Bab 12: Kedatangan Manaf

"Pagi, Mahreeen," suara lembut Manaf terdengar begitu akrab, membangunkan Mahreeen dari lamunannya. Dia berbalik dan terkejut melihat Manaf sudah berdiri di sana, menyapanya dengan senyuman hangat.

Mahreeen berkali kali mengedipkan matanya, seolah tak percaya Manaf benar benar ada di hadapannya. Wajahnya memancarkan kebingungan campur haru. Melihat ekspresi itu, Manaf tak bisa menahan tawa, tawanya ringan, namun ada kehangatan di dalamnya yang membuat Mahreeen tersipu.

“Kenapa? Seperti melihat hantu saja, Mahreeen?” tanya Manaf sambil mendekat, masih dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya.

“Aku... Aku hanya tidak menyangka kamu sudah kembali secepat ini,” jawab Mahreeen dengan suara pelan, tatapannya belum berani mengunci pada Manaf.

Tanpa banyak berkata kata lagi, Manaf mendekatkan tubuhnya dan dengan lembut menarik Mahreeen ke dalam pelukannya. Pelukan itu erat, namun menenangkan, seolah ingin melepaskan segala kerinduan yang terpendam dalam hatinya.

Mahreeen terkejut, tubuhnya kaku dalam pelukan Manaf. Namun, dia tak menolak. Sesaat kemudian, tubuhnya mulai rileks, dan dia membiarkan dirinya larut dalam kehangatan pelukan Manaf. Rasa nyaman yang sudah lama dia rindukan, meski tak ingin diakuinya.

Manaf perlahan melepaskan pelukannya, kemudian menatap dalam dalam wajah cantik Mahreeen. Dengan lembut, dia mengusap pipinya yang halus, matanya mengunci pada mata Mahreeen, dan dengan nada yang penuh kasih.

“Aku merindukanmu, Mahreeen... Lebih dari yang kau tahu.” bisiknya.

Deg!

Mahreeen hanya bisa terdiam. Hatinya berdegup cepat. Kata kata Manaf yang begitu jujur dan tanpa ditutup tutupi membuatnya kehilangan kata kata. Ini adalah sisi Manaf yang berbeda, bukan sekadar CEO yang kuat dan tegas, tapi pria yang menunjukkan rasa cinta dan perhatian dengan begitu tulus.

Kenapa denganku? Manaf kenapa begitu hangat, batinnya.

Setelah momen itu, mereka berdua duduk untuk sarapan bersama. Manaf memerintahkan Malika untuk membeli makanan yang terbaik. Saat makanan tiba, mereka menikmati sarapan dengan suasana yang tenang. Sesekali, percakapan ringan terjadi, namun ada kenyamanan yang terasa dari setiap momen yang mereka lewati bersama.

Setelah sarapan, mereka berjalan menuju ruang perawatan Hanin. Kondisinya semakin membaik, dan dokter memberikan kabar baik.

“Jika hari ini kondisinya tetap stabil, maka operasinya bisa dibilang berhasil. Kita hanya perlu menunggu perkembangan lebih lanjut." jelasnya.

Mahreeen tak bisa menahan air matanya yang tiba tiba menetes. Rasa lega bercampur bahagia memenuhi hatinya. Saat itu juga, Manaf, yang berdiri di sampingnya, menghapus air matanya dengan lembut.

“Jangan menangis lagi, Mahreeen. Semua akan baik baik saja,” ucap Manaf dengan suara lembut, penuh perhatian.

"Percayalah, mereka pasti sudah melakuka yang terbaik," lanjut Manaf.

Dari kejauhan, Malika memperhatikan momen itu. Dia tersenyum, bahagia melihat tuannya menunjukkan sisi yang begitu peduli dan lembut.

“Tuan Manaf memang benar benar serius dengan Nyonya Mahreeen,” lirihnya dalam hati.

“Tak diragukan lagi, dia adalah Nyonya Muda Omar yang sebenarnya." lanjutnya.

Selesai memeriksa Hanin, Manaf memutuskan untuk mengajak Mahreeen keluar rumah sakit. Awalnya Mahreeen menolak. “Aku tak bisa meninggalkan Hanin terlalu lama, Manaf," ucapnya sambil menundukkan kepala.

“Malika akan menjaganya, percayalah. Kau butuh sedikit waktu untuk dirimu sendiri,” jawab Manaf dengan nada meyakinkan. “Hanin dalam kondisi baik, dan kamu butuh istirahat. Biarkan aku menjaga dirimu, Mahreeen.” pinta Manaf.

