Bab 14 - Kehilangan Ibu

Sepanjang perjalanan menuju kediaman ibunya, perasaan Arneta terasa semakin tidak enak saja. Entah kenapa dia bisa merasakan hal tersebut. Padahal, ibunya selalu berkata jika ia baik-baik saja.

"Pak, tolong lebih cepat lagi bawa motornya, ya!" Pinta Arneta di saat perasaannya sudah semakin tidak enak.

Pengemudi ojek yang ditumpangi Arneta mengangguk. Menambah kecepatan motornya walau tidak banyak melihat jalanan yang ada di depannya sudah padat dilewati banyak kendaraan.

Berselang beberapa saat, akhirnya motor yang membawa Arneta tiba di depan kediaman ibunya. Dahi Arneta seketika mengkerut melihat beberapa orang yang kini berdiri di depan rumah kontrakan ibunya.

"Maaf, ada apa ya ramai-ramai di sini?" Arneta bertanya dengan raut wajah bingung.

"Kamu Arneta, kan? Anaknya Bu Maria?" Salah satu wanita paruh baya yang berdiri di depan Arneta bertanya. Arneta pun mengangguk membenarkannya. "Arneta, ibu kamu baru saja dibawa ambulan ke rumah sakit. Satu jam yang lalu, ibu kamu jatuh di kamar mandi. Ibu kamu tidak sadarkan diri sehingga perawat yang menjaganya langsung meminta pertolongan untuk membawanya ke rumah sakit."

"Apa?!" Kedua bola mata Arneta melotot kaget. Jantungnya pun sudah berpacu sangat cepat. "Ibu jatuh di kamar mandi?" Ulangnya dengan suara yang terdengar sangat keras. Wanita itu pun mengangguk membenarkannya.

"Lalu dimana ibu saya dibawa saat ini?" Arneta bertanya cepat. Kedua bola matanya pun sudah nampak penuh dibalut cairan bening.

"Ke rumah sakit Prima, Arneta!"

Arneta gegas pergi menuju rumah sakit yang dimaksud setelah berterima kasih pada wanita yang memberikan informasi kepada dirinya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Arneta tak henti menangis. Dia sangat takut terjadi apa-apa kepada ibunya. Apa lagi kesehatan ibunya belum sepenuhnya membaik pasca operasi.

Berselang beberapa saat, Arneta telah tiba di rumah sakit. Dia langsung saja menuju instalasi gawat darurat untuk mencari keberadaan ibunya di sana.

"Mbak Arneta!" Perawat yang biasanya menjaga ibunya terdengar menyapa. Arneta gegas menghampiri dan mempertanyakan keadaan ibunya.

"Ibu saya bagaimana, Sus? Kenapa kamu diam aja?" Wajah Arneta nampak tidak sabar menunggu jawaban.

"Dokter masih memeriksakan keadaan By Maria di dalam, Mbak." Hanya itulah jawaban yang bisa diberikan oleh perawat.

Arneta rasanya tidak tenang. Air mata sudah mengalir membasahi kedua pipi. Selama menunggu proses pemeriksaan ibunya, dia tak henti memanjatkan doa. Berharap ibunya baik-baik saja walau pun perasaannya semakin tidak enak saja.

"Tuhan... aku mohon selamatkan ibu. Hanya ibu yang aku punya. Kalau ibu tidak ada, aku dengan siapa? Siapa lagi yang akan menyayangiku?" Lirih Arneta dalam hati. Air mata yang membasahi kedua pipinya pun semakin mengalir dengan deras. Perawat yang berdiri di sebelah Arneta berusaha menenangkan dan sesekali meminta maaf karena tidak bisa menjaga Bu Maria dengan baik.

Hampir satu jam menunggu, dokter yang menangani Bu Maria akhirnya keluar. Dia mengajak Arneta berbicara empat mata untuk memberitahu keadaan ibunya.

"Nona Arneta, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa ibu anda. Namun, maaf, Tuhan berkehendak lain. Nyawa ibu anda tidak tertolong. Ibu anda sudah menghembuskan napas terakhirnya lima belas menit setelah ia dibawa ke sini."

"Apa?!" Arneta berteriak sangat keras. Air matanya kembali mengalir membasahi kedua pipi. "Enggak. Itu gak mungkin... ibu saya gak mungkin pergi... ibu saya masih hidup!!" Arneta rasanya tidak percaya begitu saja dengan perkataan dokter. Dia lekas masuk ke dalam ruangan untuk memastikan keadaan ibunya di sana.

