Bab 10 - Undangan Ulang Tahun

Pikiran El terasa bercabang saat ini. Di satu sisi dia memikirkan dimana keberadaan Sheina, di sisi lain, dia juga memikirkan perkataan Andika tentang masa lalunya dengan Arneta.

"Sekalinya murahan, dia akan tetap murahan!" El menggeram di saat ia sudah berada di dalam perjalanan pulang. Sebagai seorang pria yang tidak pernah memiliki jejak kehidupan yang buruk. Rasanya El terkena sial bisa menikah dengan Arneta. Wanita murahan yang ia juluki sebagai kupu-kupu malam.

Setibanya di rumah, El segera menuju kamarnya berada. Saat pandangan matanya tertuju ke arah kamar Arneta berada, mata El menyorot tajam ke sana. Kebencian di dalam hatinya semakin membesar pada pemilik kamar tersebut. Rasanya lidah El sudah gatal ingin memaki dan menghinanya.

"Huft!!" El menghembuskan napas kasar di udara. Dia ingat jika esok pagi ada pertemuan penting yang harus ia hadiri. El tidak ingin jika pertemuannya besok tidak maksimal karena mengingat kebenciannya pada Arneta. Tanpa membuang waktu lebih lama, El gegas menuju kamarnya berada. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menyebut satu nama yang selalu ia ingat di dalam hati dan pikirannya.

"Sheina. Dimana kamu... apakah kamu tahu hidupku sangat kacau setelah kepergianmu? Aku sampai harus menikah dengan Arneta karena kepergianmu." El mengeluh. Entah dimana mantan kekasihnya itu berada saat ini. El sungguh sangat merindukannya.

Pukul enam pagi, Arneta nampak sudah bersiap-siap pergi meninggalkan rumah. Mulai pagi itu dia memang sudah berencana untuk pergi lebih awal dari rumah karena ingin mampir ke rumah kontrakan ibunya lebih dulu sebelum berangkat ke kantor.

"Sepertinya El belum bangun. Lebih baik aku langsung pergi saja." Gumam Arneta saat melewati pintu kamar El. Sebagai seorang istri. Sebenarnya Arneta ingin selalu berpamitan pada El jika ingin pergi kemana-mana. Namun, mengingat El sudah membatasi interaksi di antara mereka, membuat Arneta tidak melakukannya jika El tidak terlihat di depan matanya.

Tanpa diduga, setelah kepergian Arneta, El nampak keluar dari dalam kamar. Dahinya mengkerut saat melihat dari balkon lantai dua Arneta telah pergi meninggalkan rumah di saat waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.

"Mau kemana dia?? Kenapa dia perginya pagi sekali." Pertanyaan itu terucap dari mulut El. Dia terus menatap pergerakan Arneta yang sudah naik di atas ojek motor hingga akhirnya lenyap dari pandangannya.

El menatap dingin kepergian wanita itu. Dia berusaha untuk mengabaikannya. Kemudian membalikkan tubuh dan melangkah menuju lantai bawah hendak kembali melanjutkan niat mengambil air putih di dalam dapur.

Lima belas menit berlalu. Arneta telah tiba di kediaman Bu Maria. Kedatangannya di sana disambut dengan senyum manis oleh Bu Maria. Walau pun ibunya sudah menyambut semanis mungkin bahkan kelihatan baik-baik saja. Namun, entah mengapa perasaan Arneta masih tidak tenang saja.

"Ibu gimana keadaannya. Baik-baik aja, kan?" Tanya Arneta seraya menatap intens wajah Bu Maria.

Bu Maria melukis senyum kembali. "Seperti yang kamu lihat. Ibu baik."

Arneta menghela napas dalam. Lagi, perasaannya tidak tenang begitu saja walau jawaban yang Bu Maria berikan adalah jawaban yang dia inginkan.

"Syukurlah kalau seperti itu. Aku mampir ke sini tak lama. Aku hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja dan Ibu memakan sarapan Ibu sampai habis." Kata Arneta. Raut kekhawatiran di wajahnya terlihat cukup jelas saat mengatakan hal tersebut.

"Kamu terlalu repot-repot, Neta. Apa kamu gak lelah bolak balik ke sini terus tiap hari. Nanti kamu bisa terlambat datang ke kantor juga kalau mampir ke sini dulu sebelum berangkat ke kantor." Bu Maria sedikit mencemaskan hal tersebut. Wajar saja, dia tidak ingin putri kesayangannya itu bermasalah di tempat kerja. Walau pun Bu Maria tahu jika pemilik perusahaan adalah mertua Arneta sendiri.

"Ibu gak perlu mikirin aku. Aku akan berangkat bekerja seperti biasanya. Yang penting aku bisa lihat Ibu ke sini dulu."

