2. Menabrak

Selesai dengan kegiatan pagi, Hanung bersiap untuk pergi ke kota menemui temannya. Katanya ada lowongan kosong di bagian fotokopi, sehingga Hanung mengenakan pakaian formal seperti kemeja dan rok untuk melamar. Tak lupa ia juga membawa berkas lengkap.

"Ibu nitip ini untuk Bu Nyai Khairunnisa, ya? Bayaran les kamu melimpah sampai kulkas tidak muat lagi. Kalau dikirim ke pesantren, bisa manfaat untuk santri-santri disana." kata Ibu Jam yang meletakkan kardus dan kantong plastik di meja.

"Iya, Bu. Tapi apa Ibu sudah mengabari beliau? Hanung takut jadi kambing cengo disana."

"Mana ada kambing cengo! Kang Rahim penjaga gerbang saja sudah kenal kamu." Hanung meringis.

Tentu saja kenal. Setiap ada kajian dan Ibu Jam tidak repot, beliau akan membawa Hanung ikut bersama menghadiri kajian.

"Siapa tahu bukan Kang Rahim yang menjaga, Bu." kilah Hanung.

"Benar juga!" Ibu Jam pun mengambil ponsel dan menghubungi Umi Siti, kepala dapur.

Ibu Jam mengatakan kalau Hanung akan kesana mengantarkan bahan makanan. Umi Siti menyambutnya dengan gembira. Beliau mengatakan akan menunggu Hanung di gerbang karena Kang Rahim sedang tidak bertugas.

"Benar kan, Bu?" goda Hanung.

"Iya-iya. Sana berangkat, hati-hati!"

Hanung mencium punggung tangan Ibu Jam. Ia meletakkan kardus di bagian depan motor dan kantong plastik ia masukkan ke dalam bagasi. Ia pun mengucap salam sebelum melajukan motornya ke arah kota.

Sekitar 30 menit kemudian, Hanung sampai di percetakan. Temannya mengatakan jika manager mereka baru saja keluar dan tidak bisa menerima lamaran saat ini. Hanung pun menitipkan berkas kepada temannya dan mengatakan untuk mengabarinya jika ada panggilan. Lalu Hanung beranjak menuju Pesantren Darul Ilmi yang tak jauh dari percetakan.

Hanung pun sampai 15 menit kemudian. Jika biasanya pesantren ada di pedesaan atau pinggiran, Pesantren milik Kyai Kholiq ini berada di kota dan dikelilingi kompleks perumahan. Akses kepasar bisa berjalan kaki, dekat dengan terminal bus dan tak jauh dari Sekolah Muslimin Muslimah tempat santri dan santriwati menimba ilmu selain ilmu pesantren.

"Hanung!" seru Umi Siti yang melihat Hanung berhenti di depan gerbang.

Segera petugas gerbang membukakan gerbang dan Hanung pun masuk ke parkiran yang disediakan. Setelah memberi salam dan mencium tangan Umi Siti, Hanung mengeluarkan kantong plastik yang ada di jok.

"Biarkan Rahmat yang mengangkatnya. Kamu ikut Umi." Umi Siti meminta Rahmat yang sebelumnya membukakan gerbang untuk mengangkat bawaan Hanung.

"Tumben sepi, Umi?"

"Iya, sebagian santri dan santriwati pulang karena libur 4 hari. Makanya Umi senang kamu datang."

"Jangan bilang Umi mau menahanku disini?" Hanung sudah merinding.

"Kata-kata kamu terlalu kasar! Umi cuma minta tolong kamu bantu-bantu memasak."

"Sama saja, Umi." keluh Hanung yang mendapatkan tawa Umi Siti.

Ia masih tak terbiasa dengan lingkungan pesantren karena ia dari kecil sudah terbiasa bebas. Walapun begitu, Hanung tetap mengikuti Umi Siti sampai ke dapur disusul Rahmat yang membawakan barang.

"Kalian itu suka repot-repot kirim bahan makanan, coba telepon kesini biar anak-anak yang mengambilnya."

"Kata Ibu tidak afdol kalau tidak diantarkan sekalian, Umi."

"Bagus itu, jadi kamu bisa bantu-bantu Umi sekalian." seru Umi yang mulai membuka isi kardus.

Ada pisang, singkong, Ubi, timun dan beberapa sayuran khas panen pedesaan, sedangkan kantong plastik berisi telur. Umi pun meminta Hanung untuk membantu beliau membuat pisang dan Ubi goreng untuk camilan sebelum makan siang.

Hanung menggulung lengannya menyisakan manset dan mengikat hijabnya kebelakang agar tidak terkena getah. Ia mulai mengupas pisang dan dilanjutkan mengupas Ubi, sementara Umi Siti membuat adonan tepung untuk pisang. Setelah mencuci bersih Ubi yang telah dipotong korek api, Hanung menyerahkannya kepada Umi Siti dan ia mengambil alih gorengan pisang.

