5. Les Libur

Selama satu minggu ini, Hanung selalu melaksanakan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah.

Diawal, Hanung ragu dengan jawaban yang akan ia berikan. Dengan pertimbangan dirinya yang belum siap dan calon yang tidak ia kenal, Hanung ingin menolak lamaran Bu Nyai. Tetapi kemudian ia mengulur kembali pemikirannya, mengingat status Bu Nyai dan hubungan beliau dengan Ibu Jam yang pernah menjadi abdi dalem.

Setelah tarik ulur dan sholat istikharah, Hanung tiba pada satu keputusan yaitu menerima lamaran Bu Nyai. Bukan semata-mata karena hubungan Bu Nyai dengan Ibu Jam atau terpaksa. Hanung menerimanya dengan ikhlas karena dalam sholatnya, hatinya tidak memiliki keraguan lagi. Dirinya yang mengatakan belum siap menikah, ternyata memiliki keberanian untuk menjalaninya. Untuk keinginannya berkuliah, ia bisa mengutarakan nya nanti.

"Mbak Hanung, les nya diliburkan saja. Hari ini sama besok." kata Ibu Jam yang sedang menyuapi Nada.

"Iwan mau mengabari anak-anak tidak, Bu?" Hanung menghentikan kegiatan cuci piringnya.

"Nanti Ibu yang suruh. Kamu dua hari ini bantu Ibu bersih-bersih dan menyiapkan jamuan."

"Iya, Bu."

"Kamu sudah siap memberikan jawaban?"

"Sudah, Bu."

"Tumben tidak menjawab "InsyaAllah"?"

"Kata Ibu, InsyaAllah itu seperti berjanji. Jika janji itu Hanung ucapkan dan Allah tidak berkehendak, maka Hanung menanggung hutang. Jadi, Hanung menjawab sesuai yang ada." Ibu Jam terdiam.

"Apa Mbak Hanung selama ini merasa terpaksa mengikuti ajaran Ibu?" tanya Ibu Jam lirih.

"Mengapa Ibu berpikir seperti itu?"

"Mbak Hanung terbiasa bebas dengan didikan Ayah yang lebih mengutamakan pendidikan. Dan sejak Ibu masuk kerumah ini, Mbak Hanung dituntut Ayah untuk belajar agama dengan Ibu."

"Bu.. Kalau Hanung terpaksa, ajaran Ibu tidak akan ada yang nyangkut dikepala Hanung. Justru Hanung bersyukur, Ayah mendapatkan istri seperti Ibu yang bisa membawa Ayah ke jalan-Nya." Hanung menggenggam tangan Ibu Jam.

Ibu Jam tidak mengatakan apa-apa, beliau justru menitikkan air mata. Hanung dengan sabar menunggu sampai Ibu Jam tenang. Nada yang melihat sang Ibu menangis pun ikut menangis.

"Cup.. Cup.. Cup.." Ibu Jam menenangkan Nada dan setelah tenang, Ibu Jam kembali menyuapi Nada.

"Ibu juga bersyukur bisa bertemu dengan Ayah. Ibu dulu sempat ingin menjanda saja, membesarkan Iwan sendiri. Tetapi Bu Nyai menyadarkan Ibu, kalau peran seorang Ayah juga diperlukan Iwan saat itu. Makanya Ibu setuju saat suami dari Umi Laila mengenalkan Ayah."

"Senyum, Bu. Jangan menangis lagi!" seru Hanung sambil menyerahkan tisu.

Keduanya pun tertawa bersama. Hanung yang pernah takut memiliki Ibu tiri, justru dekat dibandingkan dengan Ibu kandungnya yang sekarang ini entah dimana.

"Misalkan nanti Mbak Hanung menikah, apa tidak sebaiknya mengabari Ibu Rati?"

"Bagaimana mau mengabari, Bu? Hanung saja tidak tahu kontaknya dan dimana beliau sekarang."

"Coba dilihat di ponsel Ayah. Siapa tahu masih ada kontaknya disana. Ponsel Ayah masih Ibu simpan di laci kamar."

