Bab 14: Om Manaf

Tatapan mata Hanin tak lepas dari Manaf, yang kini berdiri di samping ibunya. Wajah mungilnya memancarkan rasa ingin tahu yang dalam. Mahreeen tahu betul, anak kecil itu pasti bertanya tanya siapa pria yang kini membantu mereka. Dengan lembut, Mahreeen duduk di samping Hanin, mengusap kepala putri kecilnya.

“Sayang, ini Om Manaf. Orang baik yang sudah bantu Hanin dan Ibu. Kita harus berterima kasih, ya?” ucap Mahreeen.

Hanin memiringkan kepalanya, menatap ibunya, lalu kembali melihat Manaf.

“Om Manaf? Kok Hanin belum pernah ketemu?” tanyanya dengan polos.

"Hanin memang baru bertemu dengannya, tapi Ibu sudah mengenalnya. Salim dulu sama Om Manaf, Hanin," pinta Mahreeen.

"Manaf," bisik Mahreeen kala Hanin mengulurkan tangannya untuk salam pada Manaf.

Manaf tersenyum gugup, meski ada rasa takut yang tak bisa dia hilangkan. Sentuhan wanita, bahkan meski sekadar berjabat tangan, selalu membuat tubuhnya bereaksi buruk. Tapi melihat Mahreeen yang memberi isyarat agar dia mendekat, Manaf akhirnya menahan diri dan mencoba menenangkan hatinya. Dia pun menunduk sedikit, mengulurkan tangan ke arah Hanin membalasnya dan telah di cium telapak tangannya.

“Hai, Hanin. Maaf ya, Om baru bisa ketemu sekarang.” ucapnya. Walau dalam hatinya jangan di tanyakan lagi.

Untung aku bawa obat, batin Manaf.

Manaf merasakan degupan jantungnya semakin kencang. Namun, tak ada reaksi dari tubuhnya. Tak ada gatal-gatal atau bercak merah seperti biasanya.

Aneh, kenapa tidak ada reaksi? pikir Manaf, matanya sempat melirik Mahreeen, yang tersenyum penuh kebahagiaan.

Sementara itu, Hanin menyipitkan matanya ke arah Manaf. “Om, kok Om gak kayak yang di cerita Ibu? Katanya Om sibuk terus. Tapi kok Om bisa datang ke sini?” tanyanya polos, mengedipkan mata beberapa kali.

Mahreeen tertawa kecil dan mengelus pipi Hanin.

“Om Manaf lagi libur, sayang. Makanya sekarang dia bisa menemani Hanin dan bantu kita,” jawabnya dengan lembut.

"Oh, gitu..." Hanin mengangguk angguk, seakan mengerti, meski wajah kecilnya masih penuh rasa penasaran.

"Mahreeen aku ke kamar kecil sebentar," ucap Manaf. Dirinya harus segera mengecek tubuhnya.

Hanya menganggukkan kepalanya Mahreeen. Dengan cepat Manaf pergi. Setelah itu, Mahreeen mengambil ponselnya.

"Sekarang kita VC sama Kakak kakak di rumah, ya? Mereka pasti senang lihat Hanin udah baikan," ucap Mahreeen sambil mempersiapkan panggilan video untuk anak anaknya di Indonesia.

Tak lama kemudian, wajah dua kakak Hanin muncul di layar. “Assalamualaikum, Rasya dan Chana!” sapa Mahreeen dengan senyum lebar.

“Waalaikumsalam, Ibu!” jawab kompak keduanya bersamaan, suara mereka terdengar penuh kegembiraan.

"Bagaimana Hanin? Dia udah sadar?" tanya kakak pertamanya dengan nada penuh harap.

“Udah, Kak,” jawab Mahreeen dengan mata berkaca kaca. “Alhamdulillah, Hanin sudah sadar. Masih lemah, tapi dia kuat. Tuh, lihat, dia ada di sini,” lanjutnya sambil mengarahkan kamera ke arah Hanin.

“Kakak!” Hanin melambaikan tangannya lemah ke arah layar. “Hanin kangen sama Kakak...” lanjutnya

“Kami juga kangen banget sama kamu, Hanin! Syukur alhamdulillah, kamu udah sembuh. Allah sayang sama kita,” ucap Rasya, suaranya bergetar karena menahan tangis bahagia.

Air mata Mahreeen mulai mengalir perlahan.

“Ibu juga bersyukur, Nak. Kita semua berdoa, dan Allah mendengar doa kita. Terima kasih sudah jadi anak anak yang kuat dan sabar,” ucap Mahreeen, penuh haru.

