18. Satu Tahun

"Mas.." cicit Hanung.

Tubuhnya menegang kala tangan Gus Zam memeluknya. Ia memang memeluk Gus Zam lebih dulu, tetapi untuk menenangkannya. Berbeda cerita saat ia dipeluk. Walaupun mereka adalah suami istri dan ini adalah kali kedua Gus Zam memeluknya, ia masih tak terbiasa.

"Mbak! Tidak sopan seperti itu di tempat umum!" seru seorang laki-laki yang menghentikan motornya di dekat Hanung dan Gus Zam.

"Maaf, Mas. Suami saya sedang tidak enak badan." Jawab Hanung sekenanya, disaat yang bersamaan tangan Gus Zam semakin mengerat disana.

"Kalau tidak enak badan itu pulang atau periksa! Jangan bermesraan seperti ini!"

"Iya, Mas. Maaf."

"Itu suaminya bisa berdiri tidak?" tanya laki-laki tersebut sambil melihat Gus Zam yang tidak bergerak.

"Bisa, Mas. Sebentar lagi, biarkan mengumpulkan tenaga dulu."

"Mari saya antarkan kerumah. Rumahnya dimana?" tanya laki-laki tersebut bersimpati.

"Terimakasih, Mas. Kami bisa pulang sendiri." tolak Hanung sopan.

"Baiklah. Lain kali kalau tidak sehat jangan dipaksa keluar rumah, Mbak! Buat orang salah paham saja!" setelah mengatakannya, laki-laki itu pun pergi meninggalkan Hanung dan Gus Zam.

"Mas.. Hanung tidak bisa nafas." bisik Hanung yang membuat Gus Zam segera melepaskan tangannya.

"Huh.." Hanung bernafas lega.

"Bagaimana perasaan Mas sekarang?" Gus Zam hanya menggeleng.

"Bisa jalan?" Gus Zam mengangguk.

Hanung berdiri lebih dulu, tetapi oleng karena kakinya kesemutan. Gus Zam dengan sigap menangkap tubuh Hanung.

"Maafkan aku.."

"Tidak apa, Mas. Cuma kesemutan." kata Hanung sambil meringis.

Setelah merasa baikan, Hanung menggandeng tangan Gus Zam dan berjalan kembali ke pesantren. Sampai di pesantren, pintu kediaman masih terbuka. Ternyata Pak Kyai dan Bu Nyai sudah menunggu mereka di ruang tamu.

"Dari mana?" tanya Bu Nyai.

"Assalamu'alaikum Abi, Umi." Hanung menyalami Pak Kyai dan Bu Nyai diikuti Gus Zam.

"Maaf Umi, Hanung yang meminta Gus Zam untuk menemani Hanung ke mini market." terang Hanung kemudian.

"Koperasi santri kan ada?"

"Tidak ada es krim disana, Umi."

"Bukankah perutmu kembung? Mengapa makan es krim malam-malam? Dan kenapa itu kemeja Adib?" Bu Nyai sedang mode keras.

"Baru saja tamu bulanan Hanung datang, Umi. Ini kemeja Gus Zam untuk menutupi." kata Hanung menunduk.

"Astagfirullah.. Kalian ini membuat kami khawatir! Untungnya Rahim laporan kalau kalian itu keluar. Kalau tidak, kami tidak tahu harus mencari kalian kemana!"

"Sudah, Umi. Mereka sudah kembali dan baik-baik saja, biarkan mereka beristirahat. Apalagi Hanung harus ganti pakaian." kata Pak Kyai menenangkan Bu Nyai.

"Ya sudah, kalian masuk. Lain kali jangan seperti ini! Umi takut kalian kenapa-kenapa."

"Maafkan Hanung, Umi." Hanung mencium punggung tangan Umi dan Abi sebelum pamit.

Gus Zam yang sedari tadi hanya diam, akhirnya bersuara.

"Maafkan Zam, Abi, Umi. Hanung tidak salah."

"Tak apa, masuklah." kata Pak Kyai.

Pak Kyai pun mengajak Bu Nyai untuk masuk kamar. Bu Nyai yang masih merasa dongkol pun berjalan sambil mengomel.

"Alhamdulillah.. Adib itu sudah ada perkembangan sejak ada Hanung. Mulai dari komunikasi sampai sudah berani keluar pesantren. Bahkan sudah bisa membela istrinya!"

"Umi senang tidak Adib seperti itu?"

"Ya senang lah, Bi!"

"Lalu apa yang membuat Umi kesal sekarang?" Bu Nyai menghentikan langkah beliau.

"Kesalnya Umi itu karena mereka pergi tanpa pamit!" Pak Kyai hanya tertawa kecil.

