15. Ikut Hanung

"Bu Rati, maaf saya harus ikut campur. Bukan saya mau membela Hanung atau memojokkan Ibu. Tetapi apa yang dikatakan Hanung ada benarnya." kata Pak Kyai.

"Apa maksud Pak Kyai?"

"Anda sebagai Ibu kandung dari Hanung tidak memberikan kabar sejak perceraian kala itu dan sekarang datang seperti ini, tentu Hanung akan berontak."

"Jadi, salah saya?"

"Bukan menyalahkan, tetapi tolong dibicarakan baik-baik. Tidak perlu marah atau menghakimi Hanung."

"Kalau begitu, saya minta anak Anda menceraikan Hanung agar saya bisa membawa Hanung untuk melanjutkan kuliahnya!" Surati masih pada pendiriannya.

Sontak saja semua yang ada di ruang tamu terkejut dengan permintaan Surati, termasuk Gus Zam yang tanpa sadar mengeratkan tangannya hingga Hanung kesakitan.

"Sakit, Gus!" bisik Hanung.

Gus Zam melihat kearah tangannya dan perlahan melepaskannya. Saat akan menjauhkan tangannya, Hanung memegang pergelangan tangan Gus Zam sambil tersenyum.

"Jadi bagaimana? Jangan hanya diam saja Pak Kyai!"

"Ibu tidak memiliki hak untuk menyuruh saya bercerai!" seru Hanung mendahului Pak Kyai.

"Tentu saja aku punya hak karena kamu anak kandungku!"

"Saya memang anak kandung Ibu, Terimakasih telah melahirkan saya. Tetapi Anda tidak pernah ada saat saya membutuhkan, baik itu moment susah atau senang selama hampir 10 tahun. Masalah kuliah, Ibu tidak perlu khawatir karena saya akan melakukannya sendiri."

"Hanung! Kenapa kamu lebih memilih mereka daripada Ibu?"

"Mereka yang Ibu maksud adalah keluargaku yang ada untukku. Jika Ibu ingin saya berbakti, akan saya lakukan tetapi tidak untuk bercerai karena pernikahan ini terjadi atas kesadaran saya."

Gus Zam yang sebelumnya gusar pun menatap Hanung lembut. Ia tidak menyangka Hanung akan bertahan dengan dirinya yang tidak bisa membela disaat seperti ini.

"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Kamu akan ikut Ibu kembali ke Kalimantan besok." Semua orang kembali terkejut.

"Jika itu yang Ibu mau, maka berikan saya waktu satu minggu."

"Hanung.." panggil Gus Zam lirih.

Hanung tersenyum kearah Gus Zam dan menepuk genggaman tangan Gus Zam dengan tangan kirinya, seolah memberitahu semua akan baik-baik saja.

"Tiga hari! Aku beri kamu waktu tiga hari. Aku akan menunggumu di hotel dekat sini." Kata Surati yang kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi setelah mengucapkan salam.

Kini pandangan semua orang tertuju kepada Hanung. Tanpa diminta pun, Hanung menjelaskan maksudnya.

"Maafkan Hanung yang mengambil keputusan sendiri. Semua ini Hanung lakukan agar Ibu tidak lagi memojokkan Ibu Jam atau Pak Kyai dan keluarga." tangan Hanung yang masih di pergelangan tangan Gus Zam gemetar.

"Saya mengerti maksud kamu, Hanung. Tetapi dengan kamu setuju, maka kamu akan meninggalkan Adib sampai batas waktu yang tidak ditentukan." kata Pak Kyai.

Bu Nyai dan Ibu Jam sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena mereka sudah bercerai air mata.

"Abi, Hanung juga tidak bisa menempatkan Gus Zam diantara saya dan Ibu. Keputusan terbaik adalah berpisah sementara untuk memuaskan Ibu. Jika Hanung sudah mengikuti keinginan Ibu, maka sisanya terserah saya."

"Apa kamu tidak memikirkan perasaan Adib?"

"Gus Zam, maaf. Hanung bukannya egois, kita hanya berpisah sementara. Kita masih berhubungan jarak jauh. Maafkan Hanung yang belum bisa berbakti kepadamu sebagai seorang istri." ucap Hanung yang kini menatap Gus Zam yang sedari tadi hanya melihatnya.

Bibir Gus Zam saat ini terasa kelu. Ia tak tahu harus bersikap dan menjawab seperti apa. Hanung yang tak mendapatkan jawaban pun hanya bisa pasrah. Tatapan Gus Zam saat ini tidak is a artikan.

"Adib, keputusan Hanung memang terkesan buru-buru. Tetapi mungkin itu yang terbaik, Nak. Dengan kalian berhubungan jarak jauh, bisa membangun kepercayaan dan saling memantaskan diri saat bertemu nanti." kata Pak Kyai dengan berat.

Pasalnya Gus Zam sudah mulai ada perubahan sejak kehadiran Hanung. Belum juga mereka menikmati masa pernikahan, mereka sudah harus berpisah.

"Zam.. ikut Hanung." kata Gus Zam kemudian.

