14

Paman Gregor memicingkan mata, tatapannya tajam seperti sedang menguji kebenaran di balik kata-kata Yuki. “Hanya gadis biasa, katamu?” Dia mengangkat alis dengan raut skeptis. “Akan tetapi, tidak semua gadis biasa bisa mengklaim mengetahui keberadaan Putri Magitha dan Ratu Isodele dari sebuah mimpi.”

Pangeran Sera menambahkan, “Yuki mungkin memiliki caranya sendiri dalam melihat hal-hal yang kita tidak bisa, tapi dia bukan ancaman. Dia adalah orang yang kupercayai sepenuhnya, dan seperti yang baru saja kita buktikan, apa yang dia katakan mengenai Magitha dan Ibu benar adanya.”

Paman Gregor masih tampak curiga, namun dengan bukti yang baru datang dari para mata-mata, dia tidak bisa lagi membantah. Raja Jafar menginterupsi dengan nada tegas, “Cukup, Gregor. Kita tidak di sini untuk mempertanyakan kejujuran Yuki. Fokus kita sekarang adalah menyelamatkan Magitha dan Isodele. Kita akan membahas semua yang lain setelah itu.”

Suasana kembali sedikit mereda, dan Yuki menatap Pangeran Sera sekali lagi, bersyukur atas dukungannya di tengah situasi yang menegangkan.

...****************...

Ketegangan antara Argueda dan Rasyamsah semakin meruncing setelah pengakuan terang-terangan dari pihak Rasyamsah mengenai penawanan Ratu Isodele dan Putri Magitha. Berita ini mengguncang seluruh kerajaan Argueda. Para bangsawan dan prajurit bersiap menghadapi kemungkinan terburuk—perang.

Di istana Argueda, suasana rapat semakin tegang. Pangeran Sera, Raja Jafar, dan para petinggi kerajaan berdiskusi secara intensif, mencari strategi terbaik untuk menghadapi Rasyamsah tanpa membahayakan keselamatan Putri Magitha dan Ratu Isodele.

“Kita tidak bisa menyerang langsung,” ujar Pangeran Sera dengan nada tegas, “mereka pasti telah bersiap menghadapi reaksi kita. Nyawa Magitha dan Ibu dipertaruhkan di sini. Kita harus bermain cerdas, mencari cara untuk membebaskan mereka tanpa memicu pertumpahan darah yang sia-sia.”

Raja Jafar mengangguk pelan, namun kemarahannya jelas terlihat. “Rasyamsah telah meremehkan kita. Mereka pikir kita akan tunduk pada ancaman ini, tapi mereka tidak tahu dengan siapa mereka berurusan.”

Di tengah ketegangan yang terjadi dalam kerajaan Argueda, Yuki merasa semakin berat dengan situasi ini. Ia tahu bahwa waktunya semakin sedikit untuk menyelamatkan Putri Magitha dan Ratu Isodele.

Yuki teringat mimpinya tentang Putri Magitha yang memohon pertolongan. Kini, ancaman bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam istana. Rasyamsah mungkin memiliki sekutu di dalam Argueda yang siap menghancurkan dari dalam, dan itu semakin menambah kerumitan.

Dengan Rasyamsah yang berani menunjukkan taringnya, perang kini tampak semakin dekat, sementara keselamatan Putri Magitha dan Ratu Isodele semakin dipertaruhkan.

...****************...

Yuki duduk di tepi kolam, airnya tenang memantulkan langit senja yang mulai gelap. Udara dingin menyelimuti tubuhnya, namun dia nyaris tak merasakannya. Tatapannya kosong, tertuju pada langit yang berubah warna, namun pikirannya melayang jauh.

Gambaran Putri Magitha terjebak di menara Rasyamsah mengganggu pikirannya, memunculkan perasaan bersalah dan tak berdaya. Ratu Isodele yang kuat, sekarang terperangkap dalam cengkeraman Raja Trandem. Dan di tengah segala kebingungannya, pikiran tentang Pangeran Riana tak bisa ia hindari. Sosok yang pernah begitu akrab baginya, kini menjadi bayang-bayang yang menghantui, mengingatkan pada masa lalu yang menyakitkan.