"Ibu..." jeritan Arneta terdengar pilu saat melihat ibunya terbujur kaku dan tertutup oleh selembar kain bewarna putih. Arneta segera mendekati brankar dimana ibunya terbaring. Dia menarik selembar kain yang menutupi wajah ibunya untuk melihat keadaan ibunya saat ini.

Lagi, terdengar suara jeritan Arneta melihat wajah ibunya yang sudah nampak pucat dan ada beberapa memar di bagian kening dan pipi akibat ibunya jatuh di kamar mandi.

"Ibu bangun... ibu gak boleh pergi ninggalin aku!!" Arneta berteriak. Menggoncang tubuh Bu Maria berharap wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu bisa kembali hidup dan menemaninya hingga akhir.

"Nona Arneta, tenanglah..." perawat yang berada di sana berusaha menenangkan. Namun, Arneta yang tengah diliputi rasa pilu tidak bisa tenang begitu saja. Apa lagi kepergian ibunya terkesan sangat mendadak.

"Ibu... kenapa Ibu pergi ninggalin aku. Siapa lagi yang akan menyayangiku kalau bukan Ibu. Aku sendirian, Bu... bagaimana aku bisa hidup tanpa Ibu??!!" Arneta masih saja menjerit seraya menangis. Suara tangisannya yang terdengar pilu membuat perawat yang sudah merawat Bu Maria beberapa bulan belakangan ini jadi ikut menangis dan merasa sangat bersalah.

"Maafkan saya, Mbak Arneta..." hanya ungkapan itulah yang keluar dari mulut perawat. Jika saja dia tidak membiarkan Bu Maria pergi ke kamar mandi sendiri tadi, semuanya pasti tidak akan terjadi seperti ini. Bu Maria akan tetap hidup dan menyangi Arneta seperti yang diharapkan Arneta saat ini.

Beberapa saat berlalu, Arneta masih saja menangis. Perawat yang bertugas menjaga Bu Maria pun berinisiatif mengurus administrasi kepulangan Bu Maria agar bisa segera dimakamkan. Arneta membiarkan saja perawat mengurus administrasi ibunya. Sementara dirinya, senantiasa berada di samping Bu Maria dan berdoa agar ibunya bisa hidup kembali.

"Kemana kita akan membawa jenazah Bu Maria, Mbak?" Perawat akhirnya bertanya setelah mendapatkan ambulan yang akan mengantarkan kepulangan Bu Maria.

Arneta menghela napas dalam-dalam untuk mengurai rasa sesak di dada. "Ke rumah kontrakan saja." Balasanya. Tidak ada tempat selain kontrakan untuk membawa ibunya pulang. Arneta sadar diri jika suaminya tidak akan mau menampung jenazah ibunya di rumah. Sedangkan ibunya masih hidup saja, suaminya itu sudah enggan. Apa lagi sudah terbujur kaku seperti ini.

"Oh ya, Mbak. Saya mau kasih tau Tuan Keenan dan Tuan El tentang masalah ini." Beri tahu perawat. Bagaimana pun juga, dia harus memberitahukan segala informasi tentang Bu Maria pada kedua pria tersebut.

Arneta mengiyakannya saja. Dia sudah tidak perduli apa pun selain fokus pada ibunya. Arneta kembali mengajak ibunya yang sudah terbujur kaku itu berbicara walau pun ia sadar jika ibunya tidak akan bisa lagi menjawabnya.

"Bu... aku mohon bangun... aku gak sanggup melewati hidup ini tanpa Ibu. Hanya Ibu yang aku punya. Hanya Ibu yang bisa memberikan kasih sayang yang begitu tulus kepadaku. Ako mohon, Bu... ayo bangun... aku butuh Ibu... huuuu..." Arneta kembali meminta walau semuanya terasa tidak mungkin. Entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir dari sudut matanya. Arneta tidak memperdulikannya. Dia terus saja menangis hingga membuat kedua kelopak matanya terlihat semakin membengkak saja.

***

Terpopuler

Comments

L B

L B

yg tabah ya neta🥺.
satu-satunya alasan mu terikat dengan el sudah tiada 😥 , lepaskanlah seperti yang elvano mau, jangan terhina lagi 🥺😥😥
raihlah bahagia mu dan cita-cita mu.
suatu saat nanti mereka akan melihat sendiri bahwa kamu tidak sehina yg selalu mereka koar-koar kan.

