12. Menutupi

Saat Elin pulang, hari sudah sore. Setelah dari pemakaman Kakek Zhafran tadi, Elin memang tidak langsung pulang, tapi ke rumah sakit untuk membesuk adiknya.

Dengan langkah ragu, Elin menapaki anak tangga menuju lantai dua dimana kamar Zion dan kamarnya berada. Jantungnya kembali berdegup kencang saat sudah semakin dekat dengan anak tangga terakhir.

Ia masih ingat bagaimana Zion mencekiknya semalam. Ingatan itu membuat Elin rasanya ingin kembali menuruni anak tangga. Namun sayangnya semua barang-barangnya sudah dipindahkan di kamar Zion atas perintah mendiang Kakek Zhafran.

"Tok! Tok! Tok!"

Elin mengetuk pintu kamar Zion, tapi tidak ada sahutan. Pintu kamar pun tak kunjung terbuka. Elin mencoba kembali mengetuk pintu itu, namun tetap tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Elin memberanikan diri untuk membuka pintu.

"Apa Kak Zion tidak ada di dalam kamar?" batin Elin yang tidak melihat tanda-tanda keberadaan suaminya di dalam kamar tersebut.

Sampai waktu makan malam tiba, Elin tidak melihat Zion masuk ke dalam kamar. Elin bertanya-tanya, ke manakah pria yang telah menjadi suaminya itu?

"Tok! Tok! Tok!"

"Nyonya, memakan malam sudah siap." Suara ketukan di pintu diikuti suara seorang pelayan membuyarkan lamunan Elin.

"Iya, Bik," sahut Elin, kemudian keluar dari kamarnya.

Saat memasuki ruangan makan, Elin melihat Pak Hadi dan Bu Heni sudah duduk di kursi meja makan menunggunya.

"Selamat malam, Nyonya!" sapa Bu Heni dengan senyuman ramah secerah mentari paginya.

"Selamat malam, Bu, Pak!" sapa Elin balik.

Pak Hadi beranjak dari duduknya, ia menarik salah satu kursi untuk Elin, "Silahkan, Nyonya!" ucapnya.

"Terima kasih, Pak," ucap Elin tersenyum tipis menyembunyikan rasa canggungnya. Sebelumnya tidak pernah ada yang melakukan hal seperti ini untuknya.

"Ishh..papa.. mama, 'kan, jadi cemburu.." keluh Bu Heni bersungut-sungut.

"Cup"

Elin membulatkan matanya, menutup mulutnya dengan tangannya sendiri saat melihat Pak Hadi mengecup bibir Bu Heni sekilas di depan matanya.

"Orang dingin bagai es balok yang datar ini bisa bersikap romantis?" batin Elin tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"Ihh.. papa, 'kan, malu dilihat nyonya," keluh Bu Heni memukul pelan lengan suaminya yang tetap terlihat seperti es balok itu. Ia terlihat tersipu malu dengan pipi yang memerah.

Elin mengulum senyum menahan tawa memalingkan wajahnya melihat tingkah pasangan suami-isteri tersebut, "Astaga.. pasangan suami-isteri ini seperti kutub Utara dan mentari pagi. Yang satu dingin bagai es balok, kulkas dua pintu. Tapi yang satunya secerah mentari pagi yang hangat. Sungguh-sungguh sifat yang bertolak belakang," batin Elin.

Tiga orang itu akhirnya makan dengan tenang. Sesekali Bu Heni nampak mengambilkan lauk untuk suaminya. Senyuman cerah selalu menghiasi bibir wanita paruh baya yang masih cantik dan energik tersebut.

"Nyonya, Tuan muda Zion pergi dari rumah. Saya tidak tahu kapan Tuan muda akan kembali," ucap Pak Hadi setelah mereka selesai makan malam.

Elin tersentak, menatap Pak Hadi dengan matanya yang bulat. Ia baru tahu kalau Zion pergi dari rumah, " La.. lalu.. saya harus bagaimana, Pak?" tanya Elin. Ia teringat, saat Kakek Zhafran masih hidup, beliau memang mengatakan, jika Elin butuh apapun atau bingung harus bagaimana, Kakek Zhafran menyarankan untuk berkonsultasi dengan Pak Hadi.

"Tidak perlu memikirkan Tuan muda. Kita tetap fokus pada rencana awal. Istri saya yang akan membimbing dan mengajari Anda," sahut Pak Hadi dengan suara tenang dan wajah datarnya.

