10. Kumat

Seperti biasa, Hanung terbangun di sepertiga malam terakhir. Keadaan masih sangat sepi, menandakan belum ada yang bangun. Ia pun mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malam.

Saat Hanung akan melakukan sholat yang kedua, ia seperti mendengar suara gesekan di depan pintu. Karena penasaran, Hanung mendekat kearah pintu dan suara di telinganya terdengar seperti suara gesekan benda tumpul.

Hanung melihat kearah Ning Zelfa yang masih pulas, rasa tidak tega untuk membangunkannya. Ia pun berinisiatif untuk melihatnya. Dengan pikiran bahwa pesantren itu pasti aman, Hanung perlahan membuka pintu.

"Tidak ada orang?" gumam Hanung. Tetapi suara itu semakin jelas di telinganya.

Saat ia mengedarkan pandangannya diruangan yang temaram, Hanung menemukan sesosok orang yang duduk di pojokan sofa ruang keluarga. Perlahan Hanung berjalan mendekat dan mendapati Gus Zam dengan kayu dan pisau pahat dikedua tangannya. Hanung bernafas lega. Ia pun duduk sedikit jauh dari posisi Gus Zam.

"Gus Zam tidak tidur?" tanya Hanung dengan lirih.

"Gus Zam sedang mengukir apa?" tanya Hanung lagi karena tidak ada jawaban.

Setelah menunggu beberapa menit, Hanung akhirnya menyerah. Ia pun berdiri dan berbalik.

"Hanung." panggil Gus Zam.

"Ya." Hanung kembali menatap kearah Gus Zam.

"Hanung."

"Ya. Saya Hanung."

"Tik." suara saklar lampu.

"Hanung, kamu sedang apa?" tanya Bu Nyai yang berjalan mendekat.

"Gus Zam, Umi." jawab Hanung sambil menunjuk ke arah pojokan.

"Adib?" Bu Nyai pun mempercepat langkah beliau.

Segera Bu Nyai duduk di sebelah Gus Zam. Tanpa diminta, Hanung menjelaskan bagaimana ia menemukan Gus Zam. Bu Nyai berterimakasih kepada Hanung dan menggenggam tangan Gus Zam yang dingin.

"Kamu belum tidur sama sekali, Nak?" tanya Bu Nyai.

"Hanung."

"Hanung disini, Nak. Kamu mau berbicara dengannya?"

"Hanung."

Bu Nyai merasa ada yang tidak beres dari Gus Zam. Beliau meminta Hanung untuk memanggilkan Pak Kyai. Segera Hanung menuju kamar Pak Kyai dan meminta beliau menemui Bu Nyai dan Gus Zam diruang keluarga.

"Kenapa, Mi?" tanya Pak Kyai yang tergopoh-gopoh, karena beliau baru saja selesai berdzikir.

"Adib, Bi! Adib kumat!" Segera Pak Kyai memegang kedua tangan Gus Zam dan melihat mata Gus Zam yang tidak fokus.

"Obatnya, Mi!" Bu Nyai berlari ke bufet yang ada di ruang keluarga dan membuka laci.

Bu Nyai kembali dengan botol obat ditangannya. Hanung yang melihat hal tersebut pun segera mengambil air kemasan yang ada di meja dan menyerahkannya kepada Bu Nyai.

Dengan Pak Kyai yang memegang tangan Gus Zam, Bu Nyai memasukkan dua pil kedalam mulutnya dan memberikan air. Lalu memaksa Gus Zam untuk menelannya. Melihat hal tersebut, Hanung mengeratkan tangannya di mukena yang masih ia kenakan. Beberapa saat kemudian, Gus Zam melemah dan Pak Kyai berusaha memapahnya dibantu Bu Nyai untuk membawanya ke kamar.

"Hanung." panggil Gus Zam.

Hanung yang sedari tadi hanya mengikuti di belakang, tidak berani menjawab.

"Sedari tadi hanya nama Hanung yang diucapkannya, Bi." Bu Nyai pun mengulangi apa yang Hanung ceritakan kepada Pak Kyai.

"Apa kamu sempat bertemu dengan Adib sebelum tidur tadi, Nak?" tanya Pak Kyai.

"Tidak ada, Abi. Setelah masuk kamar bersama Ning Zelfa, Hanung tidak ada keluar lagi." kedua paruh baya itu pun bingung dengan penyebab kecemasan Gus Zam.

"Siti!" seru Bu Nyai kemudian.

"Kenapa Siti?" tanya Pak Kyai.

