16. Humairaku

Gus Zam memperhatikan Hanung yang sedang membuka hijabnya. Sejauh ini, hanya Bu Nyai, Ning Alifah dan Ning Zelfa yang menurutnya cantik saat melepas hijab dan semakin cantik saat berhijab. Tetapi menyaksikan istri yang baru beberapa jam ia nikahi membuka hijab di hadapannya, membuat Gus Zam terpaku.

"MasyaAllah.."

"Kenapa Gus? Eh, Mas!"

"Aku seperti melihat bidadari."

"Memangnya Mas sudah pernah bertemu bidadari?"

"Ini ketemu, bidadari surgaku." Hanung tersipu dengan pujian Gus Zam.

Ia pun beranjak untuk menggantung hijabnya. Gus Zam yang sedari tadi duduk di pinggir tempat tidur hanya memperhatikan gerakan Hanung. Tak lama setelah Hanung menggantung hijabnya, suara adzan dzuhur berkumandang. Ia pun mengajak Gus Zam untuk sholat.

Keduanya melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Jika kemarin mereka menjaga jarak, kini Hanung menempelkan sajadah nya dengan sajadah Gus Zam. Dalam hati keduanya ada gelenyar hangat yang menjalar. Selesai sholat, Hanung meraih tangan Gus Zam untuk menciumnya. Ini adalah kali kedua Hanung melakukannya hari ini.

Pertama kalinya, yaitu setelah akad nikah. Dan ini juga kali kedua Gus Zam mendaratkan kecupan di kening seperti yang ia lakukan setelah akad. Keduanya diam cukup lama, meresapi kebersamaan mereka.

"Kenapa Hanung menerimaku sebagai suami?" Pikiran Gus Zam lolos begitu saja.

"Karena Allah."

"Apa yang membuat Hanung yakin?"

"Entahlah, Mas. Sejak Bu Nyai melamar, aku sudah melakukan beberapa kali istikharah untuk menyakinkan jawabanku. Tetapi kemudian aku bertemu denganmu dan mendengar cerita tentangmu, aku melakukannya lagi. Dan hasilnya aku ada disini." Gus Zam menatap dalam Hanung.

"Apakah kamu ragu saat mendengar ceritaku?" Hanung mengangguk jujur.

"Apakah kamu takut saat melihatku pertama kali?"

"Memang ada rasa takut saat itu. Tetapi rasa takut menyinggung daripada takut dengan sikap kamu, Mas."

Gus Zam mengernyitkan alis. Pertemuan mereka pertama kali bukan saat melamar, tetapi Gus Zam hanya diam. Mungkin Hanung tidak sadar orang yang ia tabrak kala itu adalah Gus Zam.

"Istirahatlah.." Hanung mengangguk patuh.

Setelah memastikan Hanung tertidur pulas, Gus Zam perlahan keluar dari kamar dan menunggu Pak Kyai di meja makan.

"Kenapa kamu disini? Mana Hanung?" tanya Pak Kyai yang baru saja kembali dari masjid.

"Abi.. Bagaimana caranya agar Zam bisa membahagiakan Hanung?" bukannya menjawab, Gus Zam justru melemparkan pertanyaan.

"Lakukan saja mengikuti kata hatimu! Walaupun Abi mengajarkan, kalau kamu hanya melakukannya tanpa hati sama saja dengan hambar."

"Zam tidak tahu."

"Jalani saja, Nak. Pernikahan kalian baru dimulai, seiring berjalannya waktu kamu akan tahu. Yang pasti, perlakukan lah istrimu dengan lembut dan jangan menyakitinya."

"Zam menyakiti Hanung, Abi."

"Maksud kamu?" Pak Kyai terkejut, beliau berdoa semoga Hanung tidak lari dihari pertamanya menikah.

"Tadi Zam mencengkeram tangan Hanung."

"Kapan?"

"Saat Ibu Hanung meminta Zam untuk menceraikannya."

"Oh." Pak Kyai bernafas lega karena ketakutan beliau tidak akan terjadi.

"Tak apa, itu karena kamu melakukannya tanpa sadar."

"Bukankah kata Abi aku tidak boleh menyakitinya?" Gus Zam menatap tajam kearah Pak Kyai.

"Bukan yang seperti itu. Maksud Abi, seperti kamu sengaja memukul Hanung, menyakiti hatinya dengan berkata kasar atau memperlakukannya dengan kasar." Pak Kyai lupa jika anaknya sama sekali tidak memiliki pengalaman berhubungan dengan orang.

Gus Zam mengangguk. Ia kemudian memikirkan kembali apa yang telah ia lakukan dan senyuman yang diberikan Hanung. Semua itu menandakan dirinya telah memperlakukan Hanung dengan baik. Kemudian pikirannya berganti dengan perpisahan yang akan mereka hadapi.