"Kalian di asrama apakah betah, Nak?" tanya Mahreeen.

"Betah, Bu. Ga ada lagi Bapak yang suka minta ini dan itu," jawab Chana polos.

"Betah Bu, disini sangat teratur Bu. Semuanya sangat disiplin," jelas Rasya.

"Alhamdulillah, Ibu sangat senang mendengarnya. Ya sudah kalian belajar yang rajin dan tekun. Jangan membuat masalah disana, Ibu akan lama pulang menunggu Hanin sembuh total dulu," ucap Mahreeen.

"Iya, Bu," kembali kompak keduanya menjawab.

Setelah percakapan itu selesai, Mahreeen mengakhiri panggilan video. Namun, saat dia menoleh, Manaf belum juga keluar dari kamar mandi. Hatinya mulai cemas. Dia berusaha untuk tidak berpikir yang macam macam, tapi rasa khawatir tetap muncul.

Apa Manaf baik baik saja?batinnya penuh tanya.

“Om Manaf mana, Bu?” tanya Hanin dengan suara kecil, menarik perhatian ibunya.

“Om Manaf lagi di kamar mandi, sayang. Mungkin dia butuh waktu sebentar,” jawab Mahreeen lembut.

“Hanin lapar, Bu. Hanin mau makan sekarang,” rengek Hanin.

“Baiklah, Ibu ambilkan makanan dulu, ya,” ucap Mahreeen sambil beranjak menuju meja kecil di samping tempat tidur Hanin. Setelah mengambil makanan, dia duduk kembali di samping putrinya dan mulai menyuapi Hanin.

“Om Manaf baik banget, ya, Bu?” Hanin tiba tiba bertanya sambil menyuapkan sendok nasi ke mulutnya.

“Iya, sayang. Om Manaf sudah bantu kita banyak sekali. Makanya kita harus selalu berterima kasih dan mendoakan dia,” jawab Mahreeen sambil tersenyum, meskipun pikirannya masih tertuju pada Manaf di kamar mandi.

“Om Manaf teman baik Ibu?” tanya Hanin lagi, matanya menatap ibunya dalam dalam.

“Iya, Om Manaf teman yang baik,” jawab Mahreeen sambil menepuk tangan kecil Hanin yang menggenggam sendok.

Sementara itu, di dalam kamar mandi, Manaf masih berusaha menenangkan dirinya. Sentuhan tangan Hanin tadi membuatnya merasa aneh.

"Kenapa aku bisa menyentuhnya tanpa ada reaksi apa pun? Apa yang sebenarnya terjadi?" lirihnya yang terus bertanya tanya.

"Viktor! Aku tadi bersentuhan dengan anak Mahreeen yang sakit, kamu tahu apa yang terjadi saat ini padaku?" tanya Manaf lewat telp.

"Tidak! Cepat katakan aku sibuk, Manaf!" pintanya yang memang akan sedang ada pasien.

"Huf, kamu ini. Baiklah! Aku tidak ada ruam dan bintik bintik, mual juga tidak," jelas Manaf.

"Baguslah," jawab viktor.

"Maksudmu?" tanya Manaf.

"Nanti aku telp lagi," ucap Viktor yang di putusnya telp tersebut.

"Shit!!! Buat aku penasaran saja, tapi baguslah aku tidak kambuh," ucap Manaf.

Beberapa menit berlalu, dan Mahreeen semakin khawatir. Setelah memastikan Hanin beristirahat, dia berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya pelan.

“Manaf, kamu baik baik saja?” tanyanya lembut.

Setelah beberapa ketukan, pintu kamar mandi akhirnya terbuka perlahan. Manaf keluar dengan wajah pucat namun matanya penuh syukur. Tanpa berkata apa apa, dia langsung memeluk Mahreeen erat, seolah tidak ingin melepaskannya.

“Terima kasih, Mahreeen. Terima kasih banyak,” bisik Manaf penuh rasa syukur.

Kenapa dengan Manaf? Keluar dari kamar mandi langsung memelukku? Apa yang terjadi saat di dalam sana?

Apa aku harus melepaskan pelukannya ini? Takut Hanin terbangun dan menanyakan ini, aku jujur belum siap untuk memberitahukan ini pada anak anak semuanya. Terlebih Hanin, yang memang alasan utamaku ini karena dia.

Apakah Hanin akan menerimanya? Bagaimana dengan Rasya dan Chana? Ya Allah terlalu pelik hidupku ini. Batin Mahreeen.

...****************...

Hi semuanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!