Saat Yuki duduk itu, Rombongan para putri memasuki taman, suara langkah kaki mereka terdengar jelas di antara desiran angin. Yuki yang sedang termenung, tak menyadari kedatangan mereka hingga salah satu dari mereka berbicara dengan nada sinis.

“Kau di sini lagi, menatap kosong seperti tak ada yang terjadi,” kata salah satu putri dengan nada menghina. Rambutnya yang indah tertata sempurna, namun tatapan matanya penuh dengan kebencian. “Apakah kau tahu, Putri Yuki, orang-orang masih berbisik tentang dirimu, terutama tentang kematian Putri Alina dan keluarganya.”

Yuki menegang mendengar itu, tapi dia tetap diam, menahan perasaannya yang berkecamuk. Dia tahu cerita yang beredar, tuduhan-tuduhan tanpa dasar yang terus menghantuinya sejak tragedi itu terjadi. Namun, tak ada satu pun yang tahu kebenaran di balik kejadian tersebut. Tatapan para putri yang menusuknya seakan berusaha menorehkan luka lebih dalam.

Yuki sebenarnya ingin menanyakan sendiri pada Pangeran Sera. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya Putri Alina dan seluruh keluarganya di hukum mati oleh kerajaan Argueda. Tapi Yuki belum mempunyai waktu yang tepat untuk bertanya pada Pangeran Sera. Terutama ketika suasana sedang tegang seperti sekarang.

“Putri Alina yang manis, begitu baik dan sopan… tetapi kau? Kau hidup seakan tidak ada yang salah. Muka tidak berdosa itu hanya kedok, bukan?” lanjut putri lain dengan tawa mengejek. Para putri lainnya ikut tertawa kecil, namun di balik senyuman mereka tersimpan ketidaksukaan yang mendalam.

Yuki memandang mereka sesaat, namun tak berkata apa-apa. Dia menundukkan kepalanya lagi, memilih untuk menahan rasa sakit dan tidak merespons sindiran itu. Baginya, menjawab hanya akan memperpanjang tuduhan yang salah, dan dia sudah cukup lelah dengan semuanya.

Namun, di dalam hatinya, Yuki merasakan beban yang semakin berat. Tudingan yang diarahkan kepadanya itu membawa kembali ingatan tentang kejadian-kejadian tragis yang mengubah hidupnya, termasuk peristiwa dengan Putri Alina yang hingga kini menjadi luka yang belum sembuh sepenuhnya.

“Apa kau akan tetap diam, Putri Yuki?” suara putri yang lain menantangnya. “Atau apakah kau berpikir kami akan melupakan apa yang terjadi begitu saja?”

Yuki menahan napasnya, memejamkan mata, menelan kegetiran yang terasa semakin dalam. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada yang mengerti penderitaannya. Dan sekarang, mereka hanya melihatnya sebagai sosok yang membawa kehancuran, bukan sebagai seseorang yang juga terluka.

Salah satu putri di antara rombongan tertawa kecil, suaranya terdengar sinis. “Kalian jangan begitu,” katanya sambil berpura-pura prihatin. “Lihat wajah Putri Yuki, sepertinya dia akan menangis. Jangan sampai dia mengadukan yang tidak-tidak kepada Pangeran Sera lagi, dan menghasutnya untuk membenci kita.”

Yang lain ikut tertawa, seolah setuju dengan sindiran itu. Mereka semua tahu betapa dekatnya Yuki dengan Pangeran Sera, dan mereka memanfaatkannya untuk melontarkan komentar penuh kebencian, berharap bisa menyudutkannya lebih jauh. Tatapan mereka menusuk, sementara Yuki hanya diam, menahan sakit di dadanya yang semakin mendalam.