"Siti ada menggoda Adib dengan mengatakan Hanung tidak mau dengan suami pemalu." Pak Kyai mengucapkan istigfar berkali-kali, begitu juga dengan Hanung yang terkejut ada pembicaraan seperti itu.

Umi Siti memang orangnya suka bercanda. Tetapi untuk kali ini, sepertinya candaan Umi Siti mendatangkan bencana bagi Gus Zam yang notabene tidak bisa distimulasi seperti itu.

"Hanung." panggil Gus Zam lemah.

"Hanung, mendekat sini Nak!" Pak Kyai melambaikan tangan.

Dengan ragu Hanung mendekat dan duduk bertumpu lututnya. Pak Kyai menarik tangan Hanung dan mengarahkannya ke tangan Gus Zam. Seketika Hanung tersentak kala genggaman Gus Zam mengerat.

"Maaf Hanung. Kamu harus melihat sisi lemah Adib. Abi minta tolong, tetap genggam seperti ini sampai Adib tidur." Hanung mengangguk.

"Kamu pasti terkejut. Adib hidup layaknya kita. Tetapi ia memiliki gangguan mental pasca kejadian yang menimpanya. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik, tidak bisa mendapatkan stimulasi berlebihan, ditempat ramai, ruangan gelap dan suara petir. Sulitnya pengobatan disebabkan kami tidak tahu penyebab pasti traumanya, karena Adib tidak mau bicara mengenai apa yang dialaminya. Psikiater pun hanya bisa memberikan terapi umum dan obat antidepresan, untuk kesembuhan hanya bergantung padanya." jelas Pak Kyai.

"Nanti jika kamu melihat Adib bergetar dan matanya tidak fokus, segera berikan obat antidepresan atau saat ia menggenggam erat tangannya." imbuh Pak Kyai.

"Sudah mau waktu subuh, Bi." kata Bu Nyai.

"Kami titip Adib dulu, Nung. Kami ada jadwal rutin setelah subuh. Nanti Abi minta Zelfa untuk menggantikan kamu."

"Iya, Abi." kata Hanung yang dibantu Bu Nyai berdiri dan duduk di kursi.

Hanung mencoba memposisikan duduknya agar nyaman karena tangan kanannya masih belum lepas dari genggaman Gus Zam. Pak Kyai dan Bu Nyai melihat sedih keadaan keduanya saat ini. Mereka berharap, kelak Hanung dan Adib bisa melalui pernikahan mereka layaknya pasangan normal.

Beberapa menit setelah kepergian Pak Kyai dan Bu Nyai, adzan subuh berkumandang. Gus Zam yang tadinya menutup mata, tiba-tiba terbangun dan segera duduk. Gerakan tersebut mengejutkan Hanung yang mengira Gus Zam sedang tidur.

"Gus Zam mau sholat?" tanya Hanung hati-hati.

Gus Zam mengangguk dan perlahan turun dari tempat tidurnya. Karena tangan Hanung masih digenggam Gus Zam, Hanung pun mengikutinya sampai didepan kamar mandi.

"Gus, tangan Hanung." cicit Hanung.

Sadar dengan suara Hanung, Gus Zam melihat kearah tangannya dan melepaskannya perlahan.

"Maaf, Hanung. Sakit tidak?" Hanung hanya menggelengkan kepalanya.

p? Saat Hanung ingin keluar dari kamar, Gus Zam menghentikannya dengan menarik mukena Hanung.

"Hanung, mau sholat disini?" tanya Gus Zam dengan suara lirih.

Tanpa berpikir macam-macam, Hanung setuju. Tetapi ia izin mengambil wudhu di kamar Ning Zelfa dan mengambil bawahan mukenanya. Gus Zam mengangguk setuju.

Beberapa menit kemudian, Hanung kembali ke kamar Gus Zam yang tetap terbuka dengan mukena lengkap dan sajadah. Hanung menggelar sajadahnya di belakang Gus Zam yang sudah siap. Segera Gus Zam memulai sholat berjamaah nya.

"Gus Zam.. Saya pamit dulu, Gus Zam istirahat lagi. Saya mau bantu-bantu Umi Siti di dapur." izin Hanung setelah selesai sholat.

"Tidak bisakah kamu tetap disini?" tanya Gus Zam lirih.

"Maaf, Gus. Kita masih belum.."

"Aku tahu."

Hanung merasa sedang berbicara dengan orang yang normal. Hanya perasaannya atau memang Gus Zam bisa?

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Semoga gus Zam segera sembuh

2025-01-17

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

ayo gus zam semngat untuk sembuh sbntr lg mau nikahi hanung loee

2024-10-21

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!