Bab 19: Liburan

Waktu liburan kedua anak Mahreeen akhirnya tiba, dan selama seminggu ini mereka benar benar tinggal di apartemen Manaf yang dikenal sangat rahasia. Apartemen itu begitu eksklusif, bahkan tidak ada seorang pun yang bisa masuk kecuali Olaf, asisten pribadi Manaf. Olaf sangat paham semua yang terjadi di kehidupan bosnya, termasuk saat dia mengetahui bahwa kedua anak Mahreeen kini tinggal bersama Manaf.

Satu minggu mereka habiskan benar benar memberikan waktu pengenalan mereka terhadap Manaf.

"Om, suka pulang malam ya," ucap Chana penasaran.

"Maafkan, Om. Semalam Om ada meeting di luar dengan rekan bisnis dan tidak bisa menemani kalian disini." ucap Manaf.

"Lain kali kabari kami, Om supaya Chana bisa tidur," ocehnya.

Ya ampun lucunya, wajahnya sangat gemas sekali, batin Manaf.

Bukan marah atau kesal karena teguran halus oleh Chana, malah terpikat oleh keluguannya itu.

"Ok, Cantik. Maafkan Om, Janji tidak akan mengulanginya lagi. Om tebus hati ini free dan kita akan jalan jalan keluar sesuka kalian kemanapun pasti Om temani," ucapnya dengan senyuman.

Benar benar sangat hangat Manaf dengan kedua anak Mahreeen, bahkan seperti miliki anak kandung saja.

"Yeyyy, asyik," teriak sorak Chana.

Rasya tersenyum dan senang melihat Manaf yang jauh berbeda dengan Bapaknya, terlebih sejauh ini Manaf masih bersikap sama dengan mereka. Humble, tanggung jawab, baik dan penyayang.

"Ya sudah, kalian bersiap sana," pinta Manaf.

Tok!

Tok!

Apartemennya ada yang mengetuk dan di lihat dari dalam ternyata Olaf.

"Sudah kamu siapkan kejutan kecil buat mereka disana?" tanya Manaf.

"Sudah, Tuan. Sudah beres." jawab Olaf.

"Ayo, Om!" ajak Chana yang terlihat rapi dan semangat disusul Rasya dibelakangnya. Sangat cool dan tegas wajah Rasya seperti Manaf kecil sikapnya itu.

"Kemari!" pinta Manaf dan ketiganya keluar dan Olaf di belakang mereka.

Tiba dilokasi wahana bermain indoor yang berada di salah satu mall terbesar.

"Wah!!!! Besar dan banyak sekali permainannya, Om," kagum Chana.

"Jelas, Chana. Ayo kita bermain, pilih mau main apa dulu," ajak Manaf.

Tunjuk Chana salah satu perahu dayung. Dan Manaf menemaninya, begitupun dengan Rasya. Olaf yang tentu saja menjaga diarea sana.

Setelah setengah hari mereka bermain.

"Kok sepi ya Om," tanya Chana yang baru sadar hanya ada mereka saja pengunjungnya.

"Iya, males kali masuk sini. Takut di rebut Chana," terkekeh Manaf.

Tidak mungkin kan, Om Manaf yang menyewa semuanya ini? Batin Rasya.

Akhirnya mereka puas dan pulang ke apartemen dengan bahagia dan senang.

***

Suatu sore, Olaf datang ke apartemen, membawa barang barang yang dibutuhkan anak anak Mahreeen. Manaf yang sedang duduk di ruang tamu menyambut Olaf.

"Tuan, saya sudah menyiapkan semua kebutuhan Chana dan Rasya seperti yang Anda minta. Semoga mereka merasa nyaman selama tinggal di sana."

"Terima kasih, Olaf. Aku benar benar menghargai semua bantuanmu. Anak anak Mahreeen sudah mulai beradaptasi dengan baik. Mereka terlihat senang." jelas Manaf.

"Itu berita baik, Tuan. Saya perhatikan, Anda semakin dekat dengan mereka. Ini langkah besar untuk keluarga Anda." ucap Olaf senang.

Manaf tersenyum.

"Ya, aku ingin mereka merasa diterima, bukan hanya sebagai tanggung jawab, tapi sebagai bagian dari hidupku juga." ucap Manaf.

Olaf mengangguk paham.

"Bagaimana dengan minggu depan? Anda berencana membawa mereka bertemu dengan Hanin di rumah sakit, kan?" tanya Olaf.

