Bab 20: Lamaran Manaf

Setelah sehari penuh beraktivitas, Manaf, Rasya, dan Chana akhirnya kembali ke apartemen. Sementara itu, Mahreeen dan Hanin masih berada di rumah sakit. Sebelum tidur, Manaf memutuskan untuk melakukan video call dengan Mahreeen, memastikan mereka bisa tetap terhubung meski terpisah jarak.

"Assalamu’alaikum, Mahreeen. Gimana kabar Hanin? Udah istirahat?" sapa Manaf dengan senyuman di bibirnya saat VC.

"Wa’alaikumussalam, Manaf. Alhamdulillah, Hanin sudah tidur tadi. Tadi siang dia makan dengan lahap, mungkin dia senang ketemu Chana dan Rasya." jawab Mahreeen membalas dengan senyumannya juga yang sangat dirindukan Manaf.

"Baguslah kalau Hanin sudah mulai nyaman. Oh ya, Chana dan Rasya juga senang banget tadi. Chana nggak berhenti cerita tentang kamu sama Hanin." ucap Manaf dengan menganggukkan kepalanya.

"Syukurlah mereka senang. Terima kasih, Manaf, untuk semuanya. Kamu benar benar meluangkan waktu buat anak anak." ucap Mahreeen dengan terus tersenyum di bibirnya. Seolah kebahagiaan yang di berikan Manaf tidak pernah berhenti.

"Apa pun buat kamu, Mahreeen. Aku juga merindukanmu, kamu tahu. Rasanya dua bulan lagi itu terlalu lama." lirih Manaf tapi cukup bisa di dengar Mahreeen.

"Aku juga merindukanmu, Manaf... tapi kita harus sabar, kan? Waktu akan berlalu, dan nanti kita bisa bersama lagi." jawab Mahreeem yang tertunduk karena tersipu malu.

"Iya, tapi aku pengen lebih dari sekadar menunggu, Mahreeen. Aku pengen kita bisa menjalani semuanya bersama sama, bukan hanya berpisah di antara jarak ini." ucap tersenyum, nada suara semakin lembut.

"Manaf... maksud kamu apa?" tanya Mahreeen yang secara spontan mengangkat alisnya karena penasaran.

"Aku akan bilang sesuatu ke anak anak besok, Mahreeen. Aku ingin melamar kamu, resmi. Aku ingin kita menjadi keluarga, bukan hanya di depan mereka, tapi di hadapan Allah." ucap Manaf dengan tatapan serius.

"Manaf... ini begitu tiba tiba. Apa anak anak akan setuju?" ucap Mahreeen terharu, air mata mulai menggenang.

"Aku sudah bicara sama mereka, Mahreeen. Chana sudah setuju, dan Rasya... dia butuh waktu, tapi aku yakin dia juga akan menerima. Aku akan bicara dengan mereka lebih serius besok." jawab Manaf mengangguk yakin.

"Aku nggak tahu harus bilang apa, Manaf. Kamu benar benar telah banyak berkorban untukku dan anak anak." ucap Mahreeen dengan menghapus air matanya.

"Bukan pengorbanan, Mahreeen. Ini adalah cinta dan tanggung jawab yang aku siap jalani. Aku akan menjaga kamu, Hanin, Rasya, dan Chana, sepanjang hidupku." ucap Manaf dengan nada lembut.

"Aku percaya padamu, Manaf. Terima kasih... untuk segalanya." ucap Mahreeen tersenyum di antara air mata.

Percakapan itu semakin romantis, membawa Mahreeen dan Manaf semakin dekat, meski terpisah oleh jarak fisik. Rasa cinta yang semakin mendalam terpancar dalam setiap kata yang diucapkan oleh keduanya.

Keesokan harinya, setelah mengajak Chana dan Rasya mengelilingi kota lagi, Manaf merasa ini saat yang tepat untuk bicara serius dengan mereka. Malam hari, mereka duduk di ruang tamu apartemen, makan malam bersama. Setelah makan, Manaf mengajak mereka bicara dengan nada yang lebih serius.

"Chana, Rasya, ada yang mau dibicarakan soal ibu kalian." ucap Manaf.

Chana yang biasanya ceria langsung memusatkan perhatian, sementara Rasya, yang sudah mulai menduga, menatap Manaf dengan penuh perhatian.

"Om udah bilang sebelumnya, tapi sekarang Om serius. Om ingin melamar ibu kalian. Om mau kita jadi keluarga, resmi. Om tahu kalian sayang sama ibu, dan Om juga begitu. Tapi Om juga sayang sama kalian, dan Om ingin menjadi bagian dari hidup kalian."

