Saat Yuki sedang bersusah payah menarik tas ransel ke dalam kamar penghubung, Phil tiba-tiba muncul di pintu. Ia melihat Yuki berjuang dengan ransel besar itu, wajahnya merah karena usaha keras yang dikeluarkan.
Phil Tersenyum sambil melipat tangan di dada, menyaksikan Yuki berusaha.
“Perlu bantuan, Swetty ? Ransel itu sepertinya lebih berat dari yang kau perkirakan.”
Yuki tersenyak kaget, lalu menghela napas lega ketika melihat Phil.
“Phil! Untunglah Kau datang, Aku tidak bisa membiarkan Bibi Sheira membantu karena—” Menoleh ke arah Bibi yang berdiri tidak jauh, tersenyum lembut. “Bibi sedang hamil muda. Aku tidak mau mengambil risiko.”
Bibi Sheira tertawa kecil, meski ada sedikit kekhawatiran di wajahnya. “Aku baik-baik saja, Yuki. Tapi ya, mungkin kau benar. Aku seharusnya tidak memaksakan diri.”
Phil berlari mendekat dan mengambil tas ransel dari tangan Yuki dengan mudah.
“Sudahlah, biarkan aku yang mengurus ini. Swetty,aku tidak keberatan menjadi pahlawan di saat-saat seperti ini.”
Yuki menatap Phil dengan terima kasih, sedikit tersenyum. “Terima kasih, Phil. Kau selalu menjadi andalanku.” Yuki menghela napas, merasa sedikit lebih tenang. Phil mengangkat tas ransel dengan mudah dan mengarahkan Yuki ke pintu penghubung.
Suasana di ruang itu terasa hening, seolah waktu melambat. Phil berdiri di samping Yuki, menatap Yuki dengan cemas namun penuh pengertian.
Phil suaranya lembut, penuh perhatian. “Apa kau yakin akan keputusan ini, sweetheart?”
Yuki menoleh ke arah Phil, menatap dalam-dalam matanya. Di sana, dia melihat kekhawatiran yang tersembunyi di balik ketenangan pria itu. Phil selalu ada untuknya, selalu siap mendukungnya. Tapi dia tahu betul bahwa keputusan yang diambilnya sekarang tidak hanya memengaruhi dirinya sendiri.
Yuki menghela napas panjang, mengusap rambutnya dengan jari-jari gemetar. “Aku tidak punya pilihan lain, Phil. Sesuatu yang buruk sedang terjadi di sana, aku merasakannya. Aku tidak bisa diam saja.”
Phil mendekat, menatap Yuki dengan serius. “Aku mengerti perasaanmu. Tapi… setelah semua yang kau lalui di sini, di dunia ini, kau bisa tetap tinggal. Kita bisa menemukan cara lain, mungkin tanpa melibatkanmu terlalu dalam.”
Yuki tersenyum tipis, meskipun matanya penuh rasa bersalah. “Jika ada cara lain, aku pasti sudah mengambilnya. Tapi Kita semua tahu, ini hanya soal waktu saja. Aku tetap harus kembali. Lagipula, Orang itu tidak akan membiarkanku terlalu lama disini”
“Aku hanya… tidak ingin kehilanganmu lagi, Yuki. Kau tahu, kita semua di sini… Sheira, aku… Kami hanya ingin kau aman.”
“Dan itulah sebabnya aku harus melakukan ini. Agar kalian semua tetap aman. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku berjanji.”
Phil tidak menjawab, hanya menggenggam tangan Yuki lebih erat, seolah tak ingin melepaskannya. Mereka berdua berdiri di sana dalam diam, merasakan beratnya keputusan yang harus diambil. Namun, Yuki tahu, meski sulit, dia harus melangkah.
Yuki berdiri tegap, siap untuk melangkah ke dunia yang sudah menantinya. Di bawah kakinya, tas ransel besar yang dibekali oleh Bibi Sheira dan tas sekolahnya tampak mengelembung, penuh dengan barang-barang yang ia butuhkan. Meski berat, Yuki merasa tekadnya jauh lebih kuat daripada beban fisik yang harus ia pikul.
