfa.

"Ya menantu, juga. Tetapi maksud Abi menantu yang seperti Hanung, memasak, menghidangkan makanan enak dan tidak lupa kopi."

"Itu juga Umi dan anak-anak bisa, Bi." protes Bu Nyai.

"Iya, tapi tidak bisa setiap hari. Karena semuanya tangan Siti."

Semua orang pun tertawa. Setelah menyantap serabi, mereka lanjut makan nasi karena tanpa nasi sarapan tidak akan terasa kenyang.

"Tambah lagi?" tanya Hanung yang mengambilkan nasi untuk Gus Zam, setelah para orang tua sudah mengambil.

"Tidak, ini sudah cukup."

"Hanung, bisa minta tolong ambilkan mie nya?" pintar Bu Nyai.

Hanung pun mengambil mangkuk mie dan berjalan memutar mendekat ke arah Bu Nyai. Kemudiaan lanjut ke Ning Alifah dan Gus Miftah. Baru kembali ke mejanya dan melayani Gus Zam. Sarapan selesai, masing-masing kembali dengan kegiatan mereka yang padat.

Terutama Pak Kyai dan Gus Miftah yang ada undangan pengajian. Bu Kyai dan Ning Alifah ke yang mengurus semua administrasi pesantren, dan Ning Zelfa pergi kuliah. Tinggallah Hanung dan Gus Zam yang sedang membantunya mencuci piring.

"Mas Zam ada kegiatan apa kalau pagi?"

"Tidak ada."

"Tidak ada?"

"Biasanya mengukir."

"Oh iya, apakah ukuran nama Hanung yang ada diatas kaca itu Mas yang buat?"

"Iya. Kamu tidak suka?"

"Suka. Suka sekali malah. Tulisannya bagus, pengerjaannya juga halus. Terimakasih ya, Mas." Hanung tersenyum.

"Sama-sama."

"Boleh lihat ukiran yang lain tidak?" Gus Zam mengangguk.

Segera setelah mereka selesai mencuci piring, Gus Zam membawa Hanung ke gudang tempat dimana ia menyimpan semua ukirannya. Hanung terkesima dengan ukiran yang dibuat oleh Gus Zam. Ia yang tidak tahu ukiran merasa ukiran yang dibuat suaminya sangatlah halus.

"Sudah pernah coba dijual, Mas?" tanya Hanung sambil memilah-milah.

"Kemarin Abi mau membawanya ketempat Kang Leman, tapi belum tahu."

"Bolehkah ini untukku, Mas?" Hanung mengambil sebuah figurine berbentuk kucing.

"Boleh. Ada lagi beberapa."

Gus Zam pun mengeluarkan beberapa figurine hewan lainnya. Tetapi Hanung hanya mengambil kucing yang akan ia buat sebagai gantungan kunci dan ukiran pemandangan untuk menghiasi kamar mereka.

"Biarkan aku memernisnya dulu." kata Gus Zam mengambil alih papan ukiran.

Hanung memperhatikan setiap gerakan Gus Zam. Mulai dari mengeluarkan tool box, mencampur pernis dan memernis lukisan. Semuanya Hanung suka,

"Tinggal tunggu kering. Nanti sore kita ambil dan pasang dikamar." Hanung mengangguk dengan senyuman.

"Apakah tempat itu nyata?"

"Ya."

"Dimana, Mas?"

"Tempat kamu sering membaca."

"Hah?"

Hanung memperhatikan kembali ukiran Gus Zam. Pohon besar, dinding pembatas pot bunga tersusun dan kursi kayu panjang. Hanung ingat. Itu adalah tempatnya menghindar saat Ibu Jam mengikuti kajian dan di belakang masjid.

"Tapi kenapa aku tidak tahu jika Umi dan Abi memiliki anak laki-laki?" gumam Hanung.

"Jelas saja kamu tidak tahu, karena aku tak pernah keluar dari kamar ataupun ikut kegiatan seperti Kak Alifah ataupun Zelfa."

"Assalamu'alaikum.. Maaf Gus Zam, Mbak Hanung.. Bu Nyai meminta Gus dan Mbak Hanung ke ruang keluarga." kata seorang abdi dalem, Mbak Mutia.

Gus Zam mengangguk dan membereskan alat kerjanya. Hanung pun menunggu Gus Zam selesai, baru mereka ke ruang tamu bersama.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Seru cetitanya

2024-11-18

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

lanjut

2024-10-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!