20. Begitu Benci kah?

Elin mengeluarkan barang belanjaannya yang berupa bahan memasak dari dalam mobilnya. Zion pun membantu Elin memindahkan barang belanjaan tersebut ke dalam mobilnya.

Zion melajukan mobilnya dengan Elin yang duduk disampingnya. Sesekali Elin melirik ke arah Zion. Selama lima tahun menikah, baru kali ini Elin satu mobil bersama Zion.

"Kamu tinggal dengan siapa?" tanya Zion menatap Elin sekilas, lalu kembali fokus menatap jalan raya.

"Aku tinggal sendiri," sahut Elin menghela napas berat, "miris, bukan? Aku sudah bersuami, tapi kakak malah tak mau tinggal bersamaku, bahkan meninggalkan aku," lanjutnya kemudian tertawa garing.

"Kamu masih saja berakting," sahut Zion tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan, menganggap Elin bercanda, "orang tua kamu?" tanya Zion kembali menatap Elin sekilas.

"Ibuku sudah lama meninggal. Ayahku... lima belas tahun yang lalu pamit pergi bekerja, namun sampai sekarang tidak pernah kembali dan tidak ada kabarnya," sahut Elin menatap ke arah depan dengan wajah sendu.

"Sorry, aku nggak tahu," ucap Zion jadi tak enak hati saat menatap wajah sendu Elin.

"Nggak apa-apa," sahut Elin tersenyum tipis menundukkan kepalanya.

Selama dalam perjalanan menuju toko kue milik Elin, Zion dan Elin berbincang santai. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di toko kue Elin.

"Jadi, kamu tinggal di sini?" tanya Zion menatap toko kue milik Elin.

"Hum. Bagian bawah adalah toko kue dan bagian atas adalah hunian," sahut Elin seraya melepaskan sabuk pengaman.

"Boleh aku mampir di tempat tinggal mu?" tanya Zion menatap Elin.

"Tentu saja boleh. Jangankan mampir, menginap juga boleh. Bukankah kita adalah suami-isteri?" tanya Elin tersenyum tipis.

Zion terkekeh mendengar jawaban Elin, "Kalau begitu aku akan mampir, atau mungkin menginap," ucap Zion bercanda.

"Kalau gitu, masukkan saja mobil kakak ke garasi toko," ucap Elin lalu mengarahkan Zion menuju garasi tokonya.

Seorang security membukakan pintu garasi setelah mendapatkan perintah dari Elin. Lalu kembali menutup pintu garasi setelah mobil yang dikendarai Zion masuk ke dalam garasi. Elin mengeluarkan barang belanjaannya dari dalam mobil dibantu Zion.

"Ayo, Kak!" ajak Elin menuju sebuah pintu yang ada di dalam garasi tersebut. Elin menempelkan sidik jarinya untuk membuka pintu itu, lalu ada lift di balik pintu itu yang membawa Elin dan Zion naik ke lantai atas.

"Tempat tinggal kamu nyaman juga," cetus Zion setelah keluar dari lift dan masuk ke dalam rumah Elin. Sedangkan Elin hanya merespon dengan tersenyum tipis.

Rumah Elin berdesain minimalis, rapi dan juga nyaman untuk ditinggali. Zion mengamati setiap ruangan yang ia lewati, tapi tidak menemukan foto Elin satu pun, hingga mereka tiba di dapur.

Elin menyimpan semua belanjaannya ke dalam lemari es, "Kakak ingin minum apa?" tanyanya menatap Zion yang duduk di salah satu kursi meja makan.

"Apa saja asal tidak merepotkan," sahut Zion masih mengamati sekelilingnya.

"Tunggu sebentar, ya?" pinta Elin, kemudian membuatkan jus jeruk untuk Zion.

Zion menatap setiap gerak gerik Elin, menatap wajah Elin yang entah mengapa tak bosan ia pandang.

"Yuk, kita ke ruang tamu aja! Masa tamu di dapur," ujar Elin terkekeh kecil seraya berjalan menuju ruangan tamu membawa segelas jus untuk Zion.

"Tamu? Bukannya aku suamimu?" tanya Zion seraya memicingkan sebelah matanya.

"Deg"

Elin spontan menghentikan langkah kakinya. Tangannya yang sedang memegang gelas gemetar, bibirnya menyunggingkan senyuman getir. Ia yakin Zion menganggap semua ini adalah candaan. Namun sesaat kemudian ia menyunggingkan senyum dan berbalik menatap Zion.

"Oh ya, aku lupa," ucap Elin berjalan ke arah Zion. Ia meletakkan jus yang dibawanya di atas meja, lalu menatap Zion, "kalau begitu, kakak tunggu di sini. Aku akan mengambilkan kue untuk kakak," ucapnya, lalu meninggalkan Zion.

Zion tersenyum tipis menatap Elin yang menghilang di balik pintu, "Kenapa rasanya asyik sekali saat bersama dia?" gumamnya.

Tak lama kemudian Elin sudah kembali dengan piring ditangannya. Ia meletakkan piring yang berisi berbagai macam kue itu di atas meja dia depan Zion.

"Dimakan cemilannya, Kak!" ucap Elin tersenyum lembut.

