Elin mengeluarkan barang belanjaannya yang berupa bahan memasak dari dalam mobilnya. Zion pun membantu Elin memindahkan barang belanjaan tersebut ke dalam mobilnya.
Zion melajukan mobilnya dengan Elin yang duduk disampingnya. Sesekali Elin melirik ke arah Zion. Selama lima tahun menikah, baru kali ini Elin satu mobil bersama Zion.
"Kamu tinggal dengan siapa?" tanya Zion menatap Elin sekilas, lalu kembali fokus menatap jalan raya.
"Aku tinggal sendiri," sahut Elin menghela napas berat, "miris, bukan? Aku sudah bersuami, tapi kakak malah tak mau tinggal bersamaku, bahkan meninggalkan aku," lanjutnya kemudian tertawa garing.
"Kamu masih saja berakting," sahut Zion tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan, menganggap Elin bercanda, "orang tua kamu?" tanya Zion kembali menatap Elin sekilas.
"Ibuku sudah lama meninggal. Ayahku... lima belas tahun yang lalu pamit pergi bekerja, namun sampai sekarang tidak pernah kembali dan tidak ada kabarnya," sahut Elin menatap ke arah depan dengan wajah sendu.
"Sorry, aku nggak tahu," ucap Zion jadi tak enak hati saat menatap wajah sendu Elin.
"Nggak apa-apa," sahut Elin tersenyum tipis menundukkan kepalanya.
Selama dalam perjalanan menuju toko kue milik Elin, Zion dan Elin berbincang santai. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di toko kue Elin.
"Jadi, kamu tinggal di sini?" tanya Zion menatap toko kue milik Elin.
"Hum. Bagian bawah adalah toko kue dan bagian atas adalah hunian," sahut Elin seraya melepaskan sabuk pengaman.
"Boleh aku mampir di tempat tinggal mu?" tanya Zion menatap Elin.
"Tentu saja boleh. Jangankan mampir, menginap juga boleh. Bukankah kita adalah suami-isteri?" tanya Elin tersenyum tipis.
Zion terkekeh mendengar jawaban Elin, "Kalau begitu aku akan mampir, atau mungkin menginap," ucap Zion bercanda.
"Kalau gitu, masukkan saja mobil kakak ke garasi toko," ucap Elin lalu mengarahkan Zion menuju garasi tokonya.
Seorang security membukakan pintu garasi setelah mendapatkan perintah dari Elin. Lalu kembali menutup pintu garasi setelah mobil yang dikendarai Zion masuk ke dalam garasi. Elin mengeluarkan barang belanjaannya dari dalam mobil dibantu Zion.
"Ayo, Kak!" ajak Elin menuju sebuah pintu yang ada di dalam garasi tersebut. Elin menempelkan sidik jarinya untuk membuka pintu itu, lalu ada lift di balik pintu itu yang membawa Elin dan Zion naik ke lantai atas.
"Tempat tinggal kamu nyaman juga," cetus Zion setelah keluar dari lift dan masuk ke dalam rumah Elin. Sedangkan Elin hanya merespon dengan tersenyum tipis.
Rumah Elin berdesain minimalis, rapi dan juga nyaman untuk ditinggali. Zion mengamati setiap ruangan yang ia lewati, tapi tidak menemukan foto Elin satu pun, hingga mereka tiba di dapur.
Elin menyimpan semua belanjaannya ke dalam lemari es, "Kakak ingin minum apa?" tanyanya menatap Zion yang duduk di salah satu kursi meja makan.
"Apa saja asal tidak merepotkan," sahut Zion masih mengamati sekelilingnya.
"Tunggu sebentar, ya?" pinta Elin, kemudian membuatkan jus jeruk untuk Zion.
Zion menatap setiap gerak gerik Elin, menatap wajah Elin yang entah mengapa tak bosan ia pandang.
"Yuk, kita ke ruang tamu aja! Masa tamu di dapur," ujar Elin terkekeh kecil seraya berjalan menuju ruangan tamu membawa segelas jus untuk Zion.
"Tamu? Bukannya aku suamimu?" tanya Zion seraya memicingkan sebelah matanya.
"Deg"
Elin spontan menghentikan langkah kakinya. Tangannya yang sedang memegang gelas gemetar, bibirnya menyunggingkan senyuman getir. Ia yakin Zion menganggap semua ini adalah candaan. Namun sesaat kemudian ia menyunggingkan senyum dan berbalik menatap Zion.
"Oh ya, aku lupa," ucap Elin berjalan ke arah Zion. Ia meletakkan jus yang dibawanya di atas meja, lalu menatap Zion, "kalau begitu, kakak tunggu di sini. Aku akan mengambilkan kue untuk kakak," ucapnya, lalu meninggalkan Zion.
Zion tersenyum tipis menatap Elin yang menghilang di balik pintu, "Kenapa rasanya asyik sekali saat bersama dia?" gumamnya.
Tak lama kemudian Elin sudah kembali dengan piring ditangannya. Ia meletakkan piring yang berisi berbagai macam kue itu di atas meja dia depan Zion.
"Dimakan cemilannya, Kak!" ucap Elin tersenyum lembut.
