18. Lupa

Elin berusaha merilekskan tubuh dan pikirannya, membuang rasa gugupnya, karena ini adalah pertama kalinya ia akan berdansa dengan Zion. Sebelumnya Elin hanya pernah berdansa di tempat lesnya saja.

Saat lirik lagu mulai dinyanyikan, Elin dan Zion berjalan dengan gaya yang anggun saling mendekat. Zion meraih pinggang Elin dan Elin meletakkan tangannya di bahu Zion. Mereka saling menatap dan mulai berdansa.

Pasangan suami-isteri itu bergerak secara serentak dan harmonis mengikuti irama musik. Gerakan tubuh keduanya pun lentur dan setiap gerakannya terlihat romantis. Gerakan memutar yang dilakukan Elin membuat gaunnya mengembang indah. Saat Zion mengangkat tubuh Elin dengan memeluk perut bagian atas Elin dan salah satu paha Elin, lalu bergerak memutar pun terlihat begitu memukau. Gerakan dansa Zion dan Elin paling menonjol diantara pasangan lain, hingga pasangan suami-isteri itu menjadi pusat perhatian.

Sungguh Elin tak menyangka bisa berdansa dengan Zion. Les yang diikutinya benar-benar tidak sia-sia. Tepuk tangan para tamu undangan pun terdengar bergemuruh saat lagu yang mengiringi dansa sudah berakhir dan semua pasangan berhenti berdansa.

"Ikut aku!" bisik Zion seraya menarik tangan Elin.

"Kak Zion mau apa? Kenapa membawa aku ke tempat seperti ini?" batin Elin saat Zion membawanya ke tempat yang sepi, membuat degup jantung Elin kembali berdetak kencang. Entah apa yang akan dilakukan Zion padanya.

Zion menghentikan langkah kakinya, lalu menatap Elin, "Ternyata kamu mahir berdansa," puji Zion merasa senang berdansa dengan Elin.

"Sebenarnya, aku tadi sempat gugup, karena tadi adalah pertama kalinya aku berdansa selain dengan tutorku," sahut Elin terkekeh kecil menutup rasa gugupnya. Ia masih belum tahu, Zion mengenali dirinya atau tidak.

"Oh, ya? Tapi kamu terlihat seperti seorang profesional." Lagi-lagi Zion melontarkan pujian.

"Kakak terlalu memuji. Aku hanya bisa sedikit," sahut Elin tersenyum tipis.

"Sebenarnya, siapa kamu?" tanya Zion menatap Elin lekat.

"Deg"

Rasanya jantung Elin tiba-tiba berhenti berdetak mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Zion. Namun dengan cepat Elin bisa mengelola ekspresi wajahnya.

"Aku? Aku hanya tukang kue," sahut Elin terkekeh kecil menutupi rasa gugupnya, "apa Kak Zion benar-benar tidak mengenali aku?" batinnya.

"Tukang kue? Kamu bercanda? Aktingmu sungguh mumpuni, hingga aku terhipnotis. Kamu seperti sudah menyiapkan segalanya, bahkan sampai cincin kawin," ucap Zion tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan mengingat kejadian yang tak terduga tadi.

"Maaf, aku hanya spontan saja. Aku hanya ingin menghindari para pria tadi dan tidak ada rencana melibatkan kakak. Jujur.. aku merasa tidak nyaman dan risih saat para pria tadi mengerumuni aku. Bahkan aku merasa sedikit takut saat salah seorang pria yang menatap aku dengan tatapan mesum tadi ingin menyentuh aku. Saat melihat kakak yang sibuk dengan ponsel kakak sendiri, tiba-tiba aku mendapatkan ide gila tadi. Maaf.." ucap Elin menatap Zion dengan tatapan tak berdaya.

"It's okey. Aku juga mendapatkan keuntungan dari akting kamu tadi. Setidaknya Nico tidak akan meledek aku lagi," sahut Zion menghela napas kasar.

"Terima kasih," ucap Elin tersenyum tipis menatap Zion lekat. Sudah lima tahun mereka berpisah, ia ingin lebih lama memandang wajah pria yang sudah menjadi suaminya ini.

"Tapi.. bagaimana jadinya tadi, kalau aku sudah memakai cincin kawin? Atau aku datang bersama pasanganku? Kebohongan kamu pasti langsung terbongkar,"

"Aku nggak mikirin hal itu. Aku hanya berpikir bagaimana bisa terhindar dari para pria itu," sahut Elin jujur, "Tapi... apa kakak datang ke pesta ini membawa pasangan?" tanya Elin dengan kedua tangan yang meremas dress-nya. Ia tidak pernah bertanya pada Pak Hadi tentang Zion yang tinggal di luar negeri. Apakah suaminya punya kekasih di luar sana atau tidak?

"Kebetulan tidak," sahut Zion tersenyum tipis.

"Kebetulan tidak? Apa maksud Kak Zion? Apa dia memiliki kekasih dibelakang ku?" batin Elin menghela napas yang terasa sesak. Suaminya tampan dan kaya,. pasti banyak wanita yang ingin menjadi pendampingnya, bukan?

"Btw, dari mana kamu tahu, kalau aku sudah lama di luar negeri?" tanya Zion mengangkat kedua alisnya menatap Elin.

"Ah, itu.. itu hanya karangan aku saja," sahut Elin tergagap, "jadi.. kakak benar-benar tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun?" tanya Elin pura-pura tidak tahu.

"Benar. Dan kebetulan aku juga baru pulang hari ini. Oh, ya, kita belum berkenalan. Aku Zion Mahendra. Nama kamu siapa?" tanya Zion seraya mengulurkan tangannya.

