Bab 9: Ujian Datang Lagi

Malam itu, keesokan hari setelah operasi, Mahreeen terus menunggu Hanin agar segera sadar. Namun, jam demi jam berlalu, dan Hanin belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Hati Mahreeen mulai diliputi kecemasan yang semakin besar. Perasaan cemasnya kembali mencengkeram ketika tiba tiba tim dokter berkumpul di luar ruang ICU, memeriksa Hanin dengan lebih teliti.

"Ada apa ini? Kenapa dokter masuk keruangan Hanin?" tanya seorang diri Mahreeen.

Menunggu beberapa menit dengan hati yang cemas dan was was. Kenapa lama mereka di dalam, dan sebenarnya ada apa? Apakah sesuatu yang baik ataukah sebaliknya?

Mahreeen merasa napasnya tercekat ketika salah satu dokter mendekatinya dengan ekspresi serius.

Jangan bilang ini buruk? Batin Mahreeen.

"Bu Mahreeen, ada sesuatu yang perlu kami sampaikan," ucap dokter itu, suaranya terdengar tegang.

"Kami menemukan komplikasi setelah operasi. Kondisi Hanin cukup serius, dan kami perlu mempertimbangkan langkah lebih lanjut." lanjutnya.

Deg!

Seakan dunianya runtuh kembali.

"Komplikasi? Apa maksudnya, Dok?" tanya Mahreeen merasa kakinya lemas, pertanyaan itu meluncur dari bibirnya hampir tanpa disadari. Tapi sekuat mungkin Mahreeen menahannya agar bisa mendengar lebih lanjut.

"Kami menduga ada masalah pada salah satu organnya yang memerlukan perawatan lebih intensif, dan rumah sakit kami tidak memiliki peralatan yang cukup canggih untuk menangani kasus seperti ini. Kami menyarankan agar Hanin segera dirujuk ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan yang lebih tepat." jelas dokter.

Deg!

Deg!

Jantungnya berdebar sangat cepat dan dunianya berputar saat ini. Mendengar penjelasan dokter, tubuh Mahreeen mulai goyah.

"Keluar negeri? Bagaimana mungkin...?" lirihnya, sebelum akhirnya kesadarannya lenyap.

Bruk!!!

Mahreeen pingsan tepat di hadapan para dokter, tidak mampu menahan beban berita buruk yang baru saja disampaikan. Lalu membawanya keruangan dan di baringkannya. Di cek oleh dokter disana.

Rumah sakit segera menghubungi Olaf, yang telah ditugaskan Manaf untuk menjaga Mahreeen dan Hanin. Olaf langsung menelepon Manaf setelah mendapatkan informasi itu.

Manaf tiba di rumah sakit dengan langkah tergesa. Ketika melihat kondisi Hanin yang terbaring di ranjang ICU dengan peralatan medis di sekelilingnya, hatinya terasa perih.

"Kenapa kondisinya semakin parah setelah operasi?" pikir Manaf, menahan amarah dan kekhawatiran yang bercampur menjadi satu.

"Pak Manaf, situasinya sudah gawat. Hanin harus segera dibawa keluar negeri," ucap Olaf setelah menjelaskan situasi kepada Manaf.

"Segera urus semuanya, Olaf. Gunakan semua koneksi yang kita miliki. Hanin harus mendapatkan perawatan terbaik secepatnya!" perintah Manaf dengan nada tegas. Tidak ada waktu untuk menunda.

"Baik, Bos. Saya akan segera mengurusnya," ucap Olaf.

Olaf segera mengambil tindakan cepat untuk mengurus segala hal terkait perpindahan Hanin ke rumah sakit di luar negeri, sementara Manaf tinggal di rumah sakit untuk menemani Mahreeen. Dia tahu betapa berat cobaan ini bagi Mahreeen, dan dia tidak akan membiarkannya menghadapi semua ini sendirian.

Beberapa jam kemudian, Mahreeen terbangun di ranjang rumah sakit. Pandangannya masih kabur, namun ketika matanya mulai fokus, dia menyadari dirinya berada di ruang rawat inap. Kepalanya terasa berat, dan dia merasa sedikit lemas. Matanya berkeliling, mencoba memahami di mana dia berada, hingga akhirnya pandangannya jatuh pada sosok Manaf yang sedang tidur di kursi di samping ranjangnya.

Mahreeen terkejut.

Kenapa aku ada di sini? batinnya.

Namun, sebelum dia bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi, pikirannya segera tertuju pada Hanin. Hatinya kembali dilanda kecemasan.

"Hanin... bagaimana kondisi Hanin?" tanya Mahreeen pada dirinya sendiri yang mulai mengingatnya.

