Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli

Satu minggu berlalu pasca kepergian Bu Maria. Arneta berusaha bangkit dari keterpurukan. Sudah satu minggu dia mengambil cuti bekerja, besok dia sudah harus kembali bekerja seperti biasanya. Arneta sadar jika hidup harus terus berjalan. Dia juga tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Terlebih ada tanggung jawab yang harus ia kerjakan sebagai seorang istri dan pekerja di perusahaan Tuan Keenan.

Sehari sebelum menjalani aktivitas seperti biasanya kembali, Arneta sudah kembali ke rumah Elvano. Kepulangannya ke sana dijemput oleh Elvano. Entah mengapa pria itu berbaik hati mau menjemputnya pulang ke rumah mereka.

"Aku menjemputmu atas perintas dari Papa!" Baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah. El sudah mengatakan hal seperti itu. Sepertinya dia tidak mau bila Arneta salah paham dengan kebaikannya.

Pertanyaan yang tadi bersarang di benak Arneta akhirnya terjawab. Dia hanya mengangguk pelan sebagai respon atas perkataan El. Dia juga tidak berharap banyak agar pria itu bisa bersikap baik kepada dirinya.

Entah mengapa, El merasa tidak suka bila Arneta bersika acuh seperti itu kepada dirinya. El merasa, jika dirinyalah yang harus bersikap acuh pada Arneta. Bukannya Arneta yang bersikap acuh kepada dirinya.

Seperti yang sudah berlalu. Tidak banyak interaksi di antara mereka jika berada di dalam. Keduanya sibuk di dalam kamar masing-masing dan baru melakukan interaksi jika bertemu di dapur atau ruangan makan.

Tidak seperti biasanya, kali ini Arneta menyiapkan makan malam untuk suaminya. Walau pun El tidak memintanya bahkan sempat melarang agar dirinya mengurs El. Namun, Arneta tetap melakukannya. Dia ingat pesan terakhir ibunya saat itu dan ingin melakukannya.

"Arneta, walau pun El belum bisa bersikap baik kepada kamu. Tapi Ibu berharap kamu bisa menjadi istri yang baik untuk dia. Perlakukanlah dia seperti suami pada umumnya. Layani dia dengan ikhlas walau dia tidak memintanya."

Begitulah pesan-pesan terakhir dari Bu Maria. Arneta berpikir jika saat itu ibunya sudah menyadari jika dirinya akan pergi meninggalkan dunia sehingga begitu banyak pesan yang ibunya sampaikan kepada dirinya.

"Aku memasak makanan buat makan malam. Kalau kamu bersedia, kamu bisa memakannya. Aku sudah menghidangkannya di atas meja makan." Saat bertemu dengan El di anak tangga, Arneta mengatakan hal tersebut. Kemudian, dia kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya berada.

El menatap datar pada Arneta yang sudah berlalu dari hadapannya. Dia sama sekali tidak memberikan tanggapan atas perkataan wanita itu. Entah mengapa dia tidak memiliki tenaga untuk membalas perkataan Arneta dengan sinis seperti yang biasa ia lakukan pada Arneta.

Setelah menapaki kaki di lantai bawah, entah mengapa El merasa mendapatkan dorongan untuk melangkah ke arah ruang makan. Dia ingin melihat hasil masakan Arneta atau sekedar memastikan jika wanita itu benar sudah membuatkan makanan untuk dirinya.

"Buat apa dia melakukan ini semua. Bukannya aku sudah bilang agar tidak perlu mengurusku?" Gumam El. Walau pun mulutnya berkata demikian, namun hati El berkata lain. Dia menginginkan makanan tersebut untuk mengisi perutnya yang kebetulan terasa kosong saat ini.

Niat hati tadinya ingin memesan makanan dari luar untuk mengisi perut, berganti dengan memakan hasil masakan Arneta. Walau pun masakan Arneta tidaklah semewah makanan yang biasanya ia makan. Namun, rasa masakannya cukup lezat di lidah El.

"Aku memakannya karena lapar. Bukannya karena aku menginginkannya." Begitulah pemikiran El setelah menghabiskan sepiring nasi beserta lauk pauk yang dimasak oleh Arneta.

Keesokan paginya. Arneta kembali menyiapkan sarapan untuk El sebelum berangkat bekerja. Walau pun sudah melakukan kewajibannya dengan baik. Namun, Arneta tetap tidak berpamitan pada El sebelum pergi bekerja. Maklum saja, dia tidak bisa melakukannya karena pintu kamar El masih tertutup rapat di saat Arneta hendak pergi bekerja.

"Apa kondisi kamu sudah baik-baik saja, Neta?" Tuan Keenan bertanya saat ia bertemu dengan Arneta di kantor. Tuan Keenan merasa lega karena wajah Arneta tak lagi pucat seperti beberapa hari yang lalu. Arneta juga sudah nampak semangat untuk melanjutkan hidup pasca kepergian ibunyaz

Arneta mengulas senyum untuk memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja walau pun sebenarnya dia masih terluka.

