12. Merubah Kamar

Waktu tak terasa berjalan sangat cepat dan besok adalah pernikahan Hanung dan Gus Zam.

2 hari ini, Hanung tinggal di kediaman Umi Siti dan dilarang melakukan apapun. Hanung menghabiskan waktunya dengan membaca dan bermain dengan adik-adiknya yang ternyata sudah dijemput oleh sopir Pak Kyai. Sesekali mengobrol dengan Ning Zelfa yang berkunjung dan mengobrol dengan Ibu Jam. Berbeda dengan Gus Zam yang menghabiskan waktunya dikamar mengukir kayu.

Bu Nyai melarangnya menemui Hanung dengan alasan "dipingit". Gus Zam sempat tidak mau, tetapi kemudian Bu Nyai menjelaskan manfaat dari "dipingit" itu adalah untuk memupuk rasa rindu antar pasangan dan semangat untuk bertemu saat pernikahan, membangun rasa percaya dan kesabaran, serta memberikan waktu untuk berkumpul bersama keluarga.

"Sudah selesai, Kak?" tanya Ning Zelfa yang masuk kedalam kamar Gus Zam.

"Sudah."

"Bagus, Kak! Kenapa Kakak tidak mau membuatkannya untukku?"

"Kamu mau?"

"Ya jelas mau, Kak! Tapi jangan nama panjang, aku mau nama panggilan ku saja. Nanti akan aku gantung di pintu lemari pakaian." pinta Ning Zelfa bersemangat, sementara Gus Zam hanya mengangguk.

"Apakah kakak yakin menikah dengan Kak Hanung?" Ning Zelfa sudah mulai membiasakan diri memanggil Hanung dengan sebutan Kakak.

"Kenapa?"

"Apa Kakak tidak gugup?" Gus Zam menghentikan gerakan tangannya yang memoles ukiran nama Hanung Rahayu.

Jika ditanya gugup atau tidak, tentu Gus Zam gugup. Bukan gugup karena pernikahannya, tetapi bagaimana menjalaninya. Walaupun ia sudah bisa menerima kehadiran Hanung, untuk dekat dan kontak fisik ia masih belum mampu. Apakah ia akan menjadi suami dzalim jika dirinya tidak bisa membahagiakan Hanung?

"Apa membahagiakan harus dengan kontak fisik?" tanya Gus Zam.

"Aku juga tidak tahu, Kak! Tetapi dari yang kita pelajari, seperti menggenggam tangan, memberikan kecupan dan usapan sayang, berkata-kata manis, itu diperlukan untuk keharmonisan rumah tangga." jawab Ning Zelfa sambil memperhatikan sang kakak.

"Jangan pesimis dulu, Kak! Siapa tahu dengan pernikahan ini, kakak bisa mengahadapi trauma Kakak. Kakak tidak ingin selamanya seperti ini, kan?" Gus Zam mengangguk.

"Apalagi kalau Kakak menikah, kehidupan Kakak akan berhubungan dengan banyak orang. Terutama saat Kakak dan Kak Hanung memiliki anak nanti!" imbuh Ning Zelfa.

"Anak?"

"Ya! Jangan bilang Kakak tidak memikirkannya!" Ning Zelfa menyelidik.

Benar saja tebakan Ning Zelfa. Sang Kakak belum memikirkan sejauh itu, terlihat dari wajah Gus Zam yang sedang berpikir. Merasa ia telah terlalu jauh, Ning Zelfa pun meninggalkan Gus Zam begitu saja.

Sedangkan Gus Zam, tidak sadar jika Ning Zelfa sudah keluar dari kamarnya. Ia tenggelam dalam pikirannya karena perkataan sang adik. Jangankan anak, memikirkan bagaimana menjalani pernikahannya saja ia masih ragu. Kembali pikiran-pikiran negatif memenuhinya. Beruntung Pak Kyai mendatangi Gus Zam dan membuyarkan pikirannya.

"Adib, kamu harus menata ulang kamarmu. Kasihan Hanung kalau satu kamar dengan semua ukiran mu." Gus Zam pun melihat sekeliling kamarnya.

Benar yang dikatakan Pak Kyai, kamarnya penuh dengan ukiran. Mulai dari kaligrafi, ornamen, sampai ukiran berbentuk lukisan menumpuk di sisi kamarnya dan meja kerjanya juga terlihat berantakan.

"Kalau kamu tidak mau menjualnya, simpan saja di gudang." Kata Pak Kyai yang melihat Gus Zam hanya diam.

"Abi mau jual dimana?"

"Di galeri kayunya Kang Leman." kata Pak Kyai sambil melihat-lihat koleksi Gus Zam.

"Kang Leman hanya jualan lemari dan perabot kayu."

"Mau saja dia kalau ukirannya sebagus ini. Abi boleh minta yang ini?" Pak Kyai mengangkat sepasang kaligrafi bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad.

"Boleh."

