Bab 6: Peros Gila Harta

"Cepat!!! Mahreeen!!" teriak Peros yang menarik Mahreeen.

Mahreeen berdiri kaku di sudut rumah sakit, tubuhnya gemetar melihat Peros yang terus memaksa meminta uang dan di tarik tubuhnya hingga ke sudut. Dia berpikir akan segera memberikannya demi menghindari masalah, namun tiba tiba Olaf, yang kebetulan sedang berada di rumah sakit untuk mengurus administrasi penjaminan, muncul. Olaf langsung bertindak cepat dan mengusir Peros yang telah membuat keributan di tempat yang seharusnya tenang. Olaf memang sudah mendapat instruksi dari Manaf untuk menjaga Mahreeen, dan sekarang dia paham bahwa dugaan Manaf tentang Peros memang benar.

"Apa apaan kamu membuat gaduh di sini? Ini rumah sakit, Peros!" tegas Olaf, suaranya keras namun terkendali.

"Saya cuma mau hak saya! Itu bukan urusan kamu!" tolak Peros membalas dengan kasar, membuat beberapa orang di sekitar mereka melirik dengan was was.

Mahreeen, yang masih terguncang, terkejut melihat perubahan drastis dari Peros. Sifat aslinya kini benar benar terbongkar seorang pria yang begitu terobsesi dengan uang. Semua kenangan baik yang pernah mereka alami selama pernikahan seakan lenyap di depan mata Mahreeen. Di tengah kemarahannya, Peros mengancam sesuatu yang sangat mengejutkan.

"Kalau kamu nggak kasih uangnya sekarang, aku akan buka mulut soal rencana busuk kalian. Semua orang akan tahu!" ancam Peros dengan nada penuh dendam.

Mahreeen semakin takut. Sejak kapan Peros menjadi seperti ini? Dulu mereka pernah hidup bahagia, bahkan walaupun dalam keterbatasan. Kini, demi uang, dia siap menghancurkan segala yang mereka bangun bersama.

Peros!!!! Kamu berubah!!! Aku sudah tidak bisa mengenalimu lagi, dimana Peros yang dulu??? Peros yang sangat penyayang anak anak, sayang padaku. Kenapa bisa aku tidak sadar jika sekarang dia bukan lagi Peros yang dulu!! Sesal batin Mahreeen.

Namun, Olaf, yang sudah terbiasa menghadapi orang orang seperti Peros, tak gentar sedikit pun. Dengan sikap elegan namun cerdik, dia balik mengancam Peros.

"Uangmu akan kamu dapat, Peros, tapi bukan sekarang. Kamu hanya akan menerima kompensasi setelah proses perceraian dengan Mahreeen selesai, dan itu termasuk hak asuh anak anak yang jelas jatuh pada Mahreeen. Setelah itu, kamu tidak punya hak apapun lagi atas mereka." ucap Olaf tegas.

Kata kata Olaf seakan menjadi pukulan telak bagi Peros. Wajahnya memerah, jelas terlihat marah tapi juga tidak berdaya menghadapi logika dan ketegasan Olaf. Mahreeen hanya bisa diam menyaksikan perdebatan ini, sementara dalam hatinya, kekecewaan terhadap Peros semakin menumpuk.

Ck!!! Sial!! Sungguh sial sekali aku!!!! Uang didepan mata tapi tidak bisa aku pakai!!! Dasar wanita bodoh!!! Aku pastikan akan selalu memerasmu! Batin Peros.

Setelah Peros pergi dengan ancaman yang menggantung, Mahreeen mengucapkan terima kasih kepada Olaf. Dia merasa sedikit lega karena Olaf berhasil meredakan situasi yang hampir berakhir buruk.

"Terima kasih Pak Olaf, jika tidak ada anda disini. Saya pasti sudah menuruti kemauannya," ucap Mahreeen.

"Itu sudah jadi tanggung jawab saya Nona Mahreeen, tugas dari Pak Manaf langsung, jika Nona ada apa apa bisa hubungi saya atau Pak Manaf." ucap Olaf sebelum berpamitan.

Tanpa banyak bicara lahi, Mahreeen berjalan menuju ruangan NICU, di mana Hanin dirawat. Tidak lama setelah itu, tim dokter memanggilnya untuk membahas jadwal operasi Hanin.