Chana tersenyum lebar, jelas senang dengan kabar itu.

"Iya, Om Manaf! Aku setuju banget! Aku mau Om jadi papa baru kami!" antusias sekali Chana menjawabnya.

Rasya diam sejenak, menatap Manaf lebih serius. Ada kecanggungan yang terasa di ruangan itu. Rasya akhirnya bicara dengan nada tenang tapi tegas.

"Kalau ibu setuju, aku juga nggak ada masalah. Tapi aku cuma punya satu syarat." pinta Rasya.

"Apa itu, Rasya?" tanya Manaf yang mendekat padanya.

Rasya menatap Manaf dengan penuh keyakinan.

"Aku nggak mau lihat ibu menderita lagi, seperti waktu bersama bapak dulu. Om harus janji, Om Manaf, jangan pernah buat ibu menangis." jelasnya.

Manaf terdiam sesaat, menyadari betapa dalamnya kekhawatiran Rasya. Dia merasa dihormati, tetapi juga merasakan beratnya tanggung jawab itu.

"Aku berjanji, Rasya. Om akan melakukan apa pun untuk menjaga ibu kalian, dan kalian semua. Om juga sudah siap meminta restu dari orang tua Om sendiri, walaupun itu mungkin tidak mudah. Tapi ada kalian yang akan membuat mereka sangat senang,"jawab Manaf yakin.

Papa dan Mama pasti akan mudah menyayangi mereka yang penurut dan bertutur kata sopan ini. Batin Manaf.

Rasya akhirnya mengangguk, merasa lebih tenang setelah mendengar janji itu.

"Kalau begitu, aku setuju." jawab Rasya.

Chana langsung memeluk Manaf dengan gembira.

"Yes! Sekarang ibu bisa bahagia!" sorak Chana yang sangat bahagia.

Manaf tersenyum lega, merasa tanggung jawab besar yang ada di pundaknya kini disambut dengan dukungan dari anak anak Mahreeen. Pertemuan itu menjadi langkah besar menuju kebersamaan mereka sebagai sebuah keluarga.

"Bagaimana Om akan melamar Ibu?" tanya Rasya.

"Nanti kalian akan tahu, Om janji kalian ada disana," jawab Manaf yang sudah mempunyai ide.

Beberapa hari kemudian, Manaf mempersiapkan kejutan romantis di rumah sakit, tepat di kamar tempat Mahreeen dan Hanin dirawat. Dekorasi diatur dengan suasana hangat, penuh cinta, seperti makan malam keluarga. Di meja, sudah disiapkan lima kursi. Satu untuk Mahreeen, Hanin, Chana, Rasya, dan Manaf sendiri.

Ketika Mahreeen masuk bersama Hanin yang didorong di kursi roda, dia terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya.

"Manaf... apa yang kamu lakukan?" tanyanya terharu.

"Ini hanya makan malam keluarga, Mahreeen. Aku ingin kita semua bersama, seperti keluarga seharusnya." jawab Manaf yang tersenyum di samping Mahreeen.

Manaf menarik kursi Mahreeen untuk duduk disebelahnya, setelah benar duduk barulah Manaf duduk.

Saat mereka duduk dan menikmati makan malam, suasana hangat dan penuh kebahagiaan melingkupi ruangan. Setelah beberapa saat, Manaf berdiri, mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, ebuah cincin berlian yang indah. Semua mata tertuju padanya.

Manaf berlutut di depan Mahreeen.

"Mahreeen, aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi istriku, bukan hanya untuk sekarang, tapi selamanya. Will you marry me?" tanya Manaf yang memandang wajah Mahreeen yang terkejut.

Mahreeen, terharu dan tak mampu menahan air mata, mengangguk dengan senyum yang tak terbendung. Sadar jika disana dia tidak sendiri tapi dengan ketiga anaknya. Di pandangnya satu persatu olehnya.

"Jawab iya, Bu!" sorak Chana.

"Iya, iya, iya," pinta Hanin yang terlihat mulai segar.

"Iya, Iya," kedua anaknya sudah terus bersorak.

Namun berbeda dengan Rasya, dia malah mendekat pada Ibunya.

"Bu, jika ini membuat kebahagiaan untuk Ibu. Aku akan setuju, aku akan selalu mendukung apapun yang ibu lakukan. Karena Rasya sangat menyayangi Ibu," ucap Rasya yang menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih, Sayang," peluk Mahreeen pada Rasya.

Setelah itu Mahreeen kembali menatap Manaf yang masih berlutut di depannya.

...****************...

Terima kasih semuanya, dukung karya mommy ini ya. Ini udah bab 20 bantuannya ya untuk bisa lolos di sini.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!