Bab 20 - Dia Tidak Kesal

Ditatap dengan sangat intens oleh El, membuat Arneta jadi sedikit gugup. Kenapa juga pria itu menatapnya seperti itu? Biasanya El selalu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Aku lihat masakan kamu siang tadi udah habis. Apa kamu gak punya makanan lain yang bisa aku makan malam itu?" Tanya El. Masih dengan ekspresi wajah yang nampak datar.

Arneta terkesiap mendengarnya. Apa dia tidak salah dengar barusan. El mempertanyakan makanan kepada dirinya? Rasanya baru kali ini pria itu mempertanyakan hal tersebut kepadanya. Mengingat selama ini El selalu menjaga batas di antara mereka.

"Tidak ada. Kalau kamu mau, aku bisa masakin makanan baru."

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut El. Pria itu masih menatap intens wajah Arnet hingga membuat wanita itu semakin gugup saja.

Arneta jadi dibuat menunggu-nunggu jawaban dari pria itu. Dia juga masih diliputi rasa gugup karena tatapan mata El.

"Kalau begitu cepat kerjakan. Jangan membuatku menunggu lama!" Akhirnya El bersuara juga memberikan perintah pada Arneta.

Arneta gegas melakukan perintah El. Memasak bahan masakan yang tersisa di kulkas kemudian menyajikannya di atas meja. Melihat masakannya yang sangat sederhana, membuat Arneta ragu untuk memberikannya pada El. Arneta takut bila El akan menghina makanannya, sama seperti El menghina dirinya.

Tak lama berselang, El datang ke ruang makan tanpa dipanggil oleh Arneta. Karena perutnya sudah sangat lapar, dia gegas duduk di atas kursi. Arneta hanya berani menatap pergerakannya tanpa berniat menawarkan diri untuk mengambilkan makanan untuk El.

"Ma-maaf kalau masakanku gak enak. Aku juga cuma bisa masak ini saja buat kamu."

Tidak ada jawaban dari El. Dia sudah memasukkan potongan ayam kecap ke dalam mulut kemudian berganti dengan sup jagung. El terus saja mengunyah masakan Arneta tanpa bersuara. Arneta pun memilih menjaga jarak agar El berselera memakan masakannya. Arneta ingat jika El mudah tidak berselera untuk makan bila berdekatan dengan dirinya.

Dua puluh menit berlalu. El beranjak dari meja makan. Melangkah ke arah ruangan tengah tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Arneta.

"Apa dia menyukai hasil masakanku?" Arneta rasanya lega melihat masakan buatannya hampir dihabiskan oleh El. Entah karena lapar atau apa, yang penting Arneta senang karena El mau memakannya.

Di ruangan tengah, El sudah duduk bersandar di atas sofa. Perutnya yang kini terasa sangat kenyang membuatnya malas melakukan apa-apa. "Masakannya enak juga. Hampir mirip dengan masakan buatan Mama." Gumam El. Kali ini, dia tidak dapat memungkiri jika hasil masakan Arneta memang enak. Walau pun begitu, El tidak akan mau memujinya. El tidak ingin membuat Arneta jadi besar kepala.

Hari-hari berlalu, Arneta mulai terbiasa membuatkan makanan untuk El. Walau pun awalnya dia merasa takut masakannya akan dikoreksi oleh El. Namun, akhirnya Arneta sudah tidak lagi merasakannya karena El tidak pernah mengoreksi atau menghina hasil masakannya.

"Kenapa sikapnya bisa berubah akhir-akhir ini?" Pertanyaan itu terlintas di benak Arneta. Rasanya Arneta sangat sulit untuk percaya jika El bisa berubah sikap seperti ini kepadanya. Mengingat betapa bencinya El kepada dirinya sejak awal mereka menikah.

Bukan hanya Arneta yang bisa merasakan perubahan sikap El. Cahya juga. Jika biasanya El akan membelikan makanan untuk mereka berdua jika ia datang berkunjung ke rumah El, kini berbeda. El juga membelikan makanan untuk Arneta.

"Kenapa kamu membelikan makanan untuknya, El? Apa kamu mulai peduli kepadanya?" Cahya bertanya setelah Arneta mengambil makanan yang baru saja dibelikan oleh El.

"Tidak begitu. Aku hanya kasihan kepadanya. Dia belum makan dari pagi karena sibuk membersihkan rumah." El beralasan. Dia tidak ingin dicap peduli pada Arneta.

