3. Menolak Lamaran

"Maaf ya, semua.. Tadi ada urusan." kata Hanung kepada anak-anak kelas 2 yang sudah menunggunya.

"Nanti Hanung jelasin, Bu." kata Hanung yang melihat tatapan tanya dari Ibu Jam.

Hanung pun segera mencuci tangan dan menemui anak-anak. Hari ini bukan hari belajar melainkan hari PR. Jadi mereka mengeluarkan PR Tematik yang mereka miliki. Pertama-tama Hanung meminta mereka mengerjakan sebisa mereka dan setelah mereka selesai, Hanung akan membahasnya.

"Sudah selesai, Mbak!" seru salah satu anak.

"Belum!" seru yang lain.

"Santai saja, yang sudah selesai coba di cek lagi." kata Hanung menengahi.

Setelah semuanya selesai, Hanung meminta mereka bertukar buku. Lalu meminta mereka membaca satu persatu. Semuanya lancar sampai disoal ke 6, jawaban yang dibaca salah. Hanung pun membahas kesalahan tersebut dengan menjelaskan.

Anak-anak yang sudah paham, menyalin jawaban mereka ke buku tulis. Dan yang belum paham, masih mendengarkan penjelasan Hanung.

"Jadi, 1 baris balok ini nilainya 10. Kalau ada 5 balok, kita hitung 10+10+10+10+10. Berapa?" tanya Hanung.

"50." seru Nayla.

"Betul. Lalu, kalau ini berapa?" tanya Hanung yang menunjuk ke arah tumpukan balok.

"4 baris 10 dan 1 baris 5, jadi.. 45!" seru Nayla.

"Sudah paham kan? Sekarang kamu salin kalau tidak, kamu akan pulang terakhir."

"Siap, Mbak!"

Jika di kelas 1 ada Didik yang sedikit lambat, di kelas 2 ada Nayla, dan begitu juga dikelas lain. Sekolah di desa Hanung terbatas. Hanya ada satu sekolah yang mengakomodasi beberapa desa. Sehingga pihak sekolah menerapkan sistem jam pagi dan siang untuk membagi jam masuk setiap kelas.

Maka dari itu, para tetangga meminta Hanung untuk membantu anak mereka belajar. Mereka bahkan bersedia menyiapkan meja untuk digunakan anak mereka saat les. Hingga Ibu Jam dan Hanung merelakan ruang tamu mereka untuk digunakan.

Setelah anak-anak pulang, Hanung masih ada 2 kali jadwal les hari ini. Sebelum itu ia memutuskan untuk makan siang yang sudah terlewat. Ia bertemu Iwan yang juga sedang makan siang karena baru saja pulang sekolah.

"Mbak, nanti aku ikut les malamnya." kata Iwan setelah selesai makan.

"Tumben?"

Pasalnya Iwan tak pernah ikut lesnya, jika ada pertanyaan ia akan bertanya langsung kepada Hanung.

"Ada PR yang tidak aku mengerti. Kalau menunggu Mbak Hanung kosong, takut mengganggu jam istirahat."

"Padahal biasa begitu." goda Hanung.

"Mbak Hanung tidak asyik!" kesal Iwan yang pergi meninggalkan Hanung.

"Jadi, kenapa tadi pulangnya siang sekali?" tanya Ibu Jam yang menghampiri.

"Umi Siti minta bantuan di dapur tadi, Bu. Sebenarnya Umi Siti minta sampai selesai makan siang, tetapi Hanung tidak bisa. Dan dijalan tadi macet karena ada kecelakaan di lampu merah arah pasar.

"Innalillahi.. Apa anak-anak libur?"

"Iya. Libur 4 hari kata Umi Siti tadi."

"Pantas saja Umi Siti bersemangat mendengar kamu mau kesana, akhir bulan maulid ini anak-anak libur."

"Hanung tidur sebentar ya, Bu. Sakit kepala kepanasan di jalan tadi."

"Iya, jangan lupa dzuhur dulu. Nanti Ibu bangunkan kalau sudah jam 3." Hanung menganggukkan kepalanya.

Hanung yang hanya terlelap sebentar, bangun sekitar pukul 14.30. Ia pun memutuskan untuk mandi. Tetapi ketika ia masuk ke dalam kamar mandi, tidak ada air didalam bak.

Ia pun menyalakan pompa air. Tetapi tidak ada suara air mengisi di penampungan. Hanung berjalan keluar menuju sumur. Disana sudah ada Ibu Jam dan Marsudi yang sedang memperbaiki pompa air.

