6

Yuki berusaha bangkit, rasa dingin menyengat merayap di kulitnya. Ia merasakan kelemahan di seluruh tubuh, tetapi ia tahu ia harus bergerak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih botol air minum yang tergeletak di sampingnya. Ia membuka tutupnya dan meneguk air, merasakan kesegaran yang sedikit menghidupkan semangatnya.

Setelah meminum air, ia merenung sejenak, menatap dinding kuil yang dingin. Menatap sekeliling ruangan, mencari tahu apa yang bisa membantunya. Dengan tenang, Yuki mulai merapikan dirinya, memastikan mantel hangatnya masih terpasang. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang, berfokus pada kebutuhannya untuk tetap waspada.

Saat ia melihat tasnya berserakan di sudut, keinginan untuk mengambilnya muncul. Namun, ia mengabaikannya. Yuki akan mengambilnya nanti. Ia perlu keluar dari sini.

Dengan hati-hati, Yuki melangkah menuju pintu kuil.

Yuki menatap sekeliling dengan kebingungan yang masih tersisa di pikirannya. Kepalanya berdenyut, dan dalam hati, ia bertanya-tanya berapa lama ia telah pingsan. Rasa waktu seakan hilang, dan dunia di sekitarnya terasa asing. Saat ia mendorong pintu terbuka, udara dingin musim dingin langsung menyambutnya. Warna putih menyebar di hadapannya—salju tebal menutupi setiap sudut tanah di Garduete. Musim dingin telah tiba dengan penuh kekuatan.

Angin dingin menggigit kulitnya, dan Yuki refleks memegang kepalanya yang terasa sakit. Pusing yang ia rasakan semakin menyulitkan langkahnya, tapi ia tahu ia harus terus berjalan, meninggalkan kuil ini dan mencari bantuan.

Yuki berbisik pada diri sendiri, dengan lelah “Tak ada gunanya tinggal di sini… Aku harus menemukan seseorang… Harus keluar dari tempat ini.”

Ia melangkah ke luar, kakinya menjejak salju yang dingin, namun ia dihantam oleh aroma yang begitu familier. Aroma yang sudah lama ia lupakan, aroma yang dulu sangat tidak disukainya. Bau yang dulu menyertainya ketika pertama kali tiba di dunia ini—sebuah aroma dunia yang asing, keras, dan penuh ancaman.

Yuki berhenti sejenak, tubuhnya menegang saat ingatan tentang bangsawan Dalto menyeruak dalam benaknya. Kematian Dalto adalah titik balik dalam kehidupannya di dunia ini, dan aroma yang sekarang memenuhi udara seolah mengembalikannya pada saat-saat itu.

Angin musim dingin terus berhembus, tetapi kali ini, udara yang dingin tidak lagi membuat Yuki menderita seperti dulu. Dahulu, setiap helaan napas yang dipenuhi hawa beku terasa seperti menyayat luka lama yang tak kunjung sembuh, tetapi sekarang rasanya berbeda. Meski dingin tetap menusuk, Yuki menyadari satu hal—lukanya telah sembuh. Atau, setidaknya itulah yang ia pikirkan.

Ia berhenti berjalan dan mengangkat wajahnya sedikit, membiarkan angin dingin menyapu wajahnya. Sebuah perasaan hampa namun tenang menyelimuti dirinya. Namun, di balik ketenangan itu, ada satu bayangan yang masih bersemayam di hatinya. Sesosok pria yang pernah memberikan banyak arti di dunia ini: Bangsawan Dalto.

Ia menghela napas panjang, perlahan menahan rasa sakit yang muncul saat mengingat Bangsawan Dalto. Dulu, ketika musim dingin membawa kabar kematian bangsawan itu, Yuki merasa dunianya runtuh. Namun, waktu berlalu, dan meski luka itu tidak sepenuhnya hilang, seseorang telah membantu menenangkannya.