"Terima kasih. Kamu kalau perlu bantuan, minta tolong sama Kang Rahim." Gus Zam menganggukkan kepalanya.

Setelah Pak Kyai meninggalkan kamar, Gus Zam pergi ke gudang mencari kotak kardus kosong. Gus Zam memilah sesuai dengan besar kecilnya ukiran agar bisa disimpan rapi. Semua ukiran telah masuk ke dalam 4 kotak kardus ukuran besar. Tanpa meminta bantuan, Gus Zam mengangkat semuanya dan menyusunnya di gudang.

Saat kembali, Gus Zam membawa sapu dan pengki. Gus Zam membersihkan semua debu dan kotoran, termasuk meja kerjanya kini hanya menyisakan rak kayu berisi beberapa ukiran binatang karena peralatannya sudah ia rapikan kedalam toolbox. Gus Zam juga mengepel kamarnya dan mengganti korden serta seprai dengan yang bersih. Ia sudah terbiasa melakukannya sendiri, jadi tak ada masalah.

"Terlihat kosong, Dib!" seru Ning Alifah yang tidak sengaja lewat.

"Semua ukiran digudang."

"Bagus itu! Kasihan juga Hanung kalau kamu ajak tidur di atas tumpukan ukiran!" Gus Zam memalingkan wajahnya.

"Isi sofa panjang dan meja kecil saja. Atau kamu mau menambah lemari untuk Hanung nanti? Kasurmu juga terlalu kecil. Ganti dengan ukuran 180x200 saja."

"Kakak yang belikan?"

"Berangkat dengan Kang Rahim, sana! Kamu bisa pilih sendiri." kata Ning Alifah yang kemudian pergi begitu saja.

Gus Zam pun mengambil ponselnya dan menghubungi Kang Rahim. Tak lama kemudian, Kang Rahim datang menghampiri kamar Gus Zam. Melihat kamar yang kosong, Kang Rahim bertanya-tanya tetapi tidak mengutarakan. Sedangkan pemilik kamar sedang fokus melihat ponselnya.

"Ada apa Gus?" tanya Kang Rahim.

"Kang, saya mau yang seperti ini." Gus Zam menunjukkan gambar tatanan kamar.

"Bagus, Gus. Ini ke toko Baba Acong ada semua, tinggal pilih." Gus Zam mengangguk.

Mereka pun pergi ke toko yang Kang Rahim maksud. Dengan menggunakan topi dan masker, Gus Zam memilih sofa, meja dan tempat tidur bersama Kang Rahim. Tidak lupa membeli wall mirror untuk Hanung dan lemari 3 pintu, tentu mengandalkan Kang Rahim dibagian pembayaran dan nego.

Sampai di pesantren, Kang Rahim meminta beberapa santri membantu mengangkat barang yang mereka beli. Gus Zam mengangkat wall mirror mendahului semuanya. Ia mengeluarkan tempat tidurnya yang berukuran 120x200, meja kerjanya dan lemari.

"Adib, kamu merombak kamar?" tanya Bu Nyai tidak percaya.

Pasalnya beberapa kali beliau memintanya, selalu ditolak oleh Gus Zam yang mengatakan nyaman dengan kamarnya.

"Iya, nanti ada Hanung."

"Terimakasih, Hanung. Kamu membawa perubahan pada Adib." batin Bu Nyai yang tersenyum.

Tanpa bermaksud menunda, Bu Nyai meninggalkan kegiatan Gus Zam dengan sumringah.

Kamar Gus Zam benar-benar berubah total. Kang Rahim yang hafal dengan Gus Zam saja tidak percaya sedang merubah tatanan kamar yang sudah bertahun-tahun tidak ada perubahan itu. Kamar berukuran 4x3,5 dengan kamar mandi dalam itu bukan lagi studio ukir, tetapi kamar yang nyaman untuk pasangan.

"Lemari, meja kerja dan kasur ini bagaimana, Gus?" tanya Kang Rahim.

"Tidak tahu. Tanya Abi, Kang."

"Boleh tidak buat saya saja?"

"Kalau Kang Rahim tidak keberatan, ambil saja Kang."

"Terima kasih, Gus. Masih bagus semua ini." Kang Rahim pun meminta santri membawakan barang-barang tersebut ke kediaman beliau.

Setelah semua kembali hening, Gus Zam menatap kembali tatanannya. Dirasa sudah pas, Gus Zam memasang ukiran nama Hanung di atas wall mirror.

Terpopuler

Comments

Ida Naurah

Ida Naurah

mudah2an bisa segera sembuh trauma'a

2025-03-04

1

Ari_nurin

Ari_nurin

Gus ZAM romantis dg cara yg manis 🤗

2025-01-15

2

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

besok nikah hanung dan gus zam,gus zam tipe laki2 apa2 dipikir berlarut2 mkanya gk sembuh2 dr traumanya tp nanti insya Allah setelah menikah dngn hanung akan smbuh

2024-10-21

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!