Zion menatap piring berisi berbagai macam jenis kue tersebut. Namun ekspresi wajahnya berubah tidak senang saat netranya melihat ada kue coklat lapis. Kue itu mengingatkan dirinya pada Elin, karena ia pernah membuat kue coklat lapis bersama Elin.

"Bisa singkirkan kue lapis itu? Aku tidak menyukainya," ucap Zion memalingkan wajahnya dari kue di atas piring.

"Deg"

Elin merasa jantungnya seperti dipukul dengan batu besar, matanya melebar mendengar permintaan Zion. Namun sesaat kemudian ia mengelola ekspresi wajahnya, "Baiklah, akan aku singkirkan," sahut Elin memaksakan diri untuk tersenyum.

"Maaf, kue itu mengingatkan aku tentang hal yang tidak ingin aku ingat," ucap Zion pelan.

"Tak apa. Aku masih punya kue yang lain," sahut Elin memaksakan diri untuk tersenyum

Ia meraih kue lapis coklat tersebut, lalu memasukkannya ke dalam lemari es, "Dulu Kak Zion sangat menyukai kue lapis coklat, tapi sekarang saat melihat kue itu, ia langsung tidak senang, bahkan meminta aku untuk menyingkirkannya. Apa karena kue itu mengingatkan ia padaku? Begitu benci kah ia padaku, hingga ia membenci kue yang mengingatkan ia padaku?" batin Elin tersenyum pahit dengan dada yang terasa sesak, seolah hanya ada sedikit oksigen di dalam ruangan itu.

Setelah menyingkirkan kue lapis coklat, Elin duduk di salah satu kursi meja makan, berhadapan dengan Zion.

"Kamu tinggal sendirian di sini, apa kamu tidak merasa kesepian?" tanya Zion seraya meraih salah satu kue di atas piring.

"Tentu saja aku kesepian. Tapi mau gimana lagi? Suamiku tidak mau tinggal bersamaku. Aku janda bukan, gadis juga bukan, bukankah aku kasihan?" tanya Elin menghela napas panjang dengan tatapan mata tak berdaya, benar-benar meluapkan isi hatinya.

Namun lagi-lagi Zion tertawa menganggap Elin sedang berakting, "Kenapa kamu nggak jadi bintang film saja? Akting kamu benar-benar natural. Jika kamu menjadi artis, namamu pasti akan melejit dengan kepiawaianmu berakting, apalagi wajahmu sangat cantik," ucap Zion tersenyum menatap Elin.

"Aku nggak suka menjadi sorotan media. Aku nggak mau privasiku terganggu," sahut Elin tersenyum tipis.

"Oh ya, cincin ini.." Zion menunjukkan cincin di jari manisnya.

"Kakak keberatan memakainya?" tanya Elin menatap Zion dengan kedua alis yang terangkat.

"Tidak. Hanya saja.. Cincin ini.. kenapa kamu bisa memiliki cincin kawin dan kamu bawa kemana-mana?" tanya Zion hati-hati.

"Ah, itu.. aku sangat suka ketika melihatnya di toko perhiasan. Hanya kakak yang pernah memakai cincin itu. Aku tak menyangka akan memakaikan cincin itu di jari manis kakak di pesta pernikahan anak orang yang memesan kue dari tokoku," sahut Elin terkekeh kecil, setengah berbohong.

"Oh, aku kira ini adalah cincin mantan kamu," sahut Zion yang entah mengapa merasa lega saat mengetahui hanya dirinya yang pernah memakai cincin dijari manisnya saat ini.

"Aku belum punya mantan, tapi aku juga nggak pengen punya mantan," sahut Elin jujur adanya.

"Aku nggak percaya gadis secantik kamu belum pernah punya pacar," celetuk Zion.

"Tapi.. kenyataannya memang begitu. Aku hanya punya suami, yaitu kakak. Bagaimana? Apa kakak suka menjadi suami gadis cantik, masih perawan yang tidak pernah pacaran seperti aku?" tanya Elin seraya mengibaskan rambutnya, kemudian berpose menggoda seraya mengedipkan sebelah matanya, bahkan menggigit salah satu sudut bibirnya sendiri.

"Kamu benar-benar multi talenta, ya?" puji Zion memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Ia meminum jus yang disuguhkan Elin untuk menelan salivanya yang terasa membatu. Entah mengapa sesuatu di bawah sana bereaksi saat melihat Elin berpose seperti itu, "shiitt!" umpatnya dalam hati.

"Apa aku kurang menggoda?" tanya Elin menampilkan ekspresi kecewa karena melihat Zion nampak biasa saja saat menatapnya, padahal aslinya Zion sedang tidak baik-baik saja,.

"Lumayan," sahut Zion tersenyum tipis.

"Lumayan? Bagaimana kalau seperti ini?"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

elin. menggoda suami sendiri itu halal. walau menyakitkan memang dengan keadaan kalian sekarang.

2024-09-26

2

matha jannah

matha jannah

miris 😭😭😭

2024-09-13

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

wah si Elin uda belajar banyak sekali yah dia selama 5 tahun ini rupanya, sampai bisa mengelola emosinya juga

2024-09-07

2

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!