20

Yuki menutup mulutnya kuat agar erangannya tidak terdengar. Tapi Pangeran Riana menarik tangan Yuki dan mencekalnya kuat di kedua sisi kepala Yuki. Dia menundukkan kepala. Memberi Yuki kecupan ringan di bibir Yuki.

Bibir mereka bersentuhan lagi dan lagi. Setiap ciuman ringan, memperlihatkan kekuasaannya.

Yuki terpaksa menatapnya, merasa tak berdaya dan dipermainkan. Tubuhnya bergetar di antara rasa sakit dan usaha keras untuk menahan suaranya, tetapi Pangeran Riana terus mendominasi, tidak memberinya ruang untuk melarikan diri atau mempertahankan diri.

Pangeran Riana tidak mengatakan apapun.

Yuki yang mati-matian menahan suaranya agar tidak didengar para prajurit diluar, menyadari beberapa saat kemudian. Pria didepannya ini hanya mengizinkan Yuki, menggunakan bibirnya untuk menutup mulut Yuki.

Akhirnya Yuki membuka mulutnya dengan pasrah. Pangeran Riana memanfaatkan momen itu, dan langsung menyambar dengan ciuman yang kuat dan penuh dominasi. Tidak ada kelembutan dalam tindakannya—ciuman itu kasar dan sarat dengan rasa kepemilikan. Bibirnya menekan bibir Yuki dengan kuat, memaksa dirinya masuk lebih dalam seolah ingin menunjukkan bahwa dia sepenuhnya mengendalikan Yuki. Dia tidak merasa jijik padahal Yuki baru saja menelan cairannya.

Yuki terpaksa menerima, merasa seolah tercekik dalam kekuatan ciuman Pangeran Riana. Hatinya terhimpit oleh rasa frustrasi, kemarahan, dan penghinaan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikannya. Perasaan gelap terus merayap dalam dirinya, menyadari bahwa setiap tindakan Pangeran Riana hanya bertujuan mempertegas bahwa dirinya adalah milik pria itu.

Dalam ciuman tersebut, Yuki bisa merasakan betapa kuatnya obsesi Pangeran Riana terhadap dirinya,

Gerakan Pangeran Riana semakin kencang. Yuki melingkarkan tangannya yang dilepas Pangeran Riana ke leher pria didepannya. Menahan bibirnya tetap disana. Jika tidak akan ada suara Mereka yang terdengar oleh para prajurit dan Yuki tidak menginginkan itu terjadi.

Ketika akhirnya Pangeran Riana menekan Yuki kuat. Mengeluarkan cairannya lagi ke dalam tubuh Yuki. Kedua kaki Yuki bergetar. Bersamaan dengan Yuki yang mencapai puncaknya.

...****************...

Sepanjang perjalanan menuju Garduete, Pangeran Riana memperlakukan Yuki seolah dia tidak punya pilihan lain. Setiap kali dia menginginkan Yuki, dia akan mencarinya tanpa memperhatikan waktu, tempat, atau kondisi. Yuki tidak bisa lari dari hasrat Pangeran Riana yang terus-menerus memaksakan kehendaknya, baik ketika Yuki menolak maupun saat dia terpaksa menerima keadaan. Obsesi Pangeran Riana begitu kuat hingga setiap kali dia merasa harus mengklaim Yuki, dia akan melakukannya tanpa belas kasihan.

Setibanya di Garduete, keadaan Yuki tidak membaik. Begitu mereka memasuki istana, Pangeran Riana langsung memerintahkan agar Yuki dikurung di kamarnya. Yuki tidak diizinkan melangkah keluar tanpa seizin Pangeran Riana. Setiap gerakannya diawasi, dan ruangan itu menjadi penjara baginya, tempat dia terisolasi dari dunia luar dan hidup sepenuhnya di bawah kendali pria yang mengaku memilikinya.