"I..iya," sahut Elin tergagap.

Pak Hadi adalah seorang pria bertubuh tinggi, tegap dan besar dengan brewok tipis di wajahnya yang berahang tegas. Tatapan matanya tajam bagaikan elang.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah perintah. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Sikapnya yang tegas dan datar membuat orang lain merasa kecil di hadapannya. Ditambah dengan kata-katanya yang seperti tahu apa yang sedang dipikirkan lawan bicaranya, membuat lawan bicaranya merasa tidak nyaman, bahkan takut padanya.

Ia juga sering menyunggingkan senyuman samar yang terlihat misterius, membuatnya seperti magnet yang menarik benda lain, tapi juga membuat takut untuk lebih dekat dengannya. Namun, di balik ketegasannya dan sikap misteriusnya itu, tersimpan rasa tanggung jawab yang besar.

"Soal adik Nyonya yang ingin menjadi dokter, asalkan dia serius dengan cita-citanya, saya pastikan adik Nyonya akan menjadi dokter yang hebat. Adik Nyonya bisa memilih universitas manapun yang ia inginkan, baik di dalam maupun di luar negeri. Saya akan memberikan beberapa rekomendasi universitas terbaik sesuai pesan mendiang Tuan besar," ucap Pak Hadi dengan suara tegas.

"Terima kasih, Pak," ucap Elin dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menyangka kalau Kakek Zhafran memikirkan hal ini. Adiknya akan menjadi dokter seperti impiannya.

"Plak"

Tiba-tiba Bu Heni menepuk tangannya, "Soal adik Nyonya sudah beres. Jadi, mulai besok kita bisa fokus pada Nyonya," ucapnya dengan wajah secerah mentari pagi seperti biasanya.

"Adik Nyonya akan menjadi seorang dokter, jadi jangan membuat ia malu saat harus mengakui Anda sebagai kakaknya," imbuh Pak Hadi penuh motivasi yang tersirat di dalam ucapannya.

"Saya mengerti," sahut Elin menyadari apa yang dikatakan oleh Pak Hadi adalah benar.

Tangannya terkepal erat, matanya memancarkan semangat, "Aku harus berubah menjadi lebih baik agar saat Ello menjadi dokter nanti, ia tidak malu memperkenalkan aku sebagai kakaknya," batin Elin penuh tekad.

*

Keesokan harinya, Elin mulai mengikuti les yang sudah di jadwalkan oleh Bu Heni. Dari pagi sampai sore Bu Heni menggembleng Elin menjadi wanita cantik, elegan, dan mandiri. Sedangkan di malam hari Pak Hadi mengajari Elin tentang bisnis.

Elin tidak ingin Ello mengetahui dirinya menjalani pernikahan yang tidak diinginkan, demi biaya rumah sakit Ello. Jadi, Elin tidak pernah menceritakan apapun tentang pernikahannya dan keluarga Kakek Zhafran.

Kebetulan Ello diperbolehkan pulang saat hasil ujian sudah keluar dan pendaftaran masuk ke universitas sudah di buka. Atas permintaan Elin, Pak Hadi mencarikan universitas terbaik di luar negeri untuk Ello dengan dalih beasiswa.

Elin juga meminta Pak Hadi untuk mencarikan kontrakan sederhana untuk tempat tinggalnya bersama Ello sebelum Ello kuliah di luar negeri, agar ia tetap bisa merahasiakan pernikahannya dengan Zion. Kebetulan Zion juga tidak pernah pulang ke rumah.

"Kak, kenapa kita pindah di sini? Di sini sewanya pasti lebih mahal dari kontrakan kita sebelumnya," ucap Ello melihat kontrakan sederhana tapi bersih tempat dirinya berada saat ini.

"Kakak mendapatkan pekerjaan di toko kue dan pemilik tokonya baik pada kakak. Kakak membuat kue yang banyak peminatnya di toko itu, jadi kakak dijadikan karyawan dengan gaji lebih tinggi dari karyawan yang lain," dusta Elin.

"Benarkah?" tanya Ello memicingkan sebelah matanya, "apa kakak meminjam uang dari pemilik toko kue itu untuk biaya berobat ku?" tanya Ello dengan tatapan mata penuh selidik, sekaligus menyorotkan rasa bersalah.

