“Yang Mulia…Aku mohon untuk menyelidiki Negeri Rasyamsah. Putri Magitha dan Ratu Isodele saat ini ditawan disana”
“Bagaimana Kau tahu Mereka ada disana Putri Yuki. Apa ini ada hubungannya dengan Garduete ?.” Tanya Raja Jafar kemudian.
“Tidak Yang Mulia, ini tidak ada hubungannya dengan kerajaan Garduete”.
Yuki menggelengkan kepala. Menatap Pangeran Sera sesaat meminta dukungan. Pangeran Sera mengganggukan kepala memberikan kekuatan pada Yuki. Kemudian Yuki berkata lirih. “Aku memimpikan Mereka. Dalam mimpiku Putri Magitha berkata Dia ditawan oleh Raja Trandem dari Rasyamsah. Karena itulah Aku kembali ke dunia ini”
Suasana di dalam aula berubah tegang ketika Yuki mengungkapkan tentang mimpinya. Semua orang terdiam, beberapa pejabat tampak saling berbisik, seolah tidak yakin dengan kebenaran ucapan Yuki. Paman Gregor mengernyitkan dahi, lalu melipat tangan di depan dada.
“Mimpi?” Paman Gregor bertanya dengan nada skeptis. “Kau meminta kami untuk mempertaruhkan nyawa dan reputasi kerajaan berdasarkan sebuah mimpi?”
Yuki menunduk sejenak, merasa tekanan dari keraguan yang memenuhi ruangan. Tapi saat dia menatap Pangeran Sera, melihat kembali anggukan kecilnya, dia merasa kekuatan mengalir kembali.
“Ini bukan sekadar mimpi biasa,” jawab Yuki dengan suara yang lebih mantap. “Aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi mimpiku selalu memiliki arti… Aku bisa melihat hal-hal yang belum terjadi, atau yang sedang terjadi di tempat lain. Dalam mimpiku, Putri Magitha mengungkapkan bahwa dia dan Ratu Isodele ditawan di Rasyamsah.”
Pangeran Arana memandang Raja Jafar, lalu beralih kembali ke Yuki. “Apakah ada alasan mengapa Raja Trandem melakukan ini? Apa yang dia inginkan dari Putri Magitha dan Ratu Isodele?”
Yuki menggigit bibirnya sejenak, lalu menjawab, “Raja Trandem ingin menggunakan mereka sebagai alat untuk menekan Argueda. Dia berniat menjadikan Putri Magitha selirnya, dan memanfaatkan hubungan ini untuk memperoleh keuntungan politik serta memperkuat posisinya.”
Beberapa pejabat tampak kaget mendengar pengungkapan ini. Kakek Veyron menghela napas panjang, sementara Raja Jafar memandang Yuki dengan tatapan tajam, mencoba mencari kejujuran di balik matanya.
“Kau sangat yakin dengan mimpimu ini, Putri Yuki?” Raja Jafar bertanya, suaranya penuh dengan kewaspadaan.
Yuki mengangguk, dengan perasaan bahwa apa yang dia katakan adalah satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan Putri Magitha dan Ratu Isodele. “Ya, Yang Mulia. Aku yakin.”
“Kau meminta kami untuk menyelidiki negeri yang jauh, hanya berdasarkan mimpimu, Putri Yuki?” tanya Paman Gregor dengan suara yang dalam, penuh pertimbangan. “Apakah kau sadar bahwa menggerakkan pasukan atau bahkan mengirim mata-mata ke Rasyamsah bisa memicu ketegangan diplomatik?”
Ruangan terasa semakin tegang ketika Paman Gregor, dengan sorot mata tajam, mencoba memancing amarah di antara para pejabat.
“Kebohongan ini berbahaya! Menyebarkan informasi tanpa dasar hanya akan membahayakan kerajaan. Bagaimana kita bisa mempercayai mimpi seorang gadis yang bahkan tidak berasal dari dunia ini?” seru Paman Gregor, suaranya lantang dan penuh provokasi. Beberapa pejabat mengangguk setuju, sementara Yuki menunduk semakin dalam, merasa terpojok oleh serangan verbal yang terus berdatangan.