Dengan dinding yang dingin dan suasana yang suram, Yuki merasa semakin terasing. Dia tahu, takdir yang membawanya ke Garduete juga membelenggunya di bawah kendali Pangeran Riana, yang kini menahannya di kamar istananya, seolah mempertegas bahwa Yuki adalah miliknya, tidak hanya secara fisik tetapi juga dalam segala aspek hidupnya.

Dalam beberapa hari setelah dikurung di kamar Pangeran Riana, Yuki mulai mendengar banyak desas-desus dari para pelayan yang berbicara pelan di sekitar istana. Akhirnya, dia mengetahui identitas wanita yang sering datang mencari Pangeran Riana—Putri Marsha.

Putri Marsha, wanita yang dikenal sebagai kekasih pertama Pangeran Riana, adalah sosok penting dari masa lalu pangeran. Ketika Pangeran Riana berusia 18 tahun, Putri Marsha dikabarkan sebagai wanita pertama yang menghangatkan ranjangnya, dan hubungan mereka menjadi perbincangan di kalangan istana saat itu. Namun, Putri Marsha kemudian menikah dengan seorang raja dari negeri kecil.

Kini, setelah suaminya meninggal, Putri Marsha kembali ke Garduete. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa dia dan Pangeran Riana mulai kembali dekat, memicu spekulasi bahwa hubungan lama mereka mungkin hidup kembali.

Sementara itu, dia mulai mendengar kabar tentang ketegangan yang terus meningkat antara Rasyamsah dan Argueda. Pertempuran besar dikabarkan telah pecah di perbatasan, di mana pasukan Argueda berusaha menembus pertahanan Rasyamsah. Pangeran Sera, yang memimpin pasukan Argueda, berada di medan perang, berjuang keras untuk merebut kemenangan.

Berita ini membuat Yuki semakin khawatir. Dia tidak hanya cemas tentang nasib Pangeran Sera yang sedang berada dalam bahaya, tetapi juga merasa tak berdaya karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu atau bahkan mengetahui secara pasti bagaimana kondisi Pangeran Sera. Setiap kabar yang sampai ke telinganya hanya menambah rasa gelisahnya.

Pagi itu, Yuki terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Dia melirik Pangeran Riana yang masih tertidur di sampingnya, tubuhnya telanjang seperti malam sebelumnya. Perlahan, Yuki bangkit dari tempat tidur, meraih kemeja Pangeran Riana yang tergeletak di lantai, lalu memakainya untuk menutupi tubuhnya yang juga tidak berbalut pakaian.

Dia merasa punggungnya kaku, tubuhnya lelah. Perasaan terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya terus menghantuinya, terutama setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Pangeran Riana. Hati Yuki berdebar tidak nyaman saat memikirkan nasibnya, terperangkap di istana ini dengan Pangeran yang mengklaimnya tanpa ampun. Dia tahu dia harus berhati-hati, tetapi semakin sulit untuk menjaga ketenangannya.

Dengan napas pelan, Yuki melangkah menuju jendela, menatap ke luar istana, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, terutama tentang Pangeran Sera yang sedang berperang dan jauh dari sini.

Yuki merasa mual seketika. Dia berbalik dengan cepat dan menuju kamar mandi. Tubuhnya gemetar saat berusaha memuntahkan isi perutnya, namun hanya cairan kuning yang keluar, rasa asam yang menyiksa tenggorokannya. Yuki memegangi perutnya yang terasa tidak nyaman, menyadari asam lambungnya naik akibat tekanan dan stres yang terus menghantuinya.

Tidak ingin berlama-lama. Yuki segera mandi. Dia sengaja tidak menunggu Para pelayan datang atau sampai Pangeran Riana bangun dan menganggunya lagi.

Ketika Yuki akhirnya selesai memakai pakaian. Pintu terbuka dan Pangeran Riana masuk tanpa mengenakan apapun.

Yuki langsung memalingkan wajah.

“Aku akan keluar kalau Kau mau mandi” kata Yuki cepat.

Pangeran Riana mengabaikan Yuki yang berusaha memalingkan wajahnya. Dengan langkah tenang, dia berjalan mendekat tanpa menghiraukan ketidaknyamanan yang jelas terlihat di wajah Yuki.

