Saat Elin pulang, hari sudah sore. Setelah dari pemakaman Kakek Zhafran tadi, Elin memang tidak langsung pulang, tapi ke rumah sakit untuk membesuk adiknya.
Dengan langkah ragu, Elin menapaki anak tangga menuju lantai dua dimana kamar Zion dan kamarnya berada. Jantungnya kembali berdegup kencang saat sudah semakin dekat dengan anak tangga terakhir.
Ia masih ingat bagaimana Zion mencekiknya semalam. Ingatan itu membuat Elin rasanya ingin kembali menuruni anak tangga. Namun sayangnya semua barang-barangnya sudah dipindahkan di kamar Zion atas perintah mendiang Kakek Zhafran.
"Tok! Tok! Tok!"
Elin mengetuk pintu kamar Zion, tapi tidak ada sahutan. Pintu kamar pun tak kunjung terbuka. Elin mencoba kembali mengetuk pintu itu, namun tetap tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Elin memberanikan diri untuk membuka pintu.
"Apa Kak Zion tidak ada di dalam kamar?" batin Elin yang tidak melihat tanda-tanda keberadaan suaminya di dalam kamar tersebut.
Sampai waktu makan malam tiba, Elin tidak melihat Zion masuk ke dalam kamar. Elin bertanya-tanya, ke manakah pria yang telah menjadi suaminya itu?
"Tok! Tok! Tok!"
"Nyonya, memakan malam sudah siap." Suara ketukan di pintu diikuti suara seorang pelayan membuyarkan lamunan Elin.
"Iya, Bik," sahut Elin, kemudian keluar dari kamarnya.
Saat memasuki ruangan makan, Elin melihat Pak Hadi dan Bu Heni sudah duduk di kursi meja makan menunggunya.
"Selamat malam, Nyonya!" sapa Bu Heni dengan senyuman ramah secerah mentari paginya.
"Selamat malam, Bu, Pak!" sapa Elin balik.
Pak Hadi beranjak dari duduknya, ia menarik salah satu kursi untuk Elin, "Silahkan, Nyonya!" ucapnya.
"Terima kasih, Pak," ucap Elin tersenyum tipis menyembunyikan rasa canggungnya. Sebelumnya tidak pernah ada yang melakukan hal seperti ini untuknya.
"Ishh..papa.. mama, 'kan, jadi cemburu.." keluh Bu Heni bersungut-sungut.
"Cup"
Elin membulatkan matanya, menutup mulutnya dengan tangannya sendiri saat melihat Pak Hadi mengecup bibir Bu Heni sekilas di depan matanya.
"Orang dingin bagai es balok yang datar ini bisa bersikap romantis?" batin Elin tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Ihh.. papa, 'kan, malu dilihat nyonya," keluh Bu Heni memukul pelan lengan suaminya yang tetap terlihat seperti es balok itu. Ia terlihat tersipu malu dengan pipi yang memerah.
Elin mengulum senyum menahan tawa memalingkan wajahnya melihat tingkah pasangan suami-isteri tersebut, "Astaga.. pasangan suami-isteri ini seperti kutub Utara dan mentari pagi. Yang satu dingin bagai es balok, kulkas dua pintu. Tapi yang satunya secerah mentari pagi yang hangat. Sungguh-sungguh sifat yang bertolak belakang," batin Elin.
Tiga orang itu akhirnya makan dengan tenang. Sesekali Bu Heni nampak mengambilkan lauk untuk suaminya. Senyuman cerah selalu menghiasi bibir wanita paruh baya yang masih cantik dan energik tersebut.
"Nyonya, Tuan muda Zion pergi dari rumah. Saya tidak tahu kapan Tuan muda akan kembali," ucap Pak Hadi setelah mereka selesai makan malam.
Elin tersentak, menatap Pak Hadi dengan matanya yang bulat. Ia baru tahu kalau Zion pergi dari rumah, " La.. lalu.. saya harus bagaimana, Pak?" tanya Elin. Ia teringat, saat Kakek Zhafran masih hidup, beliau memang mengatakan, jika Elin butuh apapun atau bingung harus bagaimana, Kakek Zhafran menyarankan untuk berkonsultasi dengan Pak Hadi.
"Tidak perlu memikirkan Tuan muda. Kita tetap fokus pada rencana awal. Istri saya yang akan membimbing dan mengajari Anda," sahut Pak Hadi dengan suara tenang dan wajah datarnya.
"I..iya," sahut Elin tergagap.
Pak Hadi adalah seorang pria bertubuh tinggi, tegap dan besar dengan brewok tipis di wajahnya yang berahang tegas. Tatapan matanya tajam bagaikan elang.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah perintah. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Sikapnya yang tegas dan datar membuat orang lain merasa kecil di hadapannya. Ditambah dengan kata-katanya yang seperti tahu apa yang sedang dipikirkan lawan bicaranya, membuat lawan bicaranya merasa tidak nyaman, bahkan takut padanya.
Ia juga sering menyunggingkan senyuman samar yang terlihat misterius, membuatnya seperti magnet yang menarik benda lain, tapi juga membuat takut untuk lebih dekat dengannya. Namun, di balik ketegasannya dan sikap misteriusnya itu, tersimpan rasa tanggung jawab yang besar.