Pangeran Sera-lah yang membalut luka itu. Dia yang memulihkan Yuki sedikit demi sedikit. Bukan dengan janji atau kata-kata, tapi dengan kehadirannya, dengan caranya yang diam-diam melindungi Yuki.

Yuki menggenggam mantelnya lebih erat, rasa hangat dari ingatan tentang Pangeran Sera perlahan mengisi ruang hatinya yang dingin. Pangeran Sera, yang selalu ada di sisinya, menjadi seseorang yang bisa ia andalkan di tengah semua kekacauan.

Dengan perasaan yang lebih kuat, Yuki kembali melangkah. Meskipun musim dingin membawa kenangan yang menyakitkan, ia tahu bahwa ia tidak lagi terperangkap dalam masa lalu. Bangsawan Dalto mungkin sudah pergi, tapi di tengah rasa kehilangan, Pangeran Sera telah memberikan Yuki kekuatan untuk melanjutkan hidup.

Setiap jejak kakinya di atas salju nyaris tak bersuara, seolah dunia mengizinkannya untuk bergerak tanpa menarik perhatian. Kuil di mana ia terbangun tadi terletak di sebelah timur istana Pangeran Riana, dan Yuki masih mengingat jelas jalan pintas yang pernah ia lalui sebelumnya.

Udara musim dingin membuat suasana semakin sunyi. Pepohonan yang memayungi jalan setapak dipenuhi salju, menggantung rendah di atas kepala Yuki seolah menjaga rahasia kehadirannya. Setiap sudut jalanan ini terasa begitu akrab baginya.

Ia berjalan dengan tenang, setiap langkahnya penuh keyakinan. Jalan pintas ini akan membawanya ke taman tengah, dan dari sana ia bisa langsung mencapai kamarnya. Meski dingin menusuk, Yuki merasa lebih nyaman dengan pemikirannya sendiri. Sesuatu tentang tempat ini selalu membuatnya merasa… terperangkap.

“Pangeran Riana… apa yang akan dia katakan ketika aku tiba?” Bayangan tentang Pangeran Riana dan tatapan posesifnya muncul di benaknya, membuat dada Yuki terasa berat.

Yuki tiba di taman tengah, tempat di mana semuanya tampak tenang dan damai, kontras dengan gejolak yang dirasakannya. Salju yang tebal menutupi setiap jalan setapak, seakan menyembunyikan jejak-jejak orang yang pernah melewati tempat ini.

Suasana sunyi menyelimuti istana, tidak ada tanda-tanda kehidupan selain bayangan pangeran itu sendiri. Yuki tahu betul, Pangeran Riana tidak mengizinkan sembarang orang tinggal di dalam istananya. Sebuah tempat yang sunyi, tertutup, namun mengandung kekuasaan yang tak terlihat.

Meski keheningan meresapi udara, memikirkan pertemuan dengan Pangeran Riana membuat hati Yuki sedikit melompat senang. Ada rasa yang sulit dijelaskan—kehangatan yang bercampur dengan ketakutan dan harapan.

Namun, saat ia berbelok di jalan kecil yang ada di taman, sosok Pangeran Riana tertangkap oleh pandangannya. Duduk bersandar dengan tenang di sebuah gazebo yang berada di atas kolam ikan, pangeran itu memandang lurus ke depan, segelas anggur merah di tangannya. Ketenangan yang memancar dari posturnya selalu mampu mempengaruhi Yuki.

Yuki hendak memanggilnya, namun tiba-tiba ia terhenti. Ada seseorang bersama Pangeran Riana. Seorang wanita.

Wanita itu jauh lebih dewasa dibanding Yuki. Tubuhnya ramping dan anggun, dengan wajah cantik yang menunjukkan darah bangsawan. Mereka tampak berbicara serius, tetapi keintiman di antara mereka terasa sangat jelas. Hati Yuki mulai berdebar, perasaannya berkecamuk.

Yuki mengamati bagaimana wanita itu dengan lembut mengusap rambut Pangeran Riana, menyentuhnya dengan kasih sayang yang begitu nyata. Tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata wanita itu membuat tubuh Yuki membeku di tempat. Mereka tidak terlihat seperti orang asing. Tidak, mereka seperti… sepasang kekasih.