Bu Maria tidak ingin melarang. Dia membiarkan Arneta melakukan apa yang dia inginkan. Toh jika melarang sekali pun, putrinya itu tidak akan mendengarkannya juga.

"Bu, Ibu harus ingat perkatana dokter, ya. Ibu harus jaga kesehatan dan pola makan Ibu." Arneta kembali mengingatkan. Walau pun kondisi Bu Maria sudah lebih baik dari sebelumnya. Namun, tetap saja kesehatan Bu Maria harus tetap dijaga.

Bu Maria mengiyakannya. Dia memastikan pada Arneta jika dia akan baik-baik saja.

"Hanya Ibu yang aku punya. Aku gak mau Ibu sampai kenapa-napa." Sebelum pergi meninggalkan kediaman ibunya, Arneta mengungkapkan isi hatinya yang membuat Bu Maria jadi berkaca-kaca.

Pukul setelah delapan lewat lima belas menit, Arneta sudah tiba di kantor. Kedatangannya berbarengan dengan Tuan Keenan yang datang bersama dengan Nyonya Rossa. Melihat keberadaan Arneta, membuat Nyonya Rossa gegas menghampirinya.

"Arneta, Mama mau undang kamu untuk bisa hadir nanti malam di acara ulang tahun Tante Lia." Kata Nyonya Rossa. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya kemarin, Nyonya Rossa jadi lupa menyampaikan hal tersebuy pada Arneta.

"Tante Lia adiknya Papah ya, Mah?" Tanya Arneta. Dia memang tidak terlalu mengenal seluruh keluarga Tuan Keenan dan Nyonya Rossa.

Nyonya Rossa mengangguk membenarkan. "El udah Mama telefon juga tadi buat ngabarin hal ini. Jadi kalian berdua jangan lupa datang."

Arneta mengiyakannya. Sebenarnya nanti malam dia ingin berada lebih lama di kediaman ibunya. Namun, karena undangan tersebut berasal dari mertuanya. Rasanya Arneta tidak enak hati untuk menolaknya.

Setelah kepergian Nyonya Rossa, Arneta memikirkan pakaian apa yang akan ia kenakan nanti malam. Mengingat dirinya tidak memiliki banyak pakaian yang layak dibawa ke acara seperti itu, membuat Arneta jadi bingung harus memakai apa.

"Apa aku beli pakaian baru saja? Aku kan gak enak kalau datang ke acara ulang tahun Tante Lia memakai pakaian lusuh." Lirih Arneta. Berpikir jika dirinya harus membeli pakaian baru, akhirnya Arneta terpaksa menggesek kartu atmnya untuk membeli pakaian yang layak dia pakai ke acara ulang tahun Tante Lia.

"Harusnya aku menabung uang gajiku bulan ini untuk tabunganku dan ibu di masa depan." Lirih Arneta setelah membeli gaun sederhana yang akan ia pakai ke acara ulang tahun Tante Lia.

Mengingat statusnya saat ini sebagai istri dari pengusaha kaya raya, seharusnya Arneta tidak perlu pikir panjang untuk mengeluarkan uang. Apa lagi Tuan Keenan sudah menjamin kehidupannya dan Bu Maria di masa depan. Namun, Arneta sadar diri jika tidak selamanya ia bisa mengandalkan orang lain untuk membantunya. Arneta juga tidak ingin terlalu banyak berhutang budi pada keluarga Tuan Keenan.

"Aku harus memiliki tabungan. Sebab, jika saatnya nanti aku sudah harus pergi dari keluarga Tuan Keenan. Aku masih memiliki uang untuk memenuhi kebutuhanku dan ibu." Begitulah isi pemikiran Arneta.

***

Komen dulu yuk sebelum lanjut🤗

Terpopuler

Comments

Nurma septina🤍💙

Nurma septina🤍💙

Akhirnya novel yg ini up juga terima kasih kak SHy🙏🙏

Arneta begitu mengkhawatirkan ibunya,,dia bahkan rela berangkat lebih pagi agar bisa mampir dlu ke tempat kontrakan ibunya.
seharusnya Arneta bisa membawa ibunya tinggal bersama dirinya,,agar Arneta bisa ikut merawatnya.
tpi apalah daya c El malah tidak mengijinkan.
Yang ada c El setiap hari semakin membenci Arneta,ditambah dari hasutan" orang lain.

Kayanya Arneta akn dihina lagi nih sama El saat diacara ulang tahun,apalagi Arneta cma membeli gaun biasa.
Kmu benar Arneta kmu memang harus menabung utk bekal hidup kmu nantinya,,karna kmu tidak bisa mengandalkan suami kmu,,apalagi pernikahan kalian tidak seperti pernikahan pd umumnya.
Karna yg kmu dapatkan dari suami kmu cma hinaan dan cacian.