"Iya, mereka sangat bersemangat. Aku sudah memberi tahu mereka, dan mereka tidak sabar untuk bertemu adik mereka. Aku senang bisa memberikan mereka kesempatan untuk berkumpul lagi." jelas Manaf.

"Itu pasti akan menjadi momen yang sangat emosional, Tuan. Anak anak Nona Mahreeen tampak sangat mencintai Hanin. Saya yakin pertemuan ini akan mempererat ikatan di antara mereka." ucap Olaf.

Manaf tersenyum hangat.

"Aku harap begitu. Mereka layak merasakan kebahagiaan itu, terutama setelah semua yang mereka lalui." jelas Manaf.

***

Beberapa hari berlalu, dan akhirnya hari yang ditunggu tiba. Manaf membawa kedua anak Mahreeen, Chana dan Rasya, ke rumah sakit tempat Hanin dirawat. Saat mereka tiba di kamar rumah sakit, Mahreeen yang sudah menunggu di sana langsung berdiri dan menangis haru melihat kedua anaknya.

"Anak-anakku... kalian akhirnya datang..." ucap Mahreeen dengan memeluk kedua anaknya.

Kedua anaknya segera berlari ke pelukan Mahreeen.

"Ibu, kami sangat rindu padamu." ucap Chana.

Mahreeen memeluk kedua anaknya erat erat, air matanya tidak terbendung lagi.

"Ibu juga sangat rindu pada kalian. Terima kasih sudah datang. Hanin pasti senang melihat kalian." ucap Mahreeen.

Hanin yang terbaring di ranjang juga ikut tersenyum lebar saat melihat kedua kakaknya mendekat.

"Kak Chana... Kak Rasya, kalian di sini!" terkejut Hanin yang baru terbangun.

Kakaknya menunduk dan mencium kening Hanin.

"Kami di sini, adik. Kamu harus kuat, ya. Kami akan selalu mendukungmu." ucap Rasya.

Mereka bertiga saling berbicara, berbagi cerita tentang masa masa mereka di asrama dan bagaimana Hanin semakin kuat dengan terapi yang dijalaninya. Manaf dan Mahreeen duduk di sofa di sisi ruangan, menyaksikan momen indah itu.

"Mereka terlihat sangat bahagia." ucap Manaf dengan lembut.

"Iya, terima kasih, Manaf. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua ini. Kamu sudah melakukan begitu banyak untuk kami." ucap Mahreeen dengan menyeka air matanya tapi ditahan tangannya oleh Manaf, karena dialah yang menghapuskan air matanya.

Manaf tersenyum dan mendekat sedikit ke arah Mahreeen. "Kamu tidak perlu membalas apapun, Mahreeen. Melihat mereka bahagia sudah cukup bagiku." ucapnya.

Tanpa sadar, Mahreeen mendekat lebih dekat lagi ke Manaf, menikmati momen tenang itu bersama. Manaf tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan lembut, dia menarik Mahreeen hingga bisa memeluknya dari samping. Mahreeen terkejut, namun tidak menolak. Pelukan Manaf memberinya rasa aman yang sudah lama tidak dirasakannya.

"Aku akan selalu ada di sini untukmu, Mahreeen. Jangan pernah meragukanku." ucap Manaf berbisik.

Mahreeen menunduk, hatinya berdebar mendengar kata kata romantis itu, namun dia tidak bisa menyangkal bahwa ada perasaan hangat yang menjalar di dalam dirinya. Sambil tetap membiarkan dirinya dalam pelukan Manaf, dia menjawab pelan, "Aku tidak tahu harus berkata apa, Manaf. Tapi… terima kasih."

Kedua anaknya masih asyik berbincang dengan Hanin, dan Manaf serta Mahreeen menikmati momen hangat itu.

"Kita akan menjadi satu keluarga, sebentar lagi," bisiknya lagi.

Deg!

"Jangan tegang begitu tubuhmu, Mahreeen. Kita tidak muda lagi. Jangan mencoba memancingku, Mahreeen. Aku takut khilaf, kamu sangat menggoda bagiku," lirihnya di telinga Mahreeen.

Bukannya melemas tubuh Mahreeen, tetali semakin meremang. Kata kata Manaf membuatnya salah fokus. Bahkan pelukan Manaf tidak kunjung di lepaskannya.

Aduh, aku kok kaget, batin Mahreeen.

...****************...

Hi semuanya, bantu supaya bisa lolos di bab 20 besok.

Terima kasih.

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!