2024-11-03

1

Regita Regita

Regita Regita

adakalanya kehilangan orang terkasih akan menjadikan mental seseorang menjadi sangat rapuh hingga mengakibatkan depresi, ada pula kehilangan akan menjadikan kekuatan baru untuk bangkit dan menjauhi orang oran yg menyakiti. ayo Arneta, bangkitlah dan menjadi lebih kuat

2024-11-03

1

Nurma septina🤍💙

Nurma septina🤍💙

Kenapa perawat yg menjaga Bu.Maria bisa sampai lalai.
bkn kah tugas dia utk merawat dan menjaga bu Maria,,tpi kenapa dia membiarkan bu Maria pergi ke kamar mandi sendiri.

Tapi mungkin ini sdh takdir,,Arneta harus bisa menerimanya

2024-11-03

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2 Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3 Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4 Bab 4 - Cahya...
5 Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6 Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7 Bab 7 - Perempuan Hina
8 Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9 Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10 Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11 Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12 Bab 12 - Melawan!!
13 Bab 13 - Kedatangan Oma
14 Bab 14 - Kehilangan Ibu
15 Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16 Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17 Bab 17 - El Mulai Perhatian
18 Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19 Bab 19 - Salah Fokus
20 Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21 Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22 Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23 Bab 23 - Arneta Sakit
24 Bab 24 - Ketahuan?
25 Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26 Bab 26 - Undangan Reuni
27 Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28 Bab 28 - Dalam Bahaya
29 Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30 Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31 Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32 Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33 Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34 Bab 34 - Evan Kembali
35 Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36 Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37 Bab 37 - Pemimpin Baru
38 Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39 Bab 39 - Jengkel!!
40 Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41 Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42 Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43 Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44 Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45 Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46 Bab 46 - Aku Yang Salah
47 Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48 Bab 48 - Pertarungan Mulut
49 Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50 Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51 Bab 51 - Cinta Sendiri
52 Bab 52 - Mengakhirinya
53 Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54 Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55 Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56 Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57 Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58 Bab 58 - Dimabuk Cinta
59 Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60 Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61 Bab 61 - Apa Jawabannya?
62 Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63 Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64 Bab 64 - Suami Perhatian
65 Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66 Bab 66 - Nara...
67 Bab 67 - Cerita Nara
68 Bab 68 - Kesedihan Nara
69 Bab 69 - Akhir Pertemuan
70 Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71 Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72 Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73 Bab 73 - Pertemuan
74 Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75 Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76 Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77 Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78 Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79 Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80 Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81 Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82 Bab 82 - Temui Nara, El
83 Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84 Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85 Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86 Bab 86 - Salah Paham
