Pangeran Sera melangkah perlahan mendekati Yuki yang masih bersembunyi di balik pilar, tubuhnya tampak kecil dan rapuh di hadapannya. Dengan lembut, dia mengulurkan tangan dan mengusap pipi Yuki, sentuhannya penuh perhatian.
“Aku sudah selesai rapat,” kata Pangeran Sera, suaranya rendah dan menenangkan. “Ayo kita ke kamar. Angin hari ini tidak bagus untukmu.”
Yuki terkejut sesaat, namun kehangatan di tangan Pangeran Sera membuatnya merasa lebih tenang. Dia mengangguk perlahan, membiarkan dirinya dibimbing oleh Pangeran Sera yang masih memegang pipinya dengan lembut. Rasa aman yang ia rasakan dalam kehadirannya mulai menghapus keraguan yang menghantuinya. Meski banyak pertanyaan yang belum terjawab, untuk saat ini, Yuki hanya ingin bersandar pada kenyamanan yang ditawarkan Pangeran Sera.
Pangeran Sera menggenggam tangan Yuki dengan lembut namun penuh kehangatan, seolah ingin memastikan gadis itu merasa aman di sisinya. Dengan langkah yang tenang, dia membawanya melewati lorong-lorong istana. Meskipun ada para pejabat dan tetua kerajaan yang masih berkumpul di sekitar istana, Pangeran Sera tidak sedikit pun melepaskan genggamannya.
Tatapan mereka mengikuti kepergian Pangeran Sera dan Yuki, tetapi Pangeran Sera tetap tak terganggu, menunjukkan bahwa kehadiran Yuki di sampingnya adalah sesuatu yang ia lindungi dengan sepenuh hati. Mereka berdua melangkah menuju kamar tanpa terburu-buru, Yuki merasa nyaman dalam diam, seolah rasa tenang yang dibawa Pangeran Sera menjalar melalui genggaman tangannya.
Setibanya di kamar, Pangeran Sera membukakan pintu dan membawa Yuki masuk dengan hati-hati.
Pangeran Sera mendudukkan Yuki dengan lembut di sofa ruang kerjanya, memastikan bahwa dia merasa nyaman. Cahaya lembut dari jendela menerangi ruangan, menciptakan suasana tenang di tengah segala ketegangan. Yuki, yang masih merasa sedikit lemah, mengangkat tangannya perlahan, meraba wajah Pangeran Sera. Sentuhan tangannya menemukan rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di sekitar dagu dan pipinya.
“Rambutmu…” bisik Yuki, matanya menatap wajah Pangeran Sera dengan penuh perhatian.
Pangeran Sera tersenyum tipis, membiarkan Yuki mengeksplorasi wajahnya. “Sepertinya aku terlalu sibuk untuk memperhatikan hal-hal kecil,” katanya dengan nada ringan, meski lelah tampak di matanya. “Tapi aku akan selalu punya waktu untukmu.”
Yuki tersenyum lemah, merasakan kehangatan yang ditawarkan oleh Pangeran Sera. Meskipun ada banyak hal yang tidak dia pahami, saat ini, bersama Pangeran Sera, Yuki merasa sedikit lebih tenang.
Pangeran Sera memandang Yuki dengan lembut, meski ada ketegasan di balik pertanyaannya. “Yuki, aku tahu kau tidak menyukainya, tapi apakah kau belum bisa memberitahuku? Apa yang sebenarnya terjadi sampai Arden menemukanmu sendirian di dalam hutan?”
Yuki menunduk, kebingungan. “Pangeran, aku…” Yuki mencoba mencari kata-kata yang tepat, namun pikirannya kacau.
Dia tahu Pangeran Sera tidak suka mendengar tentang Pangeran Riana, terutama setelah semua yang dilakukan Riana padanya. Rasa sakit itu masih segar, dan Yuki tahu jika dia membuka mulut tentang hal itu, Pangeran Sera mungkin akan marah atau terluka.