"Dia bisa membeli makanan sendiri kalau dia lapar, El." Balas Cahya. Dia tidak percaya jika El benar tidak peduli pada Arneta.

"Kenapa kamu membahas hal yang tidak penting seperti ini, Cahya? Kupikir kita tidak harus membahasnya!" Wajah El sudah terlihat kurang bersahabat. Cahya pun tidak ingin El jadi kesal kepada dirinya. Alhasil dia mengakhiri percakapan mereka tentang Arneta.

Usai menghabiskan makanannya bersama El. Cahya beranjak menuju dapur hendak membuang sampah bekas makanan mereka di sana. Gerak-gerik yang dilakukan Cahya saat itu tentu saja sudah seperti pemilik rumah. Yang tidak punya rasa sungkan sama sekali.

Setibanya di dapur. Tanpa diduga Arneta juga sedang berada di sana dan sedang menikmati makanan yang dibelikan oleh El.

"Boleh aku duduk bergabung bersamamu, Neta?" Tanya Cahya. Seperti biasanya dia akan tersenyum manis saat berbicara dengan Arneta.

Arneta tidak mengeluarkan suara. Dia hanya merespon perkataan Cahya dengan anggukan kepala. Kini Cahya sudah duduk berhadapan dengan Arneta dan menatap wajah Arneta dengan tersenyum.

"Arneta, aku lihat kamu kelelahan sekali mengerjakan pekerjaan rumah tanpa bantuan seorang pembantu."

Arneta menatap wajah Cahya tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang mengunyah makanan. "Lalu, apa urusannya dengan kamu?" Tanyanya. Dia begitu acuh saat menjawabnya. Arneta merasa, jika ia tidak harus bersikap terlalu baik pada Cahya.

Cahya masih saja tersenyum. Kemudian menjawab pertanyaan Arneta. "Tidak ada sih. Cuma aku kasihan aja lihat kamu. Padahal El itu kan seorang pengusaha kaya raya. Sudah pasti uangnya sangat berlimpah. Tapi, untuk mempekerjakan seorang pembantu di sini saja dia tidak mau. Padahal kamu pasti capek kalau membersihkan rumah ini sendiri." Wajah Cahya terlihat sangat prihatin pada Arneta.

Arneta ikut tersenyum seperti yang dilakukan Cahya tadi. "Cahya, apa pun alasan El tidak mempekerjakan pembantu di sini. Kurasa itu bukanlah urusan kamu. Aku juga gak merasa keberatan kok mengerjakannya sendiri."

Walau pun kesal mendengar jawaban Arneta, Cahya masih saja berusaha untuk tersenyum. "Begitu, ya. Sepertinya untuk wanita seperti kamu wajar saja sih gak merasa keberatan. Apa lagi kamu dulunya mantan anak pembantu. Jadi pekerjaan seperti ini sudah terbiasa buat kamu."

Arneta tidak tahu kenapa Cahya bisa berkata seperti itu kepada dirinya. Entah bermaksud menghina atau bagaimana. Agar tidak terjadi perdebatan di antara mereka, Arneta memilih untuk tidak merespon perkataan Cahya. Terserah wanita itu mau berkata seperti apa kepada dirinya. Toh tidak ada untung dan ruginya untuk dirinya.

"Ya sudah, kalau begitu nanti aku berusaha bujuk El deh biar mempekerjakan pembantu di rumah ini. Kan gak enak kalau dilihat orang lain kamu yang mengerjakan pekerjaan di sini sendiri. Seakan kamu yang menjadi pembantu di sini."

Arneta masih saja diam. Namun, wajahnya sudah tersenyum kepada Cahya. Memperlihatkan jika dirinya sama sekali tidak sakit hati mendengar perkataan Cahya baru saja.

"Sialan. Kenapa dia tetap tersenyum. Harusnya dia kesal dong karena aku sudah secara tidak langsung menghinanya!"

****

Lanjut?

