11. Seperti Buntut

"Kalau tahu kenapa masih bertanya, Gus?"

Gus Zam perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Hanung. Perempuan dengan tinggi sedagunya itu memiliki paras yang menawan walaupun tanpa polesan make-up. Ia yang terbiasa hanya melihat anggota keluarganya kini melihat Hanung seperti ada warna lain. Tidak seperti para santriwati lain atau abdi dalem yang biasa ia temui. Hanung seperti berasal dari dunia yang berbeda.

Hanung yang merasa ditatap pun menundukkan kepalanya. Sontak hal tersebut membuat Gus Zam sadar karena ia telah menatap lurus ke arah Hanung, seperti bukan dirinya.

"Maaf. Kamu kerjakan saja apa yang mau kamu kerjakan." kata Gus Zam kikuk.

"Terimakasih, Gus. Permisi." Hanung yang masih menunduk segera balik badan dan pergi ke kamar Ning Zelfa untuk mengganti mukena.

Di dapur, sudah ada beberapa abdi dalem yang mau menyiapkan sarapan termasuk Umi Siti yang menjadi pusat komando. Melihat Hanung dari kejauhan, Umi Siti pun tersenyum lebar. Beliau seperti mendapat tenaga tambahan. Tetapi tatapan beliau segera berubah, kala ada Gus Zam mendekat dibelakang Hanung.

"Hanung. Saya ikut ke dapur." Bisik Gus Zam yang sontak mengejutkan Hanung.

"Astaghfirullah.. I-iya, Gus."

"Hanung, Umi minta tolong kamu buat teh dan kopi untuk Pak Kyai dan yang lain. Kopi buat 2 cangkir dan tehnya buat satu teko. Airnya yang di sana, sudah mau mendidih." pinta Umi Siti.

"Kopinya manis atau pahit?"

"Sedang saja, Nung." Hanung mengangguk dan ia pun berjalan menuju lemari gelas dan lemari yang terdapat gula dan kopi, diikuti Gus Zam di belakangnya.

Hanung menyiapkan 2 cangkir dan lepek. Ia meracik kopi dengan perbandingan 1 sendok kopi dan 1 1/2 sendok gula. Kemudian teko 1 L ia masukkan gula 5 sendok makan dan 2 kantong teh celup. Semua persiapan Hanung selesai bersamaan dengan teko air yang berbunyi, menandakan air telah mendidih. Segera Hanung mengambil teko air dan menuangkan air panas ke cangkir dan teko. Semua kegiatan Hanung diawasi oleh Gus Zam yang duduk tak jauh darinya.

"Gus Zam, mau minum apa?" tanya Hanung setelah selesai dengan minumannya.

"Teh."

Hanung pun mengajak Gus Zam ke meja makan dan menyajikan minuman yang ia buat disana. Hanung juga menyiapkan beberapa gelas di nampan kecil dan menuangkannya untuk Gus Zam yang sudah duduk di dekatnya.

Semua kegiatan Hanung pagi itu, selalu diikuti Gus Zam. Sampai-sampai saat Hanung ke tempat pencucian setelah sarapan, Gus Zam juga mengikutinya. Hanung menjadi tidak nyaman, karena semua mata memperhatikannya. Tetapi ia tidak bisa menolak, takut Gus Zam tantrum seperti tadi. Ia pun hanya bisa menahannya.

Umi Siti yang sedari tadi memperhatikan Hanung dan Gus Zam, mengeluh kepada Bu Nyai.

"Itu kenapa Gus Zam selalu mengikuti Hanung? Aku jadi tidak leluasa meminta bantuannya."

"Biarkan saja. Biar Adib beradaptasi."

"Itu bukan beradaptasi, Bu Nyai! Itu terlihat seperti Hanung memiliki buntut." protes Umi Siti.

"Salah kamu sendiri!" kesal Bu Nyai

"Kenapa jadi saya yang salah, Bu Nyai?"

"Kata-kata kamu kemarin yang membuat Adib seperti itu!"

"Hah?" Umi Siti terkejut.

"Maaf, Bu Nyai. Siti tidak bermaksud seperti itu." Bu Nyai menghela nafas dalam.

"Lain kali jangan menggodanya seperti itu, Siti. Adib tidak bisa mendengar kata-kata seperti itu. Beruntung ia segera sadar. Kalau kumat seperti biasanya, bagaimana dengan Hanung?"

"Iya, Bu Nyai. Maaf. Tapi sepertinya Gus Zam sudah jatuh cinta dengan Hanung, Bu Nyai."

"Jangan sok tau, kamu!"