Kamu disini, Manaf. Kenapa selalu kamu yang selalu ada di sampingku. Kenapa kita seolah terpaksa harus di ikat, kenapa seolah nasib yang memaksa aku untuk selalu dekat denganmu. Batin Mahreeen.

Dengan perasaan cemas, Mahreeen mencoba turun dari ranjang dengan hati hati agar tidak membangunkan Manaf. Air mata mulai mengalir deras di pipinya saat memikirkan kondisi putrinya. Dia merasa sangat lelah, tetapi hatinya tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Hanin.

Namun, ketika kakinya hampir menyentuh lantai, suara lembut namun tegas terdengar di belakangnya.

"Mahreeen, jangan bergerak. Kamu masih belum pulih sepenuhnya," suara Manaf terdengar dari kursi tempatnya tidur.

Mahreeen menoleh perlahan, matanya bertemu dengan tatapan lembut Manaf yang sudah terjaga. Dengan cepat, Manaf bangkit dari kursinya dan mendekati Mahreeen. Sebelum Mahreeen sempat mengatakan apa apa, Manaf menariknya dalam pelukan hangat.

"Jangan khawatir, Mahreeen. Hanin sudah dipindahkan ke rumah sakit luar negeri. Kami sudah mengurus semuanya. Dia akan mendapatkan perawatan terbaik," ucap Manaf, suaranya lembut namun tegas, berusaha menenangkan Mahreeen yang semakin dilanda kesedihan.

Mahreeen tidak mampu berkata kata. Air matanya mengalir deras, dan isakannya tertahan di tenggorokan. Dalam pelukan Manaf, Mahreeen merasa ada sedikit ketenangan, namun kekhawatiran tentang putrinya tetap membayangi hatinya.

"Aku... aku takut, Pak Manaf. Aku takut kehilangan Hanin," ucap Mahreeen dengan suara lirih, air matanya semakin deras.

Manaf mengeratkan pelukannya.

"Kamu tidak akan kehilangan Hanin, Mahreeen. Dia anak yang kuat. Kita sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, kita hanya bisa berdoa dan berharap." ucap Manaf.

Mahreeen terdiam dalam pelukan Manaf, merasa sedikit lebih tenang meski hatinya masih dipenuhi kecemasan. Dia tidak menyangka bahwa Manaf bisa begitu peduli dan perhatian. Saat ini, Manaf adalah satu satunya orang yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya Mahreeen melepas pelukan Manaf. Dia menatap bosnya dengan mata yang masih basah oleh air mata.

"Terima kasih, Pak Manaf. Saya tidak tahu harus berbuat apa tanpa Anda," ucap Mahreeen dengan suara serak.

"Jangan katakan begitu, Mahreeen. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," ucap Manaf dengan senyum tipis, matanya menunjukkan ketulusan yang mendalam.

"Tidurlah kembali, besok kita akan keberangkat menyusul Hanin. Kamu belum pulih benar, percayakan saja padaku. Anak anakmu yang lain sudah ada yang menjaga di saat nanti kita disana." lanjut Manaf.

"Entah kata apa lagi yang bisa saya ucapkan padamu Pak, kamu sangat baik padaku dan anak anakku," ucap Mahreeen yang terisak.

"Mereka juga kelak akan menjadi anak anakku bukan. Sekarang atau nanti sama saja bagiku, yang terpenting saat ini fokus pada Hanin." jelas Manaf.

Mahreeen menganggukkan kepalanya.

*

Pagi ini, Mahreeen dan Manaf menuju bandara. Dalam satu mobil membuatnya tidak terbiasa, karena bari pertama kali Mahreeen satu mobil.

"Nanti kamu akan terbiasa Mahreeen, semua milikku nanti juga milikmu," bisik Manaf yang mengerti ketegangan Mahreeen.

Deg!

Apa maksud ucapannya? Semua miliknya menjadi milikku? Bukannya Pak Manaf punya istri pertama? Lalu bagaimana dengannya? Membuatku bertanya tanya seperti apa hubungannya itu? Tidak mungkinkan jika Pak Manaf melakukan ini padaku jika tidak mempunyai alasan? Batin Mahreeen.

...****************...

Hi semuanya!!! Tinggalkan jejak kalian ya.

Terpopuler

Comments

Ma Em

Ma Em

Mahreeen sungguh beruntung nasibmu bisa mendapatkan Manaf orang yg kaya raya, baik tidak sombong tdk seperti suaminya si Peros eh tapi sebentar lagi akan jd mantan ya

2024-11-05

1

dapurAFIK

dapurAFIK

lanjut Thor makin penasaran aza...

2024-10-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!