Bab 18: Pertemuan

Setelah menyelesaikan video call dengan Mahreeen, Manaf memutuskan untuk segera menjemput kedua anak Mahreeen dari asrama mereka. Dia tahu bahwa ini adalah langkah penting untuk membangun hubungan dengan mereka. Manaf merasa perlu meluangkan waktu dan mendekatkan diri, apalagi liburan mereka akan segera tiba.

Aku tidak boleh mengecewakan anak anak Mahreeen, toh mereka juga akan menjadi anakku. Semoga saja Chana sama seperti Hanin. Ya Allah, mudahkan lah usahaku ini untuk menjalin hubungan tali silaturahim dengan benar. Aku berniat menikahi ibunya dan tentunya harus bisa dekat dan akrab anak anaknya. Ridhoi aku ya Allah, batin Manaf.

Saat tiba di sekolah asrama, Manaf menunggu dengan tenang di ruang tamu sekolah. Anak-anak Mahreeen, Chana dan kakaknya Rasya, datang dengan wajah penuh tanda tanya, terlihat tidak sepenuhnya nyaman.

"Assalamualaikum, Chana, Rasya. Kalian siap untuk liburan?" sapa Manaf yang memang sama sama canggung.

Chana melirik kakaknya sebelum menjawab dengan agak canggung.

"Waalaikumsalam," Jawab bersama keduanya dan salim pasa Manaf.

Deg!

Semoga tidak alergi!!! Bisik dalam hatinya.

"Om Manaf, kami bisa pulang sendiri. Ibu selalu mengizinkan kami naik taksi atau jemputan dari sekolah. Kenapa Om repot repot datang?" tanya Chana.

Manaf tersenyum hangat, mencoba mencairkan suasana.

Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya aku bisa normal jika berada dalam lingkup Mahreeen. Entah dia ataupun anaknya sama saja. Bisa buat aku menjadi lelaki normal. Batin Manaf.

"Ibu kalian sedang sibuk menjaga Hanin, jadi aku pikir akan lebih baik kalau aku yang menjemput. Selain itu, aku ingin mengenal kalian lebih baik. Bagaimana kalau kita habiskan waktu bersama dulu sebelum pulang? Kita bisa jalan jalan ke mal, beli baju baru, atau makan enak. Apa kalian mau?" ajak Manaf yang harus mulai santai.

Kakak Chana alias Rasya, yang lebih pendiam, akhirnya angkat bicara. "Kita nggak biasa seperti ini, Om. Tapi… kalau Om benar-benar ingin, kami ikut." setuju juga akhirnya setelah mendapatkan cubitan dari Cahan hanya ingin main ke mall.

Chana tipe pemaksa dan tidak jarang akan menangis bila tidak di turutinya, ibunya sering kali di buat pusing oleh Chana yang pemaksa dan manja ini.

Manaf merasa lega meski merasakan sedikit ketegangan. "Terima kasih sudah memberi kesempatan. Kalian akan lihat, kita bisa bersenang senang bersama." ucap Manaf senang.

Mereka bertiga kemudian menuju mal terdekat. Sepanjang perjalanan, Chana dan Rasya awalnya masih terlihat kaku, namun setelah sampai di mal dan mulai berbelanja, suasana mulai mencair.

"Chana, suka warna apa? Coba pilih baju yang kamu suka. Kalau kakak, gimana? Ada yang kalian mau dari sini?" pinta Manaf.

Chana mulai membuka diri sedikit dan menunjuk beberapa baju. "Aku suka warna biru. Kakak lebih suka yang hitam." jelas Chana.

Manaf tertawa pelan.

"Oke, mari kita cari yang paling bagus untuk kalian. Jangan malu malu, pilih saja yang kalian mau. Hari ini khusus untuk kalian." jelas Manaf.

Keceriaan mulai terpancar di wajah kedua anak itu, terutama setelah Manaf dengan sabar membantu mereka memilih pakaian. Setelah berbelanja, mereka makan di restoran favorit anak anak, dan Manaf terus berusaha menciptakan suasana nyaman.

"Om Manaf, kenapa Om baik sekali sama kami? Padahal baru kenal." tanyanya polos.

Manaf tersenyum lembut, menatap Chana dan Rasya bergantian. "Aku bukan hanya ingin dekat dengan ibu kalian, tapi juga dengan kalian. Kalian bagian dari hidupnya, jadi penting buat aku juga ada di hidup kalian." jelas Manaf yang memang harus jujur dari awal.

Rasya akhirnya tersenyum tipis.

"Kami suka kejujuran, Om. Mungkin ini akan butuh waktu, tapi aku rasa… ini nggak seburuk yang aku pikirkan." ucap Rasya.

Manaf mengangguk dengan lega.

"Terima kasih sudah mau memberi kesempatan, Kak Rasya. Aku akan selalu ada buat kalian, apapun yang kalian butuhkan." jawab Manaf.

