Bab 4: Putusan Mahreeen

Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya bagi Mahreeen. Kelelahan fisik dan emosional yang terus menumpuk seakan membuat napasnya terengah. Sejak fajar menyingsing, dia telah melaksanakan shalat Subuh di rumah sakit, memohon dengan sepenuh hati agar Hanin diberi kesembuhan. Setiap tetesan air matanya disertai doa yang tulus.

Ya Allah, aku meminta welas asihmu ya Rob! Meminta kesembuhan Hanin anakku dan aku meminta kemudahan untuk mendapatkan biaya yang sangat besar ini. Aku sangat percaya dengan ketentuanmu. Aku sangat percaya bantuan dan pertolongan akan datang. Jangan buat aku tersika lebih dari ini ya Allah, hamba ini mengadu dan pasrah dengan sujudku ini.

Andai bisa di gantikan posisinya padaku aku rela ya Rob, dia masih sangat kecil untuk merasakan sakit atau bahkan untuk engkau ambil. Hamba ini sebagai ibunya belum cukup bisa membuatnya bahagia jangan ambil dulu, ya Rob.

Namun, belum selesai Mahreeen berdoa, tiba tiba tubuh Hanin mulai kejang.

"Dokter!!! Dokter!!!" Mahreeen terkejut dan berteriak memanggil suster dan memencet tombol merah di atas tempat tidur Hanin.

Tim dokter segera masuk dan berusaha menangani Hanin dengan cepat. Mahreeen hanya bisa berdiri di sudut ruangan, melihat anaknya yang masih kecil berjuang untuk bertahan hidup dengan segala alat medis yang terpasang di tubuhnya. Ketika akhirnya keadaan sedikit stabil, Mahreeen memohon izin untuk terlambat bekerja karena harus menunggu perkembangan lebih lanjut dari dokter.

Ya Allah!! Tolong selamatkan anakku, akan aku lakukan demi menyelamatkan. Tolong jangan ambil dia dulu dariku, aku ingin membuatnya bahagia. Batin Mahreeen yang sudah keluar air matanya di depan pintu ruangan Hanin.

Beberapa jam berlalu, dokter yang menangani Hanin memanggil Mahreeen ke ruangannya. Dengan suara pelan, dokter tersebut memberikan kabar yang menghancurkan hati Mahreeen.

"Ibu Mahreeen, kami minta maaf, tapi kondisi Hanin semakin kritis. Kami prediksi dia hanya bisa bertahan selama dua hari, mungkin lebih, mungkin juga tidak. Ini hanya perkiraan manusia, tapi kami akan berusaha sebaik mungkin. Hanya keajaiban dari Tuhan dan perbanyaklah berdoa," jelas Dokter.

Seperti terhempas ke dalam jurang, air mata Mahreeen jatuh tanpa bisa dibendung.

Tidak mungkin... Hanin... Anakku...batinnya terus merintih.

"Akan saya usahakan secepatnya, Dok," ucap Mahreeen yang sudah meneteskan air matanya yang teramat sedih mendengar kabar ini.

"Lebih cepat lebih baik, Bu. Ini bukan main main, ini sangat penting demi anak Ibu," jelas Dokter.

Bukan tidak ada bantuan dari rumah sakit, Mahreeen sudah mendapatkan banyak keringanan dan bantuan dari dokter tersebut karena ingat dengan anaknya dulu tapi sayangnya telah tiada. Biaya sebelumnya sudah mencapai 100 juta, tapi Mahreeen hanya membayar 50 juta, sisanya di bantu olehnya.

"Bail, Dok. Terima kasih," pamit Mahreeen.

Dia meninggalkan ruang dokter dengan perasaan hancur, kembali ke NICU untuk melihat anak bungsunya yang berjuang antara hidup dan mati. Selang selang yang terpasang di tubuh kecil Hanin seolah menjadi simbol penderitaan yang semakin dalam bagi Mahreeen.

Sementara itu, suaminya, Peros, tidak pernah hadir di rumah sakit. Peros selalu memilih berada di rumah, melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci atau menyiapkan makanan. Bagi Mahreeen, Peros sudah tidak lebih dari seorang "majikan" yang selalu menuntut bagiannya setiap hari. Bahkan, saat Mahreeen menelepon untuk memberi kabar tentang kondisi Hanin, tanggapan Peros justru semakin menyakitkan.