"Syukurlah kalau kamu udah baik-baik saja." Kata Tuan Keenan kemudian. Arneta kembali tersenyum menanggapinya. Kemudian, dia kembali melakukan aktivitas di kanto sebagai seorang sekretaris walau pun sesekali masih teringat dengan kepergian ibunya.

Di tengah aktivitasnya yang sedang bekerja pagi itu, entah mengapa Arneta tiba-tiba saja berpikir untuk mengakhiri hubungan rumah tangganya dengan Elvano. "Sekarang ibu sudah tidak ada. Jadi buat apa lagi aku melanjutkan pernikahan ini. Toh Elvano tidak menyukaiku bahkan sangat membenciku." Kata Arneta dalam hati.

Walau pun perkataan tersebut sempat terbesit di benaknya. Namun, tak membuat Arneta langsung mengungkapkan apa yang dia inginkan saat ini. Terlebih, Arneta masih sadar diri untuk tidak melupakan kebaikan Tuan Keenan begitu saja. Dia juga tidak ingin dibilang tidak tahu diri karena meminta bercerai dari El setelah dia tidak lagi membutuhkan bantuan dari Tuan Keenan.

"Aku gak tau harus bagaimana sekarang." Pulang dari kantor sore itu, Arneta justru tak langsung pulang. Dia justru singgah di sebuah taman dan mengeluh di sana. Begitu banyak hal yang dipikirkan oleh Arneta saat ini. Tentang keinginannya yang ingin berpisah, ditambah keinginan dari mendiang ibunya yang ingin dirinya hanya menikah satu kali dalam hidupnya.

"Apakah jika aku mempertahankan rumah tangga ini hidupku bisa bahagia untuk ke depannya?" Pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Arneta. Rasanya sulit sekali untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Apa lagi suaminya tidak mencintainya, membencinya dan sangat sulit untuk menerimanya sebagai seorang istri.

Di saat Arneta sedang dilanda gundah gulanan di taman. Di sisi lain, El terlihat tengah berbincang dengan Oma Sukma di kediaman Tante Lia. Siang tadi, El mendapatkan pesan dari Oma Sukma yang memintanya untuk berkunjung sehingga El bisa berada di rumah Tante Lia saat ini.

"Jadi bagaimana, El. Apa kamu udah mikirin perkataan Oma kemarin?" Tanya Oma Sukma.

El terdiam beberapa. Kali ini dia merasa sulit untuk menjawab pertanyaan Oma Sukma. "Aku belum bisa menceraikannya dalam waktu dekat ini, Oma. Dia masih berduka. Rasanya akan jahat sekali bila aku kembali menoreh luka di hatinya yang belum sembuh karena menceraikan dirinya."

Oma Sukma melotot mendengar perkataan cucunya baru saja. "Apa kamu lagi demam, El?" Oma Sukma memastikan. Karena sikap El terlihat berbeda saat ini.

"Maksud Oma?" El menatap bingung pada Oma Sukma. Dia tidak mengerti maksud pertanyaan Oma Sukma.

"Kenapa sekarang kamu jadi memikirkan perasaannya? Bukannya kamu tidak menyukainya bahkan membencinya?"

***

Terpopuler

Comments

Nurma septina🤍💙

Nurma septina🤍💙

Hayoh kmu mau ngejawab apa El sama oma kmu,benar kata dia bknkah kmu sama sekali tidak perduli sma perasaaan Arneta,lantas knapa sekarang kmu terlihat perduli dan memikirkan bagaimana perasaan dia.
Kemaren" aja kata kata kmu begitu sadis jika ngomong sama Arneta.
Jika kmu menceraikan Arneta,dengan senang hati Arneta menerimanya .
biar dia bisa terlepas dari kmu,,Lama lama bertahan disisi kmu juga buat apa,,enggak ada gunanya.
Yg ada Arneta akn semakin sakit hati.
Udah Arneta mending kmu minta cerai aja,,tpi jangan sekarang dlu ..Kmu memang harus menghargai tuan Keenan dlu,,karna dia sdh banyak membantu kmu.

Ibu kmu memang benar Neta,pernikahan itu memang utk sekali seumur hidup.
Tapi pernikahan seperti apa dlu yg harus dipertahankan,,jika suami kmu sendiri tidak menghargai kmu mlah justru sering menghina kmu,lebih baik berpisah saja.
Biar c El nanti mikir,,jika kmu bknlah wanita matre yg menginginkan harta dia.