87 Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88 Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89 Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90 Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91 Bab 91 - Dimana Ibu?
92 Bab 92 - Kamu Dimana?
93 Bab 93 - Mengundurkan Diri
94 Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95 Bab 95 - Aku Mencintaimu
96 Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97 Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98 Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99 Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100 Bab 100 - Undangan Makan Malam
101 Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102 Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103 Bab 103 - Hamil
104 Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105 Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106 Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107 Semalam Bersama Calon Mertua
108 Scandal With Arrogant CEO
109 Dean dan Jennaira
110 PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1 - Tawaran Tuan Keenan
2
Bab 2 - Bukan Wanita Malam
3
Bab 3 - Jangan Sentuh Aku!
4
Bab 4 - Cahya...
5
Bab 5 - Sikapnya Yang Mudah Berubah
6
Bab 6 - Bolehkah Ibu Tinggal Bersamamu?
7
Bab 7 - Perempuan Hina
8
Bab 8 - Ibu Akhirnya Tahu
9
Bab 9 - Andika Membuat Ulah
10
Bab 10 - Undangan Ulang Tahun
11
Bab 11 - Aura Kebencian Oma Sukma
12
Bab 12 - Melawan!!
13
Bab 13 - Kedatangan Oma
14
Bab 14 - Kehilangan Ibu
15
Bab 15 - Kini Aku Sendirian
16
Bab 16 - Kamu Terlihat Perduli
17
Bab 17 - El Mulai Perhatian
18
Bab 18 - Dugaan Yang Salah
19
Bab 19 - Salah Fokus
20
Bab 20 - Dia Tidak Kesal
21
Bab 21 - Hanya Ingin Menyentuh Sheina
22
Bab 22 - Siapa Yang Benar?
23
Bab 23 - Arneta Sakit
24
Bab 24 - Ketahuan?
25
Bab 25 - Tidur Di Kamar Yang Sama!!
26
Bab 26 - Undangan Reuni
27
Bab 27 - Menghadiri Undangan Reuni
28
Bab 28 - Dalam Bahaya
29
Bab 29 - Ada Aku Di Sini
30
Bab 30 - Tidak Akan Tinggal Diam
31
Bab 31 - Dugaan Yang Salah
32
Bab 32 - Bukan Mama, Tapi Kamu!
33
Bab 33 - Bersandar Di Pundakmu
34
Bab 34 - Evan Kembali
35
Bab 35 - Rasa Tidak Suka
36
Bab 36 - Kebenaran Terungkap
37
Bab 37 - Pemimpin Baru
38
Bab 38 - Kenapa Mereka Berbeda?
39
Bab 39 - Jengkel!!
40
Bab 40 - Cemburu Menguras Hati
41
Bab 41 - Ada Apa Dengannya?
42
Bab 42 - Dia Tidak Seburuk Itu
43
Bab 43 - Memulai Hubungan Yang Lebih Baik
44
Bab 44 - Ajakan Makan Siang
45
Bab 45 - El Tidak Mencintaiku
46
Bab 46 - Aku Yang Salah
47
Bab 47 - Merindukan Pelukan Ibu
48
Bab 48 - Pertarungan Mulut
49
Bab 49 - Bahagia Bersamanya
50
Bab 50 - Membuka Lembaran Baru
51
Bab 51 - Cinta Sendiri
52
Bab 52 - Mengakhirinya
53
Bab 53 - Menyelesaikan Masalah
54
Bab 54 - Bolehkah Berpisah
55
Bab 55 - Mari Kita Berpisah
56
Bab 56 - Nafkah Batin Dariku
57
Bab 57 - Tidak Akan Berpisah
58
Bab 58 - Dimabuk Cinta
59
Bab 59 - Pandai Bersandiwara
60
Bab 60 - Tenanglah Di Atas Sana, Ibu
61
Bab 61 - Apa Jawabannya?
62
Bab 62 - Lagi-lagi Oma
63
Bab 63 - Bukan Wanita Murahan
64
Bab 64 - Suami Perhatian
65
Bab 65 - Dia Adalah Kakak Yang Baik
66
Bab 66 - Nara...
67
Bab 67 - Cerita Nara
68
Bab 68 - Kesedihan Nara
69
Bab 69 - Akhir Pertemuan
70
Bab 70 - Ingin Bertemu Kembali
71
Bab 71 - Bukan Orang Yang Sama
72
Bab 72 - Perdebatan Permintaan Nara
73
Bab 73 - Pertemuan
74
Bab 74 - Alasan Meninggalkan Kamu
75
Bab 75 - Ternyata Wanita Itu Nara
76
Bab 76 - Wanita Masa Depanku
77
Bab 77 - Aku Ingin Kembali Bersamanya
78
Bab 78 - Aku Adalah Istri El
79
Bab 79 - Pembicaraan Ketiga Wanita
80
Bab 80 - Tinggalkan Cucu Saya!
81
Bab 81 - Apakah Aku Mampu?
82
Bab 82 - Temui Nara, El
83
Bab 83 - Kebersamaan Dengan Mantan
84
Bab 84 - Mencoba Baik-baik Saja
85
Bab 85 - Mulai Terpengaruh
86
Bab 86 - Salah Paham
87
Bab 87 - Perdebatan Suami Istri
88
Bab 88 - Haruskah Berpisah?
89
Bab 89 - Aku Ingin Pisah
90
Bab 90 - Pergi Meninggalkan Rumah
91
Bab 91 - Dimana Ibu?
92
Bab 92 - Kamu Dimana?
93
Bab 93 - Mengundurkan Diri
94
Bab 94 - Wanita Yang Paling Penting
95
Bab 95 - Aku Mencintaimu
96
Bab 96 - Kesempatan Untukmu
97
Bab 97 - Kenapa Datang Bersama?
98
Bab 98 - Permasalahan Berakhir
99
Bab 99 - Kembali Bersama Dan Bahagia
100
Bab 100 - Undangan Makan Malam
101
Bab 101 - Tiada Dendam Di Hati
102
Bab 102 - Sakit Apa Istriku?
103
Bab 103 - Hamil
104
Bab 104 - Kebahagiaan Untuk Sheina
105
Bab 105 - Menjelang Waktu Persalinan
106
Bab 106 - Kebahagiaan Arneta
107
Semalam Bersama Calon Mertua
108
Scandal With Arrogant CEO
109
Dean dan Jennaira
110
PROMO KARYA BARU - PERNIKAHAN MEMBUATLUKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!