Bab 7: Kedatangan Farisa

Mahreeen memutuskan untuk cuti selama seminggu demi menjaga Hanin yang dirawat di rumah sakit, setelah di beri kabar oleh dokter Mahreeen langsung telp bagian HRDnya agar hak cutinya bisa di pakai.

Selama itu, Rasya, anak sulungnya, banyak membantu bergantian menjaga adik adiknya. Sementara Chana, anak tengahnya, lebih suka di rumah dan hanya ikut ibunya ke rumah sakit jika sedang libur sekolah.

Siang ini, pada hari operasi Hanin, Mahreeen berjalan menuju kantin untuk membeli cemilan. Saat melewati lorong rumah sakit, tiba tiba saja dia berpapasan dengan seorang wanita muda, cantik, namun sombong. Mereka tanpa sengaja bertabrakan, dan Mahreeen segera meminta maaf.

Bruk!!!

"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Mahreeen sopan, menunduk sedikit sebagai tanda hormat.

Namun wanita tersebut, dengan wajah jijik, segera menjauh dari Mahreeen sambil menatapnya penuh hinaan.

"Jangan sentuh aku, ya! Jijik sekali," cibirnya sambil merapikan gaun mahalnya.

"Kamu tidak tahu aturan atau memang buta? Lihat ke mana kamu berjalan!" sentaknya lagi.

"Saya sudah minta maaf... Tidak ada niat untuk melakukannya." ucap Mahreeen terkejut, lalu menjawab dengan suara pelan.

Wanita itu hanya mengibaskan tangan dengan kasar, tak menghiraukan permintaan maaf Mahreeen.

"Kamu pikir aku mau mendengar alasanmu? Sepertinya kamu sudah terbiasa berjalan seperti itu, miskin dan tak terurus!" ucapnya tajam, kemudian pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Mahreeen yang hanya bisa berdiri terpaku.

"Astaghfirullah... apa salahku?" lirih Mahreeen penuh kesedihan, namun dia hanya bisa menggelengkan kepala.

"Orang kaya memang bisa bertindak sesuka hati mereka." lirihnya kembali.

Setelah insiden itu, Mahreeen segera kembali ke ruang NICU. Saat tiba, persiapan untuk operasi Hanin sudah dimulai. Di tengah kekhawatirannya, ponselnya berbunyi. Terlihat nomor yang tidak dikenal di layarnya. Ketika diangkat, ternyata itu adalah Manaf.

"Halo, Mahreeen?" suara lembut namun tegas Manaf terdengar di ujung telepon.

"Iya, Pak Manaf. Ini saya, Mahreeen," jawabnya gugup.

"Bagaimana keadaan Hanin? Aku dengar hari ini operasinya. Aku ingin kamu tetap tenang. Percayalah, Hanin pasti bisa melewatinya. Banyak berdoa, ya," ucap Manaf mencoba menenangkan.

"Terima kasih, Pak Manaf. Dukungan Anda sangat berarti bagi saya. Saya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga operasi ini berjalan lancar," jawab Mahreeen dengan suara sedikit gemetar.

"Aku tahu ini berat untukmu, tapi kamu kuat, Mahreeen. Jangan ragu untuk memberitahuku jika ada yang kamu butuhkan, maaf saya belum bisa kerumah sakit saat ini untuk menemanimu disana," lanjut Manaf sesal.

"Baik, Pak. Terima kasih. Saya akan selalu ingat kata kata Anda, tidak apa Pak. Saya mengerti, terima kasih sekali Pak," ucap Mahreeen merasa lebih tenang setelah mendengar kalimat motivasi dari Manaf.

Setelah panggilan berakhir, Mahreeen menghembuskan napas panjang.

"Pak Manaf... dia benar benar perhatian," pikirnya dalam hati. Saat ini, Manaf adalah satu satunya orang yang benar-benar peduli padanya. Di saat suaminya, Peros, tidak pernah hadir di rumah sakit, Manaf hadir untuk memberikan dukungan.

Ketika Mahreeen mencoba menghubungi Peros untuk terakhir kalinya, teleponnya tidak diangkat. Dia menelepon Chana di rumah.

"Chana, Bapak ada di rumah?" tanya Mahreeen dengan nada penuh harap.

"Nggak ada, Bu. Bapak belum pulang dari semalam," jawab Chana dengan polos.

Mahreeen hanya bisa menarik napas panjang.