Zion menatap piring berisi berbagai macam jenis kue tersebut. Namun ekspresi wajahnya berubah tidak senang saat netranya melihat ada kue coklat lapis. Kue itu mengingatkan dirinya pada Elin, karena ia pernah membuat kue coklat lapis bersama Elin.
"Bisa singkirkan kue lapis itu? Aku tidak menyukainya," ucap Zion memalingkan wajahnya dari kue di atas piring.
"Deg"
Elin merasa jantungnya seperti dipukul dengan batu besar, matanya melebar mendengar permintaan Zion. Namun sesaat kemudian ia mengelola ekspresi wajahnya, "Baiklah, akan aku singkirkan," sahut Elin memaksakan diri untuk tersenyum.
"Maaf, kue itu mengingatkan aku tentang hal yang tidak ingin aku ingat," ucap Zion pelan.
"Tak apa. Aku masih punya kue yang lain," sahut Elin memaksakan diri untuk tersenyum
Ia meraih kue lapis coklat tersebut, lalu memasukkannya ke dalam lemari es, "Dulu Kak Zion sangat menyukai kue lapis coklat, tapi sekarang saat melihat kue itu, ia langsung tidak senang, bahkan meminta aku untuk menyingkirkannya. Apa karena kue itu mengingatkan ia padaku? Begitu benci kah ia padaku, hingga ia membenci kue yang mengingatkan ia padaku?" batin Elin tersenyum pahit dengan dada yang terasa sesak, seolah hanya ada sedikit oksigen di dalam ruangan itu.
Setelah menyingkirkan kue lapis coklat, Elin duduk di salah satu kursi meja makan, berhadapan dengan Zion.
"Kamu tinggal sendirian di sini, apa kamu tidak merasa kesepian?" tanya Zion seraya meraih salah satu kue di atas piring.
"Tentu saja aku kesepian. Tapi mau gimana lagi? Suamiku tidak mau tinggal bersamaku. Aku janda bukan, gadis juga bukan, bukankah aku kasihan?" tanya Elin menghela napas panjang dengan tatapan mata tak berdaya, benar-benar meluapkan isi hatinya.
Namun lagi-lagi Zion tertawa menganggap Elin sedang berakting, "Kenapa kamu nggak jadi bintang film saja? Akting kamu benar-benar natural. Jika kamu menjadi artis, namamu pasti akan melejit dengan kepiawaianmu berakting, apalagi wajahmu sangat cantik," ucap Zion tersenyum menatap Elin.
"Aku nggak suka menjadi sorotan media. Aku nggak mau privasiku terganggu," sahut Elin tersenyum tipis.
"Oh ya, cincin ini.." Zion menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Kakak keberatan memakainya?" tanya Elin menatap Zion dengan kedua alis yang terangkat.
"Tidak. Hanya saja.. Cincin ini.. kenapa kamu bisa memiliki cincin kawin dan kamu bawa kemana-mana?" tanya Zion hati-hati.
"Ah, itu.. aku sangat suka ketika melihatnya di toko perhiasan. Hanya kakak yang pernah memakai cincin itu. Aku tak menyangka akan memakaikan cincin itu di jari manis kakak di pesta pernikahan anak orang yang memesan kue dari tokoku," sahut Elin terkekeh kecil, setengah berbohong.
"Oh, aku kira ini adalah cincin mantan kamu," sahut Zion yang entah mengapa merasa lega saat mengetahui hanya dirinya yang pernah memakai cincin dijari manisnya saat ini.
"Aku belum punya mantan, tapi aku juga nggak pengen punya mantan," sahut Elin jujur adanya.
"Aku nggak percaya gadis secantik kamu belum pernah punya pacar," celetuk Zion.
"Tapi.. kenyataannya memang begitu. Aku hanya punya suami, yaitu kakak. Bagaimana? Apa kakak suka menjadi suami gadis cantik, masih perawan yang tidak pernah pacaran seperti aku?" tanya Elin seraya mengibaskan rambutnya, kemudian berpose menggoda seraya mengedipkan sebelah matanya, bahkan menggigit salah satu sudut bibirnya sendiri.
"Kamu benar-benar multi talenta, ya?" puji Zion memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Ia meminum jus yang disuguhkan Elin untuk menelan salivanya yang terasa membatu. Entah mengapa sesuatu di bawah sana bereaksi saat melihat Elin berpose seperti itu, "shiitt!" umpatnya dalam hati.
"Apa aku kurang menggoda?" tanya Elin menampilkan ekspresi kecewa karena melihat Zion nampak biasa saja saat menatapnya, padahal aslinya Zion sedang tidak baik-baik saja,.
"Lumayan," sahut Zion tersenyum tipis.
"Lumayan? Bagaimana kalau seperti ini?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
elin. menggoda suami sendiri itu halal. walau menyakitkan memang dengan keadaan kalian sekarang.
2024-09-26
2
matha jannah
miris 😭😭😭
2024-09-13
2
Sugiharti Rusli
wah si Elin uda belajar banyak sekali yah dia selama 5 tahun ini rupanya, sampai bisa mengelola emosinya juga
2024-09-07
2