"Nanti saja ya, Bu?" Ibu Jam mengangguk.

Beliau tidak ingin memaksa karena beliau tahu, bagaimana terpuruknya suami dan anak tirinya saat ditinggalkan Rati. Suaminya telah menceritakan semuanya, maka dari itu nama Rati jarang disebut saat beliau masih hidup.

"Mbak Hanung!" seru seorang anak di depan rumah.

Hanung keluar dan membukakan pintu. Terlihat beberapa anak kelas 4 berdiri disana dengan seragam sekolah.

"Kenapa tidak berangkat kesekolah?" tanya Hanung sambil menyambut salam dari mereka.

"Sengaja mau mampir. Ini ada titipan dari Ibu untuk Mbak Hanung." Masing-masing anak menyerahkan kantong plastik kepada Hanung.

"Kenapa repot-repot?" Hanung sampai kewalahan memegang beberapa kantong tersebut.

"Tidak repot, Mbak Hanung." jawab mereka kompak.

"Sampaikan ucapan terimakasih Mbak Hanung pada Ibu-ibu, ya?" Semua anak mengangguk antusias.

"Oh iya, Mbak Hanung bisa minta tolong?"

"Tentu saja! Apa itu, Mbak?"

"Tolong kabarkan ke teman-teman yang lain kalau les hari ini dan besok libur. Mbak Hanung ada urusan."

"Berarti anak kelas satu sampai kelas 6, Mbak?" Hanung mengangguk.

Anak-anak pun berunding. Mereka membagi pekerjaan, siapa yang akan mengabarkannya di kelas 1 sampai 6 dengan hompimpa. Setelah terbagi dengan adil, mereka pun mengatakan siap.

"Terima kasih, ya? Sampaikan juga, lusa saat masuk les Mbak Hanung akan membagikan hadiah bagi yang mendapat nilai ulangan diatas 70."

"Benar, Mbak?" seru anak-anak.

"Iya."

"71, masuk tidak?" tanya salah seorang anak.

"Masuk. Yang penting diatas 70 karena itu batas KKM."

"Asyik!"

Setelah itu mereka pun menyalami Hanung kembali dan pamit berangkat sekolah. Hanung melambaikan tangannya dan mengatakan agar mereka hati-hati.

Hanung membawa kantong plastik ke dapur dan membongkar nya. Beberapa berisi sayuran dan beberapa berisi sembako. Hanung memilahnya dan menyimpan. Ibu Jam yang sudah selesai menyuapi Nada pun membantu Hanung sampai semuanya tersimpan rapi.

Keesokan harinya, Ibu Jam dan Hanung sudah sibuk didapur sejak bakda subuh. Mereka membagi tugas, Ibu Jam bagian memasak dan Hanung bagian menyiapkan bahan. Pertama mereka membuat kue bolu tape dan nagasari. Kemudian memasak gulai daun singkong, ayam ungkep dan sambal.

Karena tidak tahu kapan tamu mereka akan datang, ayam ungkep dan tahu tempe tidak mereka goreng semuanya. Yang mereka goreng hanyalah yang mereka makan untuk sarapan. Selesai sarapan, Iwan berangkat sekolah dan Hanung mencuci piring dan alat bekas masak. Lalu ia lanjut mencuci pakaian, sedangkan Ibu Jam bergelut dengan Jamal dan Nada.

"Assalamu'alaikum, Bu Nyai." sapa Ibu Jam saat menerima telepon dari Bu Nyai.

"Wa'alaikumussalam, Jam. Saya dan suami sampai sana sekitar pukul 11 karena Abi ada tausiyah di Masjid Agung jam 8 ini."

"Iya, Bu Nyai. Santai saja, tidak perlu buru-buru."

"Terimakasih, Jam. Nanti saya kabari lagi kalau sudah mau berangkat."

"Baik, Bu Nyai."

Setelah panggilan berakhir, Ibu Jam menyampaikan kepada Hanung kedatangan Bu Nyai. Hanung mengangguk dan segera menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum Bu Nyai datang nanti.