"Pompa nya masuk angin, Bu. Jadi bagian ini harus dibuka, lalu diisi air. Sepertinya air sumurnya surut juga, Bu."

"Terimakasih Mas Marsudi. Nanti saya cari Lek Samin untuk melihatnya." ucap Ibu Jam.

"Sama-sama, Bu. Kebetulan saya juga ada perlu dengan Hanung." Ibu Jam pun melihat kearah Hanung yang baru saja datang.

Sedangkan Hanung yang masa bodoh dengan percakapan Ibu Jam dan Marsudi, bingung dengan tatapan sang ibu. Ibu Jam menggelengkan kepala pelan dan mempersilakan Marsudi duduk di teras. Beliau juga meminta Hanung untuk menyuguhkan minuman.

"Maaf, disini saja takut mengundang fitnah."

"Iya, Bu. Saya mengerti."

"Ini minumnya, Mas. Silahkan diminum." Hanung menyuguhkan 2 cangkir teh untuk Marsudi dan Ibu Jam.

"Mbak Hanung tetap disini, katanya Mas Marsudi ada yang ingin disampaikan."

Hanung mengangguk dan ikut duduk disebelah Ibu Jam. Marsudi pun menatap kearah Hanung yang mengenakan gamis polos berwarna coklat dengan hijab instan senada.

"Hanung, sebelumnya saya minta maaf. Mungkin kamu sudah mendengar pembatalan lamaran dari orang tua saya. Tetapi saya sungguh tidak ada niatan untuk membatalkannya. Jadi, saya kesini untuk meyakinkan kamu atas keinginan saya untuk melamar kamu." Ibu Jam dan Hanung saling pandang.

Ibu Jam memberikan anggukan, tanda beliau menyerahkan keputusan kepada Hanung. Hanung pun mengutarakan pikirannya dengan mengatakan jika sebaiknya mengikuti keputusan kedua orang tua Marsudi. Alasannya sederhana. Menikah bukan hanya hubungan antara suami dan istri, melainkan juga hubungan kedua orang tua.

Jika orang tua sudah tidak setuju diawal, dipaksa pun akan menjadi masalah dikemudian hari. Hanung tidak menginginkannya. Lagipula, Hanung belum ada niatan untuk menikah saat ini.

Marsudi menunduk. Sungguh malu ia dengan sikap Hanung yang lebih dewasa dibandingkan dirinya. Ia hanya memikirkan perasaannya tanpa berpikir bagaimana kedepannya. Ibu Jam pun membenarkan ucapan Hanung dan menyarankan Marsudi untuk mendengarkan perkataan orang tuanya. Biarkanlah hubungan mereka tetap seperti ini daripada menjadi musuh.

"Salut sama kamu, Mbak." kata Ibu Jam setelah Marsudi pulang dengan wajah lesu.

"Salut apanya, Bu?" Hanung menghabiskan teh yang tidak tersentuh.

"Kamu menolak lamaran tanpa berkedip!" goda Ibu Jam.

"Iya-ya, Bu. Harusnya tadi Hanung sambil berkedip-kedip." Hanung tak mau kalah.

"Yang ada kamu dibilang "kiyer"!" Hanung tertawa, membuat Ibu Jam meninggalkannya di teras.

Hanung tak menyesali keputusannya menolak Marsudi. Ia sama sekali tak merasakan ketertarikan dengan Marsudi, walaupun laki-laki tersebut memiliki sikap yang lembut dan pengertian. Memang sifat yang cocok sebagai guru, tetapi tidak menarik di mata Hanung. Ia justru membandingkan Marsudi dengan laki-laki yang ia tabrak tadi.

"Astagfirullah.. Apa yang aku pikirkan? Kenal saja tidak!" gumam Hanung sambil menepuk dahinya.

Ia pun berlari masuk kedalam rumah dan mandi sesuai niat awalnya sebelum anak-anak datang. Selesai mandi, Hanung menyempatkan membantu Ibu Jam di dapur menyiapkan makanan untuk Jamal dan Nada.

"Assalamu'alaikum.." salam serempak terdengar dari luar, yang sudah bisa dipastikan adalah suara anak-anak.

"Wa'alakumsalam.." jawab Hanung dan Ibu Jam.

Segera Hanung pergi menyambut anak-anak dan memulai sesi PR mereka.

Terpopuler

Comments

Nabilah

Nabilah

lanjut thor, ceritanya ringan

2024-11-20

0

Yani

Yani

Seru

2024-10-25

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

bagus simpel ceritnya,lanjut thor dan smangat terus

2024-10-17

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!