“Apa kau pikir dia tidak akan melakukannya?” sahut yang lain, dengan nada sarkastis. “Setelah semua perhatian yang dia dapatkan dari Pangeran Sera, aku yakin Yuki tahu betul bagaimana cara membuatnya berpihak pada dirinya.”

Yuki menggigit bibirnya, menahan amarah dan kesedihan yang bercampur aduk di dalam dirinya. Tentu saja, dia tahu mereka hanya ingin memprovokasinya, membuatnya terlihat lemah di hadapan orang lain. Namun, sindiran itu tetap terasa begitu menyakitkan. Dia tidak pernah ingin mempengaruhi Pangeran Sera dengan cara seperti itu—tidak pernah ingin menjadi penyebab kebencian antara Pangeran dan orang lain.

Namun, dia tahu bahwa tidak ada gunanya menjawab. Membela diri hanya akan memberi mereka alasan untuk menyerangnya lebih keras. Yuki tetap diam, meski perasaannya terkoyak di dalam.

“Kau tidak akan mengatakan apa-apa, Yuki?” tanya salah satu putri, mendekatinya dengan senyum licik. “Atau mungkin, kau benar-benar takut Pangeran Sera akan membenci kita jika dia tahu siapa dirimu sebenarnya?”

“Pergilah” kata Yuki memohon. Dia tidak ingin terlibat masalah apapun.

Seorang Putri mendekat pada Yuki, berlagak tersandung dengan dramatis, dan dengan sengaja mendorong Yuki hingga tubuhnya terjerembab ke dalam kolam. Suara air yang terciprat memecah keheningan, dan udara dingin musim dingin langsung menusuk tubuh Yuki saat air kolam membasahi pakaiannya. Dia terkejut, mendapati dirinya terendam dalam air yang sangat dingin.

Putri-putri lain hanya berdiri di tepi kolam, menatap dengan senyum puas dan tertawa kecil di antara mereka. “Oh, maaf, Putri Yuki,” salah satu dari mereka berkata dengan nada pura-pura bersalah. “Aku tidak sengaja. Kau baik-baik saja?”

Yuki berusaha menenangkan diri, menggigil saat air dingin meresap ke tulang-tulangnya. Sakitnya bukan hanya dari dinginnya air, tetapi juga dari penghinaan yang baru saja dia terima. Dia ingin menangis, namun menolak menunjukkan kelemahannya di depan mereka.

Dengan susah payah, Yuki berusaha mengangkat tubuhnya dari kolam. Tangannya gemetar, kedinginan, tapi dia menolak meminta bantuan. Dia harus kuat, tidak peduli seberapa dinginnya air itu atau betapa kejamnya mereka.

“Apa yang terjadi ?”

Saat Pangeran Sera tiba di taman, suasana langsung berubah. Para putri yang tadi tertawa dengan penuh kepuasan mendadak terdiam, wajah mereka memucat saat mereka melihat sosok Pangeran Sera yang jelas tidak senang. Matanya menyapu pemandangan itu, berhenti pada Yuki yang basah kuyup, menggigil di tepi kolam.

“Yuki ?.” Kata Pangeran Sera terkejut. Dia langsung berbalik dan menatap para Putri dengan marah. “Ada apa ini?” suaranya rendah namun tegas, mencerminkan kemarahannya yang masih ditahan.

Para putri, yang tadi congkak, mulai merapatkan bibir, menghindari tatapan Sera yang penuh kemarahan. Salah satu dari mereka mencoba untuk berbicara, suaranya bergetar karena ketakutan, “Kami… kami hanya bercanda, Pangeran… tidak ada yang serius…”

Pangeran Sera melangkah mendekat ke Yuki, melewati para putri tanpa menanggapi mereka. Dia mengulurkan tangan, dengan lembut menarik Yuki dari kolam, dan memeluknya erat, memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri.

Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95 Water Ripple (Morning Dew Series 3)—End
96 1 Rain Pour—Morning Dew Series 4
97 2
98 3
99 4
100 5
101 6
102 7
103 8
104 9
105 10
106 11
107 12
108 13
109 14
110 15
111 16
112 17
113 18
114 19
115 20
116 21
117 22
118 23
119 24
120 25
121 26
122 27
123 28
124 29
125 30
126 31
127 32
128 33
129 34
130 35
131 36
132 37
133 38
134 39
135 40
136 41
137 42
138 43
139 44
140 45
141 46
142 47
143 48
144 49
145 50
146 51
147 52
148 53
149 54
150 55
151 56
152 57
153 58
154 59
155 60
156 61
157 62
158 63
159 64
160 65
161 66
162 67
163 68
164 69
165 70
166 71
167 72
168 73
169 74
170 75
171 76
172 77
173 78
174 79
175 80
176 81
177 82
178 83
179 84
180 85
181 86
182 87
183 88
184 89
185 90
186 91
187 92
188 93
189 94
190 95
191 96
192 97
193 98
194 99
195 100
196 101
197 102
198 103
199 104
200 105
201 106
202 107
203 108
204 109
205 110
206 111
207 112
208 113
209 114
210 115
211 116
212 117
213 118
214 119
215 120
216 121
217 122
218 123
219 124
220 125
221 126
222 127
223 128
224 139
225 140
226 141
227 142
228 143
229 144
230 145
231 146
232 147
233 148
234 149
235 150
236 151
237 152
238 153
239 154
240 155
241 156
242 157
243 158
244 159
245 160
246 161
247 162
248 163
249 164
250 165
251 166
252 167
253 168
254 169
255 170
256 171
257 172
258 173
259 174
260 175
261 176
262 177
263 178
264 179
265 180
266 181
267 182
268 183
269 184
270 185
271 186
272 187
273 188
274 189
275 190
276 191
277 192
278 193
279 194
280 195
281 196
282 197
283 198
284 199
285 200
286 201
Episodes

Updated 286 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95 Water Ripple (Morning Dew Series 3)—End
96
1 Rain Pour—Morning Dew Series 4
97
2
98
3
99
4
100
5
101
6
102
7
103
8
104
9
105
10
106
11
107
12
108
13
109
14
110
15
111
16
112
17
113
18
114
19
115
20
116
21
117
22
118
23
119
24
120
25
121
26
122
27
123
28
124
29
125
30
126
31
127
32
128
33
129
34
130
35
131
36
132
37
133
38
134
39
135
40
136
41
137
42
138
43
139
44
140
45
141
46
142
47
143
48
144
49
145
50
146
51
147
52
148
53
149
54
150
55
151
56
152
57
153
58
154
59
155
60
156
61
157
62
158
63
159
64
160
65
161
66
162
67
163
68
164
69
165
70
166
71
167
72
168
73
169
74
170
75
171
76
172
77
173
78
174
79
175
80
176
81
177
82
178
83
179
84
180
85
181
86
182
87
183
88
184
89
185
90
186
91
187
92
188
93
189
94
190
95
191
96
192
97
193
98
194
99
195
100
196
101
197
102
198
103
199
104
200
105
201
106
202
107
203
108
204
109
205
110
206
111
207
112
208
113
209
114
210
115
211
116
212
117
213
118
214
119
215
120
216
121
217
122
218
123
219
124
220
125
221
126
222
127
223
128
224
139
225
140
226
141
227
142
228
143
229
144
230
145
231
146
232
147
233
148
234
149
235
150
236
151
237
152
238
153
239
154
240
155
241
156
242
157
243
158
244
159
245
160
246
161
247
162
248
163
249
164
250
165
251
166
252
167
253
168
254
169
255
170
256
171
257
172
258
173
259
174
260
175
261
176
262
177
263
178
264
179
265
180
266
181
267
182
268
183
269
184
270
185
271
186
272
187
273
188
274
189
275
190
276
191
277
192
278
193
279
194
280
195
281
196
282
197
283
198
284
199
285
200
286
201

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!