Di sisi lain.

"Sudah dikabari Jamilah nya?" Tanya Pak Kyai Kholiq.

"Sudah, Bi. Nanti Adib mau dibawa sekalian atau kita yang khitbah dulu?"

"Kita bawa sekalian saja. Biarkan Hanung memutuskan setelah melihat Adib. Apapun keputusan Hanung, kita harus menghormatinya."

"Umi takut, Bi."

"Untuk apa takut? Ada Allah bersama kita."

"Allah memang bersama kita, Bi. Tetapi untuk urusan Adib, Umi sudah menelan pil pahit terus-menerus."

"Umi, tidak ada usaha yang sia-sia. Kemarin itu Adib ditolak, mungkin memang bukan jodohnya. Berdoa saja, pilihan Umi kali ini tidak salah." Pak Kyai menepuk pundak Bu Nyai dengan lembut.

Sebelum memilih Hanung, Bu Nyai telah sepakat dengan Umi Kalsum istri dari Kyai Jabar untuk menjodohkan anak mereka. Tetapi ketika Ning Anis pulang dari menuntut ilmu dan melihat Gus Zam, Ning Anis menolak perjodohan karena merasa tidak bisa menjalani pernikahan dengan Gus Zam disaat hari pernikahan sudah ditetapkan.

Dan saat melihat Hanung bersama Umi Siti di dapur, Bu Nyai terpikirkan untuk melamarnya untuk Gus Zam. Beliau hanya berharap, anak keduanya memiliki hak yang sama dengan anaknya yang lain dalam pernikahan.