“Kau tidak perlu pergi,” katanya dengan nada dingin namun penuh dominasi.

Yuki segera menyadari betapa sulitnya menghindari situasi ini. Namun, ia memutuskan untuk tetap menjaga jarak. “Aku sudah selesai, aku akan keluar,” ucapnya cepat, berusaha tegas, meskipun hatinya berdebar kencang.

Pangeran Riana hanya mengangkat alisnya, seolah menikmati ketegangan yang tercipta. Dia melangkah lebih dekat, menghampiri Yuki dengan tatapan tajam. “Siapa yang mengizinkanmu pergi?” suaranya rendah tapi penuh kontrol. “Kenapa kau masih saja tidak belajar dari kesalahanmu, Yuki?”

Tetesan air di leher Yuki dari rambutnya yang basah menarik perhatian Pangeran Riana.

Yuki menelan ludah, berusaha menjaga ketenangannya meskipun tubuhnya menegang. “Aku hanya ingin keluar,” jawabnya, suaranya hampir berbisik, tapi tetap mencoba menunjukkan keberanian.

Pangeran Riana menyipitkan matanya, tidak puas dengan jawaban itu. “Kau harusnya sudah tahu tempatmu,” dia mendekat lagi, membuat Yuki merasakan udara dingin di sekitarnya. “Kau tidak ke mana pun tanpa izinku.”

Yuki mendongak untuk memprotes tapi Pangeran Riana langsung merengkuh wajah Yuki dan mencium gadis itu kuat.

Yuki terkejut saat Pangeran Riana merengkuh wajahnya dan mencium bibirnya dengan penuh kekuatan. Kecupan itu mengunci semua protes yang ingin ia sampaikan. Yuki berjuang melawan rasa tertekan yang menyelimuti dadanya, berusaha untuk tidak terlarut dalam ciuman itu.

Pangeran Riana seolah tidak mengindahkan perlawanan Yuki, malah semakin mendekatkan tubuhnya, menciptakan jarak yang semakin menipis antara mereka. “Layani Aku” perintah Pangeran Riana sambil mengangkat tubuh Yuki ke atas wastafel.

Yuki merasakan air mata menggenang di sudut matanya, tetapi dia berusaha untuk tetap tegar.

Pangeran Riana mengangkat Yuki dan menempatkannya di wastafel, menciptakan situasi yang sangat intim di antara mereka. Yuki merasa terjepit di antara dinding dan keinginan Pangeran Riana yang tidak terpuaskan. Saat bibir mereka bertemu lagi, Pangeran Riana semakin mendalamkan ciumannya, seolah-olah berusaha membuktikan hak kepemilikannya atas Yuki.

“Jangan melawan,” bisik Pangeran Riana di antara kecupan. “Aku tidak akan berhenti sampai kau sepenuhnya menjadi milikku.”

Yuki bisa merasakan betapa mendesaknya keinginan Pangeran Riana, tetapi hatinya berontak. Dia ingin melawan, ingin melepaskan diri dari cengkeraman Pangeran Riana. Namun, di tengah-tengah semua ini, dia menyadari bahwa kekuatan Pangeran Riana mungkin jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan.

“Pangeran Riana, tolong,” Yuki mencoba berbicara, suaranya bergetar. “Aku… aku butuh waktu beristirahat.”

Pangeran Riana hanya menggelengkan kepalanya, senyumnya penuh dengan dominasi. “Waktu? Tidak, Yuki. Aku tidak akan memberimu waktu. Hanya ada kita berdua di sini, dan aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk dirimu, menghalangiku.”

Dengan ketegasan itu, Pangeran Riana kembali mencium Yuki, menyatukan mereka dalam ikatan yang sulit dipahami, menuntut lebih dari apa yang Yuki mampu berikan.

Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95 Water Ripple (Morning Dew Series 3)—End
96 1 Rain Pour—Morning Dew Series 4
97 2
98 3
99 4
100 5
101 6
102 7
103 8
104 9
105 10
106 11
107 12
108 13
109 14
110 15
111 16
112 17
113 18
114 19
115 20
116 21
117 22
118 23
119 24
120 25
121 26
122 27
123 28
124 29
125 30
126 31
127 32
128 33
129 34
130 35
131 36
132 37
133 38
134 39
135 40
136 41
137 42
138 43
139 44
140 45
141 46
142 47
143 48
144 49
145 50
146 51
147 52
148 53
149 54
150 55
151 56
152 57
153 58
154 59
155 60
156 61
157 62
158 63
159 64
160 65
161 66
162 67
163 68
164 69
165 70
166 71
167 72
168 73
169 74
170 75
171 76
172 77
173 78
174 79
175 80
176 81
177 82
178 83
179 84
180 85
181 86
182 87
183 88
184 89
185 90
186 91
187 92
188 93
189 94
190 95
191 96
192 97
193 98
194 99
195 100
196 101
197 102
198 103
199 104
200 105
201 106
202 107
203 108
204 109
205 110
206 111
207 112
208 113
209 114
210 115
211 116
212 117
213 118
214 119
215 120
216 121
217 122
218 123
219 124
220 125
221 126
222 127
223 128
224 139
225 140
226 141
227 142
228 143
229 144
230 145
231 146
232 147
233 148
234 149
235 150
236 151
237 152
238 153
239 154
240 155
241 156
242 157
243 158
244 159
245 160
246 161
247 162
248 163
249 164
250 165
251 166
252 167
253 168
254 169
255 170
256 171
257 172
258 173
259 174
260 175
261 176
262 177
263 178
264 179
265 180
266 181
267 182
268 183
269 184
270 185
271 186
272 187
273 188
274 189
275 190
276 191
277 192
278 193
279 194
280 195
281 196
282 197
283 198
284 199
285 200
286 201
Episodes

Updated 286 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95 Water Ripple (Morning Dew Series 3)—End
96
1 Rain Pour—Morning Dew Series 4
97
2
98
3
99
4
100
5
101
6
102
7
103
8
104
9
105
10
106
11
107
12
108
13
109
14
110
15
111
16
112
17
113
18
114
19
115
20
116
21
117
22
118
23
119
24
120
25
121
26
122
27
123
28
124
29
125
30
126
31
127
32
128
33
129
34
130
35
131
36
132
37
133
38
134
39
135
40
136
41
137
42
138
43
139
44
140
45
141
46
142
47
143
48
144
49
145
50
146
51
147
52
148
53
149
54
150
55
151
56
152
57
153
58
154
59
155
60
156
61
157
62
158
63
159
64
160
65
161
66
162
67
163
68
164
69
165
70
166
71
167
72
168
73
169
74
170
75
171
76
172
77
173
78
174
79
175
80
176
81
177
82
178
83
179
84
180
85
181
86
182
87
183
88
184
89
185
90
186
91
187
92
188
93
189
94
190
95
191
96
192
97
193
98
194
99
195
100
196
101
197
102
198
103
199
104
200
105
201
106
202
107
203
108
204
109
205
110
206
111
207
112
208
113
209
114
210
115
211
116
212
117
213
118
214
119
215
120
216
121
217
122
218
123
219
124
220
125
221
126
222
127
223
128
224
139
225
140
226
141
227
142
228
143
229
144
230
145
231
146
232
147
233
148
234
149
235
150
236
151
237
152
238
153
239
154
240
155
241
156
242
157
243
158
244
159
245
160
246
161
247
162
248
163
249
164
250
165
251
166
252
167
253
168
254
169
255
170
256
171
257
172
258
173
259
174
260
175
261
176
262
177
263
178
264
179
265
180
266
181
267
182
268
183
269
184
270
185
271
186
272
187
273
188
274
189
275
190
276
191
277
192
278
193
279
194
280
195
281
196
282
197
283
198
284
199
285
200
286
201

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!