Elin menyambut uluran tangan Zion," Aku.. Elina Aprilia Mahendra, istri Zion Mahendra," ucapnya menatap Zion dengan senyum yang mengembang, namun jantungnya berdegup kencang. Elin ingin mengetes apakah Zion melupakan namanya. Jika Zion ingat dan marah padanya, ia akan menerima semua konsekuensinya.

Zion terdiam, membuat degup jantung Elin bertalu-talu, namun sesaat kemudian ia tertawa, "Kamu masih saja berakting. Tapi.. Elina Aprilia Mahendra.. bagus juga," ucapnya tersenyum tipis. Pria yang hanya sekali mengucapkan nama lengkap istrinya saat menikah lima tahun yang lalu itu lupa nama lengkap istri yang dibencinya.

"Kakak suka?" tanya Elin. Entah ia harus sedih atau senang saat mengetahui kalau suaminya tidak mengenali wajah dan suaranya, bahkan tidak mengingat namanya. Miris, bukan?

"Nama yang bagus," sahut Zion masih dengan senyuman tipis di bibirnya.

"Jadi.. kakak menganggap aku sedang berakting? Jika begitu.. bolehkan aku terus berakting dan mengakui kakak sebagai suamiku?" tanya Elin ragu.

"Kenapa?" tanya Zion dengan kening yang berkerut.

"Agar tidak ada pria yang berusaha mendekati aku lagi. Aku merasa terganggu dengan para pria yang berusaha mendekati aku," sahut Elin dengan tatapan penuh harap, meskipun ia tidak yakin Zion akan setuju.

"Kita sama-sama diuntungkan dalam hal ini. Aku setuju," ucap Zion membuat Elin membulatkan matanya menatap Zion dengan mulut yang sedikit terbuka. Tidak percaya.

"Kenapa? Kamu nggak percaya?" tanya Zion menatap Elin dengan salah satu alis yang terangkat.

"Sedikit.." sahut Elin yang sempat terkejut, tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.

Zion menghela napas panjang menatap Elin, "Tapi.. apa kamu tahu apa konsekuensinya jika melakukan hal ini?" tanyanya.

"Maksud kakak?" tanya Elin dengan kening yang berkerut.

"Jika kamu mengaku sudah menikah dengan aku, maka tidak akan ada lagi pria yang akan mendekati kamu. Apa kamu tidak ingin mencari pasangan hidup?" tanya Zion.

"Soal ini... aku.. kakak akan tahu alasannya suatu hari nanti," sahut Elin tersenyum getir.

"Kalau begitu, kita bertukar nomor telepon, agar kita bisa berkomunikasi," pinta Zion.

"Hum," sahut Elin tersenyum dengan mata yang berbinar. Selama lima tahun menikah dengan Zion, Elin tak punya nomor telepon Zion. Ingin bertanya pada Pak Hadi pun enggan, karena merasa malu menanyakan nomor telepon suaminya sendiri pada orang lain. Jadi, selama lima tahun ini ia dan Zion tidak pernah berkomunikasi sama sekali.

"Alamat rumah?" tanya Zion seraya mengangkat kedua alisnya.

"Bisa lihat di google map. Toko kue Aprilia. Aku tinggal di sana," sahut Elin tersenyum tipis.

*

Elin menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya seraya menghela napas panjang, "Jangankan wajah, suara, bahkan namaku pun Kak Zion tidak mengingatnya. Apa sebenci itu dia padaku hingga tidak mengingat namaku? Bahkan sengaja pergi ke luar negeri selama lima tahun, apa untuk melupakan aku?" gumam Elin membuang napas kasar.

Elin beranjak bangun saat mendengar suara dering panggilan masuk terdengar dari ponselnya. Bibirnya menyunggingkan senyum dan ia bergegas menerima panggilan masuk saat melihat kontak yang menghubunginya adalah "Pangeranku."

"Halo pangeranku!" sapa Elin dengan suara renyah.

"Apa kabar Bidadari ku?" tanya suara bariton yang tidak lain adalah Ello.

"Baik-baik saja. Apa pangeranku membutuhkan sesuatu? Bidadari akan memberikannya,"

"Pangeran rindu pada bidadari, ingin melihat wajah bidadari," sahut Ello yang sebenarnya sudah sangat merindukan Elin, satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

"Tinggal enam bulan lagi kamu akan menjadi dokter. Setelah itu, kamu baru bisa melihat wajah bidadarimu,"

Ello sudah lulus S1 dan sekarang masih Mengikuti Program Profesi (KOAS /CO-Assistant), setelah itu ia masih harus Menyelesaikan Ujian Kompetensi Profesi Dokter, baru setelahnya bisa menjadi dokter.

"Kenapa nggak sekarang aja?" rengek Ello.

"Ntar nggak surprise lagi, dong!" sahut Elin terkekeh kecil.

Selama lima tahun ini, Elin tidak pernah mau video call dengan Ello, alasannya adalah takut Ello akan semakin merindukan dirinya jika melihat wajahnya. Padahal alasan sesungguhnya adalah karena takut Ello curiga dengan perubahan drastis dirinya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Zudiyah Zudiyah

Zudiyah Zudiyah

tak lanjut baca, bagaimana kelanjutannya 😁

2024-10-09

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

zion betul-betul gak ingat elin. gawat sih

2024-09-26

2

Marini Azkal

Marini Azkal

udah aneh koq panggil pangeran sama bidadari aja....ternyata oh ternyata......😂😂😂

2024-09-06

2

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!