"Besok siang, operasi pertama Hanin akan dilakukan. Kami sudah mempersiapkan semuanya, tapi tentu saja, mohon doa dan harapannya agar operasi ini berjalan lancar." ucap salah satu dokter.

"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya," pinta Mahreeen.

"Tentu, Bu," jawab Dokter itu.

Mahreeen tak bisa menahan air matanya. Sejak awal, segala penderitaan yang dia alami hanya demi satu hal, keselamatan anak anaknya. Dalam hati, dia terus berdoa kepada Allah SWT, berharap tim dokter bisa menyelamatkan Hanin dan memberinya kesempatan hidup yang lebih baik.

Ya Allah, aku selalu bersujud padamu dengan segala kekurangan hambamu ini. Hanya engkau pemilik segala kelebihan dan kesempurnaan. Memohon dan meminta padamu ya Rob, agar bisa menyelamatkan dan memberikan sehat kembali pada anakku, Hanin.

Berikan kasih sayanmu, padamu Hanin agar bisa tetap hidup. Aku sebagai ibunya akan melakukan apapun demi anak anakku. batin Mahreeen.

Sementara itu, di tempat lain, Peros kembali ke rumah dalam keadaan marah besar. Semua rencana besarnya untuk menggunakan uang dari Mahreeen ternyata gagal total. Dia telah membual kepada teman temannya bahwa dia akan mendapatkan 'lotre besar', namun kenyataannya nihil. Kini, di antara rasa malu dan amarah, salah satu temannya mengejeknya sebagai pembohong ulung yang tak bisa dipercaya.

"Brengsek!!! Aku tidal pembohong!!" tidak terima Peros yang langsung memukul temannya.

Bug!!!

Bug!!!!

Tidak terima dengan hinaan tersebut, Peros langsung menghajar temannya. Perkelahian pun terjadi, saling pukul dan dorong, hingga warga sekitar harus turun tangan untuk melerai mereka. Kekacauan ini semakin menunjukkan betapa rendahnya moral Peros telah jatuh, demi uang yang tak pernah dia dapatkan.

"Peros!!!" teriak pak Rt.

"Pisahkan mereka dan bawa dia keluar!" perintah Pak Rt lagi.

"Kamu seperti anak kecil saja Peros! Tidak malu jadi tontonan warga! Anakmu!" bentak pak Rt lagi.

Lalu setelah itu warga bubar dari sana, aksi yang seru untuk bisa di lihatnya telah usai. Sungguh sangat sabar sekali Mahreeen.

"Sabar banget ya Si Mahreeen itu," ucap salah satu warga.

"Ya betul, suami pengangguran di simpen! Buang!" ucap yang lainnya.

"Amit amit punya suami kayak modelan gitu!" ucap yang lainnya.

Sementara itu, Mahreeen pulang ke rumahnya yang berantakan, dan hatinya semakin hancur. Rumah yang dulu menjadi tempat perlindungan dan ketenangan, kini hanya menjadi saksi bisu dari kekacauan hidupnya. Anak pertamanya masih di rumah sakit, sementara dia hanya sempat pulang sejenak untuk memeriksa kondisi anak keduanya dan menyiapkan keperluan untuk menginap di rumah sakit lagi.

Peros tidak ada di rumah. Namun, jejak ketidakpeduliannya tampak jelas dari segala kekacauan yang ditinggalkannya. Mahreeen hanya bisa memandang dengan perasaan hancur.

Bagaimana mungkin ini semua terjadi? batinnya bertanya tanya.

Peros!!! Semakin jauh saja kamu perbuat, jangan salahkan aku jika aku memilih pergi darimu, bukan hanya aku tapi anak anak juga. Aku tidak tahu akan kemana arah hidupku kelak. Tapi yang jelas aku tidak lagi denganmu, Peros! Batin Mahreeen.

Dalam hatinya, Mahreeen berdebat dengan perasaan kecewa, marah, dan putus asa. Hidupnya sudah terombang ambing di antara tanggung jawab sebagai ibu, dan rasa kecewa pada suami yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Kini, keputusan besar yang diambilnya untuk menerima tawaran Manaf terasa semakin berat, meski itu adalah satu satunya jalan yang dia miliki untuk menyelamatkan anak anaknya.

...****************...

Hi semuanya!! Tinggalkan jejak kalian disini ya.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!