"Benar, Nyonya Mahreeen." ucap Maliki yang meyakinkannya.

Setelah berpikir sejenak, Mahreeen akhirnya setuju.

“Baiklah... Tapi tidak terlalu lama, ya?” ucapnya.

“Tidak akan lama, aku janji.” jawab Manaf tersenyum.

Mereka berdua pun keluar dari rumah sakit dan menghabiskan waktu bersama. Manaf membawa Mahreeen ke tempat yang tenang dan indah. Selama perjalanan, Manaf terus mengajak Mahreeen berbicara, membuat suasana yang awalnya canggung menjadi lebih ringan.

“Kamu tahu, Mahreeen, aku selalu kagum dengan ketegaranmu. Bagaimana kamu bisa tetap kuat meskipun banyak cobaan yang datang?” tanya Manaf dengan nada ingin tahu.

“Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Manaf. Aku tidak punya pilihan lain selain bertahan,” jawab Mahreeen dengan senyum tipis.

Manaf menatapnya dalam dalam wajah Mahreeen.

“Dan itulah yang membuatmu begitu istimewa bagiku. Kamu kuat, tegar, dan penuh kasih. Aku tak ingin melihatmu bersedih lagi, Mahreeen.” ucapnya kembali

Ucapan Manaf membuat Mahreeen terdiam. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya, namun di balik itu, ada kebingungan yang mulai tumbuh.

Kenapa Manaf begitu peduli padaku? batinnya.

Namun, di saat yang sama, ada perasaan nyaman yang dia rasakan di dekat Manaf, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Selama mereka menghabiskan waktu bersama, Manaf berhasil membuat Mahreeen tersenyum. Bahkan, di momen momen tertentu, Mahreeen bisa tertawa, sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan. Setiap kali ia tersenyum, Manaf merasa hatinya semakin terikat pada Mahreeen.

Senyuman itu... begitu manis. Aku tidak ingin melihatnya bersedih lagi, batin Manaf.

Saat mereka kembali ke rumah sakit, suasana hati Mahreeen jauh lebih baik. Dia merasa lebih tenang dan yakin bahwa semuanya akan baik baik saja. Selama mereka pergi, Malika yang menjaga Hanin memastikan semua berjalan lancar.

“Bagaimana kondisi Hanin?” tanya Mahreeen begitu tiba kembali di rumah sakit.

“Semua baik baik saja, Nyonya Mahreeen. Hanin masih dalam kondisi stabil. Nyonya tidak perlu khawatir,” jawab Malika dengan senyuman.

"Biarkan aku yang akan berganti menjaganya. Ini sudah malam, pulanglah," pinta Mahreeen.

Malika yang melihat ke arah Tuannya dan menganggukkan kepalanya.

"Baik, Nyonya. Aku pamit," keluar Malika dari ruangan itu.

"Bukan cuma Malika yang istirahat, kamu juga sama Mahreeen. Biarkan malam ini aku yang akan menjaganya di ruangan ini. Kamu tidurlah di sebelah seperti biasanya," pinta Manaf.

"Baiklah, terima-" terputus ucapan Mahreeen karena sudah di tutupnya bibir Mahreeen dengan tangan Manaf.

Deg!

Sesuatu yang tidak biasa terjadi diantara mereka. Yang akhirnya Mahreeen menganggukkan kepalanya dan keluar dari sana.

Malam itu, sebelum tidur, Mahreeen tak bisa berhenti memikirkan Manaf. Sikapnya yang penuh perhatian, kata kata manisnya, dan bagaimana dia selalu ada untuknya membuat Mahreeen bingung.

Kenapa dia begitu peduli padaku? Apa yang sebenarnya dia rasakan? tanyanya dalam hati.

Sementara Manaf di ruangan Hanin, menatap wajah balita yang sangat mirip Mahreeen versi anak anaknya.

Kenapa aku begitu ingin selalu ada di dekatnya? Apa yang membuatku tak bisa jauh darinya? Mahreeen... kamu telah membuka hatiku yang sudah lama tertutup.

Apakah aku bisa jatuh cinta lagi? Dengannya Mahreeen? Apakah aku bisa sembuh sepenuhnya dengannya? Apakah aku sudah melupakannya? Batin Manaf.

Tersenyum sendiri Manaf dengan membayangkan jika memang dia bisa seperti pria pada umumnya. Namun tidak saat terlintas di benaknya kejadian waktu itu.

Tidak!!! Aku belum bisa melupakannya!!!! Aku tidak tahu, hanya berharap Mahreeen bisa membantuku. Batin Manaf lagi.

...****************...

Hi semuanya!!!! Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!