Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf

Ide Jasmin sudah di beritahukan pada Farisa, namun apalah daya perjanjian baru sudah didepan mata dan tidak bisa menghindar lagi.

Farisa duduk termenung di ruang tamu, matanya berkilat penuh kebencian dan kecurigaan. Manaf baru saja memaksanya menandatangani perjanjian baru, perjanjian yang begitu merendahkan dirinya. Dia merasa tidak berdaya dan dihina oleh suaminya. Di sebelahnya, Jasmin, ibunya, menatapnya dengan penuh simpati namun dengan wajah serius.

"Ibu, aku tidak bisa terima perlakuan Manaf ini. Ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku yakin dia sedang berselingkuh dengan wanita lain." keluhnya kembali.

"Kamu mungkin benar, Nak. Seorang suami tidak akan bertindak sejauh ini tanpa alasan. Kita harus menemukan bukti. Kamu tidak bisa hanya duduk diam dan menerima perlakuan seperti ini." ucap Jasmin menatap putrinya dengan tajam.

Farisa mengangguk setuju, hatinya semakin panas.

"Aku ingin tahu siapa wanita itu, Bu. Kalau benar dia berselingkuh, aku akan hancurkan mereka berdua." ucap Farisa curiga.

"Baiklah, kita akan sewa detektif swasta. Dia akan mengikuti Manaf setiap hari dan mengawasi setiap gerak geriknya. Jika memang ada wanita lain, kita akan tahu." ucap Jasmin.

Farisa mengangguk, hatinya sedikit lega mengetahui ada rencana yang mulai terbentuk.

"Ya, kita perlu bukti. Aku tidak akan membiarkan Manaf menang." ucap Farisa.

Beberapa hari kemudian, detektif yang disewa oleh Jasmin dan Farisa mulai menjalankan tugasnya. Mereka menunggu laporan hasil pengintaian dengan cemas.

***

Seminggu berlalu, dan laporan yang mereka tunggu akhirnya tiba. Detektif itu duduk di depan mereka dengan map di tangannya, sementara Farisa dan Jasmin memandangnya dengan harapan besar.

"Setelah mengamati Manaf selama satu minggu penuh, saya tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Dia hanya pergi ke kantor, apartemennya, atau rumah. Tidak ada tanda tanda pertemuan dengan wanita lain." lapor detektif itu dengan memberikan gambar foto dan juga rekamanannya.

"Apa? Bagaimana bisa?!" ucapnya, kecewa dan marah.

"Apa kamu yakin? Kamu mungkin terlewat sesuatu. Coba periksa lagi!" pinta Farisa.

"Saya sudah mengikuti setiap gerakannya dengan teliti. Dia bahkan hanya ditemani oleh Olaf, orang kepercayaannya. Tidak ada interaksi yang mencurigakan dengan wanita lain." ucap Detektif itu menggelengkan kepala.

Farisa terdiam, merasa bingung sekaligus lega.

"Jadi… dia tidak selingkuh?" ucap Farisa ada kesenangan di hatinya, mungkin memang dia yang banyak prasangka buruk takut ketahuan aibnya di luar ketahuan Manaf.

"Itu tidak masuk akal. Manaf pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi kalau detektif ini tidak menemukan apa apa, mungkin Manaf memang tidak berselingkuh." ucap Jasmin.

Farisa menghela napas panjang.

"Mungkin itu hanya keinginannya untuk menjaga jarak. Tapi aku tidak percaya begitu saja. Dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya." otaknya masih saja ada sedikit curiga.

"Untuk sekarang, kita biarkan saja dulu. Setidaknya kita tahu dia tidak bermain di belakangmu. Tapi jangan lengah, tetap waspada. Kalau dia memang ada wanita lain, kita akan tahu cepat atau lambat." jelas Jasmin.

Farisa mengangguk, sedikit lebih tenang.

"Baik, Bu. Tapi aku tidak akan berhenti mengawasi Manaf. Aku masih merasa ada yang tidak beres." akhirnya Farisa masih menyewa jasa detektif itu lagi.

"Kamu terus awasi kembali, infokan jika ada yabg mencurigakan," perintah Farisa.

"Baik, Nyonya," jawab detektif itu.

Di sisi lain, Manaf sebenarnya sudah menyadari bahwa dirinya sedang diikuti. Dia hanya tersenyum kecil setiap kali melihat seseorang mengikuti langkahnya.

"Mereka kira bisa memata matai aku?" lirihnya pelan. Olaf, yang juga mengetahui situasi ini, mengawasi dari jauh.