Pangeran Riana tidak menolak. Ia diam saja, menerima setiap sentuhan wanita itu. Saat Yuki hendak memanggil namanya, suaranya tersangkut di tenggorokan ketika ia melihat wanita tersebut mengalungkan tangannya di leher Riana dengan manja, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir sang pangeran. Ciuman yang begitu lembut, namun terasa begitu… biasa, seolah ini adalah hal wajar di antara mereka.

Pikiran Yuki kacau. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berkata apa-apa. Pemandangan itu membuatnya terpaku di tempat, hanya bisa menyaksikan hubungan yang begitu intim antara Pangeran Riana dan wanita bangsawan itu. Hatinya terasa hancur, tetapi tubuhnya tak mau bereaksi. Ia hanya bisa menatap dalam kebisuan.

Seolah waktu berhenti.

Setiap detak jantungnya terasa seperti sebuah pukulan yang mengguncang perasaannya, dan dia tidak dapat memalingkan pandangan dari apa yang sedang terjadi. Namun, keheningan itu tiba-tiba terpecahkan oleh suara Ibu Jaena.

Ibu Jaena, pelayan kepercayaan Ibu Suri, muncul dengan tergopoh-gopoh, wajahnya penuh kekhawatiran saat melihat Yuki berdiri di sana. Tanpa mempedulikan rasa sakit di lututnya, ia memanggil dengan suara keras, berharap bisa menarik perhatian Pangeran Riana.

“Putri Yuki! Anda sudah kembali!”

Suara Ibu Jaena menggema di taman yang sunyi, menciptakan momen ketegangan yang tak terduga. Yuki merasakan jantungnya berdegup kencang dan ketidaknyamanan membanjiri dirinya. Dia merasa seperti ditangkap basah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Ibu Jaena terus melangkah mendekati Yuki, wajahnya bersinar dengan kebahagiaan. Dia mengabaikan kekacauan di sekeliling mereka, penuh percaya diri saat berbicara.

“Aku sudah menduga ini benar, Putri! Senang sekali bertemu denganmu lagi! Akhirnya, Putri kembali!”

Yuki hanya bisa terdiam, menatap Ibu Jaena dengan tatapan kosong.

Dengan ragu, Yuki berusaha menyusun kata-kata, tetapi kepalanya terasa berat, seolah setiap kata yang ingin diucapkan terjebak di tenggorokannya. Pangeran Riana dan wanita bangsawan itu kini menoleh ke arah mereka, dan Yuki tahu bahwa dia tidak bisa melarikan diri dari situasi ini lagi.

Yuki tersenyum lemah saat membalas ucapan Ibu Jaena, meski tenggorokannya terasa kering dan penuh kepedihan. Namun, saat matanya kembali mencari Pangeran Riana, pandangan mereka bertemu sesaat. Namun, Yuki tidak bisa bertahan lebih lama. Dia segera memalingkan wajahnya, hati yang bergejolak semakin berat.

“Permisi, Ibu Jaena…”

Dengan suara yang hampir tak terdengar, Yuki berusaha untuk bersikap tenang. Berkat kehadiran Ibu Jaena, Yuki merasa sedikit lebih terkontrol. Dalam sekejap, ia mundur dengan cepat, berbalik, dan melangkah menjauh dari pemandangan yang menyakitkan itu.

Setiap langkahnya penuh dengan kebingungan, mengabaikan panggilan Pangeran Riana yang menyebut namanya.

Ketika mendengar namanya dipanggil, hatinya bergetar, namun rasa sakit yang menyertainya jauh lebih kuat. Tidak, dia tidak bisa bertahan di sini.

“Yuki! Tunggu!”