Dia tersenyum, meski hati kecilnya bergejolak. Dengan tegas, Yuki menganggukkan kepalanya kepada Phil, sebuah isyarat yang meyakinkan bahwa keputusannya sudah bulat.
Ketiganya terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikiran yang sama—bahwa perpisahan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Phil berdiri di samping, matanya menyiratkan campuran antara kekhawatiran dan penerimaan. Bibi Sheira, di sisi lain, tidak mampu menyembunyikan perasaannya. Matanya memerah, penuh air mata yang belum tumpah, jelas berusaha menahan tangis.
Melihat wajah Bibi Sheira yang dipenuhi kesedihan, hati Yuki mencelos. Sesaat, keinginan untuk membatalkan semuanya muncul dalam benaknya. Bagaimana mungkin ia meninggalkan orang-orang yang begitu mencintainya? Tapi bayangan Putri Magitha dan Ratu Isodele segera menghantam pikirannya. Mereka, dan seluruh kerajaannya, membutuhkan Yuki. Tanggung jawabnya tidak bisa diabaikan.
Yuki menggenggam erat tali ranselnya, menarik napas dalam-dalam, dan berkata dengan suara pelan namun tegas.
Yuki berbicara kepada Bibi Sheira, suaranya sedikit bergetar.
“Jaga dirimu baik-baik Bibi, aku harus kembali ke sana.”
Phil menatap Yuki dengan serius, matanya penuh perhatian. “Kau pasti tahu setelah membuka pintu itu dan kembali ke sana, Kau tidak akan lagi bisa kembali ke dunia ini.” Suaranya penuh dengan kekhawatiran dan sedikit rasa takut, memastikan bahwa Yuki benar-benar paham betapa final keputusan ini.
Yuki menelan ludah, menganggukkan kepala dengan mantap, meskipun dadanya terasa sesak. Dia tahu, keputusan ini tak bisa ditarik kembali.
Phil menarik napas panjang, lalu mengangguk, menerima keputusan yang diambil Yuki. “Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi Kau harus menjaga dirimu baik-baik di sana, sweetheart. Ingat, kami selalu mencintaimu, apapun yang terjadi.”
Tanpa bisa menahan perasaannya lagi, Yuki menghambur ke pelukan Phil, merasakan kehangatan yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Phil, sosok lembut dan penyayang, selalu ada untuknya, menggantikan peran seorang ayah dalam hidupnya. Setelah beberapa detik, Yuki juga merengkuh Bibi Sheira yang menahan air mata di sudut matanya.
“Aku menyayangi kalian,” bisik Yuki dengan suara yang bergetar. Kesedihan menyelimutinya, tapi dia tahu inilah saatnya untuk berpisah.
Bibi Sheira mengelus punggung Yuki dengan lembut, menenangkan. “Kami juga menyayangimu, Yuki. Selalu.”
Berat sekali rasanya bagi Yuki untuk meninggalkan keluarga yang selama ini menjadi tempatnya bersandar, memberikan kehangatan dan kasih sayang yang membuatnya tumbuh dan berkembang hingga menjadi seperti sekarang. Setiap pelukan dari Phil, nasihat bijak dari Bibi Sheira, bahkan perhatian-perhatian kecil yang tak pernah lepas dari mereka, semua itu adalah bagian dari hidup Yuki yang membuatnya merasa dicintai.
Namun, keputusan ini bukanlah hal yang bisa dihindari. Mengikuti takdirnya berarti harus membayar dengan harga yang sangat mahal—tidak pernah bisa bertemu mereka lagi, seumur hidupnya. Pikiran itu menghantam Yuki seperti badai. Setiap kenangan yang pernah mereka bagi terasa semakin berarti saat detik-detik perpisahan semakin dekat.
