Bab 11: Hanin Mulai Pulih

Dalam satu minggu terakhir, kondisi Hanin mulai menunjukkan tanda tanda pemulihan. Mahreeen merasa sangat bersyukur, meskipun Hanin masih harus menjalani operasi lanjutan. Selama seminggu ini, Manaf hanya bisa menemaninya selama dua hari sebelum akhirnya harus kembali ke negaranya.

Namun, Mahreeen tidak dibiarkan sendirian. Malika, seorang asisten handal yang sangat dipercaya oleh Manaf, ditugaskan untuk mendampingi Mahreeen di negara tersebut. Malika adalah wanita cantik dan cerdas, setara dengan Olaf dalam hal kemampuan dan kepercayaan.

“Nyonya Mahreeen, jangan khawatir, saya akan mengurus segala sesuatu di sini. Anda fokus saja pada Hanin,” ucap Malika dengan senyuman yang menenangkan.

Mahreeen merasa sangat terbantu dengan kehadiran Malika. Dia terkejut ketika tahu bahwa Manaf ternyata memiliki perusahaan di negara ini, yang dikelola tanpa banyak orang yang tahu.

“Manaf benar benar orang yang penuh kejutan," lirih Mahreeen.

Yang lebih mengejutkan lagi, Malika mengenalkan Mahreeen kepada para staf di rumah sakit sebagai nyonya muda meskipun status mereka belum resmi.

“Nyonya Muda? Tapi... kami belum...,” jelas Mahreeen mencoba menjelaskan, namun Malika hanya tersenyum penuh pengertian.

“Tidak apa apa, Nyonya Mahreeen. Ini adalah perintah Tuan Manaf. Beliau ingin memastikan Anda dan Hanin mendapatkan fasilitas terbaik selama di sini,” jawab Malika dengan tenang.

Mahreeen terdiam, hatinya berkecamuk. Di satu sisi, dia merasa terhormat dengan perlakuan istimewa ini, namun di sisi lain, dia masih bingung dengan apa yang sebenarnya Manaf rasakan terhadapnya. Malika memastikan bahwa Mahreeen memiliki kamar pribadi di rumah sakit, tempat ia bisa beristirahat sementara Hanin mendapatkan perawatan intensif.

Manaf... Bagaimana kelak aku akan membalas ini semuanya? Sedangkan aku belum tahu kamu berbuat ini semua padaku karena apa? Batinnya.

***

Selama seminggu itu, Manaf selalu melakukan video call dengan Mahreeen. Setiap malam, mereka berbicara lama, dan setiap kali Mahreeen merasa cemas atau lelah, Manaf selalu tahu bagaimana cara menenangkannya.

“Bagaimana keadaanmu, Mahreeen? Apakah Hanin semakin membaik?” tanya Manaf suatu malam melalui layar ponselnya.

“Alhamdulillah, Hanin mulai pulih. Tapi aku masih khawatir untuk operasi berikutnya,” jawab Mahreeen dengan suara pelan.

“Kau kuat, Mahreeen. Dan aku akan selalu ada di sini untuk mendukungmu. Percayalah, semua akan berjalan lancar.” ucap Manaf tersenyum lembut.

“Terima kasih, Manaf... Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu denganmu,” ucap Mahreeen sambil menahan air mata. “Tapi aku juga merasa bersalah karena belum kembali bekerja. Sudah seminggu lebih aku di sini.” lanjutnya.

“Jangan khawatir soal pekerjaan. Semua sudah aku urus. Fokus saja pada Hanin dan dirimu. Aku juga sudah memastikan anak anakmu di rumah dalam perlindunganku. Peros tidak akan bisa membuat masalah lagi.” ucap Manaf dengan cepat menenangkannya. Mahreeen merasa lega mendengar itu.

“Aku benar benar tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu, Manaf,” ucapnya dengan mata berkaca kaca.

“Jangan pikirkan soal itu, Mahreeen. Kebahagiaanmu sudah lebih dari cukup bagiku,” jawab Manaf dengan senyum tipis di wajahnya.

***

Hari demi hari berlalu, dan tibalah saatnya operasi ketiga untuk Hanin. Malika memastikan bahwa semua persiapan berjalan lancar. Pada malam sebelum operasi, Mahreeen menghabiskan waktu berdoa dalam sujud panjang, memohon kepada Allah untuk memberikan kelancaran dan kesembuhan bagi anaknya.

Ya Allah, hamba pasrah kepada-Mu. Berikanlah kesembuhan untuk Hanin, dan kuatkan lah hati hamba dalam menghadapi ujian ini, bisik Mahreeen dalam doanya yang penuh harap.

