20. Doa Baik

"Hanung, ini semua seserahan yang Umi siapkan. Kemarin Umi tidak sempat memberikannya." kata Bu Nyai.

Ada mahar 10 gram logam mulia, perhiasan, seperangkat alat sholat, satu set pakaian, perlengkapan mandi, make-up, sandal, tas, dan satu set bedcover yang dihias sedemikian rupa. Tangan Gus Zam menyentuh satu set perhiasan.

"Nanti kamu pakaikan untuk Hanung. Sekarang kalian pindahkan dulu kekamar." kata Bu Nyai membuat Gus Zam menghentikan tangannya.

Hanung dan Gus Zam pun membawa semuanya ke kamar mereka beberapa kali. Lalu Hanung menyusunnya di lemari yang masih kosong dan menyimpan mahar di laci lemari.

"Kenapa disimpan?"

"Pakainya nanti, Mas. Barang-barangku masih bagus. Nanti kalau Mas perlu perlengkapan mandi atau yang lain, dibongkar saja."

Gus Zam segera memeluk tubuh Hanung. Istrinya berkata seolah dirinya tidak akan memakai seserahan tersebut. Ia pun mulai ingat janji mereka untuk berhubungan jarak jauh selama satu tahun. Hanung yang membeku karena gerakan tiba-tiba tersebut pun melemah dan mengusap punggung suaminya dengan lembut, kala merasakan tubuh Gus Zam bergetar.

"Istighfar, Mas."

Gus Zam mengatur nafasnya. Pikiran negatif berkelebat anak dipikirannya saat ini. Sampai-sampai sedikit kalimat dari Hanung sudah bisa membuatnya berpikir jauh. Ia pun melepaskan pelukannya dan menuntun Hanung duduk di sofa. Kemudian membongkar satu set perhiasan.

"Boleh kubuka hijabnya?" tanya Gus Zam yang diangguki Hanung.

Gus Zam perlahan membuka hijab Hanung dan memasangkan kalung dileher istrinya. Saat akan memasangkan anting, ternyata Hanung sudah memakainya.

"Boleh aku menggantinya." tanya Gus Zam sambil menyentuh telinga Hanung.

"Boleh. Aku tak pernah menggantinya sejak dulu." Hanung tersenyum.

Ia bukankah penggemar perhiasan, makanya ia memakai apa yang disiapkan untuknya oleh Ibu Jam.

Gus Zam pun melepaskan anting lama Hanung dan menggantinya dengan anting baru. Lanjut memasangkan gelang dan juga cincin di jari manis Hanung yang ternyata sudah ada cincin disana.

"Ini?"

"Ini cincin pemberian Ayah." Hanung tersenyum.

Ia pun melepaskannya dan memindahkannya ke jari manisnya yang kiri. Gus Zam menyematkan cincin di jari manis kanan Hanung. Wajah Gus Zam terlihat puas. Pilihan Umi sangat cocok dikenakan Hanung.

"Terimakasih, Mas."

"Cup." Hanung memberikan kecupan di pipi kiri Gus Zam.

Gus Zam membeku. Ada yang salah dengan tubuhnya. Ia tahu itu apa, tetapi mengabaikannya. Dengan santai Gus Zam pun membalas kecupan Hanung dengan memberikan ciuman di kening.

"Mas sudah kenal Hanung sejak dulu?" Gus Zam mengangguk.

"Bagaimana kalau yang menikah dengan Mas bukan aku? Apa kamu akan memperlakukannya seperti sekarang?"

"Tidak."

"Kenapa tidak? Bukankah aku menggantikannya?"

"Kamu tidak menggantikan siapapun! Kamu dan dia berbeda."

"Mas tahu dari mana?"

"Kalau kamu, aku sudah mengenalmu dan dia tidak."

Hanung memberanikan diri memeluk Gus Zam. Waktu mereka hanya tersisa hari ini karena besok mereka sudah akan berpisah. Gus Zam membalas pelukan Hanung.

Siang itu mereka menghabiskan waktu dikamar dengan bercerita. Walaupun Hanung yang lebih banyak bercerita, keduanya tetap nyambung. Saat akan ke dapur untuk memasak, Gus Zam mencegahnya dan mengatakan untuk memasak makan malam saja. Sehingga siang itu, mereka makan masakan dari dapur umum.

"Kenapa Hanung tidak memasak?" tanya Ning Zelfa.

"Aku yang melarangnya."

"Kenapa Kakak larang? Masakan Hanung enak loh." Gus Zam diam tidak menanggapi.

"Hanung, aku sudah mendengar cerita dari Umi. Kamu besok berangkat?"