"Baiklah, nak. Jaga diri kalian, ya," ucapnya, mencoba menahan air mata. Peros benar benar tidak peduli lagi, bahkan di hari penting seperti ini.

Kamu benar benar sangat mengecewakan aku Peros!!! Aku tidak menyangka kamu hanya mendewakan uang, apa jadinya nanti jika aku sudah berikan uang 1M itu. Bisa jadi kamu tidak ingat kami lagi!!!

Sungguh aku menyesal telah bersamamu dan berkorban selama ini. Aku memaklumimu selama ini, tapi kamu telah menyakitiku lebih dari seharusnya. Cukup!!! Aku sudah membuka mataku!!! Terima kasih Peros kamu tunjukkan dirimu yang asli didepanku saat aku bimbang, kini aku sudah sangat yakin melepaskan pernikahan ini. Batin Mahreeen.

***

Sementara itu, di tempat lain, Manaf baru saja selesai menelepon Mahreeen ketika ruangannya diketuk. Istrinya, Farisa, masuk tanpa menunggu izin. Dengan gaya angkuhnya, Farisa langsung duduk di sofa tanpa menyapa terlebih dahulu.

"Manaf, aku butuh uang lebih. Banyak barang yang harus aku beli, dan aku perlu memanjakan diriku sedikit," ucapnya langsung tanpa basa-basi.

"Kamu selalu datang hanya untuk uang, Farisa. Apa kamu tidak punya alasan lain selain itu?" ucap Manaf menatapnya dingin.

"Kenapa, Manaf? Bukankah itu yang kamu suka? Aku mengambil uangmu dan kamu bebas dari sentuhanku." tanya Farisa tersenyum sinis.

Manaf segera menahan tangannya ketika Farisa mencoba mendekat.

"Ambil uangnya, Farisa! Tapi jangan pernah sentuh aku. Kamu tahu aturannya." Nadanya dingin dan tegas, seolah memberikan peringatan.

"Ya, ya, aku tahu. Jangan khawatir. Aku hanya butuh uang," jawab Farisa tanpa ragu, lalu mengulurkan tangannya.

Manaf langsung membuka dompetnya dan memberikan uang tunai tanpa berkata kata.

"Ini. Ambil sesukamu. Asal jangan mendekat." Perintah Manaf.

"Kamu memang ATM berjalan, Manaf. Aku suka itu." Dia berdiri, merapikan tas mahalnya, dan menatap Manaf dengan tatapan puas.

"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Uangnya cukup untuk mentraktir ibuku dan teman temanku. Terima kasih, sayang." ucap Farisa tertawa kecil.

Aku tidak butuh tutuhmu, suamiku di atas kertas yang bodoh! Aku hanya membutuhkanmu karena uangmu saja. Untuk kebutuhan biologisku bisa aku dapatkan dari pria lain. Selagi aku berstatus nyonya muda Omar selagi itu pula aku bisa menikmati kemewahan semua ini.

Sungguh aku tidak butuh kamu, Manaf. Aku hanya ingin kekuasaanmu, uangmu, yang mampu membuatku puas di luar sana dan mama bisa senang juga karena di hargai oleh kalangan atas saat ini. Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Batin Farisa.

"Silakan. Lakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan pernah melupakan batasnya, Farisa," balas Manaf, nadanya tetap datar.

Farisa hanya tersenyum sambil berlalu meninggalkan ruangan. Manaf menghela napas panjang setelah Farisa pergi.

"Kenapa hidupku harus seperti ini?" pikirnya, merasa terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.

"Lalu bagaimana nanti dengan Mahreeen??? Aku tidak bisa menebaknya," lirih Manaf.

***

Ruang operasi masih berlampu merah, Mahreeen menunggu disana seorang diri.

Mahreeen, yang masih di rumah sakit, terus menanti dengan cemas. Di dalam batinnya, dia bergulat dengan perasaan campur aduk antara kecemasan akan kondisi Hanin dan sudah ikhlas terhadap keputusan yang telah dia buat dengan Manaf.

Ya Allah, jika ini adalah jalan yang terbaik untuk anak-anakku, tolonglah aku. Berikan aku kekuatan untuk menjalani ini semua, batinnya sambil memandangi pintu ruang operasi, menunggu kabar tentang anaknya yang sedang berjuang.

...****************...

Hi semuanya!! Tinggalkan jejak kalian ya disini.

Terpopuler

Comments

dapurAFIK

dapurAFIK

bertemu calon madu🤭

2024-10-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!