"Abi, apa maksud Abi dengan memantaskan satu sama lain saat bertemu nanti?" Pak Kyai nampak berpikir, tetapi kemudian beliau ingat dengan kata-kata nya sendiri.

"Apa kamu merasa sudah pantas untuk Hanung sekarang ini?" tanya Pak Kyai setelah meminum kopinya.

"Belum."

"Maka dari itu, saat kalian berpisah nanti kalian akan saling memantaskan diri. Dengan berkomunikasi jarak jauh, saat bertemu nanti kalian adalah versi baru dari kalian yang sekarang."

Walaupun Pak Kyai mengatakannya untuk menenangkan Gus Zam, beliau tidak yakin dengan standar memantaskan diri Hanung dan Gus Zam. Beliau hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk menantu dan anaknya.

"Apakah Abi menginginkan cucu?"

"Uhuk.. uhuk.." Pak Kyai tersedak kopi mendengar pertanyaan Gus Zam.

"Rasa ingin ada, tetapi tidak perlu buru-buru. Semua itu sudah ada jatahnya karena anak adalah rezeki dari Allah. Kalian saling mengenal saja dulu dan.." Gus Zam menantikan kelanjutan kalimat Pak Kyai.

"Sembuhkan dulu mentalmu, Nak." kata Pak Kyai kemudian dengan suara lirih.

"Jika mentalmu masih labil seperti sekarang, memiliki anak hanya akan membuat kamu semakin depresi. Yang mana akan semakin membuat Hanung menderita. Maka dari itu, siapkanlah jiwa dan ragamu sebelum kamu memutuskan untuk memiliki keturunan. Hanung akan mengerti kondisi ini." imbuh Pak Kyai hati-hati.

"Abi benar. Zam masih belum siap." Pak Kyai lega, Gus Zam bisa menerima perkataannya.

Gus Zam pun pamit untuk kembali ke kamar takut Hanung terbangun dan mencarinya. Pak Kyai menganggukkan kepala dan kembali menikmati kopi beliau yang sudah dingin.

Saat Gus Zam masuk kedalam kamar, Hanung masih terlelap. Setelah melepaskan kemeja, Gus Zam mensejajarkan tubuhnya disamping Hanung yang memiringkan tubuh kearahnya.

Sudah lama Gus Zam mengenal Hanung. Hanung yang sering berkunjung saat Ibu Jam mengikuti kajian adalah gadis yang bebas. Ia tak akan jenak mengikuti kajian, sehingga meninggalkan masjid dan bermain dengan kucing atau duduk membaca. Terkadang jika Ning Zelfa senggang, keduanya akan bermain kejar-kejaran bersama diusia mereka yang sudah 15 tahun. Gus Zam akan memperhatikan mereka dari balik jendela kamarnya.

"Hanung.. Kamu seperti bintang yang sudah ku gapai tetapi susah untuk ku bawa." gumam Gus Zam.

"Dibawa kemana?" tanya Hanung tiba-tiba dengan suara parau.

"Ka-kamu sudah bangun?"

"Baru saja. Mas mau kemana?" tanya Hanung yang melihat Gus Zam siap berdiri.

"Tidak kemana-mana." Hanung pun menarik tangan Gus Zam dan membuat mereka kembali sejajar.

"Pertanyaan ku belum dijawab!"

"Tidak ada yang dibawa kemana-mana." jawab Gus Zam asal.

"Mas ada ponsel?" Gus Zam mengangguk.

Hanung beranjak dari tidurnya dan mengambil ponselnya. Kemudian ia meminta Gus Zam memasukkan nomor ponselnya. Setelah mendapatkannya, Hanung menyimpannya dengan nama "Mas Zam" dan melakukan panggilan.

Ponsel Gus Zam yang disimpan di laci pun berdering. Gus Zam mengambilnya dan Hanung memutuskan panggilan. Gus Zam menyimpan nomornya dengan nama "Humairaku".

"Kenapa Humaira, Mas?"

"Nama kesayangan yang Nabi Muhammad berikan untuk istrinya, Aisyah."

"Yang itu aku tahu, Mas. Pertanyaannya, kenapa Humaira?"

"Aku merasa cocok saja. Saat kamu tersenyum dan tersipu, wajahmu akan kemerahan." jawab Gus Zam jujur yang membuat Hanung tertawa.

Melihat Hanung tertawa, membuat Gus Zam semakin ingin menstabilkan mentalnya agar bisa mengikuti setiap emosi yang Hanung rasakan.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Ttp semangat thor

2024-11-18

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

lanjut

2024-10-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!