13. Gemetar

Semua santri dan santriwati yang sudah berada diposisi masing-masing. Khusus hari ini, semua kegiatan belajar mengajar diliburkan dan mereka dipersilahkan untuk menghadiri acara pernikahan.

Tamu undangan juga terlihat sudah memenuhi tempat acara. Pak Kyai dan semua saksi juga sudah siap, termasuk Gus Zam yang duduk menunduk di sebelah Pak Kyai. Gus Zam yang awalnya ingin melaksanakan akad secara tertutup, ditentang oleh Pak Kyai dan juga Bu Nyai. Mereka membawa nama Hanung agar Gus Zam mau mendengarkan.

"Kalau kamu melakukannya secara tertutup, sama saja kamu tidak menghormati Hanung." kata Pak Kyai saat itu.

Kini Gus Zam mati-matian menahan gugupnya, hingga keringat dingin mulai bercucuran. Acara akad molor dari yang ditentukan karena penghulu yang bertugas dikabarkan sakit semalam. Sehingga ada pergantian penghulu secara mendadak dan mereka harus menunggu penghulu pengganti menyelesaikan pernikahan yang dijadwalkan sama dengan Hanung dan Gus Zam.

"Penghulu sudah datang, Pak Kyai." bisik salah seorang panitia acara.

"Langsung bawa kemari!"

Beberapa saat kemudian, Kang Rahim memandu penghulu menuju meja akad yang ada di masjid pesantren. Segera penghulu mengeluarkan surat-surat yang diperlukan dan menanyakan beberapa pertanyaan yang dijawab mantap oleh Pak Kyai.

"Sudah siap, Gus?" tanya penghulu.

Gus Zam hanya mengangguk. Penghulu mengulurkan tangannya dan disambut Gus Zam yang bergetar.

"Mau menenangkan sebentar?" tanya penghulu yang merasakan getaran dan keringat dingin dari telapak tangan Gus Zam.

"Dimulai saja, Pak Penghulu." kata Pak Kyai.

"Bismillah.. Ankaḫtuka wa zawwajtuka makhthûbataka Hanung Rahayu binta Agus Suryanto allatî wakkalanî waliyyuhâ bi mahri ‘asyarotun jiromatun minad dzahabi hâlan."

"Qabiltu nikâḫahâ wa tazwîjahâ bil mahril madzkûr." jawab Gus Zam dalam satu tarikan nafas.

"Sah?"

"Sah!" jawab saksi serempak.

"Alhamdulillah.." ucap syukur semua santri dan santriwati, termasuk Bu Nyai dan Ibu Jam yang menemani Hanung di balik tirai.

Setelah penghulu menyelesaikan bacaan doa, Bu Nyai dan Ibu Jam menuntun Hanung menuju meja akad untuk menandatangani surat nikah. Sontak perhatian semua orang tertuju pada pemeran utama. Sebagian dari mereka memuji kecantikan Hanung, sebagian mencaci karena pengantin yang mereka harapkan bukanlah Hanung.

Perhatian Gus Zam sendiri seperti ditarik sepenuhnya oleh Hanung, sampai-sampai panggilan penghulu yang memintanya tanda tangan tidak didengarnya.

"Memandangnya bisa dipuaskan nanti, Gus. Saya masih harus menikahkan pengantin lain." sindir penghulu yang mendapat tawa dari para saksi dan membuat Hanung tertunduk malu.

Gus Zam yang mendapatkan tepukan di paha oleh Pak Kyai pun kembali sadar dan segera membubuhkan tanda tangannya diikuti Hanung. Dengan begitu mereka sudah resmi menjadi suami dan istri baik secara agama maupun hukum negara.

Acara dilanjutkan dengan penerimaan tamu dan makan bersama. Gus Zam yang sedari tadi sudah menahan gemetar pun sudah tidak tahan lagi. Ia meminta izin kepada Pak Kyai untuk undur diri. Karena tak mungkin membiarkan Hanung sendiri menerima tamu, Pak Kyai meminta Hanung untuk ikut beristirahat.

"Gus Zam, tidak apa-apa?" tanya Hanung yang mengikuti Gus Zam di belakang, tetapi Gus Zam tidak menjawab.

Ketika sampai dikamar, Gus Zam masuk sendiri dan meninggalkan Hanung yang enggan masuk. Hanung pun duduk di ruang keluarga, menunggu.

"Hanung kenapa tidak masuk ke kamar?" tanya Bu Nyai yang sengaja mengikuti keduanya.

"Didalam panas, Umi. Hanung disini dulu." jawab Hanung sekenanya.

"ACnya mati?" tanya Bu Nyai, tetapi Hanung hanya meringis.

