Bab 16: Farisa Curiga

Sesampainya di rumah, Manaf merasa lelah setelah perjalanan panjangnya. Dia mencoba menghindari konfrontasi langsung, tetapi Farisa sudah menunggu di ruang tamu, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan yang jelas. Manaf berusaha tetap tenang, tetapi dia tahu Farisa tidak akan membiarkannya lolos dengan mudah kali ini.

"Kamu ke mana saja, Manaf? Biasanya, kalau urusan kantor, paling lama seminggu. Tapi kali ini, lebih dari dua minggu! Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan?" cecar Farisa.

Manaf melepaskan jasnya dan menaruhnya di kursi, lalu berbalik menghadap Farisa.

"Farisa, urusanku di luar negeri tidak selalu sama. Ada hal hal penting yang harus aku awasi langsung. Kamu tidak perlu mencampuri urusan pekerjaanku." ucap Manaf.

"Tidak mencampuri? Manaf, aku istrimu! Aku berhak tahu ke mana kamu pergi dan apa yang kamu lakukan! Kamu tidak bisa terus terusan mengabaikanku seperti ini!"bentak Farisa.

Manaf menahan napas, mencoba tetap tenang meskipun dia sudah mulai merasa frustrasi.

"Farisa, aku tidak mengabaikanmu. Tapi ini adalah urusan perusahaan, sesuatu yang tidak bisa selalu aku jelaskan secara rinci. Jangan membuat hal ini lebih besar dari yang seharusnya." ucap Manaf.

Farisa berdiri dan mendekatinya, matanya menatap tajam penuh kecurigaan.

"Aku tahu ada yang kamu sembunyikan dariku, Manaf. Kamu tidak pernah lama seperti ini untuk urusan kantor. Apakah ini tentang wanita lain?" cecar kembali Farisa yang memang melihat perubahan sikap Manaf.

Manaf tersenyum tipis, tetapi jelas itu senyum penuh ketegangan.

"Farisa, jangan mengada ada. Kamu tahu aku selalu jujur tentang urusanku. Fokuslah pada apa yang seharusnya menjadi perhatianmu." kesal Manaf.

"Apa maksudmu? Apa kamu sedang menyindir aku karena aku tinggal di rumah dan tidak bekerja? Apa itu yang kamu maksud?" tidak terima Farisa.

"Bukan itu. Yang aku maksud adalah, jangan terlalu mencampuri hal hal yang bukan urusanmu. Ini bukan tentang pekerjaanmu atau tidak bekerja. Ini soal kamu yang terlalu jauh masuk ke dalam urusanku." tegas Manaf.

Farisa menahan amarahnya, tetapi kecurigaannya semakin menjadi.

"Kalau begitu, jawab satu pertanyaanku, Manaf. Kenapa kamu lama sekali di luar negeri? Kamu tidak pernah memberiku penjelasan yang jelas!" tanya Farisa.

Manaf menghela napas panjang, tahu perdebatan ini tidak akan cepat selesai.

"Aku sudah bilang, Farisa, urusanku adalah urusan perusahaan. Kalau kamu tidak bisa menerima itu, maka mungkin kita harus bicara tentang perjanjian baru." ucap Manaf.

Farisa terdiam sejenak, matanya membesar.

"Perjanjian baru? Maksudmu apa?" tanyanya dengan nada bingung.

"Aku sudah memutuskan untuk memperbarui perjanjian kita. Mulai sekarang, kamu tidak boleh menanyakan keberadaanku, tidak boleh memintaku pulang, kecuali aku sendiri yang memutuskan untuk pulang." tegas Manaf.

"Apa? Kamu tidak bisa melakukan ini, Manaf! Kamu tidak bisa memperbarui perjanjian kita tanpa persetujuanku! Aku berhak tahu di mana kamu berada dan apa yang kamu lakukan!" tolak Farisa.

"Tidak, Farisa. Kamu hanya berhak atas apa yang aku berikan padamu. Kalau kamu tidak suka dengan perjanjian ini, kamu bebas pergi. Tapi jangan harap kamu akan mendapatkan apa pun dariku lagi." tegas Manaf kembali.

Mendengar ancaman itu, Farisa mulai panik. Dia merasa posisinya semakin terancam, dan dia tidak ingin kehilangan kenyamanan hidup yang selama ini dia nikmati.

"Ini tidak adil, Manaf! Kamu mengubah semuanya tanpa memberiku pilihan! Kamu tidak bisa begitu!" teriaknya dengan suara yang mulai bergetar.

"Aku bisa, dan aku sudah melakukannya. Ini adalah perjanjian baru kita. Kamu bisa menerimanya atau kamu bisa pergi. Tapi ingat, kalau kamu memilih pergi, jangan harap kamu akan mendapatkan uang atau fasilitas apa pun dariku." ucap Manaf tegas.