"Bos, sepertinya mereka cukup serius menyelidiki Anda. Apakah kita perlu melakukan sesuatu?" tanya Olaf.

"Tidak perlu. Biarkan mereka. Lagipula, mereka tidak akan menemukan apa pun. Aku ingin lihat sampai kapan mereka akan terus melakukannya." jelas Manaf.

Manaf memang sengaja tidak menunjukkan apa pun yang bisa membuat Farisa semakin curiga.

"Semakin lama mereka curiga, semakin lelah mereka sendiri." Dia yakin rencananya akan berjalan sempurna, dan sekarang waktunya menunggu momen yang tepat.

***

Sementara itu, di waktu yang berbeda, Jasmin mulai melihat perilaku aneh pada putrinya sendiri, Farisa. Suatu hari, saat sedang bersama di rumah, Jasmin menangkap Farisa sedang menerima pesan dari seseorang yang asing.

"Farisa, siapa yang kamu hubungi?" tanya Jasmin.

Farisa tergagap sedikit, lalu segera menyimpan ponselnya. "Oh, bukan siapa-siapa, Bu. Hanya teman biasa." jawab Farisa.

Namun, Jasmin merasa ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa hari kemudian, dia tanpa sengaja melihat Farisa sedang bersama seorang pria muda, seorang brondong, di sebuah kafe. Mata Jasmin membelalak melihat putrinya tersenyum manis dan berbicara mesra dengan pria itu. Hatinya mulai was was.

Ketika Jasmin mendekati mereka, Farisa segera menyadari kehadiran ibunya. Wajahnya memucat seketika.

"Bu! Ini… ini tidak seperti yang Ibu kira!" jelas Farisa gagap.

Jasmin menatap tajam, tetapi dia mencoba menenangkan diri. "Farisa, apa yang kamu lakukan? Siapa pria ini?" tanya Jasmin.

"Ini… hanya teman, Bu. Aku hanya butuh seseorang untuk bicara. Jangan bilang ke Manaf, tolong." pintanya.

Jasmin menghela napas panjang, lalu menarik Farisa ke sudut ruangan untuk berbicara lebih serius.

"Farisa, kamu tahu ini sangat berbahaya. Kalau Manaf tahu tentang ini, dia tidak akan segan segan menghancurkan hidupmu. Kamu pikir kamu bisa bermain di belakangnya tanpa risiko?" cecar Jasmin yang memang mau aman dari segi finansialnya.

Farisa tampak cemas. "Bu, aku tidak bisa terus hidup seperti ini. Manaf tidak peduli padaku lagi. Dia sudah mengabaikanku selama ini. Aku hanya ingin merasa dihargai, itulah kenapa aku dekat dengan pria ini." jujurnya.

"Farisa, kamu bermain api. Aku tahu kamu kesepian, tapi kamu harus lebih hati hati. Manaf bukan orang yang bisa dianggap remeh. Untuk sekarang, kita simpan ini baik baik. Jangan biarkan Manaf tahu sampai kita yakin apa yang harus kita lakukan." ucap Jasmin menggelengkan kepalanya.

Farisa mengangguk dengan cepat, bersyukur bahwa ibunya tidak langsung marah.

"Baik, Bu. Aku akan lebih berhati hati." ucap Farisa.

Sementara itu, Manaf yang memang sudah mengetahui hubungan Farisa dengan pria brondong itu, sengaja tidak mengambil tindakan langsung. Dia memilih menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya dengan cara yang lebih elegan.

"Aku akan membiarkannya bermain dulu, sampai saatnya aku hancurkan semuanya." ucap Manaf sendiri.

Di balik kesabarannya, Manaf sebenarnya sudah menyiapkan langkah langkah untuk mengakhiri permainan Farisa. Dia hanya perlu menunggu momen yang tepat untuk mengungkap semua kebohongan dan memutus hubungan tanpa ampun.

Jangan menangis dan memohon padaku lagi Farisa, kamu yang memang bukan selayaknya menjadi istriku. Sudah cukup baik bagiku selama ini membiarkanmu duduk dan menikmati status nyonya muda Omar. Dia sudah datang dan siap menggantikanmu, Mahreeen cintaku. Batin Manaf.

...****************...

Hi semuanya, baca yuk jangan nampung bab banyak ya. Ini udah mau masuk 20 Bab. Bantuannya ya temen temen kasih hadiah dan like yang banyak

Terima kasih.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!