Saat Yuki hendak melanjutkan, Pangeran Sera tiba-tiba mendekat dan mengecup bibirnya, ciuman panjang yang membuat Yuki terhenti.
Saat dia menarik diri, Pangeran Sera berbisik lembut, “Aku tahu…” Sentuhannya di pipi Yuki menenangkan, namun ada kedalaman emosi yang tak terucapkan. “Jangan diucapkan kalau itu menyakitimu.”
Pangeran Sera menghentikan Yuki berbicara. Dia tahu Yuki berada di dalam hutan karena Pangeran Riana. Dan Dia mencegah Yuki menceritakannya.
Kenapa hatinya begitu baik ?.
Yuki menatap Pangeran Sera, matanya penuh kebingungan dan keputusasaan. Namun, dia merasa aman dalam dekapan Pangeran Sera, terutama dengan kata-kata lembutnya yang menenangkan. “Yang terpenting sekarang, kau sudah kembali di sini bersamaku lagi,” lanjut Pangeran Sera sambil menempelkan dahi pada Yuki.
Terdengar suara Gulf dari Panglima Arden. Pangeran Sera bangkit dan langsung berjalan ke seberang ruangan, tapi dari tempatnya Yuki masih menangkap sedikit pembicaraan Mereka mengenai Putri Magitha dan Ratu Isodele.
Yuki mendengar percakapan yang tertangkap samar-samar di antara Pangeran Sera dan Panglima Arden. Nama Putri Magitha dan Ratu Isodele terdengar jelas, membuat Yuki semakin penasaran. Pangeran Sera terdengar tegas, memerintahkan agar pencarian diperluas untuk menemukan keduanya. Suara itu menunjukkan urgensi dan kekhawatiran yang mendalam.
Setelah percakapan itu selesai, Yuki tahu ini adalah saat yang tepat. Dia merasa tidak bisa lagi diam, terutama setelah mimpinya yang datang dengan gambaran yang jelas tentang Putri Magitha dan Ratu Isodele. Setiap kali mengingat mimpi itu, ada perasaan kuat bahwa mereka dalam bahaya, dan Yuki tahu dia harus mengatakan sesuatu.
Dia bangkit dari tempat duduknya, mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Pangeran Sera. Meskipun ada kekhawatiran bahwa dia mungkin tidak akan mempercayainya, Yuki tidak bisa membiarkan rasa takut itu menghentikannya. Setiap detik terasa sangat berharga bagi keselamatan Putri Magitha dan Ratu Isodele.
“Pangeran Sera,” panggil Yuki dengan suara yang sedikit gemetar namun tegas. Saat Sera menoleh, ekspresi wajahnya berubah menjadi perhatian penuh.
Pangeran Sera menutup Gulfnya dengan gerakan yang halus namun tegas, lalu memasukkannya ke dalam saku. Sikapnya jelas menunjukkan kehati-hatian, seolah berusaha melindungi sesuatu dari Yuki. Menghindarkan Yuki dari semua alat komunikasi, khawatir Yuki akan berubah pikiran dan menghubungi Riana. Tatapan Pangeran Sera tajam dan penuh perhatian saat Yuki berbicara.
Yuki menatap Sera dengan tegas, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. “Aku tidak melihat Putri Magitha di istana ini” katanya, suaranya terdengar bergetar. “Katakan sejujurnya, kemana dia? Ada sesuatu yang salah, bukan?”
Pangeran Sera terdiam sejenak, menatap Yuki dengan sorot mata yang sulit dibaca. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang apa yang akan diucapkannya. Ekspresi wajahnya berubah serius, namun tetap lembut saat menatap Yuki.
“Yuki,” ucap Pangeran Sera akhirnya, suaranya terdengar lebih pelan. “Ini bukan sesuatu yang mudah dibicarakan, bahkan kepadamu. Putri Magitha… dia menghilang.”
Yuki merasakan detak jantungnya semakin cepat mendengar jawaban itu. Ketidakpastian yang selama ini menghantuinya semakin terasa. “Aku tahu.”