Dia tahu, ini bukan sekadar berpisah untuk sementara waktu. Pintu yang akan dia lewati tidak menawarkan jalan kembali. Dan itu, lebih dari apa pun, membuat hatinya terasa perih. Tapi di sisi lain, Yuki tahu ada banyak nyawa yang bergantung padanya di dunia asalnya—Putri Magitha, Ratu Isodele, dan kerajaannya. Takdir telah memanggilnya, dan dia tak bisa berpaling lagi. Meskipun disana, bahaya selalu mengancam Yuki dan nyaris membunuh Yuki berkali-kali.
Pintu penghubung itu tampak seperti gumpalan asap putih yang berputar, membentuk blackhole di hadapan Yuki. Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak, dan ia harus menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Perlahan, Yuki berbalik, menatap Bibi Sheira dan Phil untuk terakhir kalinya. Tangis Bibi Sheira yang tertahan membuat hati Yuki semakin berat, tetapi Phil ada di sana, menenangkan istrinya, seperti pilar yang kokoh.
Mata Yuki dan Phil bertemu dalam keheningan yang sarat makna. Tanpa kata, Phil mengangguk, memberinya izin dan rasa ikhlas yang mendalam. Pandangannya berkata, “Jangan ragu.” Seperti seorang ayah yang melepaskan putri kesayangannya di hari pernikahan yang penuh harapan, ia menunjukkan dukungannya yang tulus.
Yuki tersenyum kecil, meskipun matanya masih berat oleh air mata yang nyaris tumpah. Ia mengangkat tas sekolahnya, memasangnya di punggung, dan membungkuk untuk menarik tas ransel yang berat. Dengan setiap langkah yang ia ambil menuju pintu penghubung, hatinya terasa semakin berdebar. Saat Yuki perlahan memasuki pintu yang berputar itu, dia menahan napas, menyadari bahwa dengan setiap langkah, dia semakin jauh dari dunia yang ia kenal—dan semakin dekat dengan takdir yang tak terelakkan.
Begitu menembus pintu penghubung, Yuki langsung merasakan serangan pusing dan mual yang tak tertahankan. Rasanya seperti tubuhnya terhisap ke dalam pusaran yang tak berujung, seakan ia jatuh ke dalam timbunan jelly yang padat dan lengket. Setiap gerakan membuat perutnya teraduk hebat, seperti diputar dengan cepat tanpa henti.
Yuki mencoba bertahan, menekan rasa sakit yang menjalar, namun tubuhnya terasa semakin berat. Matanya mulai berkunang-kunang, dunia di sekitarnya memudar dalam kabut yang tak bisa ia tembus. Suara-suara samar, seperti bisikan angin, berputar di sekitarnya, membuat kesadarannya semakin terkikis.
Semua terasa semakin jauh, hingga akhirnya, tanpa bisa menahan lagi, Yuki terlempar ke dalam kegelapan. Kesadarannya perlahan menghilang, tenggelam dalam keheningan yang mencekam.
...****************...
Hawa dingin menyesap di seluruh tubuh Yuki saat ia membuka matanya. Ia terbaring di atas mamer, tatapannya kosong saat melihat langit-langit kuil yang akrab. Kenangan datang kembali, membawa rasa sakit dan kebingungan. Dengan pelan, ia mencoba bangkit, tetapi rasa lemas di tubuhnya membuatnya terpaksa terdiam.
Di sampingnya, tasnya berserakan. Salju menumpuk di luar jendela, menciptakan panorama dingin yang kontras dengan kekacauan dalam hatinya. Untungnya, Bibi Sheira telah mengingatkan Yuki untuk mengenakan pakaian musim dingin. Dia mengenakan mantel hangat, meski saat ini rasanya tidak cukup untuk menghangatkan jiwa yang kedinginan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 286 Episodes
Comments
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
alurnya keren ka, aku nyicil selalu ka😁✌️
2024-12-10
0
Ef
Thor, babnya knp terasa pendek. Aku baca sampai sini dlu ya, entar aku lanjutin. Semangat💪🏻💪🏻
2024-10-30
0