Setelah seharian berbelanja dan makan, mereka menuju apartemen Manaf. Saat tiba di apartemen, Chana dan Rasya melihat lihat dengan kagum.

"Apartemen ini besar sekali, Om. Kami belum pernah tinggal di tempat seperti ini." tanya Chana polos lagi.

Manaf tersenyum dan menunjukkan kamar yang sudah disiapkannya untuk mereka.

"Kalian bisa pakai kamar ini selama liburan. Kalau kalian suka, aku akan sering membawa kalian ke sini. Bagaimana? Suka?" ucap Manaf tersenyum.

Chana berlari ke kamar, memeriksa setiap sudut, lalu kembali dengan senyum lebar.

"Suka sekali! Terima kasih, Om." jawab Chana senang.

Kakaknya, meskipun lebih tenang, juga tampak puas.

"Iya, tempat ini nyaman. Terima kasih, Om, sudah menyiapkan semuanya." ucap Rasya.

Manaf menatap mereka dengan penuh kebahagiaan.

"Aku senang kalian suka. Di sini kalian bisa merasa aman dan nyaman, sama seperti di rumah." ucap Manaf.

Setelah mereka semua berkumpul di ruang tamu, Manaf menyiapkan minuman hangat untuk mereka. Anak anak mulai merasa lebih santai, dan suasana pun semakin akrab.

"Bagaimana rasanya liburan ini? Sudah puas jalan jalan?" tanya Manaf.

Chana tertawa kecil.

"Senang, Om. Terima kasih sudah ajak kami. Ternyata Om Manaf baik." jawab Chana.

Kakaknya juga mengangguk.

"Aku kira akan aneh, tapi ternyata asyik juga." ucapnya sama sama polos.

Manaf tersenyum puas.

"Aku hanya ingin kalian bahagia. Aku juga ingin kalian tahu, bahwa apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk kalian dan ibu kalian. Kita bisa membangun keluarga bersama, perlahan lahan." ucap Manaf.

Chana memandang Manaf dengan serius.

"Om, apakah benar Om akan menikah dengan Ibu?" tanya Chana.

Pertanyaan itu membuat suasana sedikit berubah, namun Manaf tetap tenang.

"Iya, kami memang berencana untuk menikah. Aku ingin memastikan bahwa Ibu kalian merasa aman dan didukung. Bukan hanya sebagai pasangan, tapi juga sebagai keluarga. Apa kalian setuju?" tanya Manaf.

Manaf pikir bukankah lebih baik secepatnya dibicarakan dengan mereka. Walau masih anak anak pasti paham jika dia nyaman atau tidaknya dengan dirinya.

Rasya menatap Manaf dengan rasa penasaran.

"Kalau begitu, apakah kami juga akan tinggal bersama Om?" tanya Rasya.

Manaf mengangguk.

"Jika kalian mau, aku akan sangat senang kalau kita bisa tinggal bersama. Tapi semuanya tergantung kalian. Aku ingin kalian nyaman, dan ini semua bukan tentang memaksa, tapi membangun keluarga yang kita semua inginkan." jelas Manaf.

Chana dan Rasya saling bertukar pandang, lalu akhirnya tersenyum.

"Kami akan memikirkannya, Om. Tapi yang pasti, kami senang Om mau dekat dengan kami." jawab Rasya mewakili keduanya.

"Jika Ibu, suka pada Om. Aku tidak masalah, asal Om jangan kayak Bapak," cletuk Chana.

"Hus!! Jangan asal ngomong, Chana," ucap Rasya.

"Tidak akan, Om janji," ucap Manaf.

"Tuh, Kak. Denger," ucap Chana lagi.

...****************...

Hi semuanya, tinggalkan jejak.kalian di sini. Bantu like dan komentarnya ya.

Kasih hadiah ya yang suka novel ini. Bentar lagi masuk 20 bab. Bantu mommy ya.❤❤❤❤❤

