Bab 2: Memberanikan Diri

Mahreeen berdiri di depan pintu ruang HRD dengan tangan gemetar. Keputusan ini sangat berat baginya, tapi dia tidak punya pilihan lain. Hanin membutuhkan operasi secepatnya, dan Mahreeen harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Lima ratus juta, angka yang begitu besar, jauh dari jangkauan tangannya.

Setelah menarik napas dalam dalam, Mahreeen mengetuk pintu dan masuk.

"Bu Mahreeen, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu staf HRD dengan ramah.

"Saya ingin mengajukan pinjaman," ucap Mahreeen perlahan, suaranya hampir tenggelam oleh ketakutannya sendiri.

"Anak saya sakit parah dan membutuhkan operasi segera. Saya butuh lima ratus juta." lanjutnya.

Staf HRD terkejut mendengar jumlah itu, wajahnya berubah seketika.

"Maaf, Bu Mahreeen, kami memang punya kebijakan pinjaman, tapi jumlahnya tak sebesar itu. Kantor hanya bisa memberikan pinjaman maksimal dua ratus juta." jelas staf itu.

Apa!!! Hanya 200 juta, lalu sisanya aku harus cari dimana? Batin Mahreeen seketika itu.

Dunia seolah runtuh di depan Mahreeen. Dua ratus juta jauh dari cukup. Pikirannya melayang ke wajah Hanin yang pucat di rumah sakit, tubuh kecilnya terbaring tak berdaya. Bagaimana mungkin ia bisa menyelamatkan anaknya dengan hanya dua ratus juta?

"Apa tidak bisa coba di ajukan pada atasan, Bu? Saya benar benar terdesak karena biaya operasi anak, saya mohon Bu, saya membutuhkan dana pinjaman itu." memohon Mahreeen.

"Tidak bisa Bu Mahreeen. Saya sungguh meminta maaf dan sangat menyesal yang tidak bisa memberikan pinjaman yang sesuai dengan Ibu," sesal staf itu yang merasa iba pada Mahreeen.

Tapi apalah dayanya, yang juga sebagai pekerja disana. Dengan gaji yang sama dengan Mahreeen tentunya. Andaikata membantunya pun menggunakan namanya hanya baru terkumpul 400 juta, itu lun masih kurang.

"Benar benar tidak bisa, Bu. Di usahakan untuk di pertimbangkan lagi, sungguh saya hanya berharap banyak pada kantor," ucap Mahreeen memelas. Rela dirinya merendah demi uang, demi anaknya, Hanin.

"Maaf, Bu. Saya tidak bisa membantu lebih," tolaknya dengan pelan dan hati hati.

Mahreeen yang sudah berusaha semampunya membujuk staf itu, tapi teta nihil.

"Terima kasih...," ucap Mahreeen, menundukkan kepala sebelum berbalik keluar dari ruangan HRD dengan langkah gontai. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menindihnya.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ya Tuhan, tolong aku... batinnya terus berdoa dalam diam.

Saat melewati lobi kantor, pikirannya masih dipenuhi kegelisahan. Matanya tak fokus, hingga tiba tiba dia menabrak seseorang.

"Aduh, maaf... maaf, saya tidak sengaja!" ucap buru buru Mahreeen panik saat menyadari orang yang ditabraknya adalah Manaf Pasha Omar, CEO perusahaannya.

Manaf langsung bereaksi. Wajahnya berubah masam, lalu tiba tiba dia mundur dengan cepat, seolah terhindar dari sesuatu yang menakutkan.

"Olaf! Olaf!" suara Manaf yang tegas sambil berlari menuju kamar mandi terdekat.

Mahreeen tertegun.

"Apa yang terjadi?" lirihnya, bingung dengan reaksi Manaf. Olaf, asisten Manaf, segera mendekati Mahreeen dengan wajah dingin.

"Lain kali lebih hati hati, Bu Mahreeen. Bos tidak suka disentuh. Fokuslah pada jalan Anda," ucap Olaf datar, lalu berlalu.

Ya Olaf kenal dengan Mahreeen karena prestasinya yang di kenal selalu bisa Chip target marketing selalu tinggi. Dan sering kali mendapatkan bonus langsung dari kantor.

Mahreeen menunduk, merasa malu dan bersalah.

Kenapa semua terasa begitu berat, Ya Allah? Apa yang harus aku lakukan? batinnya kembali bergejolak.

Dia masih terpaku di tempat, hingga Poppy, temannya di kantor, datang menghampiri.

"Hei, Mahreeen! Kamu kenapa diam di sini? Bos sudah tidak di sana," tegur Poppy, mengingatkan Mahreeen untuk kembali ke pekerjaannya.