"Loh, ada Hanung disini. Kapan datang?" tanya Bu Nyai Nisa yang baru saja masuk ke dapur.

"Baru saja, Umi." Hanung meraih tangan beliau untuk mencium punggung tangan.

"Kesempatan Siti ini, ada yang membantu."

"Iya Bu Nyai, kapan lagi Hanung berkunjung kemari." Hanung hanya terseyum.

Bu Nyai pun ikut membantu menggoreng Ubi, sambil menanyakan kabar Ibu Jam. Hanung menjawab pertanyaan beliau dengan antusias. Keduanya akhirnya selesai menggoreng dan Umi Siti juga sudah selesai membuat kopi dan teh.

"Habis ini kamu pulang, Nung?" tanya Bu Nyai.

"I.."

"Habis makan siang, Bu Nyai." jawab Umi Siti mendahului Hanung.

Bu Nyai hanya tersenyum, dan pergi meninggalkan mereka membawa nampan berisi gorengan kopi dan teh untuk Pak Kyai.

"Umi! Hanung ada jadwal les siang ini. Kasihan anak-anak menunggu." protes Hanung setelah tidak ada Bu Nyai.

"Kamu tinggal mengabari mereka apa susahnya?"

"Sebagian dari mereka tidak memiliki ponsel, Umi."

Umi Siti pun menepuk dahi. Beliau lupa kalau tempat tinggal Hanung masih pedesaan. Beliau akhirnya mengizinkan Hanung pulang setelah membantu beliau memarut singkong untuk dibuat bakwan. Hanung mengangguk setuju.

Setengah jam kemudian, mereka telah selesai memarut singkong. Hanung pergi membersihkan tangannya.

"Hanung, sampaikan salam Umi untuk Ibu mu." kata Umi saat Hanung mencium punggung tangan beliau.

"Iya, Umi." Umi Siti memeluk Hanun sebelum mengantar ke parkiran.

"Umi, Hanung ingin ke kamar mandi." cicit Hanung saat mereka hampir sampai di parkiran.

"Kenapa tidak dari tadi?"

"Baru saja ingin, Umi." Umi Siti menggeleng.

"Kearah sana saja lebih dekat. Kamar mandi untuk para ustadzah." tunjuk Umi kearah sela bangunan.

Segera Hanung berlari kearah yang ditunjuk. Sayangnya Hanung salah belok, hingga ia masuk kamar mandi yang merupakan kamar mandi para ustadz. Dan saat Hanung baru saja keluar dari kamar mandi, ia menabrak seseorang.

"Aduh!" seru Hanung yang merasakan sakit di pantatnya.

"Maaf, saya tidak sengaja." kata Hanung yang berusaha berdiri sambil membersihkan roknya.

Hanung menatap orang yang ia tabrak. Seorang laki-laki bertubuh tegap, berpenampilan seperti seorang ustadz dengan paras yang menawan. Tetapi anehnya, laki-laki tersebut hanya diam membatu.

"Maaf, saya tidak sengaja." Hanung mengulangi perkataannya.

Tetapi laki-laki tersebut justru berbalik dan meninggalkan Hanung begitu saja. Hanung bingung dengan situasinya saat ini. Ia pun mengabaikannya dan kembali menemui Umi Siti.

"Kenapa di kamar mandi khusus ustadzah ada laki-laki masuk, Umi?" tanya Hanung.

"Hah?" Umi Siti membola mendengar pertanyaan Hanung.

"Kamu tidak salah?" Umi Siti memastikan.

"Umi menunjuk gang itu kan?" Hanung menunjukan dimana ia menggunakan kamar mandi.

"Hanung.. Kamu salah, yang Umi tunjuk bukan itu. Tetapi yang ada didepannya lagi." Umi Siti kembali menepuk dahi.

"Jadi, Hanung yang salah?" Hanung meringis tanpa merasa bersalah.

Umi Siti hampir saja menjewer telinga Hanung kalau saja tidak berhijab. Beliau pun bertanya bagaimana penampilan ustadz yang ia tabrak dan Hanung menjawab apa adanya.

Hanya ada satu orang yang memenuhi kriteria seperti yang dijabarkan Hanung, tetapi Umi Siti memilih diam dan mengatakan akan mencari tahu nanti.

Terpopuler

Comments

Adiba Shakila Atmarini

Adiba Shakila Atmarini

smoga jdi jdohx hanung

2025-01-04

1

Nabilah

Nabilah

aduh/Facepalm/

2024-11-20

1

Yani

Yani

Hanung salah masuk 🤭

2024-10-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!