Farisa mencoba menahan air matanya, tetapi emosinya semakin tidak bisa dikendalikan.

"Kamu jahat, Manaf. Kamu menganggapku hanya sebagai alat, hanya istri di atas kertas. Apa kamu pikir aku tidak tahu ada yang kamu sembunyikan? Kamu pasti punya wanita lain di luar sana!" kesal dan marah Farisa tapi sekali tidak berdaya.

Manaf mendekatkan wajahnya ke arah Farisa, suaranya dingin namun penuh kekuatan.

"Ini bukan urusanmu, Farisa. Dan kalau kamu terus memaksakan diri seperti ini, aku tidak akan ragu untuk menghentikan semua yang kamu dapatkan dariku. Jadi pikirkan baik baik, apa yang sebenarnya kamu inginkan." ucap Manaf dengan tatapan tajamnya.

Farisa merasa semakin terpojok. Tangisannya mulai pecah, tetapi bukan karena kesedihan, melainkan karena frustrasi.

"Manaf, kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja. Aku istrimu, aku punya hak!" lirihnya.

Manaf menghela napas lagi, kali ini lebih dalam.

"Farisa, aku tidak meninggalkanmu. Kamu masih istriku, tapi dengan perjanjian ini, kamu tidak punya kendali atas hidupku. Kamu hanya mendapatkan hakmu sejauh yang sudah aku berikan. Jangan memaksa lebih dari itu. Kamu tahu jelas kenapa aku menikahimu dulu," ucap Manaf.

Tak terima dengan jawaban tersebut, Farisa segera menghubungi ibunya, Jasmin, dan tak lama kemudian, Jasmin tiba di rumah Manaf. Mereka bertiga duduk bersama di ruang tamu, dan Jasmin langsung mengambil alih pembicaraan.

"Manaf, aku tidak mengerti kenapa kamu memperlakukan Farisa seperti ini. Kamu tahu dia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya. Apa salahnya jika dia menanyakan keberadaanmu? Kamu suaminya!" jelas Jasmin.

"Bu Jasmin, saya menghargai kekhawatiran Anda, tapi saya sudah jelaskan semua ini pada Farisa. Saya tidak akan membiarkan dia mencampuri urusan pribadi saya lebih dari yang seharusnya. Atau aku bisa saja menghentikan semuanya yang biasa saya berikan," jelas Manaf.

"Tapi kamu tidak bisa begitu, Manaf. Farisa itu istrimu. Kalian sudah menikah selama sepuluh tahun! Apa tidak ada sedikit pun rasa hormat yang tersisa untuk istrimu sendiri?" cecar Jasmin.

"Saya menghormati Farisa sebagai istri saya, tapi ada batasnya. Saya tidak akan mengizinkan siapa pun, termasuk Farisa, mengganggu keputusan saya. Dan kalau kita bicara soal hormat, hormat itu harus timbal balik." jelas Manaf.

"Apa maksudmu, Manaf? Apa aku belum cukup menghormatimu?" tanya Farisa kecewa.

"Kamu terlalu sering mencampuri urusanku, Farisa. Kamu terlalu banyak bertanya dan terlalu sering menuntut. Itu bukan bentuk hormat. Dan jangan lupa dengan apa yang seharusnya kamu lakukan," jelas Manaf kembali yang sebenarnya sudah sangat lelah.

"Manaf, kamu harus mengerti. Farisa hanya ingin memastikan kamu tidak melakukan sesuatu yang salah. Dia mencurigaimu karena kamu tidak pernah memberi tahu dia ke mana saja kamu pergi!" jelas Jasmin.

"Itu bukan urusannya, Bu Jasmin. Urusan perusahaan dan pribadi saya bukan sesuatu yang harus selalu saya jelaskan pada Farisa." kembali Manaf jelaskan dengan baik.

Setelah perdebatan yang semakin panas, Manaf merasa emosinya sudah tidak terkendali lagi. Dia berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan, meninggalkan Farisa dan Jasmin yang masih duduk dengan penuh kekesalan.

"Aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini, Bu. Aku harus mendapatkan lebih dari ini. Manaf sudah terlalu jauh, dan aku tidak akan tinggal diam." adunya.

"Tenang, Farisa. Kita akan cari cara untuk membuat Manaf tunduk. Jika perlu, kita akan mengubah caramu bertindak. Manaf hanya akan memberikan apa yang dia inginkan kalau kamu bersikap lebih bijak. Tapi jangan menyerah." ucap Jasmin menenangkan.

"Tapi, Bu-" terputus Farisa.

"Ibu ada cara,-" bisik Jasmin.

...****************...

Hi semuanya, jangan lupa dengan meninggalkan jejak kalian disini.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!