Mahreeen hanya tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mendalam. Poppy memang teman yang baik, tetapi Mahreeen tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapa pun di kantor. Dia lebih memilih menyimpan semua kesulitan dalam hatinya, meluapkan tangisannya hanya dalam sujud dan doa doanya.

Ya Allah, beri aku kekuatan... tunjukkan jalan keluar, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Mahreeen berdoa dalam hati setiap kali ia bersujud, merasakan beban yang semakin menghimpitnya.

***

Dua hari berlalu setelah kejadian itu, Mahreeen merasa cemas setiap kali memikirkan Hanin yang masih terbaring di rumah sakit. Biaya yang dibutuhkan belum terkumpul, dan waktu terus berjalan. Stres mulai menggerogoti kesehatannya. Hingga pada suatu pagi, sebuah panggilan telepon dari resepsionis kantor mengejutkannya.

"Bu Mahreeen, Anda diminta menghadap Pak Manaf di kantornya sekarang."

Mahreeen terdiam sejenak, hatinya langsung diliputi rasa takut. "Kenapa aku dipanggil?" pikirnya panik.

Mungkinkah kejadian ketika dia menabrak Manaf dua hari lalu? Atau ada kesalahan lain yang dia perbuat tanpa sadar? Pikirannya terus berputar, dan rasa khawatir mulai melanda. Apakah mungkin dia akan dipecat? Jika itu terjadi, bagaimana dia akan membayar biaya rumah sakit Hanin?

Terburu buru Mahreeen berangkat ke kantor hari ini, Hanin yang di titipkan pada suster disana, sementara menunggu anak sulungnya setelah pulang sekolah.

Dengan tangan yang gemetar, Mahreeen menuju ruangan Manaf. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah ada ribuan beban di punggungnya. Saat tiba di depan pintu, dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu mengetuk pelan.

Tok!

Tok!

"Masuk," terdengar suara Manaf dari dalam.

Mahreeen membuka pintu perlahan dan masuk dengan kepala tertunduk. Di hadapannya, Manaf duduk di balik meja kerjanya, wajahnya tenang namun sulit ditebak.

"Bu Mahreeen, duduklah," ucap Manaf, suaranya lebih tenang daripada yang Mahreeen duga.

Mahreeen duduk dengan hati berdebar kencang. Apa yang akan Manaf katakan? Tapi kali ini Mahreeen duduk di sofa setelah Manaf bangkit dari kursi kebesarannya itu.

Mahreeen hanya bisa mengikuti sesuai perkataan bos besarnya itu, duduk disofa tepat di sampingnya. Memang agak lain, jantungnya kali ini berdebar lebih cepat. Bukan karena apa papa tapi tegang dan takut.

"Saya dengar Anda mengajukan pinjaman ke HRD, dan mereka hanya bisa memberikan dua ratus juta. Itu benar, kan?" tanya Manaf langsung.

Mahreeen mengangguk pelan, tidak berani menatap wajah bosnya, karena wajahnya saat ini tengah pucat pasi.

"Saya juga dengar alasan Anda meminjam uang adalah untuk biaya operasi anak Anda," lanjut Manaf. "Kenapa Anda tidak bicara langsung kepada saya?" ucap Manaf yang melihat pada Mahreeen. Mata mereka bertemu.

Deg!

Mahreeen terkejut dengan pertanyaan itu. Bicara langsung kepada Manaf? Bagaimana mungkin? Dia hanya seorang staf biasa, sementara Manaf adalah CEO perusahaan besar ini.

"Saya... saya tidak tahu harus bagaimana, Pak. Saya hanya mencoba mencari cara untuk menyelamatkan anak saya," jawab Mahreeen dengan suara gemetar dan memutus kontak matanya lebih dulu.

Manaf terdiam sejenak, lalu menghela napas.

"Saya akan bantu Anda, Mahreeen," ucapnya singkat, membuat Mahreeen terperanjat.

"Tapi dengan satu syarat." lanjut Manaf.

Mahreeen menatap Manaf, bingung dan cemas.

"Syarat apa?" tanyanya pelan, hatinya berdebar kencang, tidak siap dengan jawaban yang akan datang.

Ya Allah, tolong lindungi aku... apapun syaratnya, tolong beri aku kekuatan. Dalam hati, Mahreeen terus berdoa.

...****************...

Sejauh ini bagaimana menurut pendapat kalian???

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.

Terpopuler

Comments

Ma Em

Ma Em

Bagus mommy ceritanya menarik aku baru baca langsung suka.

2024-11-05

1

ziear

ziear

Terima kasih

2024-11-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!