Terpopuler

Comments

Adiba Shakila Atmarini

Adiba Shakila Atmarini

ngomong2..mmngx gus zam knapa ya ko sring d tolak lamaranx..🤔🤔

2025-01-05

1

Yani

Yani

Pasti Hanung menerima lamaran ibu nyai

2024-11-01

1

asiah puteri mulyana

asiah puteri mulyana

sepertinya Gus Zam ada kekurangan dibanding Gus lainnya yah

2025-02-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Hanung
2 2. Menabrak
3 3. Menolak Lamaran
4 4. Kedatangan Bu Nyai
5 5. Les Libur
6 6. Khitbah
7 7. Gus Zam
8 8. Hadiah
9 9. Di Boyong
10 10. Kumat
11 11. Seperti Buntut
12 12. Merubah Kamar
13 13. Gemetar
14 14. Tamu Tak Diundang
15 15. Ikut Hanung
16 16. Humairaku
17 17. Serangan Panik!
18 18. Satu Tahun
19 19. Ukiran
20 20. Doa Baik
21 21. Berangkat
22 22. Jangan Memaksakan Diri
23 23. Kasurnya Terlalu Besar
24 24. Disita
25 25. Sudah Bersuami
26 26. Lalu Siapa?
27 27. Alung
28 28. Sampai Disini
29 29. Tidak Bisa Dihubungi
30 30. Menghilang
31 31. Tunggu Aku!
32 32. Pagatan
33 33. Pasar
34 34. Menyusul
35 35. Cerita Nanti
36 36. Assalamu’alaikum Istriku
37 37. Luka
38 38. Kantor Polisi
39 39. Kecupan Di Bibir
40 40. Keputusanmu Sangat Berani
41 41. Jambi
42 42. Kembali
43 43. Hubungan Kita
44 44. Akhirnya
45 45. Kamar Hanung
46 46. Pikiran Negatif
47 47. Air Panas
48 48. Pelukan Tiba-tiba
49 49. Demam
50 50. Nambah
51 Revisi
52 51. Tidak Memerlukan Bukti
53 52. Kotak Hadiah
54 53. Humaira Berkenan
55 54. Jamu?
56 55. Cucu Perempuan
57 56. Nenek?
58 57. Sepakat
59 58. Pengecut
60 59. Hamil?
61 60. Kasih Sayang Tulus
62 61. Tertekan
63 62. Keturunan Agus
64 63. Bertanya
65 64. Sedang Sedih
66 65. Nenek!
67 66. Selamat
68 67. Umi Ikut!
69 68. Mahar
70 69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71 70. Akan Meminang
72 71. Kalian Ini Kemana Saja!
73 72. Jus Pisang dan Pir
74 73. Akad
75 74. Hadiah
76 75. Mie Ayam
77 76. Meminta Maaf
78 77. Tidur Terlalu Lama
79 78. Awas!
80 79. Keguguran
81 80. Pikiran
82 81. Memaafkan
83 82. Menangis
84 83. Rumah Sendiri
85 84. Beli Rumah
86 85. Mengerjai
87 86. Tidak Mengizinkan
88 87. Tidur Siang
89 88. Motor Laki
90 89. Mengajari
91 90. Es Kemangi
92 91. Pelindung
93 92. Berangkat Magetan
94 93. Telaga Sarangan
95 94. Mengikhlaskan
96 95. Pemakaman
97 96. Aku Salut Denganmu
98 97. Jamu Rutin
99 98. Sukarela
100 99. Boleh
101 100. Aku Menyukainya
102 101. Gila
103 102. Merajuk
104 103. Perasaan Lega
105 104. Rendang
106 105. Mencoba Semuanya
107 106. Panen
108 107. Tidak Nyaman
109 108. Kehamilan Kedua
110 109. 4 Bulan
111 110. Daripada Melamun
112 111. Masih Kurang
113 112. Rujak
114 113. Kolam Renang
115 114. Air Ketuban
116 115. Nama
117 116. Bau Bayi
118 117. Ning Zelfa
119 118. Jawaban
120 119. Meminta Restu
121 120. Besok
122 121. Huek!
123 122. Selesai Acara
124 123. Tidak Bisa Dipercaya!
125 124. Memaafkan
126 125. Subur Sekali
127 126. Masa Lalu
128 127. Menggoda
129 128. Komunikasi
130 129. Sakit?
131 130. Mood
132 131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133 132. Dua Kali
134 133. Memojokkan
135 134. Aku Percaya
136 135. Zainab Khanza
137 136. Pingsan
138 137. Sadar
139 138. Sudah Benar
140 139. Pamit
141 140. Kelelahan
142 141. Nasi Padang
143 142. Sayang!
144 143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145 144. Diberondong Cucu
146 145. Teka-teki
147 146. Membuntuti
148 147. Ngidam
149 148. Dikejutkan
150 149. Perasaan Hambar
151 150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152 151. Siap Pulang
153 152. Menantu Bodoh
154 153. Ibu Santi
155 154. Merasa Benar
156 155. Terminal Lucidity
157 156. Mukena
158 157. Merasa Kehilangan
159 158. Waktu yang Menjawab
160 159. Prematur
161 160. Arshaka Zayyan
162 161. Ngemper
163 162. Kakak Kecil
164 163. Kembar
165 164. Mencintai Kamu
166 Promo novel baru
Episodes