2024-11-04

13

mbok Darmi

mbok Darmi

berani ngga el ceraikan arneta secepatnya itu yg ditunggu arneta jd ngga perlu lagi sungkan sama tuan keenan, itu aja jd kado indah buat arneta, ngga usah pake lama el lsg aja talak 3 tp jgn nyesel setelah ini ya

2024-11-04

1

Sri Rahayu

Sri Rahayu

ohh oma Sukma....kamu uda tua kok malah jadi kompor 😡😡😡....uda tua hrsnya ngajari cucunya kebaikan bukan malah jadi sengkuni pr 🤪🤪🤪

2024-11-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2 Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3 Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4 Bab 4 - Cahya...
5 Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6 Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7 Bab 7 - Perempuan Hina
8 Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9 Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10 Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11 Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12 Bab 12 - Melawan!!
13 Bab 13 - Kedatangan Oma
14 Bab 14 - Kehilangan Ibu
15 Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16 Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17 Bab 17 - El Mulai Perhatian
18 Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19 Bab 19 - Salah Fokus
20 Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21 Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22 Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23 Bab 23 - Arneta Sakit
24 Bab 24 - Ketahuan?
25 Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26 Bab 26 - Undangan Reuni
27 Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28 Bab 28 - Dalam Bahaya
29 Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30 Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31 Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32 Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33 Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34 Bab 34 - Evan Kembali
35 Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36 Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37 Bab 37 - Pemimpin Baru
38 Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39 Bab 39 - Jengkel!!
40 Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41 Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42 Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43 Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44 Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45 Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46 Bab 46 - Aku Yang Salah
47 Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48 Bab 48 - Pertarungan Mulut
49 Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50 Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51 Bab 51 - Cinta Sendiri
52 Bab 52 - Mengakhirinya
53 Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54 Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55 Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56 Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57 Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58 Bab 58 - Dimabuk Cinta
59 Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60 Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61 Bab 61 - Apa Jawabannya?
62 Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63 Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64 Bab 64 - Suami Perhatian
65 Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66 Bab 66 - Nara...
67 Bab 67 - Cerita Nara
68 Bab 68 - Kesedihan Nara
69 Bab 69 - Akhir Pertemuan
70 Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71 Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72 Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73 Bab 73 - Pertemuan
74 Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75 Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76 Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77 Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78 Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79 Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80 Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81 Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82 Bab 82 - Temui Nara, El
83 Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84 Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85 Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86 Bab 86 - Salah Paham
87 Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88 Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89 Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90 Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91 Bab 91 - Dimana Ibu?
92 Bab 92 - Kamu Dimana?
93 Bab 93 - Mengundurkan Diri
94 Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95 Bab 95 - Aku Mencintaimu
96 Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97 Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98 Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99 Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100 Bab 100 - Undangan Makan Malam
101 Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102 Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103 Bab 103 - Hamil
104 Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105 Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106 Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107 Semalam Bersama Calon Mertua
108 Scandal With Arrogant CEO
109 Dean dan Jennaira
110 PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2
Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3
Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4
Bab 4 - Cahya...
5
Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6
Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7
Bab 7 - Perempuan Hina
8
Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9
Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10
Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11
Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12
Bab 12 - Melawan!!
13
Bab 13 - Kedatangan Oma
14
Bab 14 - Kehilangan Ibu
15
Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16
Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17
Bab 17 - El Mulai Perhatian
18
Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19
Bab 19 - Salah Fokus
20
Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21
Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22
Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23
Bab 23 - Arneta Sakit
24
Bab 24 - Ketahuan?
25
Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26
Bab 26 - Undangan Reuni
27
Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28
Bab 28 - Dalam Bahaya
29
Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30
Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31
Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32
Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33
Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34
Bab 34 - Evan Kembali
35
Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36
Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37
Bab 37 - Pemimpin Baru
38
Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39
Bab 39 - Jengkel!!
40
Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41
Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42
Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43
Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44
Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45
Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46
Bab 46 - Aku Yang Salah
47
Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48
Bab 48 - Pertarungan Mulut
49
Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50
Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51
Bab 51 - Cinta Sendiri
52
Bab 52 - Mengakhirinya
53
Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54
Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55
Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56
Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57
Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58
Bab 58 - Dimabuk Cinta
59
Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60
Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61
Bab 61 - Apa Jawabannya?
62
Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63
Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64
Bab 64 - Suami Perhatian
65
Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66
Bab 66 - Nara...
67
Bab 67 - Cerita Nara
68
Bab 68 - Kesedihan Nara
69
Bab 69 - Akhir Pertemuan
70
Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71
Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72
Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73
Bab 73 - Pertemuan
74
Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75
Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76
Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77
Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78
Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79
Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80
Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81
Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82
Bab 82 - Temui Nara, El
83
Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84
Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85
Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86
Bab 86 - Salah Paham
87
Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88
Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89
Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90
Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91
Bab 91 - Dimana Ibu?
92
Bab 92 - Kamu Dimana?
93
Bab 93 - Mengundurkan Diri
94
Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95
Bab 95 - Aku Mencintaimu
96
Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97
Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98
Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99
Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100
Bab 100 - Undangan Makan Malam
101
Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102
Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103
Bab 103 - Hamil
104
Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105
Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106
Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107
Semalam Bersama Calon Mertua
108
Scandal With Arrogant CEO
109
Dean dan Jennaira
110
PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!