Tak bisa dipungkiri, perubahan Gus Zam benar-benar pesat dimata mereka yang sehari-hari hanya mendapatkan anggukan atau gelengan. Gus Zam yang nyaman berada dikamar bahkan keluar ke minimarket yang jaraknya sekitar 100 meter dari pesantren. Walaupun Bu Nyai kesal, dalam hati beliau tetap bersyukur atas kemajuan Gus Zam.

Sementara itu, Hanung yang berada di dalam kamar mandi menepuk dahinya. Ia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi sampai lupa membawa pakaiannya. Kini ia bingung bagaimana cara ia keluar. Setelah selesai mengucek pakaiannya seadanya, Hanung pun memutuskan untuk meminta bantuan Gus Zam.

"Minta tolong pada suami tidak dosa kan, ya?" gumamnya.

"Mas Zam disitu?" tanya Hanung dengan membuka pintu kamar mandi sedikit.

"Ya. Kenapa Hanung?" tanya Gus Zam mendekat.

"Bisa minta tolong ambilkan pakaian ganti? Hanung lup.." Hanung menghentikan kalimatnya karena Gus Zam sudah menyodorkan pakaian ganti untuknya.

"Terima kasih, Mas." Hanung memiringkan tubuhnya untuk menerimanya.

"Ehm.. pembalut nya ketinggalan, Mas." cicit Hanung.

Gus Zam berjalan ke meja dimana Hanung meletakkan kantong belanjanya.

"Ada lagi?"

"Tidak, terimakasih." Hanung menutup kembali pintu kamar mandinya.

Gus Zam kembali ke sofa dengan tersenyum. Ia yang melihat Hanung buru-buru ke kamarmandi tadi, segera menyiapkan pakaian ganti karena ia melihat kemejanya pun terkena darah. Tidak mungkin istrinya akan keluar dengan keadaan masih kotor karena kamar ini mereka gunakan untuk sholat bersama. Benar saja dugaan Gus Zam.

"Terimakasih, Mas. Maaf merepotkan." kata Hanung yang menghampiri Gus Zam.

"Aku sholat dulu, tadi belum isya'." Gus Zam pun ke kamar mandi.

Sambil menunggu Gus Zam, Hanung membaca buku yang ia bawa dari rumah. Buku biografi yang akhir-akhir ini menarik minatnya. Beberapa tokoh yang menginspirasi, memberikan kesan tersendiri untuk Hanung yang sedari dulu suka membaca.

"Kenapa tidak tidur?" tanya Gus Zam yang sudah selesai.

"Menunggu Mas selesai." Hanung tersenyum dan meletakkan buku di nakas.

"Bagaimana perasaan Mas sekarang?"

"Baik."

"Alhamdulillah.." Hanung tersenyum dan menarik Gus Zam untuk naik ke tempat tidur.

"Tapi, bagaimana jika tak ada kamu disini?" tanya Gus Zam ragu.

"Maafkan aku, Mas. Aku tak memikirkannya sampai sini saat membuat keputusan. Aku kira dengan pernikahan kita yang cepat, kita masih memiliki waktu untuk saling mengenal walaupun jarak jauh. Maka dari itu, aku menyanggupi permintaan Ibu agar tidak menimbulkan masalah untuk Ibu Jam dan juga keluargamu, Mas. Tetapi sekarang aku menyesalinya karena ternyata pernikahan ini memberikan warna baru." kata Hanung.

"Aku harus bagaimana?" tanya Gus Zam sambil merapikan anak rambut Hanung.

"Kita jalani saja dulu ya, Mas? Untuk sementara saja."

"Berapa lama?"

"Aku juga tidak tahu, Mas. Aku belum tahu keadaan disana. Beri aku waktu paling lambat satu tahun. Jika bisa lebih cepat, akan lebih baik."

"Satu tahun, tidak boleh lebih!" Hanung mengangguk dengan senyuman, membuat Gus Zam kembali merapikan anak rambutnya.

Gus Zam berhenti saat melihat ada tahi lalat di pelipis Hanung. Saat Hanung berhijab, keberadaan tahi lalat itu tidak terlihat. Kini tatapan keduanya bertemu, baik Hanung maupun Gus Zam seperti merasakan gejolak di hati mereka. Tetapi karena mereka sama-sama tak mengerti, mereka tak tahu apa yang mereka rasakan saat ini.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Satu tahun apa ga ngerti ? lagi ga pokus ni

2024-11-18

1

fsf

fsf

1tahun itu lama lho

2025-02-08

1

Ef

Ef

Aku mampir kak, ceritanya bagus. Titip semangat buat author💪🏻

2024-10-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!