"Bu Nyai tidak tahu saja, ada insiden saat Hanung berkunjung kemarin." Bu Nyai yang sedang membaca kitab pun meletakkan kitabnya karena penasaran.

"Apa?"

"Hanung salah masuk kamar mandi dan menabrak Gus Zam."

"Hanung tidak ada bercerita kalau sebelumnya pernah melihat Adib, Siti. Kamu mengarang?"

"Ya jelas Hanung tidak cerita. Hanung tidak tahu siapa yang ditabrak. Paling-paling Hanung sudah lupa!" Benar tebakan Umi Siti, Hanung lupa dengan tabrakan nya di di depan kamar mandi.

"Hanung tidak tahu, kenapa kamu tahu?"

"Perawakan tegap nan rupawan dan membatu saat melihat orang, siapa lagi kalau bukan Gus Zam?"

"Alhamdulillah.. Jika apa yang kamu katakan benar, semoga pernikahan mereka menjadi kesembuhan untuk Adib."

"Aamiin.."

Obrolan mereka harus terhenti kala melihat Hanung yang masih dibuntuti Gus Zam berjalan kearah mereka.

"Ada apa, Hanung?" Tanya Umi Siti.

"Umi, ada yang mencari. Saya minta tunggu di ruang tamu, katanya sudah ada janji dengan Umi." Bu Nyai pun mengingat-ingat ada janji apa hari ini.

"Astaghfirullah.. Umi lupa! Ayo Hanung, kita temui tamunya!" Bu Nyai menggandeng tangan Hanung.

"Adib tidak boleh ikut!" seru Bu Nyai sebelum melangkah.

"Kenapa?" tanya Gus Zam.

"Ini rahasia perempuan, kamu tidak boleh ikut. Tunggu disini sampai kami selesai." perintah Bu Nyai yang kemudian melenggang membawa Hanung, diikuti Umi Siti.

Tamu yang datang ternyata adalah pemilik butik kenalan Bu Nyai. Beliau datang membawakan pesanan Bu Nyai, yaitu pakaian yang akan dikenakan Hanung nanti.

"Sepertinya tidak perlu dikecilkan, Nyai. Postur menantumu pas sekali!" seru Ibu Salma.

"Benarkah? Tetap saja harus dicoba!" Bu Nyai pun meminta Hanung mencoba kebaya putih di kamar beliau ditemani Umi Siti.

Pertama Hanung mengenakan manset dress berwarna putih, kemudian rok putih mengembang dengan hiasan tile payet sebagai pengganti jarik khas kebaya. Lalu kebaya putih yang menjuntai dan terakhir hijab warna senada dengan tiara dan veilnya.

"MasyaAllah.." puji Umi Siti saat melihat pantulan wajah Hanung di cermin.

"Nanti setelah dipoles make-up, jadi kentara aura pengantinnya."

"Tidak make-up, tidak boleh ya, Umi?"

"Kenapa?"

"Kulit Hanung sensitif."

"Nanti katakan saja sama yang make-up, soalnya Bu Nyai sudah pesan juga." Hanung hanya bisa mengangguk.

Umi Siti pun membawa Hanung keluar kamar. Segera Bu Nyai dan Ibu Salma berdiri dari duduk mereka memuji kecantikan Hanung.

"Apa kubilang, pas!" Ibu Salma berbangga diri.

"Kamu benar. Terima kasih."

Setelah mengambil beberapa gambar, Hanung diperkenankan mengganti pakaiannya kembali dan bergabung dengan obrolan ibu-ibu. Mereka membahas persiapan yang sudah selesai. Dari obrolan tersebut, Hanung mengetahui konsep pernikahannya.

Pernikahan sederhana seperti yang pernah ia lihat. Bedanya, hampir semua tamu undangan adalah para pemuka agama dan pemilik pesantren. Hanung yang berasal dari keluarga biasa dan tidak ada latar belakang agamis pun merasa tidak percaya diri. Segera hal itu di tangkap oleh Bu Nyai.

"Hanung, kamu menantu Umi dan Abah. Siapapun kamu, kamu adalah bagian dari kami." kata Bu Nyai sambil menggenggam tangan Hanung.

"Benar. Ibu Mertuamu ini bukan type orang yang hanya melihat "bibit bebet bobot". Kalau tidak, tidak mungkin dia bisa berteman denganku yang hijab saja masih mengeluarkan jambul." kata Ibu Salma.

Hanung tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Walaupun masih sedikit insecure Hanung mencoba untuk mengikuti perkataan Bu Nyai. Obrolan mereka pun berlanjut, sampai mereka melupakan Gus Zam yang sedari tadi menunggu.

Terpopuler

Comments

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

gus zam lucu 🤣🤣

2024-10-21

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!