"Soal adik Nyonya yang ingin menjadi dokter, asalkan dia serius dengan cita-citanya, saya pastikan adik Nyonya akan menjadi dokter yang hebat. Adik Nyonya bisa memilih universitas manapun yang ia inginkan, baik di dalam maupun di luar negeri. Saya akan memberikan beberapa rekomendasi universitas terbaik sesuai pesan mendiang Tuan besar," ucap Pak Hadi dengan suara tegas.
"Terima kasih, Pak," ucap Elin dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menyangka kalau Kakek Zhafran memikirkan hal ini. Adiknya akan menjadi dokter seperti impiannya.
"Plak"
Tiba-tiba Bu Heni menepuk tangannya, "Soal adik Nyonya sudah beres. Jadi, mulai besok kita bisa fokus pada Nyonya," ucapnya dengan wajah secerah mentari pagi seperti biasanya.
"Adik Nyonya akan menjadi seorang dokter, jadi jangan membuat ia malu saat harus mengakui Anda sebagai kakaknya," imbuh Pak Hadi penuh motivasi yang tersirat di dalam ucapannya.
"Saya mengerti," sahut Elin menyadari apa yang dikatakan oleh Pak Hadi adalah benar.
Tangannya terkepal erat, matanya memancarkan semangat, "Aku harus berubah menjadi lebih baik agar saat Ello menjadi dokter nanti, ia tidak malu memperkenalkan aku sebagai kakaknya," batin Elin penuh tekad.
*
Keesokan harinya, Elin mulai mengikuti les yang sudah di jadwalkan oleh Bu Heni. Dari pagi sampai sore Bu Heni menggembleng Elin menjadi wanita cantik, elegan, dan mandiri. Sedangkan di malam hari Pak Hadi mengajari Elin tentang bisnis.
Elin tidak ingin Ello mengetahui dirinya menjalani pernikahan yang tidak diinginkan, demi biaya rumah sakit Ello. Jadi, Elin tidak pernah menceritakan apapun tentang pernikahannya dan keluarga Kakek Zhafran.
Kebetulan Ello diperbolehkan pulang saat hasil ujian sudah keluar dan pendaftaran masuk ke universitas sudah di buka. Atas permintaan Elin, Pak Hadi mencarikan universitas terbaik di luar negeri untuk Ello dengan dalih beasiswa.
Elin juga meminta Pak Hadi untuk mencarikan kontrakan sederhana untuk tempat tinggalnya bersama Ello sebelum Ello kuliah di luar negeri, agar ia tetap bisa merahasiakan pernikahannya dengan Zion. Kebetulan Zion juga tidak pernah pulang ke rumah.
"Kak, kenapa kita pindah di sini? Di sini sewanya pasti lebih mahal dari kontrakan kita sebelumnya," ucap Ello melihat kontrakan sederhana tapi bersih tempat dirinya berada saat ini.
"Kakak mendapatkan pekerjaan di toko kue dan pemilik tokonya baik pada kakak. Kakak membuat kue yang banyak peminatnya di toko itu, jadi kakak dijadikan karyawan dengan gaji lebih tinggi dari karyawan yang lain," dusta Elin.
"Benarkah?" tanya Ello memicingkan sebelah matanya, "apa kakak meminjam uang dari pemilik toko kue itu untuk biaya berobat ku?" tanya Ello dengan tatapan mata penuh selidik, sekaligus menyorotkan rasa bersalah.
"Enggak, kok. Pemilik toko itu membantu kakak mengurus surat keterangan tidak mampu, jadi kakak tidak mengeluarkan uang untuk biaya berobat kamu. Semuanya ditanggung oleh pemerintah," lagi-lagi Elin berdusta.
"Tapi, Kak, kenapa ruang rawat yang aku tempati bukan kamar rawat biasa?" tanya Ello curiga.
"Ello, tolong jangan bertanya tentang apapun lagi. Kakak akan menjelaskan semuanya jika waktunya sudah tepat. Sekarang fokuslah pada cita-cita kamu menjadi dokter. Jangan biarkan perjuangan kakak menjadi sia-sia," tukas Elin yang tidak ingin adiknya bertanya lebih banyak lagi dan membuat ia pusing mengarang kebohongan lagi.
Ello akhirnya diam meskipun merasa penasaran. Kalimat terakhir kakaknya membuat ia tak berani bertanya lagi.
Sejak adik dan kakak itu tinggal di kontrakan sederhana itu, setiap hari Elin berangkat pagi-pagi dan pulang malam dengan alasan bekerja lembur. Elin tidak mengizinkan Ello kemanapun dengan alasan agar tubuhnya benar-benar pulih.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semangat menjadi wanita hebat, elin. abaikan zyon dulu yaa
2024-09-25
2
Sugiharti Rusli
oh si Ello baru lulus yah sekolahnya
2024-09-05
2
sum mia
nurut aja Ello sama kakak kamu , semua demi kebaikanmu juga .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
2024-09-03
4