Terpopuler

Comments

🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ

🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ

wah Yuki ada rasa kah dengan pangeran riana/Shy/

2024-12-12

0

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95 Water Ripple (Morning Dew Series 3)—End
96 1 Rain Pour—Morning Dew Series 4
97 2
98 3
99 4
100 5
101 6
102 7
103 8
104 9
105 10
106 11
107 12
108 13
109 14
110 15
111 16
112 17
113 18
114 19
115 20
116 21
117 22
118 23
119 24
120 25
121 26
122 27
123 28
124 29
125 30
126 31
127 32
128 33
129 34
130 35
131 36
132 37
133 38
134 39
135 40
136 41
137 42
138 43
139 44
140 45
141 46
142 47
143 48
144 49
145 50
146 51
147 52
148 53
149 54
150 55
151 56
152 57
153 58
154 59
155 60
156 61
157 62
158 63
159 64
160 65
161 66
162 67
163 68
164 69
165 70
166 71
167 72
168 73
169 74
170 75
171 76
172 77
173 78
174 79
175 80
176 81
177 82
178 83
179 84
180 85
181 86
182 87
183 88
184 89
185 90
186 91
187 92
188 93
189 94
190 95
191 96
192 97
193 98
194 99
195 100
196 101
197 102
198 103
199 104
200 105
201 106
202 107
203 108
204 109
205 110
206 111
207 112
208 113
209 114
210 115
211 116
212 117
213 118
214 119
215 120
216 121
217 122
218 123
219 124
220 125
221 126
222 127
223 128
224 139
225 140
226 141
227 142
228 143
229 144
230 145
231 146
232 147
233 148
234 149
235 150
236 151
237 152
238 153
239 154
240 155
241 156
242 157
243 158
244 159
245 160
246 161
247 162
248 163
249 164
250 165
251 166
252 167
253 168
254 169
255 170
256 171
257 172
258 173
259 174
260 175
261 176
262 177
263 178
264 179
265 180
266 181
267 182
268 183
269 184
270 185
271 186
272 187
273 188
274 189
275 190
276 191
277 192
278 193
279 194
280 195
281 196
282 197
283 198
284 199
285 200
286 201
Episodes

Updated 286 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95 Water Ripple (Morning Dew Series 3)—End
96
1 Rain Pour—Morning Dew Series 4
97
2
98
3
99
4
100
5
101
6
102
7
103
8
104
9
105
10
106
11
107
12
108
13
109
14
110
15
111
16
112
17
113
18
114
19
115
20
116
21
117
22
118
23
119
24
120
25
121
26
122
27
123
28
124
29
125
30
126
31
127
32
128
33
129
34
130
35
131
36
132
37
133
38
134
39
135
40
136
41
137
42
138
43
139
44
140
45
141
46
142
47
143
48
144
49
145
50
146
51
147
52
148
53
149
54
150
55
151
56
152
57
153
58
154
59
155
60
156
61
157
62
158
63
159
64
160
65
161
66
162
67
163
68
164
69
165
70
166
71
167
72
168
73
169
74
170
75
171
76
172
77
173
78
174
79
175
80
176
81
177
82
178
83
179
84
180
85
181
86
182
87
183
88
184
89
185
90
186
91
187
92
188
93
189
94
190
95
191
96
192
97
193
98
194
99
195
100
196
101
197
102
198
103
199
104
200
105
201
106
202
107
203
108
204
109
205
110
206
111
207
112
208
113
209
114
210
115
211
116
212
117
213
118
214
119
215
120
216
121
217
122
218
123
219
124
220
125
221
126
222
127
223
128
224
139
225
140
226
141
227
142
228
143
229
144
230
145
231
146
232
147
233
148
234
149
235
150
236
151
237
152
238
153
239
154
240
155
241
156
242
157
243
158
244
159
245
160
246
161
247
162
248
163
249
164
250
165
251
166
252
167
253
168
254
169
255
170
256
171
257
172
258
173
259
174
260
175
261
176
262
177
263
178
264
179
265
180
266
181
267
182
268
183
269
184
270
185
271
186
272
187
273
188
274
189
275
190
276
191
277
192
278
193
279
194
280
195
281
196
282
197
283
198
284
199
285
200
286
201

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!