17. Serangan Panik!

Seperti saat Hanung berada di kediaman Pak Kyai kemarin, Gus Zam mengikuti Hanung kemanapun. Termasuk saat ini, Gus Zam duduk tenang menunggu Hanung yang sedang memasak makan malam di dapur pribadi kediaman Pak Kyai. Dapur yang hanya digunakan saat Bu Nyai atau Ning Alifah sedang ingin memasak.

Hanung dengan cekatan mengolah bahan masakan yang sebelumnya ia ambil dari dapur umum. Gus Zam sempat ingin membantu, tetapi Hanung menolak dan mengatakan agar suaminya menunggu sampai ia selesai.

"Masak apa Hanung?" tanya Ning Alifah yang mendekat saat mencium bau masakan.

"Masak sop bakso, sambal goreng tempe dan udang goreng tepung, Kak." jawab Hanung yang masih menggoreng udang.

"Aku dan suami boleh gabung?"

"Gabung saja, Kak. Aku memang sengaja memasak untuk semuanya."

"Terima kasih."

Setelah semua masakan selesai, Hanung menyeduh teh dan membuat kopi untuk Bu Nyai dan Pak Kyai. Hanung juga menyediakan air dingin untuk Ning Zelfa dan air biasa untuk Ning Alifah. Hampir semua kebiasaan keluarga Bu Nyai ia hafal, hanya Gus Zam saja yang ia tak tahu.

"Mas, mau minum apa?" tanya Hanung setelah menyajikan semuanya di meja makan.

"Sirup dingin." Gus Zam berdiri dari duduknya dan mengambil sirup yang ada di kitchen set.

"Oke, tunggu sebentar."

Hanung menerima sirup leci yang yang diberikan Gus Zam dan membuatkan sirup dingin seperti yang dipesan. Kemudian menyuguhkan nya dihadapan sang suami, bertepatan saat semua orang telah selesai sholat isya' dan berkumpul di meja makan.

Pak Kyai memimpin doa dan semuanya makan malam bersama. Tak ada percakapan saat mereka makan. Tetapi setelah selesai, mereka terkejut melihat Gus Zam yang menarik piring yang berisi sisa makanan Hanung.

"Luar biasa!" seru Ning Zelfa.

"Alhamdulillah.." kata Pak Kyai dan Bu Nyai memandang kearah Ning Zelfa.

"Alhamdulillah.." ucap Ning Zelfa diikuti Ning Alifah dan suaminya, Gus Miftah.

Hanung yang tidak mengerti malah sibuk menahan Gus Zam yang ingin menghabiskan makanannya. Entah mengapa ia merasa perutnya tidak nyaman, sehingga tak menghabiskan porsinya yang biasa.

"Tidak apa-apa. Kalau tidak dihabiskan mubadzir." kata Gus Zam melepaskan tangan Hanung yang menahannya.

"Tak apa, Hanung. Biarkan saja." kata Bu Nyai.

"Tapi kenapa kamu tidak habis?" tanya beliau.

"Sepertinya perut Hanung kembung, Umi."

"Mau minum obat atau periksa?"

"Tidak, Umi. Biasanya reda sendiri."

"Minum teh hangatnya biar hangat perutnya." Ning Alifah menyodorkan segelas teh.

Hanung mengangguk, menerima teh tersebut dan meminumnya. Setelah Gus Zam selesai makan, semua orang pun bubar. Setelah Hanung selesai membereskan semuanya, Gus Zam menggandeng Hanung masuk kekamar mereka. Gus Zam meminta Hanung untuk duduk di sofa.

"Bagian mana yang sakit?" tanya Gus Zam sambil berjongkok.

"Tidak ada yang sakit, Mas. Hanya tidak nyaman, sepertinya tamu bulananku akan datang."

"Kenapa tadi bilang kembung?"

"Malu."

"Ada yang bisa aku lakukan?" Hanung mengangguk iseng.

"Apa?"

"Kita keluar untuk membeli pembalut." kata Hanung dengan lirih.

"Kenapa tidak ke koperasi santri saja?"

"Sekalian jalan-jalan, Mas. Aku bosan beberapa hari hanya di pesantren."

Gus Zam berpikir sejenak. Hanung memang tidak terbiasa kehidupan pesantren. Ia pun kemudian berdiri dan mengambil dompetnya di laci. Gus Zam menggandeng tangan Hanung dan berjalan keluar. Hanung mengikuti Gus Zam sambil tersenyum. Ia tak menyangka sang suami akan memenuhi permintaannya.

Hanung mulai menyesali keputusannya untuk ikut Surati. Tetapi ia segera menepisnya, bagaimanapun ia telah mengambil keputusan maka ia harus menanggung konsekuensi nya. Hanung mengeratkan pegangan tangannya, membuat Gus Zam melirik nya. Mereka pun melewati gerbang pesantren dengan lancar karena Kang Rahim yang sedang berjaga.

"Tapi apakah tidak apa-apa kita keluar malam seperti ini, Mas?"