Pangeran Sera menatap Yuki yang membalas tatapannya. “Aku tahu dimana Mereka dan Pangeran…Alasanku kembali ke dunia ini adalah karena Mereka”
Pangeran Sera terdiam sejenak, memandang Yuki dengan mata yang penuh rasa ingin tahu dan kewaspadaan. Kalimat Yuki begitu langsung, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Namun, di balik ketegasannya, Pangeran Sera bisa merasakan ketidakpastian yang terselip.
“Apa maksudmu, Yuki?” tanyanya pelan, suaranya dipenuhi dengan keheranan yang tak bisa disembunyikan. “Kau tahu di mana Putri Magitha dan Ratu Isodele? Dan alasanmu datang ke dunia ini… adalah karena mereka?”
Yuki mengangguk, meski hatinya berdegup lebih cepat. “Aku tahu ini sulit dipercaya. Mungkin terdengar seperti omong kosong, tapi… bisakah Pangeran mendengarkanku sebentar”
Pangeran Sera memandangi Yuki dalam diam, lalu perlahan menarik napas. “Ya Yuki, Mari Kita bicara.”
Pangeran Sera kembali duduk di sofa. Yuki duduk didekatnya dan keduanya berhadap-hadapan dalam jarak cukup dekat.
“Pangeran sebelumnya Aku harus memberitahumu. Aku memiliki rahasia yang lebih baik tidak banyak orang mengetahuinya. Alasan kenapa Iblis balgira waktu itu mencoba membunuhku dan mengincar darahku. Aku harap Pangeran bisa menyimpan rahasia ini” Tapi Yuki tahu, tanpa Yuki memintanya. Pangeran Sera pasti akan menyimpannya demi keselamatan Yuki.
“Aku…Aku adalah ciel”
Pangeran Sera terpaku, keningnya berkerut dalam ketidakpastian setelah mendengar pernyataan Yuki. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Yuki. “Ciel?” katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan, penuh keraguan dan kebingungan.
Yuki mengangguk, matanya serius, tapi ada beban yang jelas di balik kata-katanya. “Ya, aku adalah Ciel. Itu alasan sebenarnya mengapa Iblis Balgira mencoba membunuhku. Dia tahu siapa aku sebenarnya, dan dia mengincar darahku untuk memulihkan kekuatannya…”
Pangeran Sera mengerutkan alis, mencoba memahami semuanya. “Ciel… salah satu dari manusia istimewa yang diberkati dewa ? Dia memiliki kemampuan spesial yang tidak dimiliki satu dan lainnya?. Seorang manusia yang doa-doanya bisa didengar dewa”Suaranya menjadi lebih serius, mencerminkan kekhawatiran mendalam yang kini menghantui pikirannya.
Yuki mengangguk sekali lagi, matanya menatap Pangeran Sera dengan penuh kejujuran dan harapan agar dia bisa memahami apa yang dia hadapi. “Iya, Pangeran. Itu sebabnya Balgira ingin membunuhku. Dan itulah alasan mengapa aku diincar. Aku bukan sekadar manusia biasa. Aku terpaksa merahasiakannya karena Identitasku sebagai Ciel membawa risiko yang besar, tidak hanya bagiku, tapi juga bagi orang-orang di sekitarku.”
Pangeran Sera menatap Yuki dalam-dalam, lalu dengan tegas menggenggam kedua tangan Yuki. “Yuki… aku akan menyimpan rahasia ini. Terimakasih Yuki, Kau sudah membagi rahasiamu denganku. Sekarang setelah Aku mengetahuinya, Aku jadi lebih tahu harus menjagamu lebih baik dari sebelumnya.”
Yuki tersenyum kecil, meskipun ada kesedihan didalam matanya. “Pangeran apa pangeran tidak berpikir, cinta pangeran seperti ini hanya karena Aku adalah ciel ?” Tanya Yuki tertahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 286 Episodes
Comments