Pangeran Sera berdiri tegap di samping Yuki, mencoba meredam situasi. “Paman, Yuki tidak berbohong. Apakah kita harus menunggu hal-hal buruk terjadi dulu baru bertindak? Tidak ada kerugian dalam menyelidiki hal ini secara hati-hati.”
Namun, Paman Gregor tidak mau menyerah. “Menyelidiki? Kita akan membuang waktu dan sumber daya kerajaan untuk mengejar mimpi yang mungkin saja keliru!”
Yuki merasakan jantungnya berdegup kencang, keraguan yang mengelilinginya semakin kuat. Bahkan dengan dukungan Pangeran Sera, rasa tidak percayanya dari semua orang terasa menyakitkan. Saat suasana semakin memanas, tiba-tiba suara Kakek Veyron, yang bijak dan penuh wibawa, memecah keheningan.
“Kita semua tahu,” Kakek Veyron berkata dengan tenang, “bahwa Pangeran Riana dari Garduete memberimu kesempatan untuk kembali ke duniamu, Yuki. Tapi dia juga menutup pintu itu saat kau memilih untuk kembali ke dunia ini. Jadi, pertanyaannya adalah… apakah Putri Yuki bersedia meninggalkan kehidupan lamanya untuk mengejar mimpi ini? Sebuah mimpi yang tidak dijamin benar, demi menyelamatkan orang-orang yang mungkin tidak bisa diselamatkan.”
Semua mata tertuju pada Yuki, dan Raja Jafar memandangnya dengan penuh harap sekaligus keraguan. Yuki menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Dia tahu ini adalah momen penting. Jika dia gagal meyakinkan mereka sekarang, mereka mungkin tidak akan pernah memberinya kesempatan lagi.
Dengan suara pelan tapi tegas, Yuki mengangkat wajahnya dan menjawab, “Aku memilih untuk kembali ke dunia ini bukan hanya karena mimpi. Aku kembali karena ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang hanya bisa kulakukan di sini. Jika mimpi ini adalah satu-satunya petunjuk yang bisa menyelamatkan Putri Magitha dan Ratu Isodele, maka aku akan melakukannya tanpa ragu. Aku rela melepaskan kehidupanku di dunia lamaku untuk menjalankan tanggung jawab ini.”
Ruangan itu hening sesaat, sebelum Pangeran Sera melangkah maju, berdiri lebih dekat dengan Yuki sebagai bentuk dukungan. “Yuki telah berkorban banyak untuk berada di sini. Kita harus memberinya kesempatan.”
Kakek Veyron menatap Raja Jafar dengan tajam, menunggu keputusannya. Raja Jafar akhirnya menghela napas panjang dan berkata, “Baiklah. Kita akan menyelidiki Negeri Rasyamsah. Namun, kita akan melakukannya dengan hati-hati. Jika Yuki benar, maka kita akan bertindak. Tapi jika tidak… kita akan mempertanggungjawabkan setiap langkah yang kita ambil.”
Paman Gregor tampak tidak senang, tapi dia diam.
Suasana rapat tiba-tiba pecah ketika seorang prajurit penghubung dengan mata-mata yang diutus Pangeran Sera sebelum Dia ke istana Raja datang bergegas masuk ke aula. Para pejabat dan prajurit yang sebelumnya berdebat keras seketika terdiam, memperhatikan dengan cermat sosok yang datang membawa kabar penting.
“Yang Mulia!” seru prajurit itu sambil menunduk hormat. “Kami berhasil menyusup ke istana Rasyamsah dan mengonfirmasi laporan Putri Yuki. Putri Magitha dan Ratu Isodele memang ditawan di menara barat istana oleh Raja Trandem.”
