9. Di Boyong

Hanung yang baru saja selesai sholat isya' mendengar percakapan Ibu Jam, karena kebetulan kamarnya bersebelahan dengan ruang tamu. Rumah dengan batu bata merah tanpa plafon tersebut tidak kedap suara, tentu Hanung bisa menebak siapa yang sedang berbicara dengan Ibu Jam. Ia pun mengganti mukena nya dengan hijab dan keluar kamar.

"Umi.." sapa Hanung yang segera menyalami Bu Nyai dan Umi Siti.

"Ini dia yang dicari!" seru Umi Siti.

"Begini, Mbak Hanung. Bu Nyai mau boyong Mbak Hanung sekarang, agar Gus Zam bisa membiasakan diri dengan kehadiran Mbak Hanung. Bagaimana menurut Mbak Hanung?" tanya Ibu Jam.

"Maaf. Apa nanti tidak menimbulkan fitnah, Umi?"

"Tidak, Nung. Kalian tidak tinggal satu rumah. Nanti kamu tinggal di rumahnya Siti." kata Bu Nyai.

"Menurut Ibu bagaimana?" Hanung meminta pertimbangan Ibu Jam.

"Kalau kamu tanya Ibu, jujur Ibu tidak setuju. Tetapi dengan kondisi kalian, Ibu setuju karena keadaan Gus Zam yang tidak bisa beradaptasi dengan orang baru perlu pendekatan."

"Kalau Ibu bilang seperti itu, Hanung ikut Ibu."

"Jadi, Hanung setuju?" Hanung mengangguki pertanyaan Bu Nyai.

"Alhamdulillah.." ucapa ketiga perempuan beda usia tersebut.

"Kamu bawa pakaian ganti secukupnya saja, Nung!" kata Umi Siti semangat.

Hanung pun pamit untuk mengemas pakaian dan beberapa keperluan. Masih tersirat sedikit keraguan dihati Hanung saat ini, tetapi ia memilih untuk meneguhkan hatinya atas apa yang telah ia putuskan. Ia berharap, Allah membimbing nya di jalan yang diridhoi-Nya.

"Mbak Hanung, semua yang Ibu ajarkan tolong diamalkan. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang istri, tugas Ibu sebagai seorang Ibu akan berhenti disini. Tetapi jika Mbak Hanung menginginkan teman berbicara, Ibu lebih dari senang untuk mendengarkan." pesan Ibu Jam sebelum Hanung berangkat.

"Kenapa Ibu mengatakan seolah-olah tidak akan bertemu Hanung lagi?" keluh Hanung.

"Bukan begitu, Ibu hanya merasa berat melepas Mbak Hanung." Ibu Jam menitikkan air mata.

Bu Nyai dan Umi Siti bersamaan memeluk bahu Ibu Jam. Mereka sudah seperti keluarga, mereka bisa merasakan kesedihan satu sama lain.

"Ibu, jaga kesehatan ya? Ibu harus menyaksikan pernikahan Hanung, nanti!" kata Hanung mengalihkan kesedihan sang ibu tiri.

"Iya." Ibu Jam memeluk Hanung.

Hanung pun membalas pelukan Ibu Jam. Ia bersyukur bisa memiliki seorang Ibu seperti Ibu Jam. Sedangkan ibunya sendiri, ia tak tahu. Ia bahkan sudah lupa dengan wajahnya karena semua jejak sang ibu telah dihapus oleh sang ayah.

Setelah kepergian Hanung dan Bu Nyai, Ibu Jam masuk kedalam kamar dan membuka laci meja. Ada ponsel Ayah Hanung disana. Beliau yang selama ini tidak pernah membuka ponsel milik suaminya pun memberanikan diri untuk menyalakannya. Tujuan Ibu Jam adalah kontak, beliau mencari nama Rati disana dan yang terlihat adalah nama Surati.

"Apa nama aslinya Surati?" gumam Ibu Jam.

Ibu Jam hanya bisa bertaruh, bagaimana pun Ibu kandung Hanung harus tahu. Entah bagaimana tanggapannya nanti, Ibu Jam siap dengan keputusannya. Setelah memindahkan nomor ke ponselnya, Ibu Jam keluar kamar dan mencoba menghubungi nomor tersebut.

"Bismillah.." ucap Ibu Jam saat menekan ikon memanggil.

Dering pertama, tidak diangkat. Dering kedua, masih tidak diangkat. Sampai dering ketiga, ada suara perempuan mengucapkan salam disana.

"Wa' alaikumsalam.. Apa benar ini Bu Rati, ibu dari Hanung Rahayu?" tanya Ibu Jam sambil bergetar.

"Ya. Anda siapa?"

"Saya Jamilah, istri dari almarhum Pak Agus Suryanto."

"Almarhum?" Surati terkejut.

