Bab 10: Perhatian Manaf

Mahreeen tertegun saat Manaf berkata dengan suara tenang.

“Nanti kamu akan terbiasa Mahreeen, semua milikku nanti juga milikmu.”

Kalimat itu menggema di pikirannya, menimbulkan seribu pertanyaan. Apa maksudnya? Kenapa Manaf berkata seperti itu? Sebelum dia bisa merespons, Manaf dengan cepat mengalihkan pembicaraan.

“Sudahlah, jangan pikirkan itu sekarang. Fokus saja pada Hanin, dia butuh dukungan kita.” ucap Manaf tersenyum tipis dan melanjutkan, “Aku di sini untukmu, Mahreeen. Jangan ragu untuk mengandalkanku.”

Mahreeen hanya mengangguk pelan, masih berusaha mencerna kata kata Manaf. Dia tahu Manaf adalah bosnya, seorang pria berpengaruh, tapi perhatian yang dia tunjukkan sekarang terasa sangat pribadi. Apakah ini hanya karena rasa kasihan? Atau ada sesuatu yang lebih?

Tidak mungkinkan jika dia... Mencintaiku? Tiba tiba begitu saja, datang saat aku membutuhkan bantuan. Bagaikan seorang pahlawan yang datang khusus menolongnya. Batin Mahreeen.

Di dalam mobil menuju bandara, Mahreeen berdiam diri, tapi perasaan canggung menguasainya. Manaf sepertinya merasakan kecanggungan itu. Dia menoleh dan bertanya,

“Apa kau takut terbang, Mahreeen?” tanya Manaf.

“Iya, ini pertama kalinya aku naik pesawat.” jawab Mahreeen sedikit terkejut, tapi mengangguk perlahan.

“Tidak apa apa. Pesawatku aman, kamu akan baik baik saja,” ucap Manaf sambil menatap Mahreeen dengan tatapan menenangkan.

“Aku hanya khawatir...,” lirih Mahreeen.

“Hanin... bagaimana kalau sesuatu terjadi lagi?” lanjutnya mengalihkan pembicaraannya tentang kegugupan untuk naik pesawat.

Manaf segera meraih tangan Mahreeen, mencengkeramnya erat tapi lembut.

“Tidak akan ada yang terjadi. Percayalah, aku sudah memastikan Hanin mendapatkan perawatan terbaik. Kita hanya perlu tetap kuat untuknya.” yakinkan Manaf.

Mahreeen tersentuh dengan ketulusan Manaf. Dia belum pernah melihat sisi Manaf yang seperti ini, begitu perhatian dan penuh dukungan.

“Terima kasih, Pak Manaf. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa Anda.” ucap Mahreeen yang tersenyum tulus.

“Jangan panggil aku ‘Pak Manaf’. Panggil saja Manaf. Kita tidak di kantor sekarang,” jawab Manaf sambil tersenyum.

Mahreeen tersenyum kecil, meskipun masih terasa kikuk. “Baik... Manaf.” Nama itu terasa asing di bibirnya, tapi juga membuatnya merasa lebih dekat dengan pria yang sekarang duduk di sebelahnya.

Ketika mereka tiba di bandara, Manaf dengan sigap menggandeng tangan Mahreeen, membimbingnya menuju pesawat pribadinya. Jalur khusus yang mereka lalui memberi mereka privasi total. Mahreeen merasa sedikit canggung dengan perhatian yang diberikan Manaf, tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa kehadiran Manaf membuatnya merasa lebih tenang.

Di dalam pesawat, Mahreeen duduk di samping Manaf, masih merasakan kecemasan dari pengalaman terbang pertama kalinya.

“Apakah kita akan lama di sini?” tanya Mahreeen, mencoba mengalihkan pikirannya dari rasa takutnya.

“Tidak terlalu lama, sekitar beberapa jam,” jawab Manaf. “Kamu bisa tidur kalau mau. Aku akan memastikan kamu tetap aman.” lanjut Manaf.

“Aku tidak bisa tidur... terlalu banyak yang dipikirkan.” jawab Mahreeen menggelengkan kepala.

“Aku mengerti. Tapi cobalah untuk bersantai. Hanin sudah di tangan yang tepat.” ucap Manaf.

Dia lalu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, suaranya lembut namun penuh keyakinan.

“Aku janji, semuanya akan baik baik saja, Mahreeen. Kamu hanya perlu percaya padaku.” bisiknya.

Mahreeen menatapnya sejenak, lalu berkata dengan suara pelan.

“Kenapa Anda begitu peduli pada saya? Maksudku... kita hanya karyawan, bukan?” tanya Mahreeen.