Jika nanti Hanin benar benar pulih kembali atas kuasa-Mu, aku akan membalasnya dengan Manaf yang akan menjadi istri yang baik dan melayaninya. Perantara-Mu adalah dia, Manaf. Berikanlah selalu kesehatan dan jauhkan lah dai hal hal yang akan menyakitinya. Amin.

***

Sementara itu, di negara asalnya, Manaf menghadapi permasalahan lain. Farisa, istrinya, kembali menuntut uang dalam jumlah yang tidak wajar. Manaf duduk di ruang kerjanya, memandang layar ponselnya dengan kerutan di dahi.

“Lagi lagi uang? Sudah seminggu ini aku memberikan 1 miliar, dan kau masih kurang?” ucap Manaf berbicara dengan nada frustrasi.

Di ujung sana, suara Farisa terdengar tajam.

“Uang itu tidak cukup! Aku butuh lebih banyak, Manaf. Kamu itu tidak akan habis uangnya, walau aku meminta lebih dari jatahku bukan. Jadi jangan menolak memberikannya padamu atau kalau kamu tidak memberikannya, kamu tahu apa yang bisa kulakukan!” ancam Farisa.

Manaf menghela napas panjang, menahan amarahnya.

“Apa lagi yang kamu inginkan, Farisa? Kamu sudah mendapatkan lebih dari cukup. Berhentilah menuntut hal hal yang tidak masuk akal.” kesal Manaf.

“Aku tidak peduli! Aku istrimu, dan aku berhak atas semua ini. Kalau tidak, aku akan membuat skandal yang akan menghancurkan reputasimu!” ancam Farisa lagi dengan suara penuh emosi.

Manaf menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan diri.

“Baiklah, aku akan mengirimkan uangnya. Tapi ingat, ini yang terakhir. Jangan pernah meminta lebih dari ini lagi, Farisa.” ucap Manaf dan menang Farisa kali ini.

Yes! Shopping again!!! Batin Farisa senang.

Hanya dengan sedikit mengancammu dan sedikit keras menggunakan skandal, kamu langsung kalah, Manaf. Dan aku suka itu. Jadi aku akan selalu menggunakannya lagi. Lanjut dalam hati Farisa.

Percakapan itu membuat Manaf merasa lelah, namun dia tidak punya pilihan lain selain memenuhi tuntutan Farisa. Baginya, menjaga ketenangan situasi lebih penting, terutama ketika dia masih harus fokus pada Mahreeen dan Hanin.

"Sudah aku kirimkan, aku tidak mau tahu itu harus kau cukup untuk bulan ini." ucap Manaf.

Mata Farisa langsung melotot karena terkejut uangnya telah masuk ke rekeningnya dengan notifikasi di hpnya.

500 juta!!! Yes! Aku harus kasih tahu mama, kita jalan jalan lagi. Batin Farisa senang sekali.

"Terima kasih, Sayangku, nah gitu," ucapnya lalu keluar dari ruangan Manaf.

Wanita gila!!! Bisa bisanya dulu aku, akhhhhh! Batin Manaf.

***

Kembali di rumah sakit, operasi ketiga Hanin akhirnya berlangsung. Mahreeen duduk di ruang tunggu dengan hati yang penuh doa, ditemani Malika yang setia di sisinya. Meskipun kecemasan melingkupinya, Mahreeen merasa sedikit lebih kuat berkat dukungan Manaf dan semua orang di sekitarnya.

Ketika operasi selesai, Mahreeen merasa sangat lega. “Alhamdulillah...,” ucapnya sambil menatap ke langit, berterima kasih atas segala kemudahan yang diberikan-Nya.

“Segala sesuatu sudah berjalan lancar, Nyonya Mahreeen. Sekarang saatnya Anda beristirahat. Hanin sudah dalam kondisi yang jauh lebih baik.” ucap Malika tersenyum kepadanya.

Mahreeen mengangguk, merasa terharu dan bersyukur ternyata mulai terasa ringan kini.

"Terima kasih, Malika. Kamu sangat baik menemaniku disini terus, kamu juga perlu istirahat. Aku akan kembali ke dalam. Besok kamu boleh datang lagi," ucapnya.

"Baik, Nyonya Mahreeen," jawab Malika. Sebelumnya dia juga sudah memberikan kabar itu pada Manaf bosnya.

Esok harinya, saat Mahreeen membuka mata di ruangan rawat disana.

"Pagi, Mahreeen," sapa Manaf.

...****************...

Hi semuanya!! Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!