7. Gus Zam

"Bu, Hanung ingin tahu seperti apa calon suami Hanung." kata Hanung saat ia dan Ibu Jam sedang berdua di dapur.

Ibu Jam diam sejenak.

"Jam, kamu tahu keadaan Adib. Jika Hanung bertanya, jawablah apa adanya. Walaupun Hanung sudah menerima lamaran kami, kami masih memberikannya ruang untuk mundur. Kami sadar dengan keadaan Adib, mungkin sudah jalan Adib untuk melalui semua ini."

Begitu pesan yang disampaikan Bu Nyai sewaktu berpamitan. Ibu Jam mengambil nafas sebelum mulai bercerita.

"Hanung, dengarkan cerita Ibu. Gus Zam adalah anak kedua dari Bu Nyai dan Pak Kyai yang lahir 1 tahun setelah kelahiran Ning Alifah, anak pertama. Semua berjalan normal sampai saat Gus Zam berumur 3 tahun, Ning Alifah jatuh sakit. Saat itu, Pak Kyai sedang ada undangan di Kota Jakarta dan tidak bisa pulang. Sedangkan di pesantren sedang sepi karena para santri sedang libur, termasuk Ibu yang pulang ke rumah waktu itu." Ibu Jam berhenti, seolah menahan pilu.

"Bu Nyai terpaksa menitipkan Gus Zam kepada salah satu santri yang saat itu bertugas jaga dan membawa Ning Alifah pergi kerumah sakit. Keadaan Ning Alifah yang kritis mengharuskannya dirawat dan Bu Nyai baru bisa kembali saat malam. Waktu itu Bu Nyai menemukan Gus Zam sudah tidur, jadi beliau tidak berpikiran macam-macam. Singkat cerita, Gus Zam sering dititipkan kepada santri tersebut sampai Ning Alifah diperbolehkan pulang dan Pak Kyai juga sudah kembali." Ibu Jam mulai menitikkan air mata.

Hanung yang sedari tadi mendengarkan, duduk bersimpuh dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Ibu Jam. Dengan lembut Ibu Jam mengusap kepala Hanung.

"Bu Nyai sangat terkejut saat Gus Zam terbangun dari tidurnya, menolak untuk didekati dan menangis histeris. Pak Kyai pun menghampiri dan memegangi tubuh Gus Zam. Bukannya tenang, Gus Zam justru semakin berontak dan menangis kesakitan. Seolah ada yang menyuruh, Bu Nyai menarik pakaian Gus Zam sampai terlihat bekas luka kebiruan hampir di setiap inchi tubuhnya. Bu Nyai langsung meminta Pak Kyai untuk membawa Gus Zam ke dokter. Dari sana mereka tahu, Gus Zam telah mendapatkan penganiayaan. Segera Pak Kyai meminta sopir dan para abdi dalem untuk menangkap santri yang bertanggungjawab. Sayangnya santri itu sudah kabur dari pesantren."

Ibu Jam mengusap air matanya. Beliau menahan isakannya. Ibu Jam masih ingat betul saat dirinya kembali dari rumah, keadaan pesantren seperti sedang berduka.

"Gus Zam yang ceria, berubah menjadi orang lain. Suka menyendiri, tidak suka keramaian, takut dengan petir dan gelap, tantrum dan jarang berbicara. Bu Nyai dan Pak Kyai sudah membawa Gus Zam berobat kemana-mana, tetapi belum ada hasil. Hingga mereka pasrah dengan keadaan Gus Zam. Tetapi saat Gus Zam mulai baligh, tantrum nya berkurang. Gus Zam mulai bisa diajak berkomunikasi walaupun hanya dengan keluarganya sampai sekarang."

"Lalu, bagaimana dengan santri yang melakukan penganiayaan itu, Bu?" tanya Hanung mendongakkan kepalanya.

"Setelah satu bulan pencarian, orang tua santri mendatangi pesantren dan mengatakan bahwa anak mereka ditemukan meninggal di sebuah gubuk yang ada di desa mereka. Dari hasil visum, ditemukan penyebab kematiannya adalah overdosis dari penggunaan obat terlarang."

"Innalillahi wa innailaihi roji'un.."

"Sejak saat itu, yang mengetahui perihal Gus Zam bungkam. Mereka tidak lagi membahasnya dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Jika saja Bu Nyai tidak memberikan izin, Ibu juga tidak akan menceritakannya kepadamu."

"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah menceritakannya walaupun itu sangat pilu." Hanung kembali menyandarkan kepalanya.