Manaf tersenyum lagi, senyum yang samar namun menenangkan. “Mungkin kita lebih dari itu sekarang, Mahreeen. Kamu bukan hanya karyawanku. Kamu wanita yang kuat, dan aku menghormati itu. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak merasa sendirian. Dan tidak akan lama lagi kita akan menikah," jawab Manaf seolah mengingatkan tentang perjanjian yang sudah di sepakati.

Mahreeen terdiam mendengar jawaban itu. Kata kata Manaf membuat hatinya terasa hangat, tapi juga membingungkan. Apa maksud Manaf sebenarnya? Satu hal yang pasti dia tidak akan melepaskan apa yang sudah di ambil langkahnya sejauh ini. Jika memang menjadi istri keduanya, harus rela.

Ketika pesawat mulai bergerak, Mahreeen secara refleks mencengkeram lengan Manaf dengan kuat, matanya terpejam erat. Dia sangat tegang, tidak bisa menahan rasa takut yang melingkupinya.

Manaf menyadari itu dan dengan tenang menarik Mahreeen dalam pelukan.

“Tenang, Mahreeen. Aku di sini. Pegang aku saja kalau kau merasa takut.” bisik Manaf.

“Maaf... aku benar-benar takut.” ucap Mahreeen membuka matanya sedikit, dan melihat Manaf yang begitu tenang.

“Tidak perlu minta maaf. Ini wajar. Aku di sini untuk menjaga kamu dan Hanin, ingat?” jawab Manaf sambil tersenyum lembut.

Perjalanan itu terasa lebih lama dari biasanya bagi Mahreeen, tapi kehadiran Manaf di sampingnya membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Ketika perutnya mulai terasa lapar, Manaf menyadari itu dan segera meminta pramugari untuk menyajikan makanan.

“Kamu harus makan, Mahreeen. Jangan biarkan dirimu lemah, Hanin butuh kamu tetap kuat,” ucap Manaf sambil menyodorkan piring makanan kepadanya.

Mahreeen mengangguk, meskipun masih merasa canggung. Mereka makan bersama, dan dalam diam, Mahreeen merasa aneh. Makan di pesawat pribadi, dengan seorang pria yang bukan suaminya, terasa sangat berbeda dari hidupnya yang sederhana.

Seberuntung itukah aku sekarang ini? Batin Mahreeen.

“Manaf...,” tiba tiba Mahreeen berbicara, mencoba mencari kata kata.

“Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu. Semua ini... terasa seperti mimpi.” lanjutnya.

“Kamu tidak perlu membalas apa pun, Mahreeen. Aku melakukan ini karena aku ingin. Karena... aku peduli.” ucap Manaf tersenyum kecil yang belum bisa menjawabnya dengan gamblang.

Mahreeen terdiam lagi. Ada sesuatu dalam cara Manaf berbicara yang membuat hatinya berdetak lebih cepat. Tapi sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, Manaf melanjutkan,

“Kamu hanya perlu fokus pada Hanin. Jangan pikirkan yang lain.” lanjut Manaf.

Perjalanan mereka akhirnya sampai di tujuan. Di bandara, mereka dijemput oleh orang orang kepercayaan Manaf dan langsung dibawa ke rumah sakit. Ketakutan Mahreeen kembali muncul ketika mereka mendekati rumah sakit. Tangannya mulai gemetar, dan tanpa dia sadari, Manaf menggenggam tangannya lagi.

“Kamu tidak sendirian, Mahreeen. Aku akan selalu di sampingmu,” ucap Manaf dengan suara rendah, namun penuh keyakinan.

Setibanya di rumah sakit, Mahreeen langsung menuju ruang perawatan Hanin. Olaf, asisten Manaf, segera memberikan kabar baik.

“Operasi Hanin berjalan lancar. Kondisinya sekarang jauh lebih baik.” lapor Olaf.

Mahreeen merasa tubuhnya lemas seketika. Air mata mengalir di pipinya saat dia mengucap syukur, “Alhamdulillah... terima kasih, ya Allah.”

“Aku sudah bilang, semuanya akan baik baik saja.” ucap Manaf yang berdiri di sampingnya tersenyum lega.

“Terima kasih... terima kasih atas semuanya.” lirih Mahreeen menatap Manaf dengan mata basah.

“Tidak perlu terima kasih, Mahreeen. Kamu dan Hanin adalah yang terpenting sekarang. Itu sudah cukup bagiku.” ucap Manaf hanya menggeleng pelan.

***

Malam itu, Mahreeen tidur dengan perasaan lebih tenang. Tapi di dalam hatinya, perasaan tentang Manaf mulai berubah. Apa yang sebenarnya dirasakan pria itu terhadapnya? Dan mengapa perhatian Manaf begitu tulus, seolah olah dia adalah orang paling penting dalam hidupnya? Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di benak Mahreeen, meninggalkannya dengan kebingungan yang semakin dalam.

Manaf... Apakah Allah memberiku kesempatan untuk bahagia?

...****************...

Hi semuanya!!! Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!