"Enggak, kok. Pemilik toko itu membantu kakak mengurus surat keterangan tidak mampu, jadi kakak tidak mengeluarkan uang untuk biaya berobat kamu. Semuanya ditanggung oleh pemerintah," lagi-lagi Elin berdusta.

"Tapi, Kak, kenapa ruang rawat yang aku tempati bukan kamar rawat biasa?" tanya Ello curiga.

"Ello, tolong jangan bertanya tentang apapun lagi. Kakak akan menjelaskan semuanya jika waktunya sudah tepat. Sekarang fokuslah pada cita-cita kamu menjadi dokter. Jangan biarkan perjuangan kakak menjadi sia-sia," tukas Elin yang tidak ingin adiknya bertanya lebih banyak lagi dan membuat ia pusing mengarang kebohongan lagi.

Ello akhirnya diam meskipun merasa penasaran. Kalimat terakhir kakaknya membuat ia tak berani bertanya lagi.

Sejak adik dan kakak itu tinggal di kontrakan sederhana itu, setiap hari Elin berangkat pagi-pagi dan pulang malam dengan alasan bekerja lembur. Elin tidak mengizinkan Ello kemanapun dengan alasan agar tubuhnya benar-benar pulih.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

semangat menjadi wanita hebat, elin. abaikan zyon dulu yaa

2024-09-25

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

oh si Ello baru lulus yah sekolahnya

2024-09-05

2

sum mia

sum mia

nurut aja Ello sama kakak kamu , semua demi kebaikanmu juga .

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍

2024-09-03

4

lihat semua
Episodes
1 1. Persyaratan
2 2. Tidak Setuju
3 3. Cinta Dan Kewajiban
4 4. Cincin Kebesaran
5 5. Dingin
6 6. Minder
7 7. Syok Hemoragik
8 8. Jatuh
9 9. Tuduhan
10 10. Di Bawah Kamboja
11 11. Hilang
12 12. Menutupi
13 13. Metamorfosis
14 14. Merasa Bersalah
15 15. Bersuami, Tapi Perawan
16 16. Nekat
17 17. Dianggap Drama
18 18. Lupa
19 19. Gegana
20 20. Begitu Benci kah?
21 21. Berlawanan
22 22. Apa Keberatan?
23 23. Mengingatkan
24 24. Kasmaran
25 25. Pasang Surut
26 26. Ada Yang Kurang
27 27. Penasaran
28 28. Suram
29 29. Lalat Sampah
30 30. Meminta Pulang
31 31. Alasan Bertahan
32 32. Resah
33 33. Digulung Ombak
34 34. Janji
35 35. Susah Dinasehati
36 36. Risau
37 37. Tahu Semuanya
38 38. Poster
39 39. Terpaksa
40 40. Bimbang
41 41. Ingin Menceraikan
42 42. Benar-benar Melupakan
43 43. Pelarian Farah
44 44. Curiga
45 45. Manipulatif
46 46. Nekat
47 47. Tanpa Kabar
48 48. Merasa Lega
49 49. Keputusan
50 50. Menghampiri
51 51. Ke Luar Kota
52 52. Ada yang Janggal
53 53. Setengah Berbohong
54 54. Bertemu Lagi
55 55. Mengizinkan
56 56. Pertemuan Tak Terduga
57 57. Interaksi Adik-kakak
58 58. Untungnya
59 59. Benar-benar Berusaha
60 60. Yang kedua
61 61. Adik Manis Salah Masuk
62 62. Diawasi
63 63. Kekanak-kanakan
64 63. Bukan Sister Complex
65 65. Hampa
66 66. Memotivasi
67 67. Lupa Janji
68 68. Mengurus Perceraian
69 69. Di Ambang Kebenaran
70 70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71 71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72 72. Dilema Hati
73 73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74 74. Pelajaran Hidup
75 75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76 76. Ikatan Keluarga
77 77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78 78. Kebenaran yang Diungkapkan
79 79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80 80. Cintamu Ugal-ugalan
81 81. Konfrontasi Zion dan Franky
82 82. Perpisahan di Bandara
83 83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84 84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85 85. Dokumen Penting
86 86. Pertanyaan yang Menganggu
87 87. Ditampar Kenyataan
88 88. Kebenaran yang Menyakitkan
89 89. Jujur atau Tetap Diam?
90 90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91 91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92 92. Pengakuan Dosa
93 93. Kabar Keberadaan
94 94. Sebuah Amplop
95 95. Tidak Tahu Apa-apa
96 96. Kesuksesan yang Hampa
97 97. Penyanderaan
98 98. Sesuatu yang Familiar
99 99. Lebih dari Rekan Bisnis
100 100. Penyelidikan
101 101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102 102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103 103. Runtuh dan Hancur
104 104. Perasaan Lega
105 105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106 106. Momen yang Terulang
107 107. Jodoh Pilihan Bocil
Episodes