"Mahreeen, kamu tahu kan solusinya. Setujui saja tawaran bosmu itu! Kalau perlu, biar aku ceraikan kamu. Yang penting, aku bisa dapat uang dan jaminan hidup!" jawab Peros tanpa perasaan.

Tega kamu Peros!!! Menjualku demi uang! Batin Mahreeen.

Mahreeen terdiam mendengar kata kata suaminya. Hatinya remuk. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang yang seharusnya berdiri di sisinya dalam saat saat sulit seperti ini justru semakin menambah beban hidupnya. Bagaimana mungkin dia bisa tetap kuat menghadapi semua ini? Di saat yang sama, hidup Hanin tergantung pada keputusannya.

"Jangan salahkan aku Peros! Jika harta yang kamu pilih dan kami semuanya pergi darimu, meninggalkan kamu sendirian," ucap Mahreeen.

"Aku hanya butuh uang tidak dengan kalian yang sangat menyusahkanku, paham!" bentak Peros lalu mematikan telpnya sepihak.

Ya Allah, ujianmu sungguh sangat berat yang terjadi padaku ini, apakah aku harus melakukannya? Apakah ini yang terbaik? Batinnya.

Telepon Mahreeen kembali berdering, dan menyadarkan di dari lamunannya kali ini dari Poppy, rekannya di kantor.

"Mahreeen, kita ada meeting penting untuk peluncuran produk baru. Kamu bisa datang?" tanya Poppy dengan nada cemas, seolah tahu bahwa Mahreeen sedang dalam kondisi yang sulit.

"Ya, aku akan kesana sebentar lagi," jawab Mahreeen

Mahreeen menarik napas panjang dan memutuskan untuk tetap hadir di kantor. Dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya, walaupun pikirannya sepenuhnya berada di NICU bersama Hanin. Setibanya di kantor, Mahreeen mencoba fokus, tetapi segala sesuatu terasa kabur.

Saat meeting berlangsung, dia bahkan tidak menyadari apa yang dibahas. Hanya suara Poppy yang menyelamatkannya, menjelaskan kembali isi meeting saat mereka keluar dari ruang rapat.

"Kamu sakit, Mahreeen?" tanya Poppy.

"Tidak, hanya kondisi yang lemah saja. Butuh amunisi lebih," bohongnya.

"Baiklah, ayo kita cari amunisi," ajak Poppy yanh tidak mau mendesaknya.

Di lobi kantor, langkah Mahreeen terhenti ketika matanya bertemu dengan tatapan Manaf. Dalam hati, ada perasaan campur aduk yang tidak bisa dia jelaskan.

"Manaf... Hanya dia yang mungkin bisa menyelamatkan Hanin." pikiran itu terus berputar di kepala Mahreeen.

"Kamu duluan Poppy, aku ada perlu sebentar," bisiknya.

Tanpa menunggu lebih lama, dia menyusul Olaf, asisten Manaf, dan meminta bertemu dengan bosnya.

Manaf, yang berada di ruangannya, segera mempersilakan Mahreeen masuk. Ketegangan antara keduanya terasa nyata, tapi tidak ada kata kata yang bisa menggambarkan pergolakan batin Mahreeen.

"Pak Manaf," suara Mahreeen terdengar lirih, nyaris pecah. "Saya ingin bicara tentang tawaran Anda." lanjutnya.

Persetan dengan harga diri! Aku harus berani demi Hanin! Batin Mahreeen memberanikan diri.

Manaf menatapnya dengan tenang, tetapi dalam tatapannya ada sesuatu yang menyiratkan bahwa dia tahu keputusan besar akan segera dibuat.

"Aku tahu ini tidak mudah, Mahreeen. Tapi aku tidak akan memaksa. Pilihan ada di tanganmu." ucap.Manaf.

Mahreeen mengangguk pelan.

Hening suasana disana kembali, Mahreeen masih mengumpulkan keberaniannya untuk memberikan jawabannya. Sebuah langkah yang tidak main main bahkan ini akan menentukan nasibnya dan anak anaknya, bahkan rumah tangganya.

Di dalam hatinya, perdebatan terus terjadi. Bagaimana mungkin dia harus membuat keputusan sebesar ini hanya demi uang? Namun, di sisi lain, hidup Hanin terancam. Dalam diam, Mahreeen memohon pada Tuhan, berdoa agar keputusan yang dia ambil bukanlah keputusan yang akan menghancurkan hidupnya selamanya.

...****************...

Hi semuanya!!! Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!