Informasi demi informasi tentang Gus Zam, calon suaminya mulai memenuhi kepalanya. Hanung merasa ragu saat ini. Jika keluarga Gus Zam saja tidak bisa menanganinya, apalagi dirinya yang orang luar. Apakah Gus Zam akan menerimanya sebagai istri? Sedangkan pertemuan pertama mereka, Gus Zam tidak ingin melihatnya sama sekali.

"Hanung, percayalah.. Allah akan selalu bersama hambanya yang sabar. Tetapi jika kamu ingin mundur sekarang, Bu Nyai dan Pak Kyai akan menghargainya dibandingkan kamu mundur saat sudah menikah nanti." kata Ibu Jam sambil mengusap kepala Hanung.

"Berikan Hanung waktu, Bu." Hanung memejamkan matanya sejenak.

Ia pun beranjak dari simpuhannya dan pergi ke belakang mengambil air wudhu. Ia ingin menyegarkan pikirannya yang saat ini tumpang tindih.

Sementara itu, Bu Nyai dan Pak Kyai sedang duduk bertiga bersama Gus Zam di ruang tamu kediaman mereka.

"Adib, kamu mendengarkan Abi?" tanya Pak Kyai yang mendapatkan anggukan Gus Zam.

"Nak, kamu akan menikah sebentar lagi. Abi hanya minta, kelak perlakukan istrimu dengan baik. Abi dan Umi tidak bisa lagi menjaga kamu. Kamu yang akan menjaga istrimu kelak." Gus Zam tidak memberikan jawaban.

"Hanung." kata Gus Zam kemudian.

Pak Kyai dan Bu Nyai saling menatap. Walaupun mengidap gangguan mental, Gus Zam tidak memiliki gangguan pada kecerdasan intelektual nya. Sehingga semua informasi yang diterimanya tercatat jelas di ingatannya.

"Iya, Nak. Hanung calon istri kamu. Apa kamu bersedia?" kata Bu Nyai.

"Bersedia."

"Nanti Abah tuliskan akadnya, kamu hafalkan untuk hari pernikahan nanti."

"Akad."

Pak Kyai dan Bu Nyai bersyukur, Gus Zam bisa menerimanya. Sekarang mereka hanya perlu fokus mengurus keperluan dan pemberitahuan jika pengantin dan tempat acara berubah.

Saat Pak Kyai dan Bu Nyai pamit untuk mengurus sesuatu, Gus Zam menerawang langit-langit. Layaknya orang normal, Gus Zam memikirkan kemungkinan yang akan terjadi setelah dirinya menikah. Akan tetapi, yang terbesit pada otak Gus Zam saat ini adalah kemungkinan terburuk hingga membuatnya tidak percaya diri.

"Apa aku bisa menjadi imam yang baik?"

"Apa Hanung mau menikah denganku?"

"Bagaimana kalau Hanung menolak?"

"Bagaimana kalau aku menyakiti, Hanung?"

"Bagaimana kalau Hanung tidak menyukaiku?"

"Bagaimana jika Hanung meninggalkan aku?"

"Apa aku akan menjadi batu sandungan, Hanung?"

Berbagai pertanyaan pesimis memenuhi kepala Gus Zam hingga tanpa sadar mengalami sesak nafas. Segera Gus Zam berlari ke kamarnya dan meminum obat dari dokter untuk menekan kecemasannya.

Setelah mengatur nafas dan merasa tenang, Gus Zam berjalan gontai ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Segera Gus Zam melaksanakan sholat asar dan menyibukkan diri dengan ukiran kayunya.

Saat adzan maghrib berkumandang, Gus Zam meletakkan ukiran kayunya dan pergi membersihkan diri, dilanjutkan sholat maghrib munfarid.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Author hanya menggambarkan secara umum. Gejala setiap pengidap berbeda-beda, harap konsultasikan ke tenaga profesional.

Resource:

https://www-bridgestorecovery-com.translate.goog/post-traumatic-stress-disorder/is-ptsd-curable/?\_x\_tr\_sl\=en&\_x\_tr\_tl\=id&\_x\_tr\_hl\=id&\_x\_tr\_pto\=sge\#:~:text\=PTSD%20adalah%20kondisi%20yang%20disebabkan,hidup%20yang%20jauh%20lebih%20baik.

Terpopuler

Comments

fsf

fsf

sampai setrauma itu Gus zam, kasihan sekali 🥺

2025-02-07

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

apik apik

2024-10-18

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!