"Tidak tahu."

"Kenapa tidak tahu?"

"Aku belum pernah keluar pesantren seperti sekarang. Aku keluar pesantren hanya saat ada pemeriksaan." kata Gus Zam lirih.

"Lalu, semua kebutuhan Mas siapa yang menyediakan?"

"Umi, Kang Rahim dan yang lain. Aku baru keluar berbelanja kemarin, saat membeli perabotan kamar." jawab Gus Zam jujur.

"Apa yang Mas rasakan saat berada diluar seperti ini?" Hanung menghentikan langkahnya dan menatap heran kearah Gus Zam.

"Di tempat ramai, aku merasa pandangan mereka tertuju kepadaku semua. Itu membuatku tidak nyaman dan.. panik." Hanung merasakan tangan Gus Zam bergetar.

"Maaf, Mas. Aku seharusnya mengerti keadaanmu, tetapi aku justru mengajakmu keluar. Kita kembali saja, ya?" Hanung memutar tubuhnya bersiap kembali.

"Bukankah kamu mau membeli sesuatu?"

"Di koperasi santri ada." Hanung meringis.

Hanung menarik Gus Zam, tetapi tak bergerak sedikitpun. Justru ia yang tertarik oleh Gus Zam yang melanjutkan jalannya. Ia ingat ada melewati minimarket kemarin. Hanung hanya diam mengikuti langkah Gus Zam.

Beberapa meter kemudian, mereka pun sampai di sebuah minimarket. Gus Zam sempat ragu untuk mendekat karena minimarket sekaligus cafe itu sedang ramai. Hanung pun dengan sabar menunggu Gus Zam, tanpa bermaksud memaksa. Kalaupun ingin kembali, ia juga tidak akan protes.

"Bismillah.." gumam Gus Zam sebelum melanjutkan langkahnya.

Saat memasuki minimarket, tangan Gus Zam bergetar. Tanpa topi dan masker, pandangan orang-orang langsung tertuju kepadanya. Hanung sampai menarik tubuh Gus Zam saat ada orang yang mau lewat karena mereka menghalangi jalan masuk.

"Mas tidak apa-apa?" bisik Hanung dengan berjinjit.

"Y-ya.." suara Hanung sukses menyadarkan Gus Zam.

Hanung pun menuntun Gus Zam menuju rak pembalut. Pandangan Gus Zam kini hanya tertuju pada Hanung. Ia berusaha sebisa mungkin menekan rasa takutnya sampai Hanung selesai berbelanja. Selain membeli pembalut, Hanung juga membeli beberapa cokelat dan eskrim.

Saat ingin membayar, Hanung menepuk dahinya karena lupa dirinya tak membawa dompet. Gus Zam pun menyodorkan dompetnya. Hanung tersenyum. Tanpa sungkan ia membuka dompet suaminya dan mengambil uang yang ada disana.

"Mas, kita makan es krim nya dulu. Nanti cair sampai pesantren." Gus Zam mengangguk.

Keduanya duduk di trotoar, sedikit jauh dari minimarket dan menikmati es krim. Tetapi setelah selesai, Gus Zam heran mengapa Hanung tak kunjung berdiri.

"Kamu kenapa?"

"Bocor, Mas." cicit Hanung.

"Apanya?" Hanung pun menarik tubuh Gus Zam dan membisikkan sesuatu.

Gus Zam mengangguk. Ia pun melepaskan kemeja, menyisakan kaos lengan pendeknya dan melingkarkannya di pinggang Hanung. Hanung benar-benar malu saat ini, andai saja ada lubang ia sudah pasti akan bersembunyi.

"Ayo!" Ajak Gus Zam.

"Terimakasih, Mas."

"Sama-sama."

Keduanya kembali berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Saat melewati sebuah warung yang ramai dengan anak-anak tongkrongan, Gus Zam tiba-tiba berhenti dan duduk memeluk lututnya.

"Mas!" panggil Hanung, tetapi tak ada respon.

Hanung yang bingung pun ikut duduk dan melihat mata Gus Zam bergetar, begitu juga dengan tubuhnya dan nafas yang kacau.

"Serangan panik!" gumam Hanung.

Ia memutar otak, bagaimana cara ia mengahadapi situasi ini karena tak mungkin meminta tolong. Orang asing akan semakin membuat Gus Zam panik. Tanpa pikir panjang, Hanung duduk bertumpu lutut dan memeluk tubuh Gus Zam sambil memintanya untuk tenang.

"Tenang, Mas. Hanung disini. Istigfar, Mas.." Hanung mulai melantunkan sholawat dengan lirih.

Cukup lama mereka pada posisi tersebut, sampai akhirnya Gus Zam merasakan hangat tubuh Hanung dan mendengar suara lantunan sholawat. Tangannya yang awalnya memeluk lutut, memeluk tubuh Hanung yang seketika membuat si empunya menegang.

"Mbak! Tidak sopan seperti itu di tempat umum!"

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Semoga gus Zam lekas sembuh

2024-11-18

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!