6. Khitbah

Sebuah mobil SUV memasuki halaman rumah Hanung. Ibu Jam dan Hanung yang mendengar suara seru mobil pun keluar rumah menyambut kedatangan tamu mereka. Iwan yang bertanggung jawab menjaga adik-adiknya, membawa mereka bermain dikamar.

"Assalamu'alaikum.." sapa Bu Nyai dan Pak Kyai bersamaan.

"Wa'alaikumussalam.." Ibu Jam dan Hanung bergantian mencium punggung tangan Bu Nyai.

Ibu Jam menangkupkan tangannya di dada menyapa Pak Kyai, sedangkan Hanung mencium punggung tangan beliau yang sudah menjadi kebiasaannya dari dulu. Ibu Jam pun mempersilahkan Bu Nyai dan Pak Kyai masuk kedalam rumah tanpa bertanya dimana Gus Zam. Hanung menurut saja mengikuti dari belakang, ia mengira hanya Bu Nyai dan Pak Kyai yang datang hari ini.

Setelah semuanya duduk, Pak Kyai menyampaikan niat beliau datang dan Ibu Jam pun menyambutnya dengan mengatakan semua keputusan ada ditangan Hanung.

"Sebelum Hanung memberikan keputusan, alangkah baiknya untuk bertemu dengan Adib lebih dulu." Kata Pak Kyai.

"Hanung, mari ikut Umi ke mobil." ajak Bu Nyai.

Hanung mengikuti langkah Bu Nyai menuju mobil. Bu Nyai membuka pintu kursi penumpang, terlihat laki-laki yang sedang duduk memperhatikan keluar jendela yang berlawanan dengan posisi Bu Nyai dan Hanung saat ini.

"Adib, ini ada Hanung ingin kenalan." tak ada jawaban.

Bu Nyai pun meminta Hanung masuk dan duduk dibagian depan, sementara beliau duduk di sebelah Gus Zam. Walaupun menunduk, Hanung tetap memperhatikan setiap gerakan Bu Nyai yang saat ini menggenggam tangan Gus Zam.

"Hanung, kenalkan. Ini Adib Zamroni, anak Umi yang kedua. Biasa dipanggil Gus Zam. Seperti yang Umi ceritakan kemarin, Adib orangnya pemalu dan pendiam. Jujur, Adib mengalami trauma sewaktu kecil yang membuatnya seperti sekarang. Semua terapi dan semua jenis pengobatan sudah Umi dan Abi lakukan, tetapi tidak mendapatkan hasil." Hanung yang awalnya menunduk, memberanikan diri menatap ke arah Bu Nyai. Ada gurat kesedihan disana.

"Hanung, Umi tidak memaksa kamu untuk menerima Adib. Sebenarnya Umi bersalah disini. Hari pernikahan Adib sudah ditentukan sejak satu tahun yang lalu dan semua persiapan sudah dilakukan termasuk menyebarkan undangan karena minggu depan adalah hari yang ditentukan. Sayangnya, pihak perempuan membatalkannya tepat saat kamu datang ke pesantren kemarin." Hanung terkejut dengan penjelasan Bu Nyai.

"Umi tidak ada maksud untuk menjadikan kamu sebagai pengganti. Semuanya murni karena niatan untuk memberikan pernikahan yang layak untuk Adib. Kalaupun kamu menolak, Umi hanya akan membatalkan acara yang telah kami siapkan. Semua keputusan ada ditangan kamu, Hanung."

Hanung hanya termenung. Semua informasi yang dijelaskan Bu Nyai memenuhi kepalanya saat ini. Sempat ada rasa kecewa, ragu dan keinginan untuk mundur dari lamaran ini. Tetapi kemudian Hanung tersadar akan keputusan yang telah ia ambil atas petunjuk yang telah ia dapat.

Bu Nyai yang melihat kediaman Hanung hanya bisa menahan gejolak dihati. Bagaimanapun, beliau sadar dengan kekurangan anaknya yang selama ini beliau anggap spesial. Tidak semua orang bisa menerima keadaan Gus Zam.

"Adib, ini Hanung. Apakah kamu tidak ingin mengenalnya?" Mendengar hal itu, baik Hanung maupun Gus Zam melihat kearah Bu Nyai secara bersamaan.

Gus Zam menganggukkan kepala nya dan mengulurkan tangannya. Tetapi saat melihat wajah Hanung, segera Gus Zam menarik tangannya kembali. Hanung yang melihatnya pun merasa familiar dengan wajah Gus Zam, tetapi ia tidak ingat pernah bertemu dimana.

"Maafkan Adib, Hanung. Mungkin dia merasa sungkan dengan kamu yang bukan muhrim. Selama ini, perempuan yang dekat dengan Adib hanya Umi dan Kakaknya, Alifah." Hanung mengangguk tanda mengerti.

"Nak.." Bu Nyai mencoba sekali lagi, tetapi Gus Zam tidak merespon.

Bu Nyai tahu, anaknya sedang tidak ingin diganggu. Beliau pun mengajak Hanung kembali ke ruang tamu, meninggalkan Gus Zam dimobil.

"Bagaimana Umi?" tanya Pak Kyai was-was.