"Ya. Beliau berpulang setengah tahun yang lalu."

"Innalillahi wainnailaihi roji'un.. Turut berduka cita ya, Mbak."

"Terima kasih, Bu Rati. Maaf kalau mengganggu, maksud saya menghubungi Ibu adalah untuk mengabarkan kalau Hanung sebentar lagi akan menikah."

"Menikah? Bukankah Hanung seharusnya baru lulus SMA?"

"Ya, sudah lulus setengah tahun yang lalu."

"Kenapa tidak melanjutkan kuliah?"

"Qadarullah, ada yang melamarnya dan Hanung setuju."

"Kapan acaranya?"

"Minggu ini."

Entah apa yang sedang dibicarakan diseberang sana, Ibu Jam tidak mengerti bahasa yang digunakan. Tetapi tak lama kemudian sambungan terputus tanpa ada kejelasan. Ibu jam menghela nafas dalam. Paling tidak beliau sudah mengabarkan, datang tidaknya terserah Surati. Ibu Jam pun meletakkan ponselnya dan masuk kedalam kamar untuk beristirahat.

Di sisi lain.

Surati sedang bertengkar dengan suaminya, Donga Sidabutar. Pertengkaran mereka dipicu panggilan telepon yang dilakukan Ibu Jam, yang mana membawa nama mantan suami Surati.

"Aku tidak berhubugan dengan Agus. Yang menelepon ku itu istrinya, dia mengatakan kalau Agus sudah meninggal setengah tahun yang lalu dan anakku akan menikah minggu depan." Surati melirihkan suaranya agar sang suami tidak semakin emosi.

"Apa hubungannya denganmu?"

"Jelas ada hubungannya, Pah. Hanung anakku, aku yang melahirkannya."

"Sekarang kamu mengatakan dia anakmu! Dulu saat aku memintamu untuk membawanya bersamamu, kamu menolaknya!"

"Dulu kita masih merintis karier, Pah. Tidak mungkin aku membawa Hanung bersamamu sedangkan kamu juga membawa dua anakmu. Bagaimana kita membagi penghasilan jika harus menghidupi 3 anak?" Donga terdiam seketika.

Keduanya pun diam. Surati dengan penyesalannya, jika saja Hanung ikut dengannya sudah pasti akan mengenyam pendidikan lebih baik daripada menikah muda. Sedangkan Donga dengan egonya, tidak mau mengakui jika apa yang dilakukan Surati dulu adalah demi kelangsungan hidup mereka yang pada saat itu sedang kesusahan. Dirinya yang baru saja di PHK nekad merintis usaha catering dengan modal uang pesangon dan tabungan Surati.

Sementara itu, Hanung yang baru saja sampai di pesantren segera disambut oleh Pak Kyai, Ning Alifah, dan Ning Zelfana, si bungsu. Hanung menyalami mereka satu persatu-satu. Ning Zelfana yang seumuran dengannya dan sudah akrab pun langsung mengajak Hanung masuk ke kamarnya.

Bu Nyai dan Pak Kyai hanya bisa menggelengkan kepala mereka karena sikap anak bungsu yang terlalu blak-blakan. Umi Siti yang seharusnya menjadi penanggungjawab Hanung, hanya mengendikkan bahu. Sedangkan Gus Zam, hanya diam di kegelapan teras menyaksikan keakraban Hanung dengan sang adik.

"Kenapa tidak ikut menyambut tadi, Gus?" tanya Umi Siti yang melihat Gus Zam.

"Tidak." jawab Gus Zam.

"Malu?" Gus Zam mengangguk.

"Kenapa malu, Gus? Hanung itu calon istrinya Gus Zam. Awas nanti diambil orang!" goda Umi Siti.

"Tidak."

"Siapa tahu, Hanung lebih tertarik dengan suami yang tidak pemalu, Gus!"

Gus Zam yang mendengarnya pun mengeratkan genggaman tangannya. Apa yang dikatakan Umi Siti membuat pikiran pesimis nya kembali mencuat.

"Kamu ini Siti! Jangan menggoda Adib begitu!" kesal Bu Nyai.

"Kalau tidak digoda nanti Gus Zam tidak ada inisiatif, Umi!" Umi Siti masih pembelaan.

"Adib, jangan dengarkan Umi Siti! Hanung sudah mau kemari itu tandanya dia memilih kamu. Kamu harus percaya diri ya, Nak?" Bu Nyai mencoba menenangkan Gus Zam yang sudah mulai bergetar.

Umi Siti yang bermaksud menggoda tidak sadar, perkataannya bisa memicu malapetaka.

Terpopuler

Comments

Yani

Yani

Semiga Gus Zam lekas sembuh

2024-11-28

1

Liana CyNx Lutfi

Liana CyNx Lutfi

sembuh nanti gus zam klo sdh nikah dngn hanung

2024-10-19

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!