Segera air mata Hanung lolos begitu saja. Ia tidak menyangka Gus Zam mengikuti keputusannya. Gus Zam yang bingung dengan tangis Hanung yang tiba-tiba pun spontan memeluknya. Pak Kyai, Bu Nyai dan Ibu Jam sampai terkejut dibuatnya.

"Semoga kebaikan selalu bersama kalian." doa ketiga orang tua tersebut di dalam hati.

Pak Kyai pun meminta Gus Zam membawa Hanung kekamar untuk menenangkan diri. Gus Zam mengangguk dan berdiri menarik tangan Hanung. Hanung menundukkan kepala berpamitan kepada Pak Kyai, Bu Nyai dan Ibu Jam.

"Jam, kamu yang sabar ya.." kata Bu Nyai.

"Tidak apa, Bu Nyai. Saya hanya menyayangkan keputusan Hanung."

"Hanung penuh perhitungan, Jam. Melihat sikap Ibu kandungnya, tidak akan selesai jika Hanung tidak mengalah." Kata Pak Kyai.

"Almarhum pernah berkata kalau Bu Surati tidak membawa Hanung karena suaminya memiliki 2 anak, Kyai. Bagaimana nasib Hanung nanti?" air mata Ibu Jam semakin deras membayangkan perlakuan yang akan Hanung Terima nantinya.

"Percaya dengan Hanung, Jam. Dia tahu apa yang dia lakukan." Bu Nyai mengusap lembut punggung Ibu Jam.

Sementara itu, Hanung yang baru saja memasuki kamar segera ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sedangkan Gus Zam menunggu dengan duduk di sofa dan melihat keluar jendela. Pikirannya melayang, membayangkan dirinya harus berpisah dengan istri yang baru saja dinikahinya. Tanpa sadar Gus Zam mengeratkan kepalan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.

"Nanti bisa luka, Gus." Kata Hanung yang memegang kepalan tangan Gus Zam dan membukanya, lalu meniup bekas kukus menancap ditelapak tangan Gus Zam.

"Hanung.."

"Iya, Gus." Hanung menatap kearah Gus Zam.

"Jangan panggil "Gus"!"

"Lalu apa? Mas Adib? Mas Zam? atau Mas Roni?" Hanung tersenyum.

"Zam saja."

"Mas Zam!" seru Hanung sambil tersenyum.

Kecanggungan yang sebelumnya menghantui mereka seolah hilang begitu saja. Hanung yang awalnya enggan, bahkan sedari tadi memegang tangan Gus Zam. Dan Gus Zam sendiri sering tersenyum kecil kala Hanung memegang tangannya.

"Kamu tidak apa tinggal dengan Ibumu?" tanya Gus Zam.

"Semoga saja tidak apa-apa, Gus!" Gus Zam menatap tajam.

"Semoga saja tidak apa-apa, Mas!" ralat Hanung tersenyum.

"Kamu suka kamarnya?" tanya Gus Zam yang gagal fokus dengan senyuman Hanung.

"Suka. Kenapa Mas mengubah kamar?"

"Aku mengubahnya agar kamu merasa nyaman."

"Yang kemarin tidak nyaman?"

"Tidak."

"Kalau tidak nyaman, kenapa Mas tempati?" Hanung semakin penasaran.

Ia memang pernah masuk, tetapi tak begitu memperhatikan sekitar. Yang ia ingat hanya ranjang kecil yang sekarang digantikan ukuran king size.

"Tidak nyaman untuk kamu, Hanung."

"Terima kasih, Mas." kata Hanung yang tersipu.

"Istirahatlah, kalau kamu lelah."

"Bukankah tadi aku sudah tidur?"

"Tidur lagi tidak akan ada yang melarang."

"Benarkah?" tanpa ragu Hanung merebahkan tubuhnya dengan kaki menggantung.

Gus Zam pun mengangkat tubuh Hanung dan membenarkan posisinya. Hanung membekap mulutnya agar tidak menjerit karena terkejut.

"Kamu tidak buka hijab?"

"Ehm.. Apakah boleh?"

"Boleh, kalau hanya ada kita berdua dikamar." Hanung mengangguk.

Ia pun duduk, membuka hijab segi empat nya dan melepas ciput. Hanung juga melepas ikat rambutnya hingga rambut yang di gelung tergerai.

"MasyaAllah.."

Terpopuler

Comments

fsf

fsf

seorang wanita kalau sudah menikah bukan milik orang tuanya lg tapi sudah menjadi milik suaminya jadi ibunya ngak berhak sama sekali mengambil Hanum

2025-02-08

1

Ari_nurin

Ari_nurin

mnrt aku Hanung salah.. stlh menikah seorang wanita sdh lepas dg keluarga nya .. dan harus ikut dan berbakti ke suami .. jd mnrt aku harusnya tdk usah diikuti kata kata ibu kandung. apalagi ibunya tdk pernah peduli dg dia 10th ..

2025-01-15

2

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

jngn ikut ibumu hanung ksian gus zam trs km jua gk tau nanti kelakuan bpk tirimu disana

2024-10-23

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!