"Iya. Mohon doanya ya?"

"Doa apa? Dia biar tidak kerasan atau doa biar cepat kembali?"

"Itu sama saja!" seru Ning Alifah yang baru bergabung.

"Ya kan biar Hanung tidak lama-lama disana."

"Satu tahun." Kata Gus Zam.

"Hah? Satu tahun?" seru Ning Alifah dan Ning Zelfa bersamaan.

"Kalian belum tahu rasanya suami istri berpisah, makanya kalian dengan gampang mengatakan satu tahun. Awas saja kalian menangis-nangis nanti!" kesal Ning Alifah.

"Aku belum tahu dunia pernikahan. Tetapi aku tak yakin kalian akan bisa menjalani satu tahun dengan berjauhan." kata Ning Zelfa.

"Kalian ini bukannya mendoakan yang baik malah membuat mereka ketakutan!" sergah Bu Nyai yang baru datang bersama Pak Kyai.

"Kalian sudah mantap berpisah satu tahun?" tanya Pak Kyai.

"Iya, Abi. Zam sudah sepakat dengan Hanung. Jika Allah mengizinkan, akan lebih cepat dari itu." kata Gus Zam mantap.

"Tidak dilarang dalam agama untuk menjalani pernikahan jarak jauh, selama tidak melanggar syariat. Tetapi hubungan seperti itu lebih banyak mudharatnya ketimbang maslahahnya. Tapi Abi do'akan kalian bisa mengahadapinya dengan lancar dan semakin baik ke depannya."

"Umi hanya bisa mendukung keputusan kalian. Semoga kalian bahagia setelah menghadapi badai ini."

Hanung dan Gus Zam mengaminkan doa Pak Kyai dan Bu Nyai. Sedangkan Ning Alifah dan Ning Zelfa hanya diam.

Sorenya, Gus Zam mengambil ukiran reliefnya dan memasangnya di atas tempat tidur mereka. Hanung tersenyum kala melihat kamar mereka tak lagi terasa kosong. Ia bahkan memajang maharnya di nakas. Sayangnya foto yang diambil saat pernikahan belum jadi dan pihak foto belum mengirimkan filenya.

Hanung pun mulai memilah pakaian yang akan ia bawa ke Kalimantan bersama Surati. Ia hanya membawa 4 setel gamis dan beberapa keperluan. Setelah selesai, Hanung menyimpan tasnya dan menghampiri Gus Zam yang sedari tadi memperhatikannya.

"Masukkan nomor rekening kamu." kata Gus Zam menyodorkan ponsel.

"Rekening Bank M, atas nama Hanung Rahayu, nomor rekening xxxx." Kata Hanung sambil mengetikkannya di ponsel Gus Zam.

"Setiap bulan aku akan mengirimkan nafkah untuk kamu. Dan ini adalah nafkah kamu setelah menjadi istriku." Gus Zam mentransfer sejumlah uang.

"Kalau boleh tahu, Mas Zam kerja apa?" tanya Hanung hati-hati.

"Penerjemah." Gus Zam memperlihatkan beberapa file yang ada di ponselnya.

Lalu menjelaskan, jika pekerjaan itu ia dapat dari salah satu kenalannya di Universitas Terbuka yang ia ikuti. Gus Zam tidak bisa mengikuti sekolah, selama ini ia hanya mengikuti kelas khusus dan mengambil ujian paket untuk lulus dan berkuliah di Universitas Terbuka yang full online. Bahkan Gus Zam tidak wisuda untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang.

"Hebat!" seru Hanung yang membaca file Gus Zam.

Sementara itu, Ibu Jam yang sudah kembali kerumah merasa tak berselera. Beliau sudah mendengar kabar dari Hanung, jika ia akan ikut Surati selama satu tahu. Bahkan keberangkatan yang seharusnya dihari keempat dimajukan besok.

Ibu Jam hanya tahu jika suami Surati adalah orang batak. Beliau tidak tahu apakah Islam atau tidak. Yang beliau takutkan adalah Hanung yang tidak bisa berbaur dengan mereka.

"Semoga saja semuanya baik-baik saja. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Mbak Hanung." gumam Ibu Jam.

Terpopuler

Comments

Ari_nurin

Ari_nurin

harusnya kamu kmrn ga usah tlp kasih kabar klu Hanung akan menikah. skrg repot sendiri kan?

2025-01-15

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

lanjut

2024-10-26

1

Ef

Ef

LDR! Aku paling ngk bisa LDR, apa lagi setahun. Thor, jangan LDR lah😔

2024-10-26

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!