2024-11-01

8

Fadilah

Fadilah

up juga ternyata heheh,,

tabung sebanyak"nya Neta, kalo lihat sikap El sepertinya rumah tanggamu gk ada harapan sama sekali

2024-11-01

1

Zainab Ddi

Zainab Ddi

arneta mending jujur sama mertuamu tentang kelakuan el

2024-11-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2 Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3 Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4 Bab 4 - Cahya...
5 Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6 Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7 Bab 7 - Perempuan Hina
8 Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9 Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10 Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11 Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12 Bab 12 - Melawan!!
13 Bab 13 - Kedatangan Oma
14 Bab 14 - Kehilangan Ibu
15 Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16 Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17 Bab 17 - El Mulai Perhatian
18 Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19 Bab 19 - Salah Fokus
20 Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21 Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22 Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23 Bab 23 - Arneta Sakit
24 Bab 24 - Ketahuan?
25 Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26 Bab 26 - Undangan Reuni
27 Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28 Bab 28 - Dalam Bahaya
29 Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30 Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31 Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32 Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33 Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34 Bab 34 - Evan Kembali
35 Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36 Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37 Bab 37 - Pemimpin Baru
38 Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39 Bab 39 - Jengkel!!
40 Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41 Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42 Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43 Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44 Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45 Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46 Bab 46 - Aku Yang Salah
47 Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48 Bab 48 - Pertarungan Mulut
49 Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50 Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51 Bab 51 - Cinta Sendiri
52 Bab 52 - Mengakhirinya
53 Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54 Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55 Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56 Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57 Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58 Bab 58 - Dimabuk Cinta
59 Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60 Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61 Bab 61 - Apa Jawabannya?
62 Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63 Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64 Bab 64 - Suami Perhatian
65 Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66 Bab 66 - Nara...
67 Bab 67 - Cerita Nara
68 Bab 68 - Kesedihan Nara
69 Bab 69 - Akhir Pertemuan
70 Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71 Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72 Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73 Bab 73 - Pertemuan
74 Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75 Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76 Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77 Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78 Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79 Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80 Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81 Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82 Bab 82 - Temui Nara, El
83 Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84 Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85 Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86 Bab 86 - Salah Paham
87 Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88 Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89 Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90 Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91 Bab 91 - Dimana Ibu?
92 Bab 92 - Kamu Dimana?
93 Bab 93 - Mengundurkan Diri
94 Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95 Bab 95 - Aku Mencintaimu
96 Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97 Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98 Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99 Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100 Bab 100 - Undangan Makan Malam
101 Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102 Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103 Bab 103 - Hamil
104 Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105 Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106 Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107 Semalam Bersama Calon Mertua
108 Scandal With Arrogant CEO
109 Dean dan Jennaira
110 PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2
Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3
Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4
Bab 4 - Cahya...
5
Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6
Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7
Bab 7 - Perempuan Hina
8
Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9
Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10
Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11
Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12
Bab 12 - Melawan!!
13
Bab 13 - Kedatangan Oma
14
Bab 14 - Kehilangan Ibu
15
Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16
Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17
Bab 17 - El Mulai Perhatian
18
Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19
Bab 19 - Salah Fokus
20
Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21
Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22
Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23
Bab 23 - Arneta Sakit
24
Bab 24 - Ketahuan?
25
Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26
Bab 26 - Undangan Reuni
27
Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28
Bab 28 - Dalam Bahaya
29
Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30
Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31
Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32
Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33
Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34
Bab 34 - Evan Kembali
35
Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36
Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37
Bab 37 - Pemimpin Baru
38
Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39
Bab 39 - Jengkel!!
40
Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41
Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42
Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43
Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44
Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45
Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46
Bab 46 - Aku Yang Salah
47
Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48
Bab 48 - Pertarungan Mulut
49
Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50
Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51
Bab 51 - Cinta Sendiri
52
Bab 52 - Mengakhirinya
53
Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54
Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55
Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56
Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57
Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58
Bab 58 - Dimabuk Cinta
59
Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60
Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61
Bab 61 - Apa Jawabannya?
62
Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63
Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64
Bab 64 - Suami Perhatian
65
Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66
Bab 66 - Nara...
67
Bab 67 - Cerita Nara
68
Bab 68 - Kesedihan Nara
69
Bab 69 - Akhir Pertemuan
70
Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71
Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72
Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73
Bab 73 - Pertemuan
74
Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75
Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76
Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77
Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78
Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79
Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80
Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81
Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82
Bab 82 - Temui Nara, El
83
Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84
Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85
Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86
Bab 86 - Salah Paham
87
Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88
Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89
Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90
Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91
Bab 91 - Dimana Ibu?
92
Bab 92 - Kamu Dimana?
93
Bab 93 - Mengundurkan Diri
94
Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95
Bab 95 - Aku Mencintaimu
96
Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97
Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98
Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99
Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100
Bab 100 - Undangan Makan Malam
101
Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102
Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103
Bab 103 - Hamil
104
Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105
Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106
Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107
Semalam Bersama Calon Mertua
108
Scandal With Arrogant CEO
109
Dean dan Jennaira
110
PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!