Episodes
1 Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2 Bab 2: Memberanikan Diri
3 Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4 Bab 4: Putusan Mahreeen
5 Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6 Bab 6: Peros Gila Harta
7 Bab 7: Kedatangan Farisa
8 Bab 8: Operasi Hanin
9 Bab 9: Ujian Datang Lagi
10 Bab 10: Perhatian Manaf
11 Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12 Bab 12: Kedatangan Manaf
13 Bab 13: Hanin Sadar
14 Bab 14: Om Manaf
15 Bab 15: Surat Cerai
16 Bab 16: Farisa Curiga
17 Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18 Bab 18: Pertemuan
19 Bab 19: Liburan
20 Bab 20: Lamaran Manaf
21 Bab 21: Manaf Sakit
22 Bab 22: Perhatian Mahreeen
23 Bab 23: Meminta Restu
24 Bab 24: Restu
25 Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26 Bab 26: Perjanjian Terbaru
27 Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28 Bab 28: Keluarga yang Utuh
29 Bab 29: Kepastian dan Restu
30 Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31 Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32 Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33 Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34 Bab 34: Mahreeen Diratukan
35 Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36 Bab 36: Kejutan Farisa
37 Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38 Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39 Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40 Bab 40: Pernikahan Megah
41 Bab 41: Surat Cerai Farisa
42 Bab 42: Honeymoon Romantis
43 Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44 Bab 44: Sambutan yang Meriah
45 Bab 45: Mahreeen Hilang
46 Bab 46: Rumah Sakit
47 Bab 47: Mahreeen Tersadar
48 Bab 48: Penjelasan
49 Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50 Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51 Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52 Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53 Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54 Bab 54: Permintaan Mahreeen
55 Bab 55: Farisa di kantor polisi
56 Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57 Bab 57: Amukan Farisa
58 Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59 Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60 Bab 60: Selesai Farisa
61 Bab 61: Hadiah Manaf
62 Bab 62: Pengobatan Manaf
63 Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64 Bab 64: Perubahan Manaf
65 Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66 Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67 Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68 Bab 68: Kabar Bahagia
69 Promo karya terbaru
70 promo karya terbaru
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Bab 1: Kesulitan Mahreeen
2
Bab 2: Memberanikan Diri
3
Bab 3: Syarat yang Sulit bagi Mahreeen
4
Bab 4: Putusan Mahreeen
5
Bab 5: Tanda Tangan Perjanjian
6
Bab 6: Peros Gila Harta
7
Bab 7: Kedatangan Farisa
8
Bab 8: Operasi Hanin
9
Bab 9: Ujian Datang Lagi
10
Bab 10: Perhatian Manaf
11
Bab 11: Hanin Mulai Pulih
12
Bab 12: Kedatangan Manaf
13
Bab 13: Hanin Sadar
14
Bab 14: Om Manaf
15
Bab 15: Surat Cerai
16
Bab 16: Farisa Curiga
17
Bab 17: Farisa dan Jasmin Curiga Ada Wanita Lain di Hidup Manaf
18
Bab 18: Pertemuan
19
Bab 19: Liburan
20
Bab 20: Lamaran Manaf
21
Bab 21: Manaf Sakit
22
Bab 22: Perhatian Mahreeen
23
Bab 23: Meminta Restu
24
Bab 24: Restu
25
Bab 25: Pertemuan yang Mengungkap
26
Bab 26: Perjanjian Terbaru
27
Bab 27: Pertemuan yang Mengharukan
28
Bab 28: Keluarga yang Utuh
29
Bab 29: Kepastian dan Restu
30
Bab 30: Masa Lalu yang Kembali
31
Bab 31: Luka yang Belum Terlupakan
32
Bab 32: Melepaskan Masa Lalu
33
Bab 33: Kepulangan dan Kehidupan Baru
34
Bab 34: Mahreeen Diratukan
35
Bab 35: Ikatan yang Tersisa
36
Bab 36: Kejutan Farisa
37
Bab 37: Mahreeen Dimanja, Farisa Disiksa
38
Bab 38: Diam-Diam Manaf Bertindak
39
Bab 39: Menuju Pernikahan H-1
40
Bab 40: Pernikahan Megah
41
Bab 41: Surat Cerai Farisa
42
Bab 42: Honeymoon Romantis
43
Bab 43: Dimanjakan Mahreeen
44
Bab 44: Sambutan yang Meriah
45
Bab 45: Mahreeen Hilang
46
Bab 46: Rumah Sakit
47
Bab 47: Mahreeen Tersadar
48
Bab 48: Penjelasan
49
Bab 49: Liburan Keluarga yang Penuh Kejutan
50
Bab 50: Obsesi yang Berbahaya (POV Farisa)
51
Bab 51: Rencana Farisa yang Berantakan
52
Bab 52: Kekhawatiran Manaf
53
Bab 53: Manaf, Papa Sambung yang Melebihi Kasih Sayang Papa Kandung
54
Bab 54: Permintaan Mahreeen
55
Bab 55: Farisa di kantor polisi
56
Bab 56: Penyesalan Papa Farisa
57
Bab 57: Amukan Farisa
58
Bab 58: Sidang Perdana Farisa.
59
Bab 59: Saksi yang Memberatkan Farisa
60
Bab 60: Selesai Farisa
61
Bab 61: Hadiah Manaf
62
Bab 62: Pengobatan Manaf
63
Bab 63: Terapi Pertama Manaf
64
Bab 64: Perubahan Manaf
65
Bab 65: Manaf Sedikit Lagi Sembuh
66
Bab 66 - Pertemuan Mahreeen dan Angel
67
Bab 67: Perayaan Manaf Sembuh
68
Bab 68: Kabar Bahagia
69
Promo karya terbaru
70
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!