Terpopuler

Comments

Arin

Arin

Cahya wanita bermuka 2. Pandai bersikap seolah wanita lemah lembut dan baik hati. Kata2 yang keluar dari mulutnya diolah semanis mungkin, padahal menyakitkan......
wanita yang kayak gini nih benar2 menakutkan

2024-11-06

1

Susma Wati

Susma Wati

cahya dengan sadar diri menjadikan dirinya sendiri jadi pelakor, yang kuat ya neta , el mulai jatuh cinta tapi belum menyadari, ntar sadarnya kalau neta ngilang

2024-11-06

1

abimasta

abimasta

mantap arneta jangan diladenin biar dia gila sendiri

2024-11-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2 Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3 Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4 Bab 4 - Cahya...
5 Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6 Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7 Bab 7 - Perempuan Hina
8 Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9 Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10 Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11 Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12 Bab 12 - Melawan!!
13 Bab 13 - Kedatangan Oma
14 Bab 14 - Kehilangan Ibu
15 Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16 Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17 Bab 17 - El Mulai Perhatian
18 Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19 Bab 19 - Salah Fokus
20 Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21 Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22 Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23 Bab 23 - Arneta Sakit
24 Bab 24 - Ketahuan?
25 Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26 Bab 26 - Undangan Reuni
27 Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28 Bab 28 - Dalam Bahaya
29 Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30 Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31 Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32 Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33 Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34 Bab 34 - Evan Kembali
35 Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36 Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37 Bab 37 - Pemimpin Baru
38 Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39 Bab 39 - Jengkel!!
40 Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41 Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42 Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43 Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44 Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45 Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46 Bab 46 - Aku Yang Salah
47 Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48 Bab 48 - Pertarungan Mulut
49 Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50 Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51 Bab 51 - Cinta Sendiri
52 Bab 52 - Mengakhirinya
53 Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54 Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55 Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56 Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57 Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58 Bab 58 - Dimabuk Cinta
59 Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60 Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61 Bab 61 - Apa Jawabannya?
62 Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63 Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64 Bab 64 - Suami Perhatian
65 Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66 Bab 66 - Nara...
67 Bab 67 - Cerita Nara
68 Bab 68 - Kesedihan Nara
69 Bab 69 - Akhir Pertemuan
70 Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71 Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72 Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73 Bab 73 - Pertemuan
74 Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75 Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76 Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77 Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78 Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79 Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80 Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81 Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82 Bab 82 - Temui Nara, El
83 Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84 Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85 Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86 Bab 86 - Salah Paham
87 Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88 Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89 Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90 Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91 Bab 91 - Dimana Ibu?
92 Bab 92 - Kamu Dimana?
93 Bab 93 - Mengundurkan Diri
94 Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95 Bab 95 - Aku Mencintaimu
96 Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97 Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98 Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99 Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100 Bab 100 - Undangan Makan Malam
101 Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102 Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103 Bab 103 - Hamil
104 Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105 Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106 Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107 Semalam Bersama Calon Mertua
108 Scandal With Arrogant CEO
109 Dean dan Jennaira
110 PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2
Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3
Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4
Bab 4 - Cahya...
5
Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6
Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7
Bab 7 - Perempuan Hina
8
Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9
Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10
Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11
Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12
Bab 12 - Melawan!!
13
Bab 13 - Kedatangan Oma
14
Bab 14 - Kehilangan Ibu
15
Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16
Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17
Bab 17 - El Mulai Perhatian
18
Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19
Bab 19 - Salah Fokus
20
Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21
Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22
Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23
Bab 23 - Arneta Sakit
24
Bab 24 - Ketahuan?
25
Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26
Bab 26 - Undangan Reuni
27
Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28
Bab 28 - Dalam Bahaya
29
Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30
Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31
Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32
Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33
Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34
Bab 34 - Evan Kembali
35
Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36
Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37
Bab 37 - Pemimpin Baru
38
Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39
Bab 39 - Jengkel!!
40
Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41
Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42
Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43
Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44
Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45
Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46
Bab 46 - Aku Yang Salah
47
Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48
Bab 48 - Pertarungan Mulut
49
Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50
Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51
Bab 51 - Cinta Sendiri
52
Bab 52 - Mengakhirinya
53
Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54
Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55
Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56
Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57
Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58
Bab 58 - Dimabuk Cinta
59
Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60
Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61
Bab 61 - Apa Jawabannya?
62
Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63
Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64
Bab 64 - Suami Perhatian
65
Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66
Bab 66 - Nara...
67
Bab 67 - Cerita Nara
68
Bab 68 - Kesedihan Nara
69
Bab 69 - Akhir Pertemuan
70
Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71
Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72
Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73
Bab 73 - Pertemuan
74
Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75
Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76
Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77
Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78
Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79
Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80
Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81
Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82
Bab 82 - Temui Nara, El
83
Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84
Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85
Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86
Bab 86 - Salah Paham
87
Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88
Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89
Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90
Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91
Bab 91 - Dimana Ibu?
92
Bab 92 - Kamu Dimana?
93
Bab 93 - Mengundurkan Diri
94
Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95
Bab 95 - Aku Mencintaimu
96
Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97
Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98
Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99
Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100
Bab 100 - Undangan Makan Malam
101
Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102
Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103
Bab 103 - Hamil
104
Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105
Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106
Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107
Semalam Bersama Calon Mertua
108
Scandal With Arrogant CEO
109
Dean dan Jennaira
110
PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!