Sebenarnya Bu Nyai tahu alasan Hanung tidak masuk kedalam kamar Gus Zam. Bu Nyai pun meminta Hanung beristirahat ke kamar Ning Zelfa terlebih dahulu.

"Adib.." panggil Bu Nyai sambil mengetuk pintu.

Karena tidak ada jawaban, Bu Nyai masuk kedalam kamar dan menemukan Gus Zam sedang berjongkok di dekat meja nakas.

"Apa perlu Umi ambilkan obat?" Gus Zam menggeleng.

"Masih sanggup?" Gus Zam masih menggelengkan kepalanya.

Bu Nyai pun duduk disamping Gus Zam. Beliau tahu betul, saat ini Gus Zam sedang berperang dengan traumanya. Jika bukan karena Hanung, Gus Zam tidak akan berdiri di keramaian seperti tadi. 1 jam di meja akad dan 1 jam menerima tamu, itu sudah merupakan keajaiban.

"Umi tahu yang kamu rasakan, Nak. Jika bukan kamu yang memulainya, tidak akan ada perubahan. Dokter pun mengatakan seperti itu. Semuanya bergantung kepada kamu, bagaimana kamu keluar dari zona itu. Walaupun kemungkinan untuk sembuh total sangat kecil, Umi yakin kamu bisa sembuh." Gus Zam menoleh kearah Bu Nyai.

"Zam merasa tidak percaya diri, Umi. Umi lihat sendiri, Hanung murah senyum, banyak yang suka dan.." Bu Nyai menghentikan kata-kata Gus Zam dengan menggenggam tangannya.

"Itu namanya pesimis, Nak. Itu yang membuatmu sulit keluar dari trauma, karena kamu tidak mau mencoba sebelum memutuskan. Seperti kamu mendoakan dirimu sendiri untuk menjadi seperti itu. Hanung memang seperti itu dari dulu. Gadis kecil yang sering bermain dengan Zelfa dulu, adalah Hanung. Orang yang sering kamu perhatikan dari jendela juga Hanung." Gus Zam mengangguk.

"Hanya saja, Hanung tidak tahu keberadaan mu. Karena setiap kali Hanung berkunjung bersama Jam, kamu tidak pernah menampakkan diri." imbuh Bu Nyai.

Bu Nyai pun beranjak dari duduknya. Beliau tak bisa berlama-lama karena masih ada banyak tamu. Sementara itu, Hanung yang berada di kamar Ning Zelfa duduk di pinggir tempat tidur. Ia yang enggan masuk kedalam kamar Gus Zam membuktikan dirinya belum siap. Dan sekarang ia sedang merapalkan mantra untuk keberanian dengan berdzikir.

"Kak Hanung kenapa disini?" tanya Ning Zelfa yang baru saja masuk ke kamar.

"Numpang istirahat."

"Kalian itu sudah resmi, mengapa tidak ke kamar bersama? Jangan bilang kamu tidak berani!"

"Bukan tidak berani, aku hanya.."

"Takut?" tebak Ning Zelfa.

"Bukan! Aku sungkan."

"Sudah jangan alasan lagi! Ayo!" tarik Ning Zelfa, membawa Hanung ke kamar Gus Zam.

Ning Zelfa mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian Ning Zelfa sengaja memanggil nama Hanung dan pintu pun terbuka.

"Ini Istri Kakak!" Ning Zelfa mendorong Hanung masuk dan pergi begitu saja.

Hanung yang sangat dekat dengan Gus Zam sampai menahan nafasnya. Gus Zam sendiri membeku kala wewangian yang ada pada tubuh Hanung menyeruak di hidungnya. Tangannya kembali gemetar. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh detik kemudian Gus Zam bisa menguasai diri. Dengan perlahan menggeser tubuh Hanung dan menutup pintu.

"Istirahatlah." Hanung mengangguk dan dengan canggung berjalan menuju sofa yang menempel ranjang karena tubuhnya masih terasa kaku setelah mendapat sentuhan tiba-tiba.

"Kamu tidak ganti?" Hanung menggeleng, pakaiannya masih di kediaman Umi Siti.

Gus Zam membuka lemari dan mengambilkan satu set gamis untuk Hanung. Saat melihat pakaian yang disodorkan, Hanung sedikit terkejut. Tetapi tidak bertanya dan menerimanya. Segera Hanung pamit menggunakan kamar mandi.

.

.

.

.

Resource: https://nu.or.id/nikah-keluarga/kalimat-ijab-qabul-dan-mewakilkan-wali-perkawinan-6SyzQ

Terpopuler

Comments

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

Akhirnya sah alhmdulillah

2024-10-22

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!