Updated 107 Episodes

1
1. Persyaratan
2
2. Tidak Setuju
3
3. Cinta Dan Kewajiban
4
4. Cincin Kebesaran
5
5. Dingin
6
6. Minder
7
7. Syok Hemoragik
8
8. Jatuh
9
9. Tuduhan
10
10. Di Bawah Kamboja
11
11. Hilang
12
12. Menutupi
13
13. Metamorfosis
14
14. Merasa Bersalah
15
15. Bersuami, Tapi Perawan
16
16. Nekat
17
17. Dianggap Drama
18
18. Lupa
19
19. Gegana
20
20. Begitu Benci kah?
21
21. Berlawanan
22
22. Apa Keberatan?
23
23. Mengingatkan
24
24. Kasmaran
25
25. Pasang Surut
26
26. Ada Yang Kurang
27
27. Penasaran
28
28. Suram
29
29. Lalat Sampah
30
30. Meminta Pulang
31
31. Alasan Bertahan
32
32. Resah
33
33. Digulung Ombak
34
34. Janji
35
35. Susah Dinasehati
36
36. Risau
37
37. Tahu Semuanya
38
38. Poster
39
39. Terpaksa
40
40. Bimbang
41
41. Ingin Menceraikan
42
42. Benar-benar Melupakan
43
43. Pelarian Farah
44
44. Curiga
45
45. Manipulatif
46
46. Nekat
47
47. Tanpa Kabar
48
48. Merasa Lega
49
49. Keputusan
50
50. Menghampiri
51
51. Ke Luar Kota
52
52. Ada yang Janggal
53
53. Setengah Berbohong
54
54. Bertemu Lagi
55
55. Mengizinkan
56
56. Pertemuan Tak Terduga
57
57. Interaksi Adik-kakak
58
58. Untungnya
59
59. Benar-benar Berusaha
60
60. Yang kedua
61
61. Adik Manis Salah Masuk
62
62. Diawasi
63
63. Kekanak-kanakan
64
63. Bukan Sister Complex
65
65. Hampa
66
66. Memotivasi
67
67. Lupa Janji
68
68. Mengurus Perceraian
69
69. Di Ambang Kebenaran
70
70. Perasaan Terpendam Antara Mereka
71
71. Keterangan Emosi Elin - Zion
72
72. Dilema Hati
73
73. Harga dari Sebuah Kesalahan
74
74. Pelajaran Hidup
75
75. Mencintai Diri Sebelum Cinta
76
76. Ikatan Keluarga
77
77. Antara Masa Lalu dan Masa Depan
78
78. Kebenaran yang Diungkapkan
79
79. Hal yang Tak Dapat Diungkap
80
80. Cintamu Ugal-ugalan
81
81. Konfrontasi Zion dan Franky
82
82. Perpisahan di Bandara
83
83. Canda dan Tawa Sebelum Badai Menerpa
84
84. Malam Sempurna Sebelum Badai Menerpa.
85
85. Dokumen Penting
86
86. Pertanyaan yang Menganggu
87
87. Ditampar Kenyataan
88
88. Kebenaran yang Menyakitkan
89
89. Jujur atau Tetap Diam?
90
90. Rasa Bersalah, karena Kebencian yang Salah Arah
91
91. Cerita di Balik Keputusan Kakek Zhafran
92
92. Pengakuan Dosa
93
93. Kabar Keberadaan
94
94. Sebuah Amplop
95
95. Tidak Tahu Apa-apa
96
96. Kesuksesan yang Hampa
97
97. Penyanderaan
98
98. Sesuatu yang Familiar
99
99. Lebih dari Rekan Bisnis
100
100. Penyelidikan
101
101. Ranjang Panas Ibu Mertua
102
102. Lebih dari Sekadar Pengakuan
103
103. Runtuh dan Hancur
104
104. Perasaan Lega
105
105. Terima Kasih untuk Pak Hadi
106
106. Momen yang Terulang
107
107. Jodoh Pilihan Bocil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!