Updated 166 Episodes

1
1. Hanung
2
2. Menabrak
3
3. Menolak Lamaran
4
4. Kedatangan Bu Nyai
5
5. Les Libur
6
6. Khitbah
7
7. Gus Zam
8
8. Hadiah
9
9. Di Boyong
10
10. Kumat
11
11. Seperti Buntut
12
12. Merubah Kamar
13
13. Gemetar
14
14. Tamu Tak Diundang
15
15. Ikut Hanung
16
16. Humairaku
17
17. Serangan Panik!
18
18. Satu Tahun
19
19. Ukiran
20
20. Doa Baik
21
21. Berangkat
22
22. Jangan Memaksakan Diri
23
23. Kasurnya Terlalu Besar
24
24. Disita
25
25. Sudah Bersuami
26
26. Lalu Siapa?
27
27. Alung
28
28. Sampai Disini
29
29. Tidak Bisa Dihubungi
30
30. Menghilang
31
31. Tunggu Aku!
32
32. Pagatan
33
33. Pasar
34
34. Menyusul
35
35. Cerita Nanti
36
36. Assalamu’alaikum Istriku
37
37. Luka
38
38. Kantor Polisi
39
39. Kecupan Di Bibir
40
40. Keputusanmu Sangat Berani
41
41. Jambi
42
42. Kembali
43
43. Hubungan Kita
44
44. Akhirnya
45
45. Kamar Hanung
46
46. Pikiran Negatif
47
47. Air Panas
48
48. Pelukan Tiba-tiba
49
49. Demam
50
50. Nambah
51
Revisi
52
51. Tidak Memerlukan Bukti
53
52. Kotak Hadiah
54
53. Humaira Berkenan
55
54. Jamu?
56
55. Cucu Perempuan
57
56. Nenek?
58
57. Sepakat
59
58. Pengecut
60
59. Hamil?
61
60. Kasih Sayang Tulus
62
61. Tertekan
63
62. Keturunan Agus
64
63. Bertanya
65
64. Sedang Sedih
66
65. Nenek!
67
66. Selamat
68
67. Umi Ikut!
69
68. Mahar
70
69. Saling Mengerti dan Melengkapi
71
70. Akan Meminang
72
71. Kalian Ini Kemana Saja!
73
72. Jus Pisang dan Pir
74
73. Akad
75
74. Hadiah
76
75. Mie Ayam
77
76. Meminta Maaf
78
77. Tidur Terlalu Lama
79
78. Awas!
80
79. Keguguran
81
80. Pikiran
82
81. Memaafkan
83
82. Menangis
84
83. Rumah Sendiri
85
84. Beli Rumah
86
85. Mengerjai
87
86. Tidak Mengizinkan
88
87. Tidur Siang
89
88. Motor Laki
90
89. Mengajari
91
90. Es Kemangi
92
91. Pelindung
93
92. Berangkat Magetan
94
93. Telaga Sarangan
95
94. Mengikhlaskan
96
95. Pemakaman
97
96. Aku Salut Denganmu
98
97. Jamu Rutin
99
98. Sukarela
100
99. Boleh
101
100. Aku Menyukainya
102
101. Gila
103
102. Merajuk
104
103. Perasaan Lega
105
104. Rendang
106
105. Mencoba Semuanya
107
106. Panen
108
107. Tidak Nyaman
109
108. Kehamilan Kedua
110
109. 4 Bulan
111
110. Daripada Melamun
112
111. Masih Kurang
113
112. Rujak
114
113. Kolam Renang
115
114. Air Ketuban
116
115. Nama
117
116. Bau Bayi
118
117. Ning Zelfa
119
118. Jawaban
120
119. Meminta Restu
121
120. Besok
122
121. Huek!
123
122. Selesai Acara
124
123. Tidak Bisa Dipercaya!
125
124. Memaafkan
126
125. Subur Sekali
127
126. Masa Lalu
128
127. Menggoda
129
128. Komunikasi
130
129. Sakit?
131
130. Mood
132
131. Gus Aidil Sudah Menikah?
133
132. Dua Kali
134
133. Memojokkan
135
134. Aku Percaya
136
135. Zainab Khanza
137
136. Pingsan
138
137. Sadar
139
138. Sudah Benar
140
139. Pamit
141
140. Kelelahan
142
141. Nasi Padang
143
142. Sayang!
144
143. Kabar Baik dan Kabar Buruk
145
144. Diberondong Cucu
146
145. Teka-teki
147
146. Membuntuti
148
147. Ngidam
149
148. Dikejutkan
150
149. Perasaan Hambar
151
150. Mendukung dan Medoakan yang Terbaik
152
151. Siap Pulang
153
152. Menantu Bodoh
154
153. Ibu Santi
155
154. Merasa Benar
156
155. Terminal Lucidity
157
156. Mukena
158
157. Merasa Kehilangan
159
158. Waktu yang Menjawab
160
159. Prematur
161
160. Arshaka Zayyan
162
161. Ngemper
163
162. Kakak Kecil
164
163. Kembar
165
164. Mencintai Kamu
166
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!