Prajurit itu lalu menyerahkan gulungan foto-foto yang berhasil diambil secara diam-diam. Salah satu pejabat membuka gulungan tersebut dan membagikan gambar-gambar kepada Raja Jafar dan pejabat lainnya. Foto-foto itu jelas menunjukkan Putri Magitha dan Ratu Isodele dalam keadaan lemah, ditawan di ruang gelap dengan penjagaan ketat.
Raja Jafar menatap foto-foto itu dengan penuh amarah, wajahnya memerah. Suara meja yang dihantam keras oleh Raja Jafar menggema di seluruh ruangan. “Brengsek!” serunya penuh kemarahan. “Beraninya mereka menawan keluargaku dan mengancam kerajaanku!”
Para pejabat terkejut oleh bukti tak terbantahkan tersebut. Ketegangan yang sebelumnya mengarah pada Yuki kini sepenuhnya beralih menjadi kemarahan terhadap Raja Trandem dan Rasyamsah.
Pangeran Sera memandang Yuki dengan kekaguman yang semakin besar, tahu bahwa Yuki telah mengatakan yang sebenarnya sejak awal.
“Kita tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja!” Raja Jafar melanjutkan, suaranya penuh determinasi. “Segera kumpulkan pasukan. Kita akan menyerbu Rasyamsah dan membawa pulang Magitha dan Isodele!”
Pangeran Sera maju ke depan, suaranya tenang namun tegas. “Ayah, jangan gegabah. Jika kita langsung menyerbu, kita hanya akan menempatkan banyak nyawa di pihak kita dalam bahaya, termasuk Magitha dan Ibu. Rasyamsah bukan musuh yang mudah ditaklukkan, dan aku yakin ada pihak dalam kerajaan kita sendiri yang bersekongkol dengan mereka. Kita harus berhati-hati dan menyusun strategi yang lebih matang.”
Raja Jafar yang masih diliputi amarah tampak ingin membantah, tetapi kata-kata Sera membuatnya terdiam sejenak. Ketegangan mulai mereda saat Raja Jafar menatap putranya dengan mata penuh pertimbangan. “Kau berpikir ada pengkhianat di antara kita?” tanyanya dengan nada tajam.
Pangeran Sera mengangguk. “Itu sangat mungkin, Ayah. Mereka tahu gerakan kita terlalu baik. Jika ada orang dalam yang membantu, serangan terbuka hanya akan memberi mereka keuntungan lebih besar. Kita harus mencari tahu siapa yang ada di balik ini dan memutus jalur informasi mereka sebelum bergerak.”
Kakek Veyron, yang duduk di sisi ruangan, mengelus janggutnya sambil menatap Sera dengan bijak. “Kebijakanmu benar, Sera,” katanya perlahan. “Dalam pertempuran, mereka yang tahu lebih banyak selalu menang. Kita perlu menyusun rencana untuk menjebak pengkhianat, sambil mencari cara untuk menyelamatkan Magitha dan Isodele tanpa menimbulkan korban.”
Yuki, yang mendengar perbincangan itu, merasakan ketegangan di tubuhnya mereda sedikit. Dia tahu Pangeran Sera selalu bijaksana dan berpikir jauh ke depan. Pangeran Sera berbalik, menatap mata Yuki dengan keyakinan, seolah memberi tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja jika mereka bertindak dengan hati-hati.
Raja Jafar akhirnya menghela napas panjang, kemarahannya sedikit mereda. “Baiklah, Sera. Kau benar. Kita akan bertindak dengan bijaksana. Tapi, kita harus segera mencari tahu siapa pengkhianat itu dan menghentikan mereka sebelum mereka bisa membahayakan lebih banyak lagi.”
“Putri Yuki tampaknya anda punya keahlian yang baik. Apakah anda mempelajari sihir atau siapa anda sebenarnya ?. Tanya Paman Gregor tiba-tiba. Semua perhatian kembali terpusat pada Yuki yang berdiri disamping Pangeran Sera.
Yuki menatap Paman Gregor dalam. Kemudian menjawab. “Tidak perlu takut paman, Aku hanya gadis biasa yang kebetulan dicintai oleh keponakanmu paman”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 286 Episodes
Comments