Bu Nyai hanya menggelengkan kepalanya, membuat Pak Kyai dan Ibu Jam menghembuskan nafas dalam. Keduanya mengerti maksud gelengan Bu Nyai, yaitu Gus Zam tidak ingin mengenal Hanung.

Sedangkan Hanung yang memperhatikan ekspresi mereka menebak, jika Ibu Jam tahu keadaan Gus Zam seperti apa. Ia pun menyimpan pertanyaan untuk Ibu Jam nanti.

"Hanung, jawaban kamu apa? Jangan sungkan, Umi dan Abi tidak memaksa kamu."

"Hanung.." Hanung menggantung kalimatnya, membuat para orang tua menunggunya.

"Bismillah.." ucap Hanung dalam hati.

"Hanung, menerima khitbah Umi dan Abi." jawab Hanung mantap.

"Apakah kamu yakin, Nak?" Pak Kyai memastikan.

"Saya yakin. Keputusan saya menerima khitbah ini tidak berdasarkan paksaan atau rasa iba. Saya ridho." sontak semua orang pun mengucapkan hamdalah bersamaan.

"Hanung, sejak kamu memberikan jawaban maka kamu resmi menerima khitbah kami dan kamu tidak diperbolehkan menerima khitbah dari orang lain karena kamu sudah resmi sebagai makhthubah atau calon mempelai perempuan yang sudah resmi dilamar. Ini mahar yang Abi berikan untukmu, hantaran dan mahar pernikahan akan kami kirimkan di hari pernikahan." Pak Kyai menyerahkan sebuah kotak kayu yang beliau keluarkan dari saku jubah.

Hanung menerimanya dengan menunduk dan mengucapkan terimakasih. Bu Nyai dan Pak Kyai pun mengucapkan sholawat atas keberhasilan khitbah mereka, begitu juga dengan Ibu Jam yang tidak menyangka Hanung bersedia dilamar.

Sebelum melanjutkan pembicaraan, Ibu Jam mengajak Bu Nyai dan Pak Kyai untuk makan terlebih dahulu. Mereka setuju dan meminta Hanung untuk mengantarkan makanan untuk Gus Zam.

"Permisi, Gus Zam. Ini makan siang untuk Gus Zam, mau pakai sambal tidak?" tanya Hanung hati-hati.

Gus Zam melihat kearah Hanung sekilas dan menerima nampan yang dibawanya. Hanung yang merasa keberadaannya merupakan ancaman untuk Gus Zam pun membalikkan tubuhnya. Gus Zam memakan makanan yang Hanung siapkan tanpa protes sedikitpun. Setelah selesai, Gus Zam mendorong nampan sampai mengenai tubuh Hanung.

"Alhamdulillah.." ucap Hanung yang melihat piring dan gelas Gus Zam sudah kosong.

Hanung pun turun dari mobil dan menutup pintu kembali. Bu Nyai dan Pak Kyai sedari tadi sebenarnya memperhatikan keduanya, tetapi mereka harus kecewa karena anak mereka masih belum membuka diri.

Selesai makan, pembicaraan mereka pun berlanjut pada pembahasan nikah. Jika Hanung keberatan, mereka akan mengubah tanggal pernikahan sesuai keinginannya. Tetapi Hanung mengatakan untuk mengikuti sesuai yang sudah direncanakan.

"Kamu benar tidak ingin ganti tanggal? Kamu bisa memilih harimu sendiri, Hanung." kata Bu Nyai.

"Tidak apa-apa, Umi. Semua hari baik." jawab Hanung dengan tersenyum.

"Tapi waktunya terlalu cepat untuk kamu, Nak." Pak Kyai bersuara.

"Tidak apa-apa, Abi. Dengan saya mengambil keputusan mau itu cepat atau lambat, pernikahan tetap akan terjadi." para orang tua membenarkan perkataan Hanung.

Dengan begitu, mereka semua sepakat melaksanakan pernikahan antara Hanung dan Gus Zam dihari yang sudah ditentukan, yaitu minggu depan. Tetapi Umi mengganti tempat dilangsungkannya pernikahan. Yang awalnya dilakukan di gedung, dirubah menjadi masjid pesantren.

Bu Nyai dan Pak Kyai pun menutup khitbah mereka dan berpamitan karena mereka harus segera mengurus semua keperluan. Hanung dan Ibu Jam mengantarkan kepergian mereka yang diperhatikan oleh tetangga sekitar. Hingga salah satu tetangga mendekat menanyakan ada keperluan apa Bu Nyai dan Pak Kyai berkunjung kerumah mereka.

Tanpa menutupi apapun, Ibu Jam mengatakan bahwa Bu Nyai dan Pak Kyai melamar Hanung. Ibu Jam juga mengatakan jika pernikahan akan dilakukan minggu depan. Sontak saja tetangga yang mendengar kabar tersebut mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik untuk Hanung.

"Bu, Hanung ingin tahu seperti apa calon suami Hanung."

Terpopuler

Comments

asiah puteri mulyana

asiah puteri mulyana

Kayaknya Gus Zam trauma sm perempuan mungkin dulu byk yg ngerjar2...

2025-02-25

1

Yani

Yani

Kenapa ya Gus Jam

2024-11-09

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

punya trauma apa kira calonya hanung,bismillah insya Allah menuju bahagia hanung

2024-10-18

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!