Bab 15: Surat Cerai

Pagi itu, Olaf datang secara khusus menemui Manaf. Karena memang sudah di perintahkannya jika surat cerai Mahreeen jadi segera menyusul.

Malam sebelum keberangkatannya sudah melaporkannya jika Olaf akan datang besok pagi. Dengan membawa pesanan Manaf juga, karena ada proyek di negara ini.

Tok!

Tok!

"Masuk!" pinta Manaf dari dalam.

Memasuki ruang kerja Manaf dengan ekspresi tenang namun profesional. Di tangannya terdapat sebuah map yang telah ditutup rapat.

“Tuan Manaf, ini bukti surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Peros. Semua sudah selesai, dan ini berkas yang anda minta,” ucap Olaf sambil menyerahkan map tersebut kepada Manaf.

Manaf membuka map itu, melihat dokumen resmi yang ada di dalamnya. Matanya menelusuri setiap kalimat, memastikan semua sudah sesuai dengan kesepakatan. Setelah itu, ia menatap Olaf.

“Dan uangnya? Sudah kamu serahkan?” tanya Manaf dengan nada tegas namun tenang.

“Sudah, Tuan. Peros sudah menerima uang 1 miliar sesuai kesepakatan, dan seperti perintah Anda, saya juga telah menutup akses bagi kedua anak Bu Mahreeen di dalam negeri. Mereka sudah dipindahkan sementara ke sekolah asrama yang aman dan nyaman selama Bu Mahreeen tidak ada di sini,” jawab Olaf.

Manaf mengangguk pelan, merasakan sedikit beban terangkat dari pundaknya.

“Bagus. Pastikan semuanya berjalan dengan lancar. Jangan ada celah bagi Peros untuk mengganggu lagi. Kita harus memastikan keselamatan mereka,” perintah Manaf dengan tegas.

“Tentu, Tuan. Semua sudah diatur dengan baik. Saya akan terus memantau perkembangan ini,” jawab Olaf sebelum meninggalkan ruangan.

Akhirnya, kamu sudah bisa aku miliki dalam kurun waktu tiga bulan kedepan. Batin Manaf.

Setelah Olaf pergi, Manaf menarik napas panjang. Dia tahu, saatnya telah tiba. Dengan langkah mantap, dia menuju kamar tempat Mahreeen merawat Hanin. Sesampainya di sana, Mahreeen sedang duduk di samping tempat tidur putrinya yang tertidur lelap.

“Mahreeen,” panggil Manaf dengan suara lembut namun serius.

Mahreeen menoleh, melihat Manaf yang berdiri di dekat pintu. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu yang dalam di matanya.

“Apa ada yang ingin kamu bicarakan, Manaf?” tanyanya pelan, suaranya hampir tanpa emosi, seolah semua energinya telah terkuras selama beberapa hari terakhir.

Manaf mengangguk, lalu duduk di kursi di samping Mahreeen.

“Aku ingin bicara empat mata denganmu,” ucapnya, mengambil napas dalam sebelum melanjutkan.

“Peros sudah menandatangani surat cerai. Kamu resmi bercerai darinya. Aku juga sudah memenuhi kesepakatan, memberikan uang yang dia minta. Anak anakmu juga sudah dipindahkan ke asrama. Mereka aman sekarang, Mahreeen. Semua sudah beres.”

Mendengar kata kata Manaf, Mahreeen terdiam. Bukannya merasa lega, hatinya justru terasa semakin berat. Dia menunduk, menatap lantai tanpa benar benar melihat apa apa. Pikiran dan perasaannya berkecamuk, tapi tidak ada kata kata yang bisa dia ucapkan.

“Semuanya sudah beres,” ulang Manaf, suaranya lebih lembut kali ini, seperti sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri dan Mahreeen.

Namun, bagi Mahreeen, kata kata itu seperti duri yang menusuk hatinya.

“Beres,” pikirnya.

"Rumah tanggaku sudah selesai, hanya dengan sebuah tanda tangan." Dia merasa hancur, seolah seluruh hidupnya dipecah menjadi serpihan kecil yang tak bisa dipulihkan lagi. Peros, suaminya selama bertahun tahun, pria yang pernah dia cintai, kini hanyalah bagian dari masa lalu. Dan dalam tiga bulan ke depan, dia akan menjadi istri pria di depannya. Meskipun dia bersyukur bisa terlepas dari Peros yang telah mengecewakannya, luka di hatinya tetap terasa begitu dalam.

Mahreeen menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan diri.

“Manaf,” ucapnya pelan, suaranya terdengar rapuh.

“Aku tahu ini sudah menjadi jalan yang harus aku tempuh. Aku tahu, demi Hanin, aku rela melakukan ini. Tapi... tidak bisa kujelaskan betapa sakitnya perasaanku saat ini. Rasanya seperti... aku menjual diriku sendiri. Bukan karena aku tidak mau memenuhi perjanjian kita, tapi hatiku... hatiku hancur, Manaf.”

Matanya mulai berkaca kaca, tapi dia menahan air mata yang hampir jatuh.

Manaf merasakan kepedihan dalam setiap kata yang diucapkan Mahreeen. Diaa ingin mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan wanita di hadapannya, tapi dia tahu bahwa tidak ada kata kata yang bisa menghapus luka yang telah tergores di hatinya.

“Aku mengerti, Mahreeen,” jawab Manaf dengan suara pelan. “Aku tidak pernah ingin menyakitimu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu dan anak anakmu aman. Aku akan melakukan apa saja untuk melindungi kalian.” ucap Manaf.

Mahreeen tersenyum pahit, air matanya akhirnya jatuh perlahan di pipinya.

“Aku tahu, Manaf. Aku tahu kamu berusaha yang terbaik untuk kami. Aku hanya... butuh waktu untuk bisa menerima semuanya. Hatiku... terlalu lelah.”

Dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya, berusaha tetap tegar.

“Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian,” ucap Manaf, mencoba mendekatkan dirinya pada Mahreeen.

“Aku akan selalu ada di sini untukmu, untuk Hanin, dan untuk anak anakmu. Kita akan melewati ini bersama sama. Aku berjanji.” lanjut Manaf.

Mahreeen menatap Manaf dengan mata yang penuh kesedihan namun juga harapan.

“Terima kasih, Manaf. Aku beruntung bisa punya seseorang sepertimu di saat saat seperti ini.” Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara pelan, “Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Kehilangan pernikahan ini... meski dengan semua yang terjadi dengan Peros, tetap saja meninggalkan luka yang dalam.” lanjutnya.

“Aku tahu. Dan aku tidak akan memaksamu untuk merasa berbeda. Tapi aku akan ada di sini, kapan pun kamu siap. Apa pun yang kamu butuhkan.” ucap Manaf mengangguk, memahami perasaan Mahreeen.

Diam mengisi ruangan di antara mereka. Masing masing tenggelam dalam pikiran dan perasaan yang sulit diungkapkan. Manaf ingin menenangkan Mahreeen, tapi dia juga tahu bahwa proses penyembuhan itu tidak bisa dipaksakan.

Sementara Mahreeen, meski hatinya hancur, merasa ada sedikit kekuatan dalam kenyataan bahwa Manaf selalu ada untuknya, memberikan dukungan tanpa syarat.

Akhirnya, Mahreeen mengangguk pelan.

“Baiklah, Manaf. Aku akan berusaha. Demi anak anak, demi Hanin... dan demi diriku sendiri.” ucap Mahreeen.

“Kita akan melewati ini bersama sama, Mahreeen. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian.” ucap Manaf tersenyum lembut, merasa sedikit lega.

***

Malam hari di kamar Hanin, setelah selesai sholat malamnya Mahreeen berdoa pada Allah SWT.

Ya Allah, kini aku telah bercerai dengan bapaknya anak anak, Peros. Mulai hari ini aku menjadi janda, hanya tiga bulan karena setelah itu aku menjadi istri simpanan bosku.

Ya Allah, apakah jalanku ini sudah benar? Sudah ku jalani yang menurutku benar, tapi apakah menurutMu Ya Robb ini juga benar? Aku meminta petunjukmu Ya Robb.

Aku bersimpuh dan mengadu segala hal yang sudah aku lakukan. Semata mata demi anak anakku, jika memang ini jalan yang Engkau ridhoi maka tuntun lah hatiku padanya. Tapi jika bukan, maka jangan pernah hatiku luluh padanya.

...****************...

Hi semuanya!! Jangan lupa ya dengan meninggalkan komentar kalian disini.

Terpopuler

Comments

Ma Em

Ma Em

Mahreeen kamu lebih baik hidup bersama Manaf hidupmu dan anak anak akan terjamin daripada